
Maya berdiri di depan pintu ruang perawatan Bima. Masih menimbang apakah ia akan masuk ke dalam atau tidak. Panggilan dari atasannya tadi lewat via telepon membuatnya mau tak mau menyeret kakinya sampai disini. Ia menghela nafas berat saat perintah atasannya harus ia turuti. Sesaat ia sudah memegang gagang pintu. Namun sesaat lagi ia melepaskan gagang pintu tersebut. Dirinya masih kesal lantaran perasaan Bima yang sepertinya tak menyukainya. "Sudahlah. Aku tidak mau masuk ke dalam," katanya sendiri kesal seraya menghentakkan kakinya di lantai. Memutar badannya dan berjalan meninggalkan ruang perawatan Bima. Namun baru lima langkah ia berjalan kini kakinya terhenti sejenak. "Tapi bagaimana jika Pak Alex marah padaku?" Katanya lagi sendiri. Masih menimang-nimang apakah ia akan masuk ke ruang perawatan Bima atau tidak. Membalikkan badannya lagi ke arah ruang perawatan Bima dan sesaat kembali berjalan menjauhi ruangan tersebut. Sesaat ia berhenti dan berdecak kesal. "Bukankah aku tidak pernah melanggar perintahnya? Sesekali melanggar perintahnya sepertinya bukan masalah besar baginya. Aku tidak peduli. Aku tidak akan masuk ke dalam." Katanya lagi sendiri. Dan dengan pasti ia benar-benar melangkah pergi dari ruangan tersebut.
"Kau mau kemana?"
Kalimat tersebut berhasil membuat Maya menghentikan langkahnya seketika. Ia masih mematung di tempatnya berdiri saat suara yang sangat ia kenali sepertinya sedang bertanya padanya. Perlahan ia membalikkan badannya. Ia menutup mata ketika tau siapa yang sudah berdiri di hadapannya. "Pak saya..."
"Kau mau kemana?" Tanya Alex lagi dengan nada geram. "Aku sudah menunggumu lama di dalam. Tapi kau tak kunjung datang." Memarahi sekertarisnya saat ia tau bahwa Maya berjalan ke arah berlawanan dari ruang perawatan Bima.
"Maafkan saya Pak... Tapi..." Menggantungkan kalimatnya saat ia harus menemukan alasan yang tepat agar dirinya tak jadi masuk ke dalam. "Saya ada pekerjaan penting yang..."
"Pekerjaan apa? Bukankah aku atasanmu?" Tanya Alex yang lagi-lagi memotong perkataan Maya. Lalu dirinya melangkah maju mendekati Maya. "Saat ini pekerjaan mu adalah mengurus Bima sampai sembuh."
"Tapi Pak..."
"Tidak ada tapi-tapian," potongnya lagi. Mengangkat jari telunjuknya agar Maya tak lagi menyela perkataannya. "Kau bahkan tak mengucapkan terimakasih pada Bima. Padahal dia sudah menyelamatkan nyawamu."
Perkataan Alex benar-benar membuat Maya sadar bahwa ia memang belum sempat mengucapkan terimakasih pada Bima.
*
Maya membuka pintu ruang perawatan Bima. Menatap tajam pada laki-laki yang duduk di atas pembaringannya. Perintah atasannya harus ia laksanakan dengan baik. Lagipula benar kata atasannya jika ia harus membalas budi pada Bima karena telah menyelamatkan dirinya.
Ia berjalan ke arah sofa. Duduk disana. Melipat kedua tangannya di depan dada dan menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Masih melihat tajam pada laki-laki yang belum sembuh total akibat luka tusukan senjata tajam tadi siang.
Bukankah aku hanya harus merawatnya sampai sembuh?
Ah menyebalkan sekali. Kenapa aku harus satu ruangan dengan laki-laki ini.
__ADS_1
Laki-laki yang membuatku kecewa seumur hidupku.
Padahal aku sudah membuka hatiku padanya.
Tapi sepertinya dia memang bukan laki-laki yang tepat untukku.
Atau apa karena aku sudah tidak perawan?
Makanya dia tidak menyukaiku?
Ya Tuhan... Sepertinya aku memang harus hidup melajang saat semua laki-laki bahkan ilfil melihat masa laluku yang suram.
"Kenapa kau duduk disana?" Tanya Bima yang membuyarkan semua lamunan Maya. "Kemarilah..." Memanggil Maya dengan isyarat tangannya.
