
"Ayah jangan seperti ini..." Kata Ryan pada sang ayah yang menyuruhnya untuk meminta maaf atas perbuatannya pada Sandra.
"Jika kau tidak mau meminta maaf maka semua fasilitas yang ayah berikan padamu, akan ayak tarik kembali." Jelas ayah Ryan penuh penekanan di setiap kalimatnya. Ia sudah tak tau harus berbuat apa lagi saat anak laki-lakinya harus berurusan dengan orang yang sangat ia segani.
Alex Candra Wijaya adalah sesosok pengusaha yang masih tergolong muda di kalangan pebisnis ekspor impor. Alex Candra Wijaya adalah salah satu pengusaha yang telah menolong ayah Ryan disaat ayah Ryan jatuh ke dalam jurang yang membuat perusahaannya hancur tak bersisa. Disaat ia terpuruk, Alex Candra Wijaya lah yang mengulurkan tangan pada dirinya. Membangun kembali perusahaan yang dimulai dari nol. Hingga perusahaan yang ia kelola saat ini bisa kembali berdiri di antara semua perusahaan ekspor impor.
Alex melakukan semua itu bukanlah tanpa sebab. Ia tau bagaimana laki-laki paruh baya yang masih berdiri di hadapannya dengan jarak kurang lebih tiga meter itu bekerja. Kualitas pekerjaan laki-laki paruh baya itu sudah Alex teliti sedemikian rupa hingga Alex berani kembali mengangkat perusahaan laki-laki paruh baya itu di bawah kendalinya.
Dan sampai detik ini rasa terimakasih atas bantuan Alex masih akan ia ingat selalu. Alex adalah salah satu orang yang akan selalu ayah Ryan hormati. Meski dirinya tergolong lebih tua dari Alex namun sikap hormat yang ia tunjukkan karena rasa terimakasihnya yang takkan bisa di bayar oleh apapun.
Perlahan Ryan melangkahkan kakinya maju ke depan. Dengan wajah yang sedikit menunduk ia mencoba memberanikan diri mempertanggung jawabkan perbuatannya. Bagi dirinya fasilitas yang ia punya saat ini adalah segalanya. Ia tak mau kembali menjadi seperti seorang gembel seperti setahun yang lalu saat perusahaan ayahnya mengalami kebangkrutan. Kini ia bahkan sadar saat tau siapa orang yang telah membantu perusahaan sang ayah hingga bisa berdiri kembali seperti saat ini.
"Kakak, apa ini perlu dilakukan?" Tanya Sandra seraya berbisik pada sang kakak.
"Sudah kau diam saja."
"Tapi..."
"Kau pikir aku akan diam saja melihatmu di perlakukan seperti tadi setiap hari?" Suara lantang Alex berhasil mengejutkan semua orang yang berada di ruang rektor.
"Sandra aku mohon maafkan aku..." Spontan Ryan langsung terduduk di lantai memohon pengampunan dari Sandra. Setelah apa yang ia lakukan pada Sandra kini ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri.
Sedangkan Sandra yang terkejut dengan reaksi Ryan. Memundurkan satu langkah kakinya ke belakang seraya menatap sang kakak yang masih berdiri di sampingnya.
*
__ADS_1
Saat ini Alex dan Sandra tengah berada dalam mobil yang sama. Alex yang sedang fokus menyetir sedangkan Sandra yang sesekali mencuri pandang pada sang kakak. Desi yang sudah pulang lebih dulu tadi bersama Adi dan Rafi sudah mewanti-wanti Alex melalui pesan singkat agar membawa pulang Sandra atau kalau tidak, saat di rumah nanti ia pasti akan berhadapan dengan Desi.
Setelah permintaan maaf yang di ajukan oleh Ryan tadi di ruang rektor, kini keduanya malah diam seribu bahasa. Selama kurang lebih tiga puluh menit mereka menaiki mobil, namun tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Keheningan masih saja tercipta saat keduanya tak ada bahan pembicaraan
Sandra memperhatikan jalanan yang mengarah ke rumahnya. Ia makin panik saat jarak rumahnya yang kini sudah tinggal lima belas menit. "Kakak aku..."
"Sudah diamlah..." Kata Alex yang memotong perkataan Sandra
Namun kepanikan Sandra semakin menjadi saat Alex sudah membelokkan mobilnya memasuki area perumahan elit dimana ia tinggal. "Kakak..." Sandra menjeda kalimatnya sebentar. Matanya masih saja memperhatikan antara Alex dan jalan. "Kakak aku minta maaf..."
Penuturan Sandra berhasil membuat Alex menginjak rem secara mendadak. Hingga Sandra terjungkal ke depan. Beruntung dirinya memakai sabuk pengaman.
Satu detik...
Tiga detik...
