Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Ngidam


__ADS_3

"Hah..." Alex menghela nafas berat. "Aku tidak percaya akan melakukan semua ini," ia kini sedang berdiri di ruang tamu sambil berkacak pinggang. Melihat sebagian asisten rumah tangganya yang menurunkan beberapa fotonya di rumahnya sendiri.


Tadi Alex sudah mendapatkan cerita dari Adi dan Rafi mengenai rasa mual yang di alami istrinya. Rasa mual itu muncul ketika Desi melihat foto dirinya dan juga melihat secara langsung wajahnya.


Setelah makan malam tadi Alex sudah menyuruh beberapa asisten rumah tangga untuk menurunkan fotonya terkait Desi yang dari tadi tak henti-hentinya mual saat melihatnya berkeliaran di rumah.


"Kakak harus lebih bersabar lagi," hibur Sandra yang berdiri di samping kakak laki-lakinya.


Alex tertawa mendengar perkataan sang adik. "Kau pikir aku bisa bersabar saat suasana rumah menjadi genting seperti ini?" Tanya Alex dengan nada kesal. "Kau bayangkan saja. Aku bahkan tidak bisa memeluknya barang sedetik pun. Jangankan memeluknya, mendekatinya saja dia sudah merasa mual." Tambahnya lagi dengan wajah masam. "Apa dia pikir wajahku kotoran sehingga dia merasa mual jika melihatku," kata-kata Alex berhasil membuat semua orang tertawa keras. Terlebih lagi ia makin kesal saat melihat para asisten rumah tangga yang juga menertawakannya. "Apa yang kalian lakukan? Kalian mau di pecat?" Celetuk Alex dengan nada kasar.


Saat itu pula semua asisten rumah tangga diam seketika. Menyaksikan bagaimana reaksi majikan mereka yang saat ini dihinggapi rasa marah yang tak terkendali. "Maaf tuan muda..." Ucap semua asisten rumah tangga seraya membungkukkan badan. Setelahnya Bu Dina menyuruh mereka pergi dengan membawa semua foto Alex ke tempat dimana Bu Dina menyiapkannya agar istri dari majikannya tak bisa melihat foto Alex.


"Sabarlah... Itu semua bukan kemauan Desi," kata Marisa dari arah belakang Alex. Setelah perjumpaannya dengan sang putri kesayangannya kini kesehatan Marisa kembali pulih. "Itu adalah salah satu gejala yang di alami oleh ibu hamil."


"Mual saat melihat ku?" Tanya Alex memastikan.


"Iya..."


"Tapi itu tidak adil Ma. Pasti ada yang salah dengan Desi," Alex sudah gusar dengan keadaan Desi yang tak bisa ia dekati. "Bukankah ia mual dan muntah? Apa perutnya sakit? Atau dia ada masalah dengan pencernaannya? Atau mungkin..."


"Alex..." Marisa memotong berbagai spekulasi yang Alex berikan. Sedangkan Sandra hanya bisa tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan dari Alex.


"Diam kau!" Menunjuk Sandra dengan jari telunjuknya. Menyuruh agar Sandra tak menertawakannya saat ia dilanda kebingungan ketika ia tak bisa mendekati sang istri. Namun Sandra masih saja tertawa meski ia sudah menyuruh adik perempuannya untuk diam.

__ADS_1


"Dengarkan Mama..." Kata Marisa yang perlahan mencoba menjelaskan pada putranya. "Saat ini Desi sedang mengalami masa ngidam."


"Ahh Mama bohong..." Jawab Alex menyangkal persepsi yang ibunya berikan. Ia sudah mengibaskan tangan kanannya di depan wajahnya. Tak ingin mengiyakan apa yang ibunya katakan. "Mana ada ngidam seperti itu. Ngidam itu hanya tentang makanan. Biasanya wanita hamil akan meminta makanan yang diinginkannya. Jadi..."


