Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Gelisah


__ADS_3

Kegelisahan terjadi saat Desi sudah memasuki mobil Alex. Ia bingung saat calon mertuanya akan membawanya ke rumah Herlambang Wijaya. Desi dan Alex berada dalam satu mobil sedangkan calon mertua dan adik iparnya berada dalam mobil yang berbeda.


Desi masih terdiam. Ia tak tau harus bagaimana. Saat sebentar lagi ia akan bertemu sahabat karibnya.


"Kenapa denganmu?" Tanya Alex yang dari tadi sudah memperhatikan kegelisahan Desi.


"Aku..." Desi menggantungkan kalimatnya. Ia bingung harus menjawab apa pertanyaan Alex. "Aku..." Kembali menggantungkan kalimatnya.


"Apa sekarang kau menjadi gagap?" Tanya Alex yang sedikit kesal karena Desi tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Hais... Kenapa kau jadi pemarah sekarang? Padahal aku..." Desi kembali menggantungkan kalimatnya.


"Benar kan yang aku bilang," kata Alex yang masih fokus menyetir. "Baru dua hari kita kenal, tapi kau sudah gagap seperti ini." Sambungnya lagi. Ia masih menanti jawaban dari Desi namun sepertinya Desi sedang dirundung kekhawatiran yang mendalam. "Jadi kenapa dengan dirimu?" Tanya Alex lagi.


"Kenapa Mama kamu mengajak kita ke rumah Pak Herlambang? Ini kan hari libur. Jika kita kesana pasti aku akan bertemu dengan Alika. Dan jika aku bertemu dengan Alika maka dia akan menanyakan kenapa kita tiba-tiba akan melangsungkan pernikahan. Dan jika Alika menanyakan hal itu apa yang harus aku jawab?" Tanya Desi panjang lebar. Benar, semua masalah hidupnya sudah ia ceritakan pada Alika. Alika sudah ia anggap sebagai saudara perempuannya sendiri. Hampir tak ada cerita hidupnya yang tak ia ceritakan pada Alika.


"Itu urusanmu!" Jawab Alex acuh.

__ADS_1


"Haa..." Ia pura-pura mencoba mengecoh Alex dengan tangisannya. Namun sepertinya semua itu sia-sia, Alex bahkan tak menoleh kepadanya. "Kenapa kau jahat sekali?" Suara tangisannya sudah memenuhi seisi mobil. Namun hanya suara tangisan yang keluar dari mulutnya. Bahkan tak ada setetes pun air mata yang keluar dari matanya. "Sebentar lagi kita akan tiba disana. Bagaimana ini?" Kata Desi meronta-ronta meminta bantuan pada Alex namun kediaman Alex sepertinya sudah Desi pastikan kalau Alex tak mau membantunya.


*


Dua puluh menit kemudian. Alex memasukkan mobilnya ke dalam halaman rumah Herlambang Wijaya. Di taman depan Desi bisa melihat semua anggota keluarga Wijaya tengah berkumpul. Disana ia juga melihat calon mertua dan calon adik iparnya tengah bergabung dengan keluarga atasannya. Keluarga Alex sudah lebih dulu sampai dikediaman Herlambang Wijaya. Ia makin frustasi saat ia melihat Alika dari kejauhan. "Aaa... Bagaimana ini?" Ujarnya yang masih memperhatikan Alika dari dalam mobil Alex.


Kenapa dia lucu sekali?


Kata Alex tertawa dalam hati. Entah kenapa saat Desi terlihat gelisah malah membuatnya gemas. Ia masih saja menyetir memasuki halaman rumah Herlambang Wijaya.


Tunggu sebentar. Kenapa aku malah gemas melihatnya seperti ini? Aku pasti sudah gila.


"Tunggu..." Kata Desi seraya memegang lengan Alex. Sorot matanya sudah meminta bantuan. "Kau benar-benar tidak mau membantuku?" Tanyanya sekali lagi yang berhasil membuat Alex tak keluar dari mobil.


Perlahan Alex melihat ke arah Desi. Ia melihat tangan Desi yang belum juga melepaskan lengannya. Lalu ia menatap ke wajah Desi yang masih terlihat gelisah. "Bukankah ini ide darimu. Seharusnya kau sudah siap pada semua pertanyaan yang akan orang tanyakan padamu."


Sesaat Desi melepaskan tangannya dari lengan Alex. Ia menundukkan kepalanya dalam. "Tapi aku tidak bisa berbohong pada Alika," katanya lirih.

__ADS_1


"Tapi kenapa kau bisa berbohong pada orang tuamu?"


Desi mengangkat kepalanya. Kini ia bersitatap dengan mata Alex. "Karena aku sudah bosan dijodohkan oleh mereka," jawab Desi dengan mata berkaca-kaca. "Maaf..." Kata Desi sambil menundukkan kepalanya lagi. "Karena telah menyeretmu ke dalam masalahku."


Alex menghembuskan nafas pelan. Sebenarnya jika di pikir ini semua bukan salah Desi. Alex juga dapat keuntungan dari masalah yang Desi timbulkan. Ia juga memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Kesempatan yang mendorongnya untuk melakukan hal yang sakral yakni sebuah pernikahan. "Bilang saja pada Alika kalau kau akan menjelaskan hubungan kita disaat yang tepat," kata Alex yang membuat Desi mengangkat wajahnya.


*


Beberapa saat kemudian Alex keluar dari kursi kemudi lalu ia berjalan ke arah pintu mobil sebelah kiri. Membuka pintu mobil tersebut. Dan keluarlah wanita berparas cantik nan anggun dari mobil milik Alex yakni Desi. Alex menggandeng tangan wanita yang baru saja keluar dari mobilnya. Berjalan ke arah keluarga Farel yang berada di taman depan.


Farel dan Alika mendadak terkejut dengan kedatangan Alex yang membawa seorang wanita. Keduanya pun langsung berdiri dan saling menatap, saat tau siapa wanita yang berada di samping Alex.


Sudah ku duga pasti mereka sangat terkejut. Kata Desi dalam hati. Ia masih tak melepaskan tangannya dari genggaman Alex. Ia takut. Sangat takut. Takut jika Alika tak mempercayai alasannya saat ia akan membuat satu kebohongan lagi. Percayalah, saat kalian mencoba untuk membuat satu kebohongan maka akan timbul satu persatu kebohongan lainnya.


"Dia adalah calon istriku..." Kata Alex yang memperkenalkan siapa calon istrinya. Setelah ia berdiri di hadapan keluarga pamannya.


Farel dan Alika tak henti-hentinya menatap satu sama lain. Bahagia. Pasti ada di hati mereka berdua. Namun kini Farel dan Alika masih bingung dengan wanita yang diperkenalkan oleh Alex. "Desi..." Kata Farel dan Alika bersamaan. Dipikiran Farel dan Alika masih bertanya-tanya bagaimana Alex dan Desi tiba-tiba akan melangsungkan pernikahan. Karena setahu mereka berdua Alex dan Desi tak pernah saling mengenal satu sama lain.

__ADS_1


Tanpa sepatah katapun Alika langsung menghampiri Desi yang masih berdiri di sebelah Alex. "Aku mau bicara sama kamu," kata Alika seraya menggandeng tangan kiri Desi sampai-sampai tangan kanan Desi yang tadinya di pegang oleh Alex terlepas begitu saja.


Bersambung


__ADS_2