
"Tuan ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda," kata seorang asisten rumah tangga laki-laki yang bekerja di rumah Darmawan.
"Suruh dia masuk," jawab Darmawan seraya menutup koran yang tadi ia baca. Meneguk kopi yang tadi disiapkan oleh seorang pelayan wanita di rumahnya sambil melihat kepergian asisten rumah tangganya.
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikumsalam..." Jawab Darmawan seraya melihat ke asal suara. Ia melihat seorang wanita yang seumuran dengan putrinya tengah berdiri di hadapannya menggunakan jilbab segiempat berwarna coklat muda. Di samping wanita itu juga berdiri pria tampan dan tinggi. Darmawan sedikit terkejut dengan kedatangan dua orang yang sudah sangat ia kenal. Dua orang itu adalah sepasang suami istri. Yang wanita adalah sahabat karib putrinya sedangkan yang pria adalah mantan atasan putrinya. "Sedang apa kalian kesini?" Tanya Darmawan seraya berdiri. Ia sudah memasang wajah tak senangnya atas kedatangan dua orang tersebut. "Jika kedatangan kalian hanya akan membuat pembelaan untuk Alex, maka aku peringatkan kalau kalian sudah sia-sia datang kesini. Karena keputusanku sudah bulat. Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan Alex. Karena dia sudah membuat putriku mengalami penculikan. Dan karena dia telah memaksa putriku untuk menikahinya." Jelas Darmawan panjang lebar. Sebelum dua orang di depannya melakukan pembelaan pada menantunya, ia sudah melakukan peringatan pada sepasang suami istri ini.
"Bagaimana jika saya bilang kalau Desi lah yang memaksa Alex untuk menikahinya?"
Ucapan wanita yang selalu dibumbui dengan senyuman di setiap akhir kalimatnya selalu membuat pria di sebelahnya terpukau. Pasalnya sang istri selalu bisa bersikap tenang meskipun ayah dari sahabatnya sudah melakukan peringatan keras padanya.
__ADS_1
Terkejut. Mungkin itu satu kata yang tepat menggambarkan isi hati Darmawan. "Beraninya kau mengatakan hal tersebut padaku?" Sepertinya amarahnya sudah pada tingkat level tertinggi. Ia bahkan tak mau mendengar apa yang akan dikatakan oleh sahabat karib putrinya. "Sudah ku bilang jika kedatanganmu hanya untuk membela bedebah sialan itu maka aku peringatkan lebih baik kau pergi dari rumahku!" Emosi Darmawan sudah memuncak. Matanya bahkan memerah karena telah menahan emosi. Jika bukan seorang wanita yang saat ini ia hadapi mungkin ia akan memukul atau menyuruh para pengawal rumahnya untuk mengusirnya.
Wanita berhijab itu hanya bisa tersenyum menanggapi semua kemarahan ayah dari sahabatnya. Ia bahkan tak merasa terintimidasi oleh sikap yang dilayangkan pria paruh baya di hadapannya. Ia melangkah satu langkah ke depan, namun langkah kakinya terhenti saat tangannya di pegang oleh pria si sebelahnya. Pria yang diketahui sebagai suaminya ini hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Melarang wanita yang sangat dicintainya untuk maju ataupun mendekati pria paruh baya yang sedang memiliki emosi tingkat tinggi. Namun pegangan tangan pria itu terlepas saat wanita berhijab yang menggunakan pakaian gamis yang berwarna senada dengan jilbabnya menganggukkan kepalanya. Seperti berkata bahwa aku akan baik-baik saja. Setelah bisa mengontrol nafasnya, akhirnya pria tampan tersebut melepaskan pegangan tangannya dari tangan istrinya.
Si wanita dengan santai berjalan ke depan. Dengan jarak tiga langkah ia kini sudah berdiri di hadapan ayah dari sahabatnya. Kedua sudut bibirnya kembali tersenyum. "Maafkan saya om. Tapi semua yang saya katakan adalah benar adanya. Desi lah yang memulai semua sandiwara ini. Desi melakukan semua ini sebab ia sudah lelah karena ia selalu di jodohkan oleh anda dengan laki-laki yang tak ia cintai."
"Kau..." Darmawan sudah mengangkat tangan kanannya. Ingin melayangkan pukulannya pada wanita di depannya. Entah kenapa ia serasa di provokasi oleh wanita di hadapannya. Namun tangan kanannya tertahan di udara saat wanita yang usianya terpaut lebih dua puluh tahun dengannya kini dengan sigap menahannya.
Penjelasan wanita berhijab di depan Darmawan membuat laki-laki paruh baya itu mundur beberapa langkah. "Apa maksudmu?"
"Si penculik sudah menelfon Alex. Jika ingin Desi selamat maka Alex harus datang sendirian ke alamat si penculik."
__ADS_1
Darmawan menganga tak percaya. Ia bahkan tak menyangka jika Alex akan benar-benar datang sendirian.
"Saya kesini hanya ingin menyampaikan bahwa anda harus merestui mereka berdua. Karena restu anda sangat berarti bagi keselamatan mereka berdua." Akhir kata wanita yang bernama lengkap Alika Khumairoh itu. Kedatangannya ke rumah orang tua Desi memang memiliki tujuan khusus. Tujuan yang ingin membuka hati orang tua Desi, lebih tepatnya sang ayah. Karena restu mereka sangat dibutuhkan agar dua pasangan yang sudah hampir sepuluh bulan menikah itu selamat menjalani apa yang tengah mereka hadapi saat ini. "Saya pamit om. Assalamualaikum..." Alika kemudian berjalan meninggalkan Darmawan yang masih mematung di tempatnya berdiri. Melangkah menuju suami tercintanya Farel Adiputra Wijaya. Kedua jemari tangan mereka saling bertautan seraya melangkah keluar dari rumah orang tua Desi.
"Kau memang bidadari surgaku," kata Farel yang masih tak melepaskan pandangannya dari wajah sang istri. Mereka menghentikan langkahnya saat sudah berdiri di samping mobil yang terparkir di depan rumah orang tua Desi.
"Semua aku lakukan demi sahabat karibku dan juga saudara sepupu laki-lakimu," kata Alika yang juga membalas tatapan mata sang suami.
*
Siska, ibunda dari Desi hanya bisa mendengarkan apa yang Alika katakan dari lantai atas. Ia menitikkan air mata saat ia tau yang sebenarnya. Perihal apa yang suaminya temukan di apartemen putrinya yakni surat perjanjian antara putri satu-satunya dan menantunya bukanlah hal yang ingin ia besar-besarkan. Namun lain halnya dengan suaminya, saat melihat surat perjanjian pernikahan sandiwara yang di alami oleh putri semata wayangnya membuat Darmawan kalap. Suaminya hanya melihat apa yang saat itu ia lihat. Suaminya bahkan tak ingin menelusuri apa yang terjadi terlebih dahulu. "Jika terjadi sesuatu pada Desi, maka Papa lah yang seharusnya bertanggung jawab, bukan Alex." Kata Siska dengan suara lantang. Ia bahkan menekankan semua yang ia ucapkan agar sang suami tak lagi bertindak ceroboh. Kemudian ia berjalan pergi meninggalkan suaminya yang masih di lantai bawah dengan tatapan menyesal.
__ADS_1
Bersambung