"Tidak mau!" Menggelengkan kepalanya cepat. "Aku disini saja," kembali berkata sambil membuang wajahnya ke sembarang arah. Ia benar-benar masih kesal lantaran sikap Bima padanya.
Sedangkan Maya masih diam tak menjawab penuturan dari Bima. Masih memalingkan wajahnya ke sisi kanannya. Entah apa yang ia lihat saat ini di sisi kanannya. Namun cara itu berhasil menyingkirkan kegugupan saat ia sedang bersitatap dengan Bima.
"Kenapa kau tak menjawab teleponku?" Tanya Bima yang masih tak di jawab oleh Maya. "Kenapa juga kau tidak membaca semua pesanku?" Tanyanya lagi yang sudah memberi jeda waktu agar Maya menjawab pertanyaannya. Namun lagi-lagi wanita yang duduk di sofa yang berjarak dua meter dengannya sepertinya masih enggan menjawab semua pertanyaannya. "Maya..."
Memanggil dengan nada tinggi saat Maya masih diam saja.
"Apa?" Tak kalah memberikan nada tinggi juga pada Bima. Kini pandangannya mengarah pada Bima saat ia sudah merasa terintimidasi akan semua pertanyaan Bima.
"Sebenarnya kau ini kenapa?"
"Kau yang kenapa?" Maya balik bertanya. Ia bahkan sudah berdiri saat rasa kesalnya sudah tak bisa ia tahan.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" Bima tak habis pikir dengan sikap Maya yang tiba-tiba saja marah padanya. Sepertinya ia tak melakukan kesalahan apapun pada wanita berambut panjang yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.
"Kini aku sudah mengerti kenapa kau menolongku tadi siang," kata Maya yang membuat Bima mengerutkan dahi tanda tak mengerti. "Karena kau mau membalaskan dendam mu pada Hendra Wijaya kan? Karena ia telah membuat ayah mu cacat makanya kau membalas dendam padanya kan?" Nafasnya sudah naik turun ketika semua emosi berhasil menguasai dirinya dan kini berhasil ia keluarkan.
"Apa maksudmu?" Bima masih tak mengerti dengan semua penuturan Maya.
"Dan kenapa kau menyelamatkan diriku dari penusukan tadi. Aku bahkan sudah tau semuanya."
"Memangnya apa yang kau tau?"
"Aku tau," berkata sambil kembali melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau mau berterima kasih padaku lantaran aku sudah mempertemukan dirimu dengan Hendra Wijaya. Makanya kau menyelamatkan diriku. Dengan begitu kita impas." Masih membuang muka. Tak ingin bersitatap dengan Bima. Karena saat ia bersitatap dengan Bima degup jantungnya lagi-lagi tak bisa ia kendalikan.
"Lalu?"
"Lalu apa?" Kembali bersuara tinggi saat Bima menanyakan sesuatu padanya.
"Apa lagi yang kau tau?"
"Memangnya apa lagi? Semuanya sudah aku utarakan," kembali mendudukkan dirinya di sofa. Masih melipat kedua tangannya. Semua memang sudah ia jelaskan. Kini tak ada lagi unek-unek yang tertahan di hatinya saat semuanya sudah ia katakan. Namun tiba-tiba perhatiannya teralihkan saat ia mendengar suara tawa Bima yang menggelegar di setiap sudut ruangan. Ia melihat Bima yang masih tertawa sambil tangannya menahan perut yang terluka. "Apa yang kau tertawakan?" Kembali tersulut emosi saat Bima tak bisa menghentikan tawanya. "Kau benar-benar menyebalkan." Sudah berdiri sambil menghentakkan kakinya di lantai. Berjalan ke arah pintu. Ingin pergi dari ruang perawatan Bima.
"Tunggu..."
Maya menghentikan langkahnya saat Bima mencegahnya untuk keluar. "Aku tidak mau berbicara dengan mu. Kau sangat menyebalkan." Sudah memegang gagang pintu. Berniat akan membuka pintu tersebut.
"Aku mencintaimu..."
Kata-kata Bima kembali menghentikan langkah Maya. Tangannya yang sudah memegang gagang pintu kini terlepas begitu saja. Ia berharap dirinya tak salah dengar akan perkataan laki-laki yang masih duduk di atas pembaringannya. Perlahan ia membalikkan badannya. Menatap pada laki-laki yang mengenakan pakaian rumah sakit. Entah kenapa matanya kini di penuhi dengan kabut putih saat ia berusaha tetap berdiri tegak ketika ia mendengar kalimat dari Bima.
__ADS_1
Bersambung