Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Penangkapan


__ADS_3

Alex berjalan cepat di koridor rumah sakit jiwa dimana ayahnya saat ini tengah dirawat. Entah kenapa setelah mengantarkan Desi ke rumah orang tuanya sendiri membuatnya membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit ini.


Dengan langkah pasti Alex masih berjalan menuju ruang perawatan sang ayah dengan di dampingi perawat yang biasa menjaga Hendra Wijaya.


Perawat wanita yang berjalan bersama Alex kini membukakan pintu ruang perawatan Hendra Wijaya. Mempersilahkan Alex untuk masuk ke dalam.


Sedangkan mata Alex sedari tadi tertuju pada seorang laki-laki paruh baya yang tengah tidur di atas ranjang yang berukuran kecil. Perlahan Alex berjalan masuk tanpa mengeluarkan suara. Mendekati sang ayah yang sepertinya sudah tertidur cukup pulas.


Alex melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Saat ini jam tangannya tengah menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh lima menit malam hari. Sebenarnya ini bukanlah jam kunjung pasien. Namun entah kenapa saat ini pikiran Alex tertuju pada sang ayah. Alex kembali melihat sang ayah yang masih terlelap tidur. "Bagaimana keadaannya?"


"Keadaan Pak Hendra masih sama seperti saat anda membawanya kesini tuan," jawab perawat wanita yang kini berdiri di belakang Alex. "Sampai saat ini Pak Hendra masih belum menunjukkan perkembangan yang signifikan," tambahnya lagi.


Alex memejamkan kedua matanya seraya menghela nafas berat. Lalu ia menarik selimut sampai batas dada sang ayah. "Jaga dia baik-baik," kata Alex seraya keluar dari ruang perawatan sang ayah.


*


Desi sudah berada di kamar setelah ia menyudahi acara berbincang dengan kedua orangtuanya. Lama ia merindukan masa ini. Masa dimana ia berbagi cerita dengan orang tuanya. Namun kini ia sudah menjadi seorang istri. Ia hanya bisa berbincang lama dengan orang tuanya lewat via telepon. Apalagi perutnya kini sudah membesar, jadi ia jarang sekali untuk keluar rumah.


Desi duduk di pinggir ranjang. Lalu ia menidurkan dirinya di atas tempat tidurnya. Memandang langit-langit kamarnya. Ia sangat merindukan kamar ini. Kamar yang sudah lama ia tinggalkan. Kamar yang menjadi tempat istirahatnya sepanjang waktu sebelum menikah dulu.


Desi beranjak dari tempat tidur. Kini ia berjalan memasuki kamar mandi. Ia ingin membersihkan dirinya yang sudah seharian terasa lelah karena telah berkunjung ke kebun binatang bersama suaminya. Lalu ia berencana akan pergi tidur setelah ini.


*


Alex memasukkan mobilnya ke dalam garasi rumahnya. Menyenderkan kepalanya di bantalan jok mobil. Memejamkan kedua matanya disaat tangannya masih memegang kemudi mobil. Ada kebingungan di dalam dirinya setelah ia pulang dari rumah sakit jiwa. Pasalnya ia sangat percaya jika sang ayah tengah melakukan sandiwara menjadi orang gila. Namun disisi lain ia tak bisa menuduh hal tersebut. Di hati kecilnya ia merasa kasihan ketika melihat sang ayah yang tengah tidur pulas di ranjang rumah sakit jiwa yang berukuran kecil seperti itu. Cukup lama ia terdiam di dalam mobil. Hingga suara ketukan di pintu mobil membuatnya terkejut.


"Tuan muda..."


Panggilan dari luar mobil mengejutkan Alex yang sedang menutup mata. Ia bisa melihat Adi yang sudah berdiri di samping mobilnya tengah mengetuk pintu kaca mobilnya. Alex membuka pintu mobil dan langsung turun dari mobil miliknya. "Ada apa?" Tanyanya yang sudah berdiri di hadapan Adi.


