Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Cemburu


__ADS_3

Esok harinya di rumah sakit...


Desi sudah menggendong buah hatinya di pelukannya. Mengelus pipi chubby nya beberapa kali. Mencium semua wajah putri kecilnya. Ia sudah tak sabar membawanya pulang. Ia sudah tak sabar menghabiskan waktu sepanjang hari bersama putri pertamanya. Berjalan berdampingan bersama sang suami menuju parkiran rumah sakit. Setelahnya ia masuk ke dalam mobil saat Alex sudah membukakan pintu mobil untuknya.


"Kau terlihat sangat bahagia," kata Alex yang sudah mendudukkan dirinya di bangku belakang kemudi.


"Tentu saja aku sangat bahagia," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari putri kecilnya.


Alex masih memperhatikan sang istri sambil memakai sabuk pengaman di badannya. Sekali lagi ia kembali memperhatikan sang istri. "Sayang..."


"Hem..."


"Lihatlah aku," kata Alex yang memajukan wajahnya agak berdekatan dengan sang istri.


"Ada apa?" Tanyanya yang sekilas menghadap ke arah Alex. Namun sesaat lagi pandangannya kembali pada sang buah hati.


"Aku perhatikan ada yang berbeda denganmu hari ini."


Desi terdiam. Memikirkan apa yang di katakan oleh suaminya. "Benarkah?" Meneliti seluruh penampilannya dari atas sampai bawah. "


"Kurasa tidak ada yang beda. Penampilan ku juga seperti biasanya," katanya yang lagi-lagi memperhatikan apa yang ia kenakan saat ini. Sampai-sampai ia berkaca pada spion tengah mobil yang ia tumpangi. Meneliti wajahnya jika mungkin ada yang aneh menurut Alex. "Memangnya apa yang beda dariku?" Tanyanya yang tak menemukan sesuatu yang dirasanya aneh.


"Kau tidak memperhatikan ku hari ini."


"Apa?" Pernyataan Alex membuat Desi terkejut setengah mati. Tidak biasanya suaminya berperilaku seperti ini. "Apa maksudmu?" Sudah meminta jawaban dari Alex mengenai pernyataan yang tak bisa ia terima. Ini pertama kalinya sang suami protes padanya. Padahal menurutnya seharian ini ia bersikap seperti biasanya.


"Iya. Kau tidak seperti biasanya," menjawab dengan suara lantang. Memberi penjelasan akan sikap sang istri yang tak memperhatikan dirinya. "Dari tadi pagi kau sudah sibuk ingin segera ke rumah sakit. Dan setelah dari rumah sakit, pandanganmu selalu tertuju pada putri kita. Kau sama sekali tidak memandangku sayang..."


Perlahan Desi tertawa dengan semua penjelasan dari Alex. Ini benar-benar pertama kalinya sang suami melayangkan protes padanya. "Apa saat ini kau sedang cemburu?" Tanyanya yang masih di selingi tawa di mulutnya.


"Apa?" Tanya Alex seraya mengerutkan keningnya.


"Iya sayang, apa saat ini kau sedang cemburu dengan putri kecil kita?" Tanyanya yang masih di jawab kebisuan oleh Alex. "Kau cemburu saat aku lebih memperhatikan putri kita dari pada aku memperhatikan dirimu?"


"Bu-bukan..."


"Sayang..." Memegang tangan Alex yang akan menyanggah semua persepsinya. "Kau suami yang tak pernah tergantikan oleh laki-laki manapun. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," katanya memberi pengertian pada Alex yang dari tadi memang terlihat sedang cemberut. "Tapi aku mohon mengertilah. Bayi kita masih memerlukan kasih sayang kita. Aku memperhatikannya karena memang dia membutuhkan perhatian dariku juga darimu. Aku memperhatikannya karena dia buah cinta dari kita berdua. Tapi percayalah cinta pertamaku hanya untukmu seorang. Hem..." Mencium tangan Alex yang dari tadi dipegangnya.


