
Malam hari di rumah Alex. Marisa tengah dibantu oleh beberapa asisten rumah tangga yang mempersiapkan apa saja keperluan untuk hari lusa. Hari dimana menurut Marisa adalah hari paling bahagia. Sebenarnya semuanya telah selesai di persiapkan, namun Marisa tak ingin ada yang terlihat kurang jika ia tak melakukan pengecekan sendiri.
"Mama..." Panggil Alex yang menghampiri sang ibu tercinta. Ibu yang telah membesarkannya hingga saat ini. "Mama terlihat sangat sibuk. Istirahatlah..." Kata Alex yang sudah berdiri di samping Marisa. Tangannya terulur untuk mengelus pipi kiri sang ibu yang kini sudah terlihat sedikit keriput.
Marisa menggelengkan kepalanya pelan. "Mama baik-baik saja. Kamu gak perlu khawatir," jawabnya. Lalu sesaat ia tersenyum penuh makna. Senyum yang jarang sekali ia keluarkan dari bibirnya. Perlahan ia menangkup wajah putra satu-satunya yang kini sudah dewasa. Tak terasa air matanya juga sudah keluar di pelupuk matanya. Mencium kening Alex penuh haru. "Mama doakan semoga kamu bahagia selamanya..." Kata Marisa yang tak bisa menghentikan air matanya.
"Jangan menangis..." Kata Alex seraya mengusap air mata ibunya. "Bukankah ini hari bahagia? Jadi jangan lagi menangis..." Tambahnya lagi yang masih mengusap air mata sang ibu
"Ini air mata bahagia..." Ucap Marisa sambil mencoba menenangkan hatinya agar tak kembali menangis. "Mama memang sangat bahagia..." Katanya lagi yang menangkup kedua pipi putra kesayangannya. "Terimakasih sayang..." Tambahnya lagi sambil memeluk Alex.
Alex memeluk erat tubuh ibunya yang hanya sebatas pundaknya. Ibu yang sudah mengandungnya selama sembilan bulan. Ibu yang sudah membesarkannya selama kurang lebih dua puluh sembilan tahun ini telah menjadi wanita yang sudah terbilang sepuh.
Ia tak pernah menyangka jika wanita yang kini berada dalam pelukannya akan mengalami hari yang amat berat sebelum ia menikah. Hari dimana ia dan keluarganya yang akan meminta ijin pada keluarga Darmawan untuk mempersunting Desi malah menjadi satu-satunya hari yang akan teringat jelas dalam benak Alex. Hari saat Darmawan menyebut jika keluarganya adalah keluarga yang salah satu dari mereka yakni ayahnya adalah seorang narapidana. Saat itu dan sampai detik ini, Marisa memang tak mengatakan hal tentang keluarga Darmawan namun Alex seakan tau bagaimana ibunya menutupi perasaan yang menyakitkan saat keluarganya dikatakan sebagai keluarga kriminal. "Ma... Maafkan keluarga Desi yang..."
"Jangan bicarakan itu lagi," jawab Marisa yang memotong perkataan Alex. Seakan tau kelanjutan kalimat yang akan Alex katakan. Kini Marisa bahkan melepaskan pelukannya dari sang anak. "Mama sadar kalau memang keluarga kita yang salah. Mama tidak mau membahas masalah itu lagi. Toh sekarang keluarga Desi sudah menerima keluarga kita dengan tangan terbuka. Mama hanya ingin kamu bahagia selamanya dengan Desi," lanjut Marisa yang kembali lagi ke pelukan Alex.
__ADS_1
***
Sedangkan di kamar Sandra, ia kini sedang berdiri di balkon kamarnya. Melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya sudah nampak geram ketika mengingat lagi saat keluarganya di permalukan oleh keluarga Darmawan, calon mertua kakaknya. Saat keluarga Darmawan menyebut kalau keluarganya adalah keluarga kriminal. Gara-gara ayahnya di penjara atas kejahatan yang memang sangat fatal, membuatnya merasa sulit untuk bergaul dengan teman-temannya. Beruntung ia kini sudah kuliah dengan Lala, sepupu perempuannya. Meski tak sekelas dengan Lala karena jurusan mereka yang berbeda. Namun setidaknya kini Sandra masih mempunyai orang yang bisa di ajak bicara di kampus.
