
"Apa kau serius menjalin hubungan dengan Bima?" Tanya Alex yang duduk di bangku belakang mobil. Kedua matanya menatap ke arah luar jendela mobil. Melihat lalu lalang kendaraan di jalan yang saat ini ia lalui.
"Maafkan saya Pak. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," jawab Maya yang masih fokus menyetir. Sesekali matanya melirik spion tengah. Mencari tau ekspresi wajah atasannya. Ia salah. Karena telah berkata akan kejelekan atasannya. Menurutnya minta maaf adalah salah satu kalimat yang tepat untuk menyelamatkan dirinya saat ini.
"Jawab saja pertanyaan ku," sudah melihat Maya dari bangku belakang.
Sedangkan Maya masih mencuri pandang dari kaca spion tengah. Jujur, ia sangat takut akan sikap Alex padanya. Ini pertama kalinya atasannya memarahinya. Ini juga pertama kalinya dirinya membicarakan atasannya di belakangnya. "Maafkan saya Pak, saya..."
"Sudah ku bilang jawab saja pertanyaan ku," memotong perkataan asisten pribadinya. Ingin segera tau akan perasaan Maya pada Bima. "Kau marah karena aku memarahi Bima di depanmu. Iya kan?" Sudah mendekat ke depan.
"Saya benar-benar minta maaf Pak..."
"Kau sakit hati karena aku memarahi Bima di depanmu?
Sesaat Maya memejamkan matanya. Namun sesaat lagi ia membuka matanya. Kembali merutuki kebodohannya sendiri saat semua yang dikatakan oleh atasannya benar adanya. Masih berusaha fokus menyetir meski ia merasa di sudutkan oleh atasannya. "Saya menyesal Pak. Saya benar-benar minta maaf..."
"Apa sangat sulit menjawab pertanyaan ku dengan benar hah?" Sudah mendelik tajam. Namun sesaat ia menyandarkan punggungnya dengan keras di bantalan jok mobilnya. Merasa kesal saat Maya tak kunjung menjawab pertanyaannya. Melipat kedua tangannya di depan dada. Menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Masih tak mendengar jawaban dari Maya. "Kau benar-benar harus di hukum karena kesalahanmu." Sambil melihat ke arah luar jendela.
"Saya benar-benar minta maaf Pak. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," kembali takut akan ancaman atasannya padanya.
"Keputusanku sudah bulat. Kau akan menerima hukumanmu dengan segera..." Kata Alex menjeda kalimatnya. "Dan hukuman mu adalah..."
"Saya minta maaf Pak. Jangan memecat saya dari perusahaan. Saya..."
"Kau harus segera menikah dengan Bima."
"Apa?" Menginjak rem secara spontan. Tidak tau jika Alex terpental ke depan akibat ulahnya.
*
Sedangkan di perusahaan Wijaya Group...
__ADS_1
"Apa?" Bima mematung dengan pernyataan yang Farel berikan. Ia bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi saat atasannya menyuruhnya untuk segera menikahi Maya.
"Ya benar." Farel masih duduk di kursi kebesarannya. Memberikan pernyataan bahwa Bima harus segera menikahi Maya. Semua sudah ia rencanakan bersama Alex tadi. Ia ingin Bima segera melepas masa lajangnya. "Segera halalkan Maya. Maka aku tidak akan kepikiran lagi tentang dirimu."
"Apa maksud anda tuan muda?"
"Apa kau mencintai Maya?"
"Ya tuan muda. Saya mencintai Maya."
"Apa kau rela jika kehilangan dirinya?"
"Tidak tuan muda," menggelengkan kepalanya cepat. "Bagaimanapun caranya saya akan tetap mempertahankan Maya agar berada di samping saya."
"Lalu kau menunggu apa lagi?" Farel berdiri dan berjalan ke arah Bima. "Kau sudah menemukan tambatan hatimu. Jangan buang-buang waktu lagi. Segeralah untuk mempersuntingnya," akhir kata Farel seraya menepuk pundak Bima yang dari tadi berdiri di depan meja kerjanya.
*
"Maafkan saya Pak. Saya benar-benar minta maaf..." Menghadap ke belakang sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Apa kau tidak mempunyai kalimat lain selain kata maaf?" Kembali mendelik tajam. Masih merasa kesal lantaran Maya tak kunjung menjawab pertanyaannya dengan benar.
"Saya..." Menggantungkan kalimatnya. Bingung akan berkata apa pada atasannya. "Maaf..." Akhirnya kata itu lagi yang terucap dari mulutnya.
