
"Mama tenang saja. Desi baik-baik aja kok," kata Alex melalui sambungan telepon selulernya. Dirinya saat ini tengah mondar-mandir di ruang tamu apartemen milik Desi. Tadi sang ibu tengah menelfonnya untuk menanyakan kabar menantunya. "Iya... Bu Dina sudah sampai disini. Dia lagi bantu Desi di kamar," katanya lagi yang terpaksa berbohong pada ibunya kalau Desi saat ini sedang baik-baik saja. Kini matanya tertuju pada pintu kamar Desi yang terbuka dari dalam. Ia melihat Bu Dina yang keluar dari kamar sang istri. "Iya. Mungkin untuk beberapa hari ini aku dan Desi akan tinggal di apartemen Desi. Mama juga harus jaga kesehatan ya. Iya... Assalamualaikum..." Katanya yang berhasil meyakinkan ibunya kalau Desi baik-baik saja. Lalu ia menutup sambungan teleponnya. Kini pandangannya tertuju pada wanita paruh baya yang berdiri di depannya. "Kau sudah mengganti pakaian Desi?" Tanyanya pada Bu Dina sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sudah tuan," jawab Bu Dina seraya menganggukkan kepalanya. "Sepertinya nona sedang demam, tuan. Jika anda mau saya akan memanggilkan dokter."
"Tidak usah. Aku sudah meminta bantuan Farel untuk menyuruh dokter kenalannya kesini," kata Alex. "Lebih baik kau segera pulang," perintah Alex pada Bu Dina yang masih berdiri di hadapannya. "Ingat jangan bilang ke Mama jika Desi sedang sakit. Kau mengerti!" Ancaman sudah ia berikan pada wanita yang bekerja di rumahnya. Ia hanya tak ingin melihat ibunya mengkhawatirkan Desi saat ini. Karena ia juga harus memperhatikan kesehatan wanita yang mengandung dan membesarkannya dari kecil.
"Baik tuan," ucap Bu Dina sambil membungkukkan badan. Setelah itu ia berjalan keluar dari apartemen itu.
Sepeninggalan Bu Dina, kini Alex berjalan ke arah kamar istrinya. Melihat dengan seksama wajah pucat Desi yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Ia masih berdiri di tepi ranjang. Setelah puas melihat wajah yang sudah ia rindukan sejak tiga hari lamanya kini ia berjalan ke arah kamar mandi. Dia memang berniat untuk mandi, karena sedari ia pulang sore tadi ia bahkan tak sempat untuk pergi ke toilet. Alex meneliti semua perlengkapan mandi milik Desi. Sesaat senyum di bibirnya muncul ketika ia teringat akan semua hampir barang yang digunakan Desi juga termasuk barang kesukaannya. Dari sabun, shampo, pasta gigi sampai aroma terapi pun juga semuanya sama.
*
Alex keluar dari kamar mandi. Ia bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek sebatas lutut yang tadi di bawakan oleh Bu Dina. Ia mengeringkan rambut basahnya dengan menggunakan handuk milik Desi. Lalu ia berjalan ke tas yang berisi bajunya, tas yang di bawakan juga oleh Bu Dina. Alex memilih kaos oblong polos berwarna putih, sesaat ia juga langsung menggunakannya.
Saat ia selesai memakai kaosnya, ia mendengar bel apartemen Desi tengah berbunyi. Alex berjalan keluar dari kamar dan melangkahkan kakinya ke arah pintu. Ia membuka pintu dan mendapati seorang laki-laki yang sedang berdiri di depannya sambil menenteng tas berwarna hitam. "Lu..." Alex menggantungkan kalimatnya saat meyakini dirinya bahwa ia kenal dengan laki-laki yang berdiri tepat di depannya.
Sedangkan laki-laki yang berdiri di depan Alex juga nampak tak kalah terkejut saat ia melihat sosok yang menurutnya menakutkan. Sudah hampir setahun lebih ia tak berjumpa dengan Alex. Karena jika saat ia melihat Alex datang ke rumah sakit, dengan segera ia menghindar. Kejadian kurang lebih enam belas bulan yang lalu membuatnya memiliki trauma yang amat mendalam. "Sepertinya aku salah apartemen," katanya cepat dan langsung melangkah pergi dari apartemen Desi.
"Tunggu..." Kata Alex seraya memegang kerah baju belakang laki-laki yang akan pergi dari hadapannya. "Kau dokter Roni kan?" Tanyanya.
Aaa tidak...
__ADS_1
Dia ingat padaku...
