
Adi dan Rafi sudah standby di depan perusahaan Wijaya Group. Biasanya mereka akan menunggu Desi di depan gedung kurang dari lima belas menit sebelum Desi keluar namun tidak untuk hari ini. Nyonya besar mereka sudah memerintahkan keduanya untuk menjemput Desi satu jam sebelum Desi keluar dari kantor.
Hari lembur Desi sudah berakhir kemarin, jadi saat pukul dua siang tadi Adi dan Rafi sudah menunggu kepulangan istri dari majikannya. Sesekali Adi melihat jam tangannya saat jarum jam menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh menit. Karyawan Wijaya Group sudah banyak yang melewati pintu utama kantor tersebut untuk pulang. Namun Adi dan Rafi tak sekalipun melihat kepulangan istri dari majikannya.
Adi dan Rafi memutuskan untuk keluar dari mobil, mereka sudah berencana masuk ke dalam kantor jika memang Desi tak menampakkan batang hidungnya. Sesekali mereka terlihat saling memandang satu sama lain. Kecemasan jelas terlihat di wajah mereka berdua.
Sedangkan Nadia baru keluar dari kantor. Ia melihat dua pengawal yang biasa mengantar dan menjemput Desi dari kantor saat Alex tak ada di rumah. Perlahan Nadia berjalan mendekati dua pria berbadan kekar tersebut. "Kalian? Kalian sedang apa disini?"
Adi dan Rafi menatap wanita yang sudah mereka ketahui sebagai teman dari istri majikannya. "Kami sedang menunggu nona Desi. Apakah anda..."
"Bukannya Desi tadi ijin pulang," kata Nadia memotong perkataan salah satu pengawal Desi.
Wajah Adi dan Rafi sudah tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata lagi. Kedua mata mereka sudah membelalak tak percaya sedangkan mulut mereka tak berhenti menganga.
"Kalian tidak tau?" Tanya Nadia yang di jawab gelengan kepala oleh dua orang yang berada di depannya. "Desi sakit dan dia ijin pulang. Mungkin sekitar jam sepuluh dia pulang," jelas Nadia.
"Tapi nona Desi tidak pernah kembali ke rumah," jawab Rafi yang sangat kebingungan saat tau orang yang seharusnya ia jaga saat ini tak tau ada dimana.
Nadia juga sangat terkejut dengan penuturan yang di berikan oleh salah satu pengawal yang ditugaskan menjaga Desi.
*
Satu jam kemudian semua berkumpul di rumah besar Alex. Marisa yang sempat panik kini hanya bisa terduduk lemas di sofa ruang tamu. Ia juga sudah meminta bantuan keluarga Farel untuk datang ke rumahnya agar bisa menemukan dimana Desi berada. Beberapa pengawal juga sudah di tugaskan untuk mencari tau apa Desi pulang ke rumahnya sendiri, namun semuanya nihil. Menurut salah satu pengawal yang meminta bantuan dari seorang asisten rumah tangga keluarga Darmawan bahwa Desi tak terlihat pulang hari ini ke rumahnya sendiri.
Farel, Alika, Nadia, Marisa, Sandra dan juga beberapa pengawal dan asisten rumah tangga saat ini tengah berkumpul di ruang tamu keluarga Alex.
__ADS_1
"Sudah mencoba menghubungi ponselnya?" Tanya Farel yang juga terlihat bingung.
"Ponsel nona Desi tertinggal di rumah tuan," jawab Bu Dina yang memperlihatkan ponsel milik istri dari majikannya yang sudah berada di tangannya. Tadi ia tau dari Nadia kalau ponsel Desi sedang tertinggal di rumah. Dan buru-buru ia mencarinya di kamar utama yakni kamar dua sepasang pengantin yang baru tiga bulan menikah itu.
"Sial..." Umpat Farel sambil melayangkan pukulan tangannya ke udara. Sedangkan Alika hanya bisa mengelus lengan suaminya agar bisa tenang dan bisa mencari jalan keluar agar bisa menemukan dimana Desi berada.
"Tante hanya takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Desi. Sebelum tadi berangkat ke kantor wajah Desi memang sudah pucat," kata Marisa yang terlihat tegang. "Bagaimana jika Desi..."
"Mama..." Sandra memotong perkataan sang ibu. "Tenanglah semuanya pasti baik-baik saja," Kata Sandra yang mencoba menenangkan ibunya.
Bukankah ini berita baik. Kenapa Tuhan sangat baik sekali padaku. Baru tadi pagi aku berharap jika kakak ipar pergi dari rumah ini. Tapi sekarang semua itu menjadi kenyataan. Batin Sandra. Ia tertawa keras dalam hati saat mendengar kabar bahwa sang kakak ipar telah pergi dan sampai sekarang masih belum di temukan.
Farel memijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing. Ia sudah mengerahkan semua pengawal Alex dan juga di bantu dengan pengawal rumahnya. Namun entah kenapa semuanya seakan sia-sia. Desi tak meninggalkan jejak sekalipun. "Kita harus menemukan Desi sebelum Alex pulang ke rumah. Jika tidak..."
"Memangnya sekarang dimana Desi?"
"Alex..." Gumam Farel lirih.
