
Akhirnya Alex sampai juga mengendarai mobilnya sampai di rumahnya. Rumah yang megah. Rumah berlantai dua ini memiliki penjagaan yang ketat. Di luar gerbang Desi bisa melihat dua penjaga yang berdiri disana. Sedangkan saat memasuki taman depan banyak sekali pekerja yang berkeliling rumah tersebut. Ada yang bertugas memotong rumput. Ada juga yang berkeliling sedang memperhatikan para pekerja yang sedang melakukan pekerjaannya.
Aku sudah tidak heran dengan rumah yang besar. Tapi apa ini? Kenapa penjagaan di rumah ini sangat ketat? Apa dia tidak salah melakukan penjagaan di rumahnya sendiri?
Batin Desi dalam hati. Ia masih mengedarkan pandangannya ke seluruh taman depan rumah Alex. Ia juga terlihat sesekali melirik ke arah Alex.
"Jangan melirik ku seperti itu," kata Alex sambil menghentikan mobilnya tepat di depan pintu rumahnya.
Ahh apa dia mempunyai mata lebih dari dua. Kenapa dia selalu tau kalau aku meliriknya?.
Batin Desi yang lagi-lagi merasa kesal dengan pria disebelahnya.
Sesaat Alex melihat ke arah Desi. "Sudah sampai. Apa kau tidak mau turun?" Tanyanya yang langsung membuka pintu mobil dan keluar dari mobilnya.
Sedangkan Desi perlahan keluar dari mobil. Ia masih menatap rumah yang berdiri megah di hadapannya. "Apa aku bisa melakukan semua ini?" Gumamnya lirih.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alex sambil melihat ke arah Desi. Sudah lama ia berdiri di samping mobil namun Desi tak kunjung melangkah saat ia menunggunya untuk masuk ke rumah.
Desi sedikit terkesiap dengan perkataan Alex. Lalu dengan berjalan sedikit berlari, ia menghampiri Alex yang sepertinya sudah kesal karena menunggunya. "Sebentar..." Kata Desi seraya memegang lengan Alex.
Melihat Desi yang tengah memegang lengannya Alex langsung terdiam. Ia melihat tangan Desi yang masih memegang lengannya. "Apa kau sudah lupa dengan surat perjanjian yang kau berikan padaku," kata Alex sambil menatap tajam ke arah Desi. "Biar ku ingatkan. Isi perjanjian nomor empat kau menulis jika kita dilarang saling bersentuhan seujung kuku pun," kata Alex lagi penuh penekanan.
"Hais... Kenapa kau begitu sensitif sekali?" jawab Desi sembari melepaskan pegangannya dari lengan Alex. Lalu ia mengedarkan pandangannya lagi ke seluruh taman depan rumah Alex. "Aku hanya gugup saat akan bertemu dengan keluarga mu," kata Desi sambil berbisik ke telinga Alex.
__ADS_1
Alex hanya menghela nafas berat. "Kenapa harus gugup? Kau hanya..."
"Siapa yang gugup?"
Alex dan Desi terkejut dengan suara yang berasal dari pintu. Mata mereka langsung menuju ke asal suara.
"Mama..." Kata Alex seraya menghampiri sang ibu tercinta. Namun saat ia sudah berdiri di samping sang ibu. Marisa malah berjalan ke arah Desi. Alex hanya menghela nafas pasrah saat dirinya menerima perlakuan yang tak pernah ia dapatkan seumur hidupnya. Perlakuan saat ibunya berjalan ke arah orang lain selain dirinya.
"Jadi ini calon istri kamu Lex?" Tanya Marisa yang sudah berdiri di samping Desi. Ia menatap calon menantunya dengan tatapan antusias.
"Iya..." Jawab Alex lalu dirinya juga mendekati ibu dan Desi yang masih berdiri di luar rumah. "Apa Mama tidak akan membawa calon menantu Mama untuk masuk ke dalam rumah?" Tanya Alex yang berhasil membuat Marisa terdiam seketika. Saking antusiasnya Marisa malah lupa tidak mempersilahkan Desi untuk masuk ke rumah.
*
Sandra yang merasa senang saat kakak laki-lakinya membawa calon istrinya juga akan turut bergabung saat dimana keluarganya berkumpul di ruang tamu. Tadi malam Marisa sudah bilang pada Sandra jika Alex akan membawa calon kakak ipar untuknya. Kakinya melangkah dengan pasti menuruni anak tangga namun saat ia tau siapa wanita yang menjadi calon kakak iparnya, langkah Sandra tiba-tiba terhenti. Wajahnya yang tadinya sangat bahagia tatkala berubah menjadi wajah yang kecewa.
Ya benar, Sandra memang tak menyukai Desi. Setiap kali ia bertemu Desi pasti ada saja masalah di antara mereka berdua. Desi adalah perempuan yang sangat menyebalkan di mata Sandra.
Sandra masih diam di tempatnya berdiri. Ia tak bergerak sama sekali. Rahangnya mengeras akibat menahan geram. Mukanya berubah menjadi merah akibat menahan amarah.
Alex yang tadinya duduk di sofa sesaat berbalik dan melihat adik perempuannya yang sudah berdiri di belakangnya. "Sandra..." Kata Alex yang berhasil mengagetkan lamunan Sandra.
Sandra sesaat mengeluarkan senyum terpaksanya saat Alex sudah memanggilnya. "Kakak..." Sandra melangkah menuju Alex yang duduk di sofa yang sama dengan Desi lalu ia mendudukkan dirinya disamping saudara laki-lakinya.
__ADS_1
"Kenalkan dia..."
"Calon kakak ipar ku?" Tanya Sandra yang memotong perkataan Alex. Matanya masih menatap penuh kebencian terhadap Desi namun senyum yang ia keluarkan berhasil menutupi sorot matanya.
Alex tau Sandra memang tidak menyukai Desi. Bukan tanpa sebab. Namun keduanya memang tak pernah akur jika bertemu. "Namanya Desi," ucap Alex.
"Apa kakak mencintainya?" Sandra kembali memotong perkataan Alex. Kini pandangannya sudah tertuju pada Alex. Ia bahkan tak peduli dengan siapa nama calon kakak iparnya.
Alex terdiam sesaat. "Kenapa menanyakan hal itu?" Tanyanya yang membuat semua orang memandang ke arahnya dan adik perempuannya.
Sandra kembali tersenyum penuh makna. "Tentu saja karena aku ingin tau. Aku hanya ingin memastikan kalau kalian menikah atas dasar saling mencintai," katanya sambil memegang lengan Alex. "Bukan begitu kakak ipar?" Kata Sandra lagi yang kini pandangannya tertuju pada Desi yang masih duduk terdiam di samping Alex. Namun Desi seakan enggang menjawab pertanyaan dari Sandra. Ia hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan oleh Sandra.
"Sandra..." Marisa ikut turut bicara. "Itu namanya tidak sopan..." Sambungnya lagi.
"Aku mencintainya..." Kata Alex yang melihat ke arah Sandra. Lalu ia memegang tangan Desi, membawa tangan tersebut dalam dekapannya. "Aku tidak tau harus bercerita dari mana mengenai hubunganku dengan Desi. Tapi yang pasti aku sangat mencintainya..." Kini pandangannya sudah mengarah pada calon istrinya. Pandangan yang memancarkan sinar cinta dari dalam hatinya.
Jika semua orang tengah terenyuh dengan perkataan Alex maka lain halnya dengan Desi. Ia memang tersenyum menanggapi perkataan dari Alex. Namun ia benar-benar merasa geli dengan semua yang di ucapkan oleh Alex padanya. Terlebih saat Alex mengatakan kalau Alex sangat mencintai Desi.
Dia benar-benar fasih mengatakan hal itu. Sebenarnya dia belajar dari mana? Hah, Ya Allah jika saja aku menikah dengan orang yang aku cintai pasti aku akan bahagia.
Kata Desi dalam hati. Kini selain harus bersabar menanggapi Alex sepertinya ia juga harus bersabar menghadapi Sandra.
Aku akan pastikan sendiri kalau kau tidak akan lama menjadi istri dari kakakku. Batin Sandra
__ADS_1
Bersambung