Kata dokter Roni dalam hati. Ia memang sengaja akan pergi saat ia melihat Alex yang membukakan pintu apartemen. Ia sudah trauma dengan kejadian kurang lebih enam belas bulan yang lalu saat ia harus berurusan dengan Alex. Saat ia harus mendapat todongan senjata tajam dari Alex di lehernya (bagi yang lupa, ingatan dokter Roni ini di novel pertama aku yakni Alika Bidadari Surgaku di bab 91).
*
Beberapa saat kemudian dokter Roni sudah berada di kamar Desi. Ia melihat Desi yang tengah terbaring di atas tempat tidur.
"Sampai kapan lu akan ngeliat istri gue kayak gitu?" Tanya Alex yang kesal karena tatapan yang diberikan dokter Roni pada Desi. "Cepat periksa dia," perintahnya yang memang sudah tak sabar mengetahui keadaan Desi.
Dokter Roni tak menjawab perkataan Alex. Ia perlahan berjalan ke arah Desi. Duduk di ranjang di samping Desi.
"Terus gue harus gimana?" Tanya dokter Roni geram. "Gue gak akan bisa meriksa istri lu kalau gue gak deket-deket dengan istri lu..." jelasnya lagi dengan nada geram. Giginya sampai menggerutu menahan geram. Kini ia kembali teringat akan peristiwa dulu, saat Farel teman gilanya yang sangat posesif pada Alika. Kini ia bisa melihatnya kembali pada sepupu yang sepertinya sama gilanya dengan Farel.
Alex seketika melepaskan lengan dokter Roni. Benar yang dikatakan oleh laki-laki yang berdiri di depannya. Jika dokter Roni tak menyentuh Desi maka dokter Roni tak akan tau keadaan istrinya. "Cepatlah..." Katanya sambil melirik tajam.
Hah mimpi apa gue semalem?
Kenapa gue harus berurusan dengan saudara sepupu Farel?
Gue pikir Farel sudah gila. Tapi kini gue tau kalau Alex lebih gila dari Farel.
__ADS_1
Gerutu dokter Roni dalam hati. Setelah Alex melepaskan tangannya kini ia duduk di samping Desi. Mengeluarkan semua alat medisnya dari dalam tasnya. Ia mengambil sfigmomanometer untuk mengetahui tekanan darah Desi. Setelahnya ia mengambil stetoskop dan mulai memeriksa keadaan Desi. Menempelkan alat tersebut di dada Desi agak lama, mendengarkan baik tidaknya detak jantung wanita yang masih terbaring lemah.
"Jangan lama-lama menempelkan alat itu di dada Desi. Atau lu..."
"Iya, gue tau..." Jawab dokter Roni seraya melepaskan alat itu dari telinganya. Sepertinya dia harus belajar bersabar lagi saat harus berhadapan dengan Alex.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Alex pada dokter yang sudah selesai memeriksa Desi.
"Dia gak pa-pa. Di cuma kelelahan," jawabnya sambil menulis resep di secarik kertas. "Dia hanya butuh istirahat. Tebuslah obat ini," kata dokter Roni seraya menyerahkan resep obat yang ia tuliskan tadi.
Sedangkan Alex sudah menerima apa yang diberikan oleh dokter Roni. Mencoba membaca tulisan yang di anggapnya aneh. "Lu udah gila ya?" Kata Alex yang kembali menatap tajam pada dokter Roni. "Orang pintar pun gak akan bisa membaca tulisan jelek lu ini."
Dokter Roni hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia tak percaya saat ia harus berhadapan dengan Alex. Sebenarnya tadi saat Farel menghubunginya ia sempat curiga karena tiba-tiba menyuruhnya datang ke alamat ini. Dan kecurigaannya saat ini benar-benar tak bisa ia elakkan. Ia kembali harus berhadapan dengan keluarga Wijaya yang menurutnya semua keluarga itu gila.
*
Setelah mengantarkan dokter Roni keluar dari apartemen. Kini dirinya berjalan ke arah kamar sang istri. Ia menaiki tempat tidur dan tidur di sebelah Desi. Menutupi tubuh Desi dengan selimut yang sama ia gunakan. Ia memiringkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Desi yang entah kenapa terlihat sangat imut saat Desi tertidur.
Ia tersenyum. Kemudian Alex menyelipkan tangan kanannya di bawah leher Desi. Menarik tubuh Desi ke dalam pelukannya. Ia memeluk erat tubuh Desi seraya mencium puncak kepala wanita yang kini kesehatannya masih tak stabil. Mengusap penuh arti punggung Desi sambil memejamkan kedua matanya.
Bersambung
__ADS_1