Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Kamar Mandi


__ADS_3

Setelah mengunci pintu kamar mandi. Desi meletakkan tas yang dari tadi ia pegang di atas wastafel kamar mandi Alex. Ia kembali memperhatikan setiap sudut ruangan tersebut. "Sepertinya ia benar-benar sangat menyukai warna biru," kata Desi pelan. Saat melihat cat yang berwarna biru yang lagi-lagi menghiasi dinding kamar mandi Alex. "Aku harus mandi dulu..." Katanya lagi sambil memutar kepalanya yang rasanya sangat pegal. Memijat pelan pundak kirinya dengan tangan sebelah kanan.


Ia memutar kran air hangat untuk mengisi bathtub. Menambahkan aromaterapi milik Alex dengan wangi musk yang tersedia di sebelah bak mandi. Setelah dirasa cukup, kemudian Desi masuk ke dalam bathtub. Ia masih menggunakan pakaiannya. Dress pendek sebatas lutut berwarna putih. Ia meluruskan kakinya. Menyandarkan kepalanya di sandaran bak mandi. Perlahan ia memejamkan matanya. Melepaskan penat di dalam dirinya. Seharian hati dan pikirannya terkuras lantaran memikirkan pernikahan sandiwara yang ia ciptakan dengan Alex. Rasa bersalah kembali menyusup ke dalam dirinya saat mengingat lagi wajah bahagia kedua orangtuanya yang sudah menikahkannya. Perlahan Desi menarik nafas dalam. Tanpa terasa di sudut matanya keluar air mata. "Maaf..." Gumam Desi lirih. Lalu perlahan ia menenggelamkan dirinya ke dalam bathtub.


Satu menit...


Dua menit...


Tiga menit...


Tak ada pergerakan di dalam bak mandi. Hening. Tak ada suara sedikitpun. Gelembung kecil muncul dari mulut Desi.

__ADS_1


*


Sedangkan di kamar. Alex sedang memilah buku dimeja depan sofa yang belum sempat ia tata di rak. Ia adalah salah satu penggemar karya sastra sejarah. Hampir semua karya sastra sejarah dari semua negara ia baca. Setelah menata rapi buku tersebut di rak. Kini pandangannya tertuju pada pintu kamar mandi. Lalu ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah lebih dari setengah jam Desi tak keluar dari kamar mandi. Perlahan ia berjalan mendekati kamar mandi. Ia menaruh telinganya di pintu. Berharap dengan begitu ia mendengar suara dari kamar mandi. Namun nihil. Ia tak mendengar apapun. "Desi..." Panggil Alex seraya mengetuk pintu. Namun tak ada sahutan dari dalam. "Desi..." Panggil Alex lagi. Tangan kanannya masih mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali. "Des... Desi kau baik-baik saja?" Kini bukan ketukan melainkan gedoran pintu. Namun masih tak ada sahutan dari dalam. "Desi jawab aku..." Alex sudah panik saat ia berkali-kali memanggil Desi namun masih tak ada jawaban. Karena panik terjadi sesuatu, akhirnya Alex mendobrak pintu kamar mandi miliknya.


Satu dobrakan...


Dua dobrakan...


Alex segera lari ke arah Desi. Lalu ia mengangkat tubuh Desi agar tak lagi tenggelam di dalam bak mandi. Sudah jelas Alex panik saat melihat wajah Desi yang sudah pucat. "Desi..." Ucap Alex lagi seraya menepuk kedua pipi Desi secara bergantian. Berharap dengan begitu Desi akan kembali sadar. Lalu ia merasakan detak jantung Desi. Matanya kembali membulat sempurna saat ia tak merasakan detak jantung Desi. Lalu ia menggendong tubuh Desi agar keluar dari bathtub. Ia baringkan tubuh wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya di lantai kamar mandi. Menekan dada Desi agar Desi bisa sadar kembali. "Ayo bangunlah..." Kata Alex yang berkali-kali menekan dada Desi. Karena tak kunjung sadar, lalu ia akan memberikan nafas pertolongan pertama. Ia sudah menundukkan kepalanya untuk membuat nafas buatan pada bibir Desi namun ia terkejut saat Desi tiba-tiba bangun sambil batuk-batuk. Alex masih terkejut dengan apa yang dialami oleh Desi. Ia masih melihat Desi saat Desi sudah duduk. "Apa kau sudah gila hah?" Tanya Alex yang memarahi Desi. "Sebenarnya kau punya otak tidak?" Tanyanya lagi sambil mendorong kepala Desi. Padahal saat ini Desi masih sulit untuk mengatur nafasnya. "Sudah berapa kali kau mencoba bunuh diri? Sebenarnya apa yang ada dipikiranmu?" Nafasnya sudah naik turun saat ia sudah kehabisan kesabaran yang melihat Desi mencoba bunuh diri dihadapannya.


Desi hanya bisa menundukkan kepalanya dalam saat Alex memarahinya. Saat ini ia masih duduk di lantai dengan pakaian lengkapnya yang sudah basah lantaran ia menenggelamkan dirinya di dalam bak mandi. Ia masih belum bisa berpikir jernih saat teriakan Alex melengking di telinganya.

__ADS_1


"Kalau saja aku tidak mendobrak pintu kamar mandi, apa yang akan terjadi padamu?" Tanya Alex sekali lagi. Ia juga sudah terduduk di lantai. Ia mencoba mengatur nafasnya saat Desi tak berniat menjawab pertanyaannya. "Kalau saja aku terlambat sedikit saja. Pasti kau sudah mati. Dan siapa disini yang salah? Sudah pasti aku. Karena kau mencoba bunuh diri di rumahku. Aku tidak menyangka bahwa pikiranmu bisa sependek itu," kata Alex panjang lebar. Ia sudah tak bisa mengontrol emosinya. "Sebenarnya apa masalahmu hah?" Bentak Alex. Ia memang sudah kehilangan kesabaran saat tadi mengangkat Desi dari dalam bak mandi dengan wajah pucat. "Kau yang menjebak ku dalam pernikahan sandiwara ini. Dan sekarang apa kau juga akan menjebak ku dalam kematian mu?" Bentakan Alex kembali menggema di setiap sudut ruangan kamar mandi. Beruntung kamarnya yang luas menghambat suaranya untuk terdengar keluar. Atau keluarganya yang sudah terlelap lantaran kelelahan dengan acara pernikahannya.


Desi menggelengkan kepalanya cepat sambil melihat Alex. Air matanya sudah mengalir dari tadi. Ia bingung mau menjawab apa semua pertanyaan dari Alex. Mulutnya serasa terkunci rapat tak bisa berkata apa-apa lagi. "Maaf..." Hanya satu kata itu yang berhasil keluar dari mulut Desi. Ia kembali menangis sampai sesegukan. Entah apa tadi yang ada di pikirannya saat ia menenggelamkan dirinya ke dalam bak mandi.


Alex melunak. Ia mencoba mengatur nafasnya yang sempat tersulut emosi tadi. "Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?" Gumam Alex lirih namun kata-katanya masih terdengar jelas di telinga Desi.


"Maaf... Maafkan aku..." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Desi berkali-kali.


Alex hanya bisa memejamkan matanya saat ia mencoba untuk bersabar menghadapi istri yang baru lima hari ia kenal.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2