
"Sandra..." Teriak Alex saat memasuki rumahnya. Dari rumah sakit ia di antar oleh Adi menuju rumahnya. Amarah memasuki dirinya saat ia mendengar langsung pernyataan dari pemilik kedai makanan yang dibawa oleh Maya ke rumah sakit. Sang pemilik kedai makanan juga menunjukkan bukti CCTV yang merekam saat Sandra memesan makanan sore tadi di kedainya. CCTV juga menunjukkan bahwa Sandra tengah menyuap sang pemilik kedai makanan dengan sejumlah uang agar tak bilang pada siapapun akan aksinya. Supaya hal tersebut tak diketahui oleh siapapun termasuk keluarganya sendiri. Pemilik kedai makanan mengatakan yang sebenarnya bukanlah tanpa alasan. Ia hanya tak mau jika suatu saat nanti akan ada yang mempertanyakan akan seorang wanita yang pingsan di tempatnya. Karena ia hanya menjaga kualitas makanan di kedai miliknya.
"Alex ada apa?" Tanya Marisa yang berjalan menghampiri putranya. Selama ia membesarkan Alex hingga berusia hampir tiga puluh tahun ini, ia tak pernah mendengar Alex berteriak dalam keadaan marah pada sang adik.
Sedangkan para penghuni rumah seperti asisten rumah tangga dan para pengawal juga tengah melangkah setengah berlari ke arah ruang tamu saat teriakan majikan mereka menggema di seluruh ruangan. Namun mereka hanya bisa menyaksikan drama keluarga ini di balik dinding. Mereka harus mencari aman jika ingin tetap bekerja disini.
"Dimana Sandra?" Teriaknya lagi yang mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tamu. Ia sudah tak bisa menahan amarahnya ketika ia tau selicik apa Sandra yang ia anggap adik sendiri.
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Marisa lagi yang khawatir akan kemarahan yang terlihat jelas di wajah Alex.
"Kakak ada apa?" Sandra terlihat menuruni tangga dengan tergesa-gesa, saat teriakan saudara laki-lakinya begitu nyaring di telinganya saat ia masih berada di kamarnya.
Alex mengarahkan pandangannya ke asal suara. Berjalan cepat ke arah Sandra yang tinggal beberapa lagi di depannya. Sesaat ia menampar keras pipi Sandra sebelah kiri.
"Alex..." Teriak Marisa yang memang terkejut dengan apa yang ia lihat di hadapannya.
Sedangkan semua orang yang berada dalam ruangan yang sama seakan tak percaya dengan apa yang dilakukan majikannya pada adik perempuannya.
"Apa apa sebenarnya?" Tanya Marisa lagi yang sudah berada diantara kedua anaknya. Memeluk erat Sandra dari samping ketika ia tau kemarahan Alex sudah berada di puncaknya. Mencoba melindungi Sandra dari amukan putra satu-satunya. Ia menitikkan air matanya ketika ia harus dihadapkan pada kenyataan perseteruan antara Alex dan Sandra.
__ADS_1
"Mama tanya saja padanya," jawab Alex yang menahan geram akan ulah Sandra pada istrinya.
Sedangkan Sandra hanya bisa diam saja saat kemarahan Alex sudah tak dapat dikendalikan. Ia mencoba menahan rasa sakit di pipi kirinya yang sudah di tampar oleh kakak laki-lakinya. Memegang pipi kirinya yang terasa perih akibat pukulan keras dari saudara satu-satunya.
"Coba Mama tanyakan padanya," tunjuk Alex pada Sandra. "Perbuatan apa yang telah dia lakukan pada Desi. Sehingga Desi harus bertaruh nyawa akibat ulahnya," kata Alex lagi memberikan penekanan di setiap kalimat yang ia ucapkan.
Sandra yang kini tau apa yang di maksud oleh kakak laki-lakinya seakan tak percaya. "Kakak aku bisa jelaskan," akhirnya membuka suara. Mencoba memberikan penjelasan pada Alex akan kesalahan yang ia perbuat.
"Tidak perlu ada yang dijelaskan!" Teriakan Alex kembali menggema di setiap sudut ruangan. "Dari pertama aku menikah dengan Desi, kau memang tidak menyukai Desi, iya kan? Kau juga mencari cara agar Desi keluar dari rumah ini, iya kan? Dan setelah kau tau akan kelemahan Desi akan alerginya, kini niat jahatmu kembali muncul dengan memesankan makanan yang di pantang keras oleh Desi. Benar begitu kan?" Pernyataan yang begitu menyakitkan baginya saat ia tau kalau Sandra memang tak menyukai istrinya.
