
Desi berdiri di atas tebing yang tinggi. Tangannya dengan lembut mengelus perutnya yang membuncit. Hari gelap dan berkabut. Tak ada penerangan sama sekali. Takut. Benar, saat ini ia sedang takut. Ia tak pernah melihat tempat ini sebelumnya. Ia melihat ke bawah. Ke arah jurang yang sangat terjal. Rasa ngeri membuat jantungnya berpacu dengan cepat. Namun di sisi lain ia melihat jalan setapak. Dengan berhati-hati ia melangkah ke jalan setapak yang ia lihat tadi. Banyak sekali kerikil tajam yang mengenai kakinya akibat ia tak mengenakan alas kaki. "Auw..." Pekiknya sambil melihat kakinya yang sudah berdarah lantaran terkena kerikil. Namun ia mencoba menahan rasa sakit di kakinya. Ia harus pergi dari tempat ini. Tempat yang sangat asing baginya. "Papi... Mami..." Panggil Desi setengah berteriak. Ia sudah kesusahan berjalan lantaran kakinya yang sudah terluka. Meminta pertolongan pada orang terdekatnya adalah satu-satunya cara agar ia bisa pergi dari tempat ini. "Papi... Mami..." Teriak Desi lagi. Nafasnya sudah naik turun ketika tak ada pertolongan dari dua orang tuanya.
Desi kembali berjalan perlahan. Tangan kanannya ia gunakan untuk menahan kakinya yang terluka sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menahan perutnya bagian bawah. "Alex..." Panggil Desi lagi. Matanya sudah berkaca-kaca saat orang-orang terdekatnya tak menolongnya. "Alex... Kamu dimana?" Teriaknya lagi seraya menghentikan langkahnya. Ia menangis. Menangis karena tak bisa menemukan seseorang yang ia mintai tolong. Ia sudah berjalan lebih dari empat meter namun ia tak bisa melihat ujung jalan dari jalan setapak yang ia lalui. "Alex..." Teriaknya lagi. "Kamu dimana?" Berkali-kali ia sudah meneriakkan nama suaminya. Namun Alex masih tak muncul dihadapannya.
Tangisnya semakin pecah saat hawa dingin tiba-tiba datang. Langit yang memang sudah mendung kini menitikkan air hujan. Daerah sekitar yang berkabut membuatnya lagi-lagi ketakutan. Ia memaksa badannya untuk berdiri. Mengusap air matanya yang mengalir di pipinya dengan kasar. Rintik hujan yang berangsur dengan deras menambah beban yang Desi rasakan. Ia harus mempercepat langkahnya. Entah dimana ia sekarang berada. Namun ia harus keluar dari jalan setapak ini. Dengan langkah setengah berlari ia terus melihat ke arah depan.
Namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang biasa ia lihat di depan gerbang pintu rumah suaminya saat malam hari tiba. Seseorang yang selalu memakai pakaian serba hitam itu tengah berdiri di depannya sambil menundukkan kepala. Di lihat dari tampilannya ia sudah menebak kalau orang yang berdiri di depannya adalah seorang laki-laki. "Siapa kamu?" Tanya Desi dengan suara lantang. Sebenarnya ia sangat takut, namun demi keselamatannya ia harus menghadapi orang yang masih bergeming di hadapannya. Rintik hujan yang semakin deras membuatnya tak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang berdiri dihadapannya. "Kau orang yang sama dengan orang yang hampir setiap malam berdiri di depan gerbang rumah suamiku kan?"
Pertanyaan kedua Desi membuat orang yang ada dihadapannya mengeluarkan suara tawa licik. Perlahan seseorang yang tadinya menundukkan kepalanya kini melihat ke arah Desi.
Entah mungkin karena hujan saat ini pengelihatan Desi sedikit kabur. Ia mengusap kasar wajahnya yang terkena air hujan. Namun ia masih tak bisa melihat dengan jelas siapa orang yang berdiri di hadapannya. "Siapa kau?" Tanya Desi lagi dengan suara lantang. Namun pertanyaannya masih tak di jawab oleh laki-laki yang masih berdiri didepannya. "Aku tanya siapa kau?" Tanyanya lagi yang dijawab tawa keras oleh laki-laki didepannya. Rasa takut makin menghinggapi dirinya saat laki-laki didepannya mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya. "Tidak..." Desi menggelengkan kepalanya pelan seraya berjalan mundur selangkah demi selangkah saat laki-laki dihadapannya melangkah mendekati dirinya. "Berhenti disana!" Perintah Desi dengan nada setengah berteriak. "Alex..." Panggil Desi ketika tau nyawanya terancam. "Alex..." Panggilnya lagi. Kakinya bahkan tak berhenti berjalan mundur ketika laki-laki yang membawa pisau didepannya masih tak menghentikan langkahnya.
