Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Kecurigaan


__ADS_3

Maya turun dari mobil setelah Bima menghentikan mobilnya tepat di depan rumah atasannya. Ia berlari kecil ke dalam rumah. Ingin segera mengatakan apa yang ia tau baru saja dari ayah Bima. Namun sesaat langkahnya terhenti saat ia berpapasan dengan Sandra di ruang tamu. Sebuah slide kejadian saat istri dari atasannya alergi terhadap makanan di sebuah kedai makanan yang dengan sengaja di pesan oleh Sandra kembali muncul di ingatannya. Entah kenapa Sandra menjadi orang pertama yang masuk dalam daftar orang suruhan Hendra Wijaya.


Maya masih mematung di tempatnya saat Sandra sudah berdiri di hadapannya. Tiba-tiba saja ada rasa benci yang teramat sangat di dalam hatinya.


"Kakak, kenapa masih berdiri disini? Ayo masuk," ajak Sandra seraya menggandeng tangan Maya. Namun kini pandangan Sandra kembali tertuju pada Maya saat wanita yang sudah ia kenal lama di Amerika tiba-tiba saja melepaskan tangannya secara paksa. "Kakak ada apa?" Tanyanya seraya maju selangkah ke arah Maya. Namun wanita berkebangsaan Amerika di depannya ini tak menjawab pertanyaannya. Ia sudah merasa ada yang aneh melihat Maya yang memberikan tatapan tajam padanya. "Kakak..."


"Nona Sandra," Bima muncul di belakang Maya. Ia kini sudah berdiri di sebelah Maya. Menatap Maya yang masih tak bergeming di tempatnya berdiri. "Maya baru saja datang dari luar negeri. Dia kemari karena akan melaporkan hasil kerjanya disana pada tuan muda Alex. Jadi..."


"Saya sibuk," potong Maya cepat. Kini kedua matanya sudah diselimuti oleh cairan bening. Jika benar Sandra pelakunya maka Maya benar-benar tak bisa melepaskan Sandra begitu saja. Namun saat ini pikirannya masih bekerja dengan baik. Ia akan melakukan pengintaian terlebih dahulu sebelum bertindak. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha agar cairan bening yang sudah berada di pelupuk matanya tak jatuh. "Sandra..." Sudah tersenyum penuh arti. Ia tak ingin Sandra curiga akan perilakunya saat ini. Mendekati Sandra yang masih berada di depannya. "Maaf. Aku harus menemui Pak Alex," katanya seraya memegang pundak Sandra. Berusaha meyakinkan Sandra akan sikapnya barusan.


Sandra mengembuskan napas lega saat ia merasa ada yang aneh dengan wanita yang sudah ia anggap sebagai kakak perempuannya. "Kakak, kau membuatku takut." Membalas senyuman juga pada Maya. "Ya sudah, lebih baik kakak ke atas. Kak Alex ada di kamarnya," jelasnya.


Maya perlahan melepaskan pegangannya di pundak Sandra. Kemudian ia berjalan ke arah tangga di susul Bima di belakangnya.


"Tunggu." Kata Sandra yang menghentikan langkah dua orang yang menjabat sebagai sekertaris pribadi keluarga Wijaya. Kini ia maju selangkah. Berdiri tepat di belakang Maya dan Bima, yang ia ketahui sebagai orang kepercayaan dua kakak laki-lakinya. "Kak Bima bagaimana kau bisa tau kalau kak Maya pulang dari luar negeri? Apa kau yang menjemput kak Maya dari bandara?"

__ADS_1


Pertanyaan Sandra membuat Maya dan Bima bingung mau menjawab apa. Sebelum berbalik ke arah Sandra, mereka saling menatap satu sama lain. Seperti mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari Sandra.


Maya berusaha tersenyum penuh makna ketika ia sudah berhadapan dengan Sandra. "Sandra... Kakak..."


"Saya memang menjemput Maya dari bandara nona Sandra."


