
Farel sedang membaca pesan yang dikirimkan oleh Alex padanya. Saat ini ia tengah berdiri di ruang pakaiannya. Sehabis mandi tadi ia hanya menggunakan handuk sebatas pinggang. Tangan kirinya ia sandarkan di atas meja yang terbuat dari kaca yang berisi koleksi jam tangannya. Sedangkan tangan kanannya sibuk membalas pesan yang dikirimkan oleh sepupu laki-lakinya.
"Sayang, kau belum memakai baju?" Tanya Alika yang memasuki ruang pakaian. Ia berjalan ke arah lemari pakaian. Ia juga sesekali melirik ke arah Farel yang masih belum menjawab pertanyaannya. "Kau sedang membalas pesan dari siapa?" Tanyanya lagi sambil memilah baju kerja suaminya.
"Dari Alex," jawab Farel singkat. "Katanya hari ini Desi belum bisa masuk kerja," ujarnya lagi seraya menaruh ponselnya di atas meja kaca. Lalu ia berjalan ke arah sang istri. Farel memeluk Alika dari belakang. Kebiasaan yang sampai sekarang tak bisa ia hilangkan. Kebiasaan yang semakin lama manjadi aktifitas kesukaannya. Farel menempelkan bibirnya di ceruk leher sang istri. Pagi-pagi ia sudah merasa gairahnya membuncah saat melihat Alika yang tak mengenakan jilbab. "Dimana Agam?"
"Baru saja ia tidur," jawab Alika seraya berbalik menghadap sang suami. Tangannya sudah memegang setelan jas yang akan dikenakan Farel. "Pakailah..." Kata Alika yang sedikit mendorong dada Farel dengan pakaian yang ia pegang saat ini.
"Sayang..." Farel sudah berjalan ke arah Alika.
"Sudah siang," Alika memberikan pelototan tajam melalui matanya. Jika ia tidak tegas maka sesuatu yang di inginkan Farel saat ini pasti akan terjadi. "Lihatlah ini sudah jam sembilan," kata Alika yang melirik jam dinding melalui ekor matanya. "Pasti mas Bima sudah nunggu kamu di bawah. Sekarang cepat pakai," kata Alika lagi penuh penekanan. Kini dirinya melangkah keluar dari ruang pakaian dan hanya meninggalkan Farel seorang.
"Hem selalu saja bisa membaca pikiranku," gumam Farel lirih. Lalu dirinya melepas handuk yang dari tadi melekat di tubuh bagian bawahnya dan memulai memakai pakaian yang sudah di pilihkan Alika untuknya.
***
__ADS_1
Sedangkan di apartemen Desi...
"Minum obatnya," kata Alex seraya memberikan obat yang tadi sempat ia tebus di apotik terdekat. Obat yang di berikan berupa resep dari dokter Roni tadi malam. Ada tiga macam obat yang kini sudah berada di telapak tangan kanan Alex. Sedangkan tangan kirinya tengah memegang gelas kaca yang berisi air putih.
Desi meminum semua obat yang diberikan Alex padanya. Setelah sarapan tadi selesai, keduanya saat ini tengah duduk di depan ruang televisi. Setelah meminum obat, Desi menyandarkan kepalanya di bantalan sofa. Ia memejamkan matanya saat rasa pusing masih menyerang kepalanya.
"Kau masih demam," kata Alex seraya memegang kening Desi. "Kenapa kemarin kau harus hujan-hujanan? Kenapa tidak bilang jika memang ingin ke apartemen. Kau kan bisa minat bantuan Adi atau Rafi."
"Ini semua gara-gara dirimu!" Kata Desi seraya membuka kedua matanya lebar-lebar. Tangannya sudah menyingkirkan tangan Alex dari keningnya dengan kasar. "Kalau kau pergi ke Amerika pamit padaku, maka semuanya tidak akan serumit ini." Kata Desi yang kesal karena memang dirinya sakit saat ini gara-gara ia terlalu memikirkan Alex. "Satu lagi. Kenapa kau tidak menjelaskan padaku kalau Maya sebenarnya adalah sekertarismu." Sambung Desi dengan nada sedikit kesal. Bahkan sampai saat ini ia masih merasa risih jika Alex sedang membicarakan mengenai Maya. Ia memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Saat ini ia sedang melakukan protes atas rasa kecewanya ketika Alex terlambat menjelaskan siapa Maya sebenarnya.
Alex tertawa. "Apa kau saat ini sedang cemburu?" Tanya Alex yang masih diselingi tawa renyah dari mulutnya.