Dari pertama melihat Desi saat dulu ia harus bertemu dan beradu mulut dengan Desi di perusahaan Wijaya Group yakni perusahaan yang saat ini di pimpin oleh Farel, Sandra memang sudah tidak suka dengannya. Apalagi sekarang, saat lusa nanti ia akan resmi menjadi adik iparnya.
Jikapun kak Alex harus menikah dengan Desi maka aku juga akan mencari cara agar Desi bisa keluar dari kehidupan kak Alex.
Aku tidak mau jika aku harus mempunyai kakak ipar seperti dirinya.
Maki Sandra dalam hati saat ia nantinya akan serumah dengan istri kakaknya. Sampai detik ini ia masih tak merestui hubungan Alex dan Desi. Namun ia tak akan memperlihatkan sikap tak sukanya dengan Desi jika di depan semua orang. Ia tak ingin nama baiknya sampai tercemar jika ia ketahuan tidak suka dengan Desi.
"Kakak..." Sandra menghadap ke arah Alex. "Kau membuatku terkejut," katanya lagi seraya memukul pelan dada kakak laki-lakinya.
Alex tertawa mendapat jawaban dari Sandra. "Lagian kamu, dari tadi kakak panggil-panggil tapi kamu diam aja. Emang kamu lagi mikirin apa?" Tanyanya yang penasaran karena ia harus berdiri di depan pintu kamar adiknya selama sepuluh menit. Mengetuk dan memanggil nama adik perempuannya namun tak ada sahutan dari dalam. Karena tak ada jawaban Alex akhirnya langsung masuk ke kamar Sandra dan mendapati Sandra tengah berdiri di balkon kamarnya.
__ADS_1
"Tidak ada," jawabnya sambil memalingkan wajahnya. Ia tak mau jika Alex sampai tau kalau saat ini ia sedang kesal.
Alex yang tak percaya langsung memegang dagu Sandra dan menyuruh Sandra agar melihat ke arahnya. "Kamu sedang kesal dengan seseorang?"
Aaa kenapa kakak selalu bisa membaca pikiranku?
Padahal aku sudah mencoba setenang mungkin agar ia tak merasa curiga.
Batin Sandra. Dari kecil ia memang selalu menganggap Alex seperti malaikat yang bisa membaca pikirannya. Baik ia sedang senang atau sedang sedih, Alex selalu bisa membaca pikirannya meski Sandra tak bilang sepatah katapun. Kadang ia merasa kalau Alex mempunyai kemampuan indra ke enam. "Tidak aku..."
"Apa kau sedang mencoba untuk berbohong?" Alex memotong perkataan Sandra. Kini kedua tangannya sudah berada di pundak Sandra. "Dengarkan kakak. Jika kau memang sedang merasa kesal pada seseorang katakan saja pada kakak. Maka kakak akan..."
"Kakak..." Kini tangan Sandra sudah memegang tangan Alex yang dari tadi sudah berada di pundaknya. "Aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sangat bahagia karena sebentar lagi kakak akan menikah. Aku hanya berpikir akan memberikan kado apa untuk kak Alex dan kakak ipar," jawab Sandra panjang lebar. Ia tak mau sampai Alex mengetahui perihal dirinya yang tak menyukai Desi.
"Benarkah?" Tanya Alex sekali lagi. "Tapi kenapa aku merasa kalau kau dan calon kakak iparmu..."
__ADS_1
"Kakak..." Sandra memotong perkataan Alex yang sepertinya akan mengarah pada apa yang dari tadi ia pikirkan. "Sebaiknya kita bantu Mama. Mama pasti sangat sibuk sekali..." Katanya lagi yang langsung menggandeng tangan Alex supaya keluar dari kamarnya. Dan supaya Alex tak menanyakan perihal dirinya dan calon kakak iparnya. Sandra sangat tau bagaimana cara Alex agar dirinya mengatakan yang sebenarnya perihal sesuatu yang ia pikirkan dari tadi. Desakan demi desakan pasti akan keluar dari mulut Alex supaya dirinya mengatakan apa saja yang membuatnya tadi melamun saat Alex memanggilnya dan ia tak mendengarnya sama sekali.
Bersambung