"Aku bertanya sekarang Desi ada dimana?" Pertanyaan dari teriakan Alex benar-benar melengking di telinga semua orang. Sebenarnya ini bukanlah jadwal kepulangannya. Namun saat tadi pagi ia mengaktifkan ponselnya dan membaca semua pesan yang dikirimkan Desi padanya membuatnya merasa bersalah karena ia memang tak meminta ijin pada Desi terlebih dahulu. Kekhawatirannya semakin menjadi saat ia sudah berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Desi namun tak ada jawaban. Lalu ia meminta pada Maya untuk pulang lebih awal. Dan kini ia berdiri di depan rumahnya. Mendengar dengan telinganya sendiri kalau wanita yang sudah sangat ia rindukan kini telah menghilang.
Marisa mencoba berdiri saat ia tau kalau ia adalah salah satu yang harus bertanggung jawab atas menghilangnya Desi. "Alex... Mama bisa jelaskan..."
Alex melangkah memasuki rumahnya dengan emosi yang sudah berada di puncaknya. Ia sudah membayangkan jika ia pulang dan bertemu dengan Desi maka ia akan langsung memeluk sang istri. Ia tak akan mengelak jika nanti Desi akan marah atau bisa saja akan memukulnya karena ia sudah melanggar perjanjiannya nomor empat yakni setelah menikah keduanya dilarang menyentuh seujung kuku pun. Namun semua bayangan itu seketika lenyap ketika ia mendengar dari mulut Farel kalau saat ini Desi sedang menghilang. Alex berjalan ke arah dua pengawal yang sudah ia tugaskan untuk menjaga istrinya. "Apa yang kalian lakukan hah?" Tanya Alex dengan nada geram. Kedua tangannya sudah memegang kerah baju Adi dan Rafi. "Bukankah aku sudah menyuruh kalian untuk menjaga istriku. Tapi kalian bahkan tak bisa menjaga satu wanita saja!" Kata Alex lagi melampiaskan kemarahannya pada dua pengawal tersebut. Menghempaskan kerah baju dua pengawalnya dengan kasar.
"Maafkan kami tuan..." Ucap Adi dan Rafi seraya membungkukkan badan. Mereka tak memungkiri, apa yang terjadi saat ini adalah memang kesalahan mereka. Hilangnya istri dari majikannya membuat mereka berdua sangat merasa bersalah.
__ADS_1
"Aaa..." Teriak Alex frustasi. Ia bahkan tak tau harus mencari Desi kemana.
Farel yang juga merasa tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia juga tak tau harus membantu seperti apa lagi. Semua pengawal sudah ia kerahkan namun sampai saat ini satu pun pengawal tak bisa menemukan Desi. "Tante apa Desi tidak mengatakan sesuatu pada tante Marisa. Mungkin saja ada sebuah pesan yang..."
"Tante hanya melihat wajah Desi yang terlihat pucat setelah keluar dari ruang kerja Alex tadi pagi," jawab Marisa yang memotong pertanyaan Farel.
"Di ruang kerjaku?" Tanya Alex yang mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Desi masuk ke dalam ruang kerjanya jika tidak ada dirinya.
"Iya. Mama ingat betul, tadi pagi kata Bu Dina Desi sedang mencetak berkas di ruang kerja kamu dan setelah keluar dari ruang kerja kamu Desi terlihat sangat pucat. Mama hanya berpikir kalau dia sedang sakit. Mama bahkan sudah melarangnya untuk pergi bekerja," jelas Marisa.
Alex dan Farel menatap satu sama lain. Sepertinya mereka mempunyai pikiran yang sama. Lalu keduanya berlari ke arah ruang kerja Alex. Alex meneliti setiap sudut ruang kerjanya. Lalu pandangannya mengarah pada meja kerjanya. Tak ada yang aneh. Semuanya bahkan rapi seperti sedia kala. Namun kini pandangannya tertuju pada laci meja kerja sebelah kanannya. Laci tersebut bahkan hanya menutup separuh. Alex membuka laci tersebut. Di dalamnya Alex melihat ada foto Maya yang berada di atas amplop warna putih. "Maya..." Gumamnya lirih.
Semua orang juga ikut menyusul langkah Alex dan Farel yang sudah berada di ruang kerja.
"Foto itu masih kamu simpan?" Tanya Marisa.
"Maksud Mama foto Maya?" Tanyanya yang di jawab anggukan kepala oleh sang ibu. "Aku bahkan tidak tau kalau ada foto Maya disini."
"Mama pikir kamu sudah membukanya. Kira-kira setahun yang lalu Mama pernah ingin menjodohkan dirimu dengan Maya tapi sampai kamu menikah dengan Desi, kamu bahkan tidak pernah membicarakannya. Jadi Mama pikir..." Marisa menggantungkan kalimatnya.
"Sepertinya gue tau, kenapa Desi pergi dari rumah ini," kata Farel yang juga di tanggapi anggukan kepala oleh Alex.
Sedangkan Alika dan Nadia saat ini sedang saling menatap. "Sepertinya aku juga tau dimana saat ini Desi berada," kata Alika yang membuat semua orang mengarahkan pandangannya pada Alika.
"Dimana?" tanya semua orang.
__ADS_1
Bersambung