Sedangkan Alex akhirnya bisa bernafas lega saat mendengar penjelasan dari sang istri. Mungkin ia merasa khawatir jika Desi lebih memperhatikan bayinya dari pada dirinya.

__ADS_1


*


Alex membukakan pintu mobil untuk Desi. Ia bisa melihat anggota keluarganya, keluarga mertuanya dan keluarga sepupunya sudah berkumpul di depan rumahnya. Menyambut kedatangan anggota baru keluarga Wijaya yakni putri kecilnya.


"Sayang sayang... Ayo sini Oma gendong," kata Marisa yang sudah berlari mendekati menantunya. Ingin menggendong cucu pertamanya. Ini adalah hari yang sangat membahagiakan. Bahagia karena Alex sudah mengabulkan permintaannya yakni memberikannya seorang cucu. Ia mencium semua wajah cucunya hingga tak ada yang luput sekalipun.


"Saya juga ingin menggendongnya," kata Siska yang kini meminta cucu pertamanya pada besannya. Dirinya juga tak kalah antusias saat menyambut kedatangan cucu pertamanya.


"Bukankah lebih baik jika kita di dalam saja," kata Darmawan yang tak ingin membiarkan suasana bahagia ini terlaksana di bawah terik matahari.


"Kalian sudah menyiapkan nama untuk putri kalian?" Tanya Marisa yang kini pandangannya tertuju pada Alex dan Desi.


"Sudah. Kami sudah sepakat memberinya nama Alessia Azahra Raiqa Wijaya yang artinya anak perempuan mandiri yang dilahirkan bersih dan selalu menyenangkan hati banyak orang dari keluarga Wijaya tentunya." Jelas Alex.


"Alessia? Kakak apa itu gabungan dari nama kalian berdua?" Tanya Sandra yang memang sangat penasaran akan nama depan keponakan perempuannya.


"Benar. Alessia. Alex dan Desi," jawab Desi seraya menunjuk suaminya dan juga dirinya.


"Wah kalian sangat pandai menggabungkan nama. Ayo sini baby Alessia tante Sandra mau gendong," kini Sandra yang antusias meminta jatahnya untuk menggendong keponakan perempuannya.


Disaat semua orang tengah sibuk dengan baby Alessia namun tidak dengan Alex. Ia sedang berdiri sambil meneguk minuman yang dibawa oleh salah satu asisten rumah tangganya. Ada rasa cemburu di hatinya saat semua orang bahkan istrinya tengah memperhatikan putri kecilnya. Merasa dirinya tak di perhatikan oleh siapapun.


"Kau sedang apa?" Tanya Farel yang mendekati Alex yang tengah berdiri menyendiri.


"Jangan-jangan... Apa kau merasakannya saat ini?" Tanya Farel memastikan.


"Merasakan apa?" Alex berbalik bertanya. Ia memang tak mengerti apa yang dibicarakan oleh saudara sepupu laki-lakinya.


"Merasa jika perhatian istrimu saat ini lebih banyak diberikan pada anakmu."


"Apa?" Membulatkan kedua matanya. Tak percaya dengan perkataan Farel. "Bagaimana kau..." Menggantungkan kalimatnya sejenak. "Tunggu. Apa kau dulu pernah merasakannya saat Agam lahir?"


"Ya benar. Alika lebih memperhatikan Agam dari pada aku," jelasnya seraya merampas minuman dari tangan Alex lalu meneguknya sampai tandas tak bersisa. Mengingat kembali apa yang Alika lakukan padanya dulu.


"Aku kira hanya Desi saja yang melakukan hal itu padaku?"


"Tidak," jawab Farel seraya menggelengkan kepalanya keras. "Semua wanita begitu. Aku bahkan dulu sulit tidur karena aku tidak bisa memeluk Alika saat tidur," katanya memberi penjelasan. "Kau bisa bayangkan saat aku dan Alika harus dipisahkan oleh Agam yang selalu ingin tidur bersama kami berdua".


"Apa akan semerepotkan itu?"