"Sayang..." Marisa sudah lelah menjelaskan bagaimana ngidam yang saat ini di alami oleh menantunya. Ia sampai kehabisan kata-kata saat Alex masih tak mengerti maksudnya.


Sedangkan Sandra dari tadi hanya bisa tertawa mendengar celotehan sang ibu dan kakak laki-lakinya.


"Aku bilang diam kau!" Kembali menunjuk Sandra agar menghentikan tawanya.


"Tolong dengarkan Mama..." Kini Marisa sedang memegang kedua lengan Alex. Mencoba menjelaskan perlahan pada putranya agar lebih tenang lagi. "Sebaiknya kau segera istirahat. Di atas Desi pasti sedang menunggumu," ujar Marisa mencoba menghibur Alex agar bisa lebih tenang lagi.


"Dia tidak akan menungguku. Dia pasti sedang..."


*


Alex membuka pintu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia memasukkan kepalanya terlebih dahulu. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dari pintu ia bisa melihat istrinya yang sepertinya sudah terlelap di bawah selimut. Perlahan ia masuk ke dalam. Kembali menutup pintu tanpa mengeluarkan suara.


Ia melangkahkan kakinya dengan sangat hati-hati. Selangkah demi selangkah namun pasti. Perlahan ia menaiki ranjang. Berusaha sebaik mungkin agar tak mengeluarkan suara. Jika tidak ia pasti akan di usir dari kamarnya. Ngidam yang di alami sang istri membuat Alex harus lebih berhati-hati dalam bersikap. Apalagi ia harus menyembunyikan wajahnya dari tatapan sang istri.


Ia kembali memperhatikan Desi yang saat ini tengah meringkuk tidur membelakanginya. Tangannya terulur untuk mengelus pipi sang istri dari belakang namun tiba-tiba saja Desi menggeliat pelan hingga mengurungkan niatnya untuk mengelus pipi sang istri.


Sayang... Aku ingin memelukmu...

__ADS_1


Apa kau tidak ingin memelukku?


Kenapa masa ngidammu sangat aneh?


Aku tidak mau menyalahkan dirimu...


Aku juga tidak mau menyalahkan anak kita.


Tapi...


Sayang... Aku ingin memelukmu...


Teriak Alex dalam hati. Ia begitu tersiksa dengan ngidam yang di alami sang istri. Setelah beberapa saat menatap wajah Desi dari belakang akhirnya ia menaruh kepalanya di atas bantal. Ia harus mengistirahatkan tubuhnya malam ini, atau kalau tidak ia akan merasa kelelahan esok hari. Seharian ini ia sudah di sibukkan dengan berbagai hal. Dari kantor polisi ia harus mengatasi masalah Sandra di kampus setelah itu ia harus tersiksa dengan acara ngidam sang istri sampai-sampai ia harus melewatkan makan siang yang untuk pertama kali dengan sang istri di kantor. Dan sepertinya acara makan siang yang ia susun setiap hari di kantor bersama sang istri akan hancur berantakan lantaran ngidam aneh yang di alami oleh Desi.


Alex menghembuskan nafas panjang. Ia masih memperhatikan Desi dari belakang. Ia sudah tak berniat mengganggu Desi disaat seperti ini. Namun dirinya terkejut saat tiba-tiba Desi berbalik menghadapnya. Refleks ia memundurkan badannya ke belakang beberapa jengkal. Namun saat ia sudah memperhatikan Desi beberapa saat, ternyata Desi masih terlelap.


Senyum di sudut bibirnya tatkala muncul saat ia bisa dengan puas menatap wajah sang istri. Kini tangannya tergerak menyingkirkan rambut Desi yang tengah menutupi wajahnya. Menyelipkan rambut sang istri di belakang telinganya. Perlahan ia mencium kening istrinya dengan sangat hati-hati.


Tidurlah kau pasti lelah karena seharian ini sudah mual dan muntah saat melihat wajahku.


Kata Alex dalam hati lagi sambil tertawa. Hingga akhirnya ia juga terlelap dalam tidurnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2