Seketika Marisa melepaskan pelukannya dari Sandra. Saat ia tau kemarahan Alex pada Sandra. Kini pandangannya tertuju pada Sandra yang masih berdiri di sampingnya. "Katakan kalau tuduhan dari kakakmu semuanya bohong!" Kata Marisa yang memegang kedua lengan Sandra seraya menggoyangkannya. "Katakan pada Mama jika semua tuduhan yang Alex berikan padamu semuanya salah. Katakan jika bukan kau yang mencoba memberikan makanan yang di pantang oleh kakak iparmu. Katakan Sandra..."
"Mama..." Sandra mencoba menahan segala sesak di dadanya ketika kini semua kebohongannya terungkap oleh kakak laki-laki sendiri. Air matanya dari tadi sudah lolos begitu saja. "Maafkan aku..." katanya lagi seraya menundukkan kepala.
"Mama..." Sandra tau sang ibu pasti tak percaya dengan apa yang ia perbuat. Namun saat ini ia harus meminta maaf pada kakak laki-lakinya terlebih dahulu. "Kakak tolong maafkan aku..." ucap Sandra sambil memegang kedua tangan saudara laki-lakinya.
"Perbuatanmu tidak bisa aku maafkan," ujar Alex sekali lagi. Menghempaskan pegangan Sandra dari tangannya. "Perbuatanmu sangatlah fatal. Bagaimana jika keluarga Desi sampai tau kalau kaulah penyebab masuknya Desi ke rumah sakit," tambahnya lagi yang membuat Sandra tak bisa berkata apa-apa lagi. "Apa kau tidak tau betapa aku sangat mencintainya," Alex sudah tak bisa menahan segala amarah yang ada di benaknya. "Aku bahkan rela mengorbankan janin yang ada di rahim Desi ketika aku tau Desi sedang sekarat tadi!"
"Kakak... Aku benar-benar minta maaf..." ucap Sandra di selingi tangisannya.
__ADS_1
"Dan hari ini kau bahkan membuktikan bahwa kau bukanlah saudara kandungku."
Duaarr ...
"Alex ..." Kini teriakan Marisa yang menggema di seluruh sudut ruangan. Ia tak percaya jika Alex akan berkata seperti itu.
"Kakak..." Sandra yang mendengar perkataan Alex benar-benar diam tak berkutik. Hatinya terlalu sakit ketika mendengar dari telinganya sendiri saat Alex untuk pertama kalinya berkata kalau dirinya bukanlah saudara kandungnya.
Pernyataan Alex membuat semua orang terperangah kaget. Pasalnya semua pekerja yang bekerja di rumah Alex tak mengetahui akan status keluarga ini sebelumnya. Adegan saling bisik langsung terjadi pada para anggota asisten rumah tangga yang berada di balik dinding.
"Apa yang kau katakan?" Tanya Marisa yang menarik lengan Alex agar menghadapnya.
"Bukankah aku benar," kata Alex dengan mata berkaca-kaca. Menatap wajah sang ibu. "Katakan padanya agar keluar dari rumah ini," kata Alex lagi tanpa melihat Sandra. Lalu dirinya berjalan keluar dari rumah menuju mobilnya. Karena ia harus kembali lagi ke rumah sakit.
Hening tak ada suara dari Marisa dan juga Sandra. Mereka masih mematung di tempatnya berdiri saat Alex sudah pergi dari rumah. Namun ketika Sandra akan melangkah sang ibu malah berjalan pergi. Ada rasa sesak di dadanya ketika ia begitu tak di anggap di keluarga ini.
"Nona..." Bu Dina sudah berdiri di belakang Sandra.
Sandra mengusap air matanya kasar. Lalu ia menghadap ke belakang. Melihat ke arah Bu Dina yang berdiri di belakangnya. "Bu Dina..." menjeda kalimatnya sebentar. "Aku titip Mama..." Sambungnya lagi kemudian ia melangkah menaiki tangga untuk mengemasi barang-barangnya.
__ADS_1
"Nona..." Bu Dina masih mematung di tempatnya berdiri. Melihat kepergian Sandra yang menaiki satu persatu anak tangga.
Bersambung