Alex masih membeku di tempatnya duduk. Ia bahkan tak bergerak sedikitpun. Pandangannya masih lurus ke depan. Kedua tangannya pun masih saja memegang kemudi mobil.
Sandra yang masih ingat akan kejadian terakhir yang ia lakukan pada Desi membuatnya merasa bersalah sepanjang waktu. Kemarahan Alex benar-benar membuatnya sadar bahwa Desi adalah segalanya bagi kakak laki-lakinya. Tapi kini ia juga sadar bahwa Alex pun tak mengakui dirinya sebagai saudara perempuannya. Jika waktu bisa di putar kembali, maka ia akan memilih lebih menyayangi Desi daripada memusuhinya. Di dunia ini ia bahkan tak mempunyai siapa-siapa lagi selain keluarganya sendiri. Ia tak mungkin tinggal lama di rumah saudara sepupunya yakni Farel. Sudah cukup ia menyusahkan keluarga sepupunya. Setelah ini, ia mungkin akan mencari tempat tinggal untuk dirinya sendiri.
"Kakak..." Akhirnya Sandra membuka suara setelah diam cukup lama. "Aku minta maaf atas semua yang aku lakukan," ucap Sandra dengan mata berkaca-kaca. Permintaan maafnya benar-benar tulus dari hatinya paling dalam. Ia bahkan tak tau harus meminta maaf bagaimana lagi jika Alex saat ini tak bisa memaafkannya. Kesalahannya memang sangat fatal. Ia bahkan hampir menghilangkan nyawa kakak ipar dan calon keponakannya jika ia tak sigap membawa Desi ke rumah sakit.
Namun sampai hampir satu menit tak ada kata yang keluar dari mulut Alex. Sandra pasrah jika memang Alex tak memaafkannya. Saat ini yang ia pikirkan adalah meminta maaf sekali lagi pada Alex. Karena setelah ini ia sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupan keluarga yang sudah membesarkannya sampai saat ini.
Sandra mengusap air mata yang jatuh di pipinya dengan kasar. Rasa sesak di dadanya semakin bergemuruh saat ia menahan suara tangisannya. Segera ia membuka pintu mobilnya dan membukanya. Berniat pergi dari hadapan Alex sesegera mungkin.
__ADS_1
"Kenapa waktu itu kau pergi meninggalkanku?"
Kalimat tersebut membuat Sandra menahan pintu mobil yang sudah sedikit terbuka.
"Apa selain membenci kakak iparmu, kau juga membenciku?"
Kalimat kedua berhasil membuat Sandra kembali menghadap ke arah Alex. "Kakak..."
"Kau tidak tau se menderita apa diriku saat kau tidak ada di rumah..." Kini air mata Alex sudah jatuh bercucuran.
"Kakak... Aku..."
Alex langsung merangkul sang adik ke dalam dekapannya. "Kenapa kau pergi dari rumah hah?" Kata Alex di sela-sela tangisannya. "Kenapa kau selalu menuruti apa yang aku katakan?" Kata Alex lagi menjeda kalimatnya sebentar. "Saat itu aku hanya terbawa emosi hingga aku marah padamu. Maafkan kakak karena telah menyinggung mu dengan kata-kata kakak," Alex melepaskan pelukannya. Menangkup kedua pipi Sandra dengan telapak tangannya. "Kau mau memaafkan kakak kan?" tanya Alex dan di jawab anggukan kepala oleh Sandra. Alex kembali memeluk Sandra erat. Ia tak mau kehilangan Sandra lagi untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup emosinya meluap-luap beberapa hari yang lalu. Bahkan sang istri pun sudah memaafkan perilaku Sandra yang memang kelewat batas.
*
Alex menghentikan mobilnya setelah ia sampai di rumahnya. Ia melihat sang ibu yang tengah duduk di taman depan beserta istrinya. Perlahan ia membuka pintu mobilnya lalu keluar di susul Sandra yang juga turut keluar mobil.
Sesaat mata Marisa membulat sempurna ketika tau siapa yang telah di bawa Alex pulang. Ia berlari bersamaan dengan Sandra yang juga berlari ke arahnya. Mereka berpelukan. Meluapkan rasa rindu setelah beberapa hari tak bertemu dengan putrinya, namun kini rasa rindu itu sudah terobati dengan kembalinya Sandra di rumahnya. Tangis haru pun keluar dari keduanya.
Desi tersenyum mengangkat jempolnya ke arah suami yang tengah berjalan ke arahnya. Dengan kata lain ia sangat senang karena Alex membawa pulang Sandra. Namun rasa mual kembali menyerangnya saat Alex sudah dekat ke arahnya. Desi berlari ke arah rumah meninggalkan Alex yang bingung akan sikapnya.
"Sayang ada apa?"
Bersambung
__ADS_1