Alex menghembuskan nafas kasar ke udara. Kembali melipat kedua tangannya di depan dada. Menyandarkan punggungnya di bantalan jok mobilnya. Tak lupa menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Seperti itulah kebiasaan yang sering ia lakukan jika sedang kesal. "Kau tau. Selama kau menjadi asisten pribadiku kurang lebih tujuh tahun, aku tak pernah melihat dirimu menjawab pertanyaan yang ku ajukan dengan salah. Kau selalu membuat ku terpukau dengan semua kerja kerasmu. Terlebih lagi..." Alex menggantungkan kalimatnya sebentar. "Terlebih lagi saat kau membantuku menyelamatkan istriku dari penyekapan yang di lakukan oleh ayah kandungku sendiri." Alex berhenti sejenak. Pandangannya mengarah keluar jendela mobilnya yang menampakkan suasana hiruk pikuk di jalan raya yang saat ini dipadati oleh banyaknya segala jenis kendaraan. "Aku berterima kasih atas semua kerja kerasmu pada perusahaan ku. Aku juga berterima kasih karena tanpa dirimu aku tak akan bisa menyelesaikan semua masalahku sendirian." Kini pandangannya mengarah lagi pada Maya yang masih duduk di belakang kemudi sambil menatap dirinya. "Inilah saatnya. Kau harus bangkit dari kejadian masa lalu mu yang suram. Kau berhak untuk bahagia. Bima sangat mencintaimu. Jangan pernah melepaskannya. Karena aku tau... Kalau kau juga sangat mencintainya..."
Perkataan Alex yang panjang lebar membuat Maya mematung di tempatnya duduk. Ia tak menyangka jika atasannya akan mengatakan hal demikian. Hal yang membuatnya sangat menyentuh. Hal yang membuatnya sangat dihargai oleh atasannya. Padahal dalam lubuk hatinya yang terdalam ia hanya menganggap dirinya sebagai wanita yang pernah di tolong oleh Alex. Wanita yang hanya menyerahkan seluruh hidupnya untuk membantu Alex menangani perusahaannya dan juga keluarganya. Maya sudah membuka mulutnya akan mengatakan sesuatu. Namun mulutnya kembali terdiam saat deringan ponsel miliknya berbunyi. Segera ia mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam tasnya. Ia terdiam cukup lama sambil tak mengedipkan matanya ketika tau siapa yang telah meneleponnya.
"Siapa? Kenapa tak kau jawab?"
Suara Alex berhasil membuat Maya sadar dari lamunannya. "Bukan siapa-siapa," buru-buru dirinya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya setelah me-reject ponsel miliknya.
__ADS_1
"Cepat berikan padaku," sudah curiga akan orang yang menelfon asisten pribadinya. Ia menggantungkan tangannya di udara saat meminta ponsel Maya. Namun Maya tak kunjung memberikannya. Membuat ia merasa kesal lagi. "Cepat berikan!" Berkata lagi saat suara ponsel Maya kembali berdering.
"Tapi Pak..." Masih mempertahankan ponselnya.
"Cepat berikan!" Kembali mendelik tajam pada Maya. Dan pada akhirnya dirinyalah yang menang. Mau tak mau Maya memberikan ponselnya. Alex membulatkan kedua matanya tak percaya saat siapa yang telah menghubungi Maya. Atau lebih tepatnya nama kontak yang di simpan oleh asisten pribadinya. "My first love Bima?" Kata Alex menirukan nama kontak yang di tulis Maya.
"Pak... Itu... Saya..." Tak bisa mencari alasan yang masuk akal pada nama yang ia simpan di kontak ponselnya. "Biarkan saya..." Ingin merebut ponsel miliknya namun tangan Alex lebih cepat dari tangannya.
"Hallo... Bima..."
"Tuan muda Alex..." Suara diseberang sana sudah terdengar terbata-bata.
"Iya ini aku," katanya seraya melirik Maya yang sudah terlihat gelisah di bangku depan. "Apa Farel sudah memberikan hukumannya padamu?"
"Pak... Saya..."
"Katakan saja. Tak perlu malu. Bagaimana? Apa kau menerima Maya sebagai istrimu?"
Pertanyaan yang membuat Maya membelalakkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh atasannya.
Alex tersenyum mendengar jawaban dari Bima. "Jadi kau menerima Maya sebagai istrimu?"
Pertanyaan yang kembali membuat Maya membulatkan kedua matanya. Ia bahkan menutup mulutnya tak percaya dengan percakapan atasannya dan laki-laki yang ia cintai.
"Tapi sayang sepertinya Maya tak sependapat dengan mu."
Maya yang mendengar penuturan Alex membuat dirinya merebut secara paksa ponsel yang masih berada di telinga atasannya. "Sayang jangan percaya dengan Pak Alex. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu... Aku ingin kita segera melangsungkan pernikahan. Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Sayang kau cinta pertama dan terakhirku. Jangan pernah tinggalkan aku..."
Semua penuturan Maya pada Bima lewat via telepon membuat Alex tertawa lepas. Ia tak percaya jika Maya akan bereaksi seperti itu.
Sedangkan Maya yang melihat atasannya tertawa lepas membuat dirinya menghentikan apapun yang akan di ucapkan oleh mulutnya.
__ADS_1
Bersambung