Sesaat langkah Desi terhenti ketika ia tau kalau tiga langkah lagi kakinya sudah berada di bibir jurang. "Sebenarnya apa maumu hah?" Suara Desi sudah gemetaran saat nyawanya sudah berada di ujung tanduk.
"Aku mau kau mati!" Suara lantang laki-laki yang berada di depan Desi begitu melengking di telinga. Sesaat itu juga pisau yang ada di tangannya ia angkat ke udara. Ia sudah bersiap menghabisi nyawa Desi. Dengan langkah cepat ia berjalan maju dan melayangkan pisaunya ke arah Desi.
"Aaa..." Teriak Desi.
__ADS_1
*
Teriakan Desi berhasil membangunkan dirinya sendiri yang tengah tertidur lelap. Suara deringan ponselnya juga tak kalah membangunkan ia saat bermimpi buruk.
Nafas Desi terengah-engah ketika ia sudah sadar dan duduk di atas tempat tidurnya. Ia melirik ponsel yang ada di atas meja nakas. Seketika ia langsung meraih ponselnya saat ia tau siapa yang telah menelfonnya tengah malam begini. Nama suaminya tertera jelas di layar ponsel miliknya. "Assalamualaikum..." Ucap Desi setelah berhasil menggeser icon berwarna hijau di layar ponselnya.
Wa'alaikumsalam...
Suara di seberang sana tertahan saat mendengar dengan jelas saat Desi kesusahan bernafas.
Sayang... Kau baik-baik saja?
Sayang...
Suara cemas Alex bisa ditangkap jelas oleh telinga Desi. Setelah berhasil mengatur nafasnya, ia kembali menempelkan ponselnya di telinganya. "Aku baik-baik saja sayang..." Jawab Desi pasti. "Tunggu sebentar..." Desi melihat jam dinding ketika tau kalau saat ini masih malam. Ia bisa melihat langit yang masih gelap ketika pandangannya mengarah ke arah balkon kamarnya. Sepertinya malam ini langit sedang menangis. Nampak jelas diluar sedang gerimis namun sedikit deras. Ia memang belum menutup pintu balkon kamarnya karena saat ini masih pukul delapan malam. Sepertinya setelah makan malam tadi, ia ketiduran. "Kau tidak sibuk?"
Benar sekali saat ini aku sedang sibuk. Aku sibuk merindukan dirimu.
__ADS_1
Jawaban Alex membuat Desi senyum-senyum sendiri. Ia bahkan telah lupa tentang mimpi buruknya yang baru saja ia alami. "Dasar tukang gombal," celetuk Desi seraya melangkahkan kakinya mengarah ke arah balkon kamar. Berniat untuk menutup pintu balkon kamar yang terbuat dari kaca agar air hujan tak masuk ke dalam kamarnya.
Kau bilang apa? Aku tukang gombal? Aku benar-benar sedang merindukanmu sayang...
Pernyataan Alex membuat Desi menahan tangan kanannya yang sudah memegang gagang pintu balkon kamar. Senyum yang dari tadi mengembang di bibirnya seketika sirna saat ia melihat seseorang yang sedang berdiri di depan gerbang rumah suaminya. Seseorang yang sama persis yang ia lihat di dalam mimpinya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari pintu kaca. Ia bahkan tak peduli saat tubuhnya terkena air hujan. Ia mencoba melihat secara jelas orang yang masih berdiri di depan gerbang.
Sayang...
"Alex katakan kalau ini bukanlah mimpi?"
Apa? Kau bilang apa? Mimpi? Ini bukan mimpi sayang. Aku benar-benar sedang meneleponmu.
Pernyataan Alex kembali membuat Desi mematung. Kedua matanya seketika berkaca-kaca saat ia melihat seseorang yang berdiri di depan pintu gerbang sedang mengeluarkan pisau di balik bajunya dan sedang melihat ke arahnya. "Tidak..." Gumamnya lirih. Tangannya menutup mulutnya yang menganga tak percaya.
Sayang... Sayang kau kenapa? Kau baik-baik saja kan? Sayang...
"Tidak..." Kata Desi lagi sendiri. Tanpa sadar ia berjalan mundur dan tanpa ia tau kakinya tergelincir di lantai balkon kamarnya yang basah karena hujan. Desi terjatuh dan kepalanya membentur pintu kaca yang membuat dirinya pingsan seketika. Sedangkan ponsel yang ia pegang juga terjatuh di lantai di sampingnya.
__ADS_1
Sayang... Sayang... Jawab aku... Sayang... Jangan membuatku takut seperti ini... Sayang...
Bersambung