"Ada seseorang yang berdiri di depan gerbang saat ini."


Perkataan Adi berhasil membuat Alex kembali terkejut. "Aku baru saja sampai. Dari kapan dia sudah berdiri di depan gerbang?"


"Baru saja tuan. Sebaiknya kita mengamati terlebih dahulu dari CCTV," kata Adi kemudian. Lalu ia mengikuti langkah majikannya yang sudah berjalan lebih dulu ke arah rumah.

__ADS_1


Alex duduk di sofa ruang tamu. Dimana saat ini ada beberapa pengawal dan Rafi yang sudah mengamati CCTV dari sana. Ibu dan adik perempuan Alex juga turut serta melihat pergerakan pria misterius tersebut.


"Dia sudah berdiri disana lebih dari lima menit tuan muda," jelas Rafi memberitahu majikannya yang terlihat sangat serius mengamati pria yang masih berdiri di depan pintu gerbang tanpa melakukan apapun.


"Kakak, apa tidak sebaiknya kita lapor polisi?" Tanya Sandra yang berhasil membuat Alex menatapnya.


"Aku ingin menangkapnya sendiri. Aku ingin tau apa alasannya telah membuat Desi ketakutan. Setelah itu aku akan menyerahkannya pada pihak kepolisian," jawab Alex yang kini kembali memperhatikan layar CCTV di hadapannya.


"Tapi kenapa dia tidak melakukan pergerakan sama sekali? Dari tadi dia hanya berdiri di depan pintu gerbang saja," kini Marisa juga ikut bertanya. Pasalnya dari tadi yang ia tangkap pria tersebut memang tak melakukan pergerakan sama sekali.


Sedangkan Alex terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ia kembali mengingat akan dua rekaman CCTV yang ia lihat dua hari yang lalu. Dari semua yang ia lihat bahwa pria misterius tersebut melakukan pergerakan saat Desi keluar dari balkon kamar. "Sandra kau mau melakukan sesuatu untuk kakak?" Tanya Alex yang membuat semua orang bingung dan melakukan adegan saling tatap.


*.


Beberapa saat kemudian Sandra berada di kamar kakak laki-lakinya. Dengan memakai rambut palsu sebatas bahu, ia menyamarkan dirinya menjadi kakak iparnya. Semua itu ia lakukan atas perintah kakaknya. Alex berasumsi jika pria misterius tersebut hanya akan melakukan pergerakan saat melihat Desi keluar dari balkon kamar. Karena sampai saat ini pria misterius tersebut tak melakukan apapun yang mencurigakan.


Perlahan Sandra berjalan ke arah balkon kamar. Di belakangnya sudah ada dua pengawal laki-laki yang menjaganya. Sedangkan Alex, Marisa, dan beberapa orang kepercayaannya masih berada di ruang tamu memperhatikan CCTV yang terhubung keluar rumah.


Dengan langkah hati-hati akhirnya Sandra bisa mencapai balkon kamar. Benar saja, pria misterius yang ada diluar gerbang sedang melakukan pergerakan dengan mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya dan sedang menatap Sandra yang dikiranya sebagai istri Alex yakni Desi.


*


"Tuan..." Semua para pengawal yang melihat Alex keluar juga turut menyusul majikannya dengan berlari.


Dengan emosi yang sudah memasuki jiwanya Alex terus saja berlari keluar rumah. Dan dengan jelas ia bisa melihat pria misterius tersebut saat para pengawal membuka gerbang rumahnya.


Sang pria misterius yang terkejut dengan banyaknya orang keluar dari rumah Alex seketika berlari tunggang langgang. Kini dirinya merasa terancam saat orang-orang tersebut masih saja mengejarnya.


Dengan mengencangkan larinya akhirnya Alex bisa menjatuhkan dengan mendorong pria misterius tersebut. Menghajar wajah pria tersebut sampai bibirnya mengeluarkan darah. Alex bahkan bisa merebut pisau yang tadi telah di pegang oleh pria misterius tersebut. "Siapa kau?" Tanya Alex yang memang tak mengenal siapa pria yang sudah jatuh di bawahnya.


Pria misterius tersebut tak menjawab pertanyaan dari Alex. Ia malah tertawa melihat Alex yang memberikan tatapan intimidasi padanya.


Sedangkan Alex makin geram dengan tingkah laku pria tersebut. Ia kembali memukul wajah pria tersebut. "Aku tanya siapa kau? Berani-beraninya kau meneror istriku setiap malam hah?"


"Tenanglah tuan..." Kata Adi menarik majikannya agar menjaga jarak dengan pria tersebut.

__ADS_1


"Benar tuan. Anda tidak perlu mengotori tangan anda pada bedebah ini," Rafi ikut menimpali. Sedangkan para pengawal lainnya sedang memegang kedua tangan pria misterius tersebut.


"Kau tidak perlu tau siapa aku. Sekarang yang harus kau cemaskan adalah keselamatan istrimu," jawab pria tersebut seraya tertawa keras.


Alex mengeluarkan senyum liciknya. "Kau sudah ku tangkap. Dan kau bahkan tidak tau dimana sekarang istriku berada. Jadi kau..."


"Kau pikir aku sendirian?"


Perkataan Alex tertahan saat pria misterius yang ada di depannya memotong perkataannya.


"Dan apa kau pikir aku tidak tau kalau istrimu sedang berada di rumah orangtuanya."


Pernyataan pria tersebut berhasil membuat semua orang menganga tak percaya. Alex pun sampai tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. "Kau..."


"Kau tidak perlu menghajar ku habis-habisan," pria tersebut kembali memotong perkataan Alex. "Karena saat ini kau seharusnya lebih mencemaskan keadaan istrimu," kata pria tersebut seraya tertawa keras.


"Desi..." Ucap Alex lirih.


*


Sedangkan di kamar Desi, kini ia sedang terlelap tidur. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika dibangunkan dengan deringan ponselnya tanda ada panggilan masuk.


Ia meraih ponselnya yang ada di atas meja nakas. Senyum di wajahnya seketika mengembang saat tau siapa yang telah meneleponnya. "Hallo sayang, ada apa?"


"Sayang kau baik-baik saja?" Tanya Alex yang saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah mertuanya. Adi pun yang sedang mengemudi sesaat melirik ke arah majikannya.


"Aku baik-baik saja. Memangnya ada apa?" Tanya Desi seraya turun dari ranjang. Kemudian ia berjalan ke arah jendela kamarnya. "Kau bahkan menempatkan beberapa penjaga disini. Jadi kau..." Perkataan Desi tertahan saat ia yakini ada yang tidak beres. Sebelum tidur tadi ia melihat ada beberapa pengawal yang sedang berjaga di sekitar rumahnya. Namun entah kenapa saat ini ia tak melihat satu pun penjaga di halaman sekitar rumahnya melalui jendela kamarnya.


"Sayang ada apa?" Suara Alex sudah terdengar khawatir saat Desi tak menyelesaikan kalimatnya.


"Sayang sepertinya..." Desi menjawab pertanyaan sang suami dengan membalikkan badan. Namun alangkah terkejutnya ia saat mendapati ada seorang laki-laki berdiri dibelakangnya. Seketika ponsel yang ia pegang terjatuh ke lantai. Ingin sekali Desi teriak namun tangan laki-laki tersebut kalah cepat dengan teriakannya. Mulutnya dibungkam menggunakan sapu tangan, hingga ia tak bisa mengeluarkan suara. Dan perlahan kesadarannya hilang. Hingga ia menutup kedua matanya.


"Hallo sayang... Sayang jawab aku... Hallo sayang..."


Ponsel Desi masih saja dalam keadaan terhubung saat laki-laki yang berhasil membuat Desi tak sadarkan diri membawa Desi keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2