Jawaban Bima membuat dua wanita yang kini masih berdiri di lantai bawah mengarahkan pandangannya pada dirinya. "Tuan muda Alex menyuruh saya untuk menjemput Maya dari bandara nona. Jadi..."


"Maya..."


"Tante..." Maya membungkukkan badan pada wanita paruh baya yang baru turun dari tangga sambil membawa nampan.


"Kau baru pulang?" Tanya Marisa yang di jawab anggukan kepala oleh Maya. "Segera temui Alex di kamar. Sepertinya dia sudah menunggumu untuk membicarakan masalah pekerjaan yang kau bawa dari Amerika." Secara tak langsung penjelasan Marisa membuat Maya dan Bima terselamatkan dari pertanyaan Sandra.


"Baik Tante..." Maya langsung melangkahkan kakinya menaiki tangga. Saat ini yang ada dipikirannya hanyalah harus menemui Alex segera mungkin. Berita yang ia bawa dari ayah Bima harus diketahui oleh atasannya. Ia ingin segera mungkin menemukan istri atasannya. Ia takut jika terjadi sesuatu yang tak di inginkan pada nona mudanya. Mengingat kembali bahwa saat ini istri dari atasannya tengah hamil besar. Maya menghentikan langkahnya saat ia sudah berdiri di depan pintu kamar atasannya yang tak tertutup sempurna. Dengan sopan ia mengetuk pintu kamar atasannya. Namun tak ada jawaban dari dalam. Ia mendorong pintu kamar atasannya hingga terbuka lebar. Mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar, namun ia tak menemukan dimana atasannya berada. Namun kini perhatiannya teralihkan saat ia mendengar suara atasannya dari arah balkon kamar. Sepertinya atasannya sedang menerima sebuah telepon. Perlahan ia mendekati atasannya yang masih sibuk menjawab telepon dengan nada geram. Ingin rasanya ia tau siapa yang telah menelepon atasannya hingga atasannya bisa semarah itu saat menerima telepon.

__ADS_1


"Jika Papa berani melukai Desi seujung kuku saja. Maka Papa pasti akan sangat menyesal karena telah berhadapan denganku."


Mulut Maya menganga tak percaya saat ia sudah bisa menebak siapa orang yang kini berbicara dengan atasannya lewat via telepon.


"Sebenarnya apa yang Papa inginkan?" Tanya Alex dengan nada tinggi. "Papa menginginkan perusahaan? Maka aku dengan suka rela memberikannya pada Papa. Katakan saja apa yang Papa inginkan, aku pasti akan memberikan semuanya. Tapi aku mohon jangan sakiti Desi."


Maya yang mendengar pembicaraan sang atasan dengan Hendra Wijaya hanya bisa menahan geram. Ia tak akan membiarkan Hendra Wijaya menghancurkan keluarga atasannya. Ia memang tak bisa mendengar apa yang Hendra katakan namun jika dilihat dari nada bicara atasannya bisa ia pastikan kalau Hendra memang sedang mengancam nyawa nona mudanya.


"Aku akan menyelamatkan istriku sendirian. Aku akan membawa dirinya segera pulang."


Perkataan atasannya sangat bisa di dengar dengan jelas oleh Maya. Ia yang kini sedang berada dalam jarak lebih dua meter merasa sangat iba pada atasannya. "Anda tidak akan sendirian Pak. Saya akan bersama anda untuk menemukan nona Desi."


Alex menghadap ke asal suara. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Orang yang selalu mendukungnya kini telah berada di hadapannya. Padahal tiga hari yang lalu, ia meninggalkan orang tersebut di Amerika untuk mengurus urusan bisnisnya yang tertunda lantaran ia harus segera kembali ke Indonesia karena mencemaskan sang istri. "Maya..."


Maya melangkah maju ke arah atasannya. Berdiri tegap di depan orang yang selalu ia hormati. "Anda jangan khawatir Pak. Saya akan selalu ada di samping anda selama anda membutuhkan saya." Ucap Maya pasti. Inilah saatnya. Saat ia harus memberikan yang terbaik pada atasannya atas apa yang telah ia dapat dari pria gagah di hadapannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2