__ADS_1


"Tentu saja. Belum lagi kalau Alika dibangunkan oleh Agam saat Agam meminta ASI? Kau tidak akan tau bagaimana tersiksanya diriku saat itu." Kembali mengingat kejadian lebih dari setahun yang lalu.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu?"


Farel menghela nafas berat. "Kau bodoh sekali rupanya. Dengarkan aku, ini hanya rahasia antara kita berdua. Kau mengerti?" Tanyanya yang di tanggapi anggukan kepala oleh Alex. Mendekatkan mulutnya pada telinga Alex. Berniat membisikkan sesuatu pada saudara sepupu laki-lakinya. "Apa kau mempunyai tempat favorit dalam diri Desi?"


"Apa yang kau bicarakan? Kau mau mati ya?" Teriak marah tak jelas saat Farel membahas area favorit yang biasa ia jelajahi pada diri sang istri.


"Sstt..." Menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya. Meminta agar Alex diam ketika semua pandangan keluarganya mengarah padanya dan Alex. Sesaat ia melebarkan senyumnya pada semua orang. Mengatakan pada semua orang melalui senyumannya bahwa ia dan Alex sedang baik-baik saja. "Kau bisa diam tidak?" Tanyanya setelah memastikan anggota keluarganya tak lagi memperhatikannya. "Dengarkan aku dulu."


"Baiklah aku akan diam. Tapi awas jangan lagi membahas masalah **** ***** yang menjadi tempat favorit ku di dalam istriku," memberikan peringatan pada Farel.


"Bukan aku yang bilang. Tapi kau yang bilang kalau ini..." menunjuk dadanya sendiri. "Adalah **** ***** yang kau sukai dari istrimu. Benar kan?"


Meski merasa kesal namun Alex tak memungkiri apa yang Farel katakan benar adanya. Ia ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan Farel selanjutnya. "Lalu apa yang mau kau jelaskan?" Tanyanya sambil melipat tangannya di depan dada seraya melirik tajam Farel.


"Hanya satu yang akan aku jelaskan padamu. Kau tidak akan pernah tau rasanya tersiksa saat istri kita memberikan ASI pada bayi kita. Ketika itu rasa gairahku bahkan bisa menegang saat itu juga."


Penjelasan Farel membuat Alex berpikir keras. Namun sesaat ia seakan tau apa maksud Farel sebenarnya. Saat istrimu memberikan ASI pada seorang bayi itu artinya **** ***** yang biasa menjadi tempat favoritnya tengah dimiliki penuh oleh sang buah hati. Namun menurutnya itu tak menjadi masalah baginya. Toh setelah nifas nanti dia bisa menggunakan area favoritnya sesuka hatinya.


"Dan rasa tersiksamu tak akan terhenti selama satu atau dua bulan," jelas Farel lagi.


"Apa maksudmu?" Alex kembali mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.


"Karena penyiksaan mu akan berakhir dua tahun lagi."


"Apa?"


Terkejut. Mungkin itu kata yang tepat untuk mengekpresikan hati Alex. Ia tak menyangka jika akan selama itu ia akan menunggu bisa berinteraksi lagi dengan area favoritnya.


"Benar. Seorang ibu harus memberikan ASI pada sang bayi selama dua tahun ke depan. Coba kau pikirkan bagaimana tersiksanya kita sebagai seorang laki-laki?"


Penjelasan Farel benar-benar membuatnya menganga tak percaya. Ia hanya bisa melihat wajah sang istri dari kejauhan sambil tertawa lepas sambil menggendong baby Alessia.


*


Malam harinya di kamar utama. Desi sedang duduk di tempat tidur sambil menggendong putrinya di pangkuannya. Menimang baby Alessia seraya memberinya ASI. Menyanyikan lagu Nina Bobo untuk buah hatinya.


Aku tidak menyangka akan menahannya selama dua tahun lamanya.

__ADS_1


Kata Alex dalam hati seraya menghela nafas berat. Ia masih memperhatikan sang istri yang terlihat dengan wajah sumringah sambil menyusui sang buah hati.


Bersambung


__ADS_2