Alex memegang dagu sang istri agar mereka bisa bersitatap. Seakan tau apa yang ada dipikiran Desi, kini Alex hanya bisa menahan tawa di dalam hati. "Kau lupa penjelasan ku tadi malam tentang Maya?" Tanyanya yang masih memperhatikan wajah Desi. Namun pertanyaannya hanya di jawab kebisuan oleh Desi. "Dengarkan aku. Maya hanyalah sekertaris pribadiku saja. Tidak lebih dari itu. Posisimu bahkan lebih tinggi dari dirinya di dalam hatiku."
"Jadi maksudmu Maya juga ada di dalam hatimu? Sebenarnya kau ini..."
__ADS_1
Alex mencium bibir Desi sekilas. "Kenapa kau selalu banyak bicara?" Tanya Alex yang memang menjadikan kesempatan mendaratkan sebuah kecupan di bibir Desi jika memang Desi terlalu banyak bicara. Sedangkan Desi hanya bisa membelalakkan kedua matanya saat Alex kembali menyerangnya seperti itu. "Dengarkan aku dulu. Maya sudah bekerja padaku lebih dari enam tahun."
Desi teringat akan kata-kata Maya saat di bioskop ketika Maya bilang kalau dirinya dan Alex memang sudah mengenal lebih dari enam tahun.
"Aku sangat bersyukur karena Maya menjadi sekertarisku. Dia wanita yang sangat cerdas. Apapun yang aku katakan dia selalu menurutinya. Seperti halnya saat aku menyuruhnya ketika bertemu denganmu di mall dulu. Aku mencoba menyuruhnya untuk membuat dirimu merasa cemburu dengan tidak mengatakan kalau dirinya adalah sekertaris pribadiku."
"Apa?"
Alex tersenyum sesaat. "Semua apa yang kau suka ataupun tidak, Maya juga sudah mencari tau tentang dirimu. Bahkan saat tiba-tiba aku datang ke mall dan duduk di sampingmu saat berada di bioskop, itu juga aku tau dari Maya. Dia mengirim pesan padaku jika kau sangat tidak menyukai film horor, namun kau tetap masuk ke bioskop tersebut. Sebenarnya apa yang ada di dalam pikiranmu saat itu?" Tanya Alex yang menunjuk kening Desi dengan jari telunjuk kanannya. Lalu ia memegang kedua tangan Desi dan menariknya ke dalam genggamannya. "Aku sudah menyuruhnya untuk menjagamu. Aku bahkan tidak ingin sampai Sandra menyakitimu saat aku tidak ada di sampingmu. Karena dari dulu aku sudah mencintaimu..." Jelas Alex saat menyatakan perasaannya yang terpendam dari dulu.
Desi menatap kedua manik berwarna coklat yang saat ini tengah duduk di depannya. Entah kenapa rasa bersalah pada Maya tiba-tiba muncul di hatinya. Semua pikiran negatif tentang Maya seketika sirna saat Alex menyatakan perasaannya pada dirinya. "Kau..."
"Jangan bertanya kapan pastinya aku mencintaimu? Karena saat aku menerima permintaan mu untuk menjadikanku suami sandiwaramu, mungkin saat itu juga aku sudah mencintaimu. Aku bahkan tidak menyangka dengan apa yang ada di dalam hatiku. Tapi aku mohon jangan pernah sekali lagi meninggalkanku seperti ini lagi," jelas Alex yang mengeratkan genggamannya pada tangan sang istri. "Sudah cukup aku dibuat bingung saat aku tak bisa menemukanmu dimana-mana ketika aku pulang dari Amerika. Aku sudah berpikir yang tidak-tidak saat Mama bilang kalau kau sedang sakit. Aku mencintaimu. Aku benar-benar sangat mencintaimu."
Desi langsung menghambur ke pelukan sang suami. Butuh waktu tiga bulan untuk dirinya merasakan apa yang juga dirasakan oleh Alex. Mungkin jika dihitung-hitung, Alex lah yang lebih dulu mencintainya. Karena seperti penjelasan yang ia dengarkan baru saja, saat Alex bilang rasa cintanya tumbuh ketika ia tak menolak permintaan Desi untuk menawarkannya akan pernikahan sandiwara ini. "Aku juga mencintaimu..." Kata Desi yang makin mengeratkan pelukannya pada Alex. "Maafkan aku karena sudah salah paham padamu," tambahnya lagi.
__ADS_1
"Sudahlah aku ingin kau lupakan semuanya. Kita mulai semuanya dari awal. Oke!" Kata Alex yang di jawab anggukan kepala oleh Desi. Ia makin mengeratkan pelukannya saat hatinya sudah merasa lega ketika ia tak harus bersandiwara untuk menjadi suami Desi. Ia tak pernah sekalipun merasakan hal ini. Saat ia tiba-tiba menerima permintaan Desi untuk menjadi suaminya. Saat itu pula rasa tiba-tiba muncul di hatinya. Dan mungkin hal itu yang disebut dengan cinta pada pandangan pertama.
Bersambung