
Desi mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia masih terbaring di atas tempat tidur. Mencoba mengumpulkan kesadarannya. Setelah beberapa saat ia terduduk, tangan kanannya tengah memegang kepalanya yang memang masih terasa pusing. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Lalu dirinya berjalan ke arah kamar mandi dengan sempoyongan. Desi langsung mencuci mukanya di wastafel. Menatap wajahnya yang masih terlihat pucat di depan cermin kamar mandi. Kemudian ia mengambil sikat gigi dan pasta gigi. Ia membersihkan giginya dengan cara menggosok gigi sambil matanya masih tertuju pada cermin di depannya. Ia melihat bibirnya yang kini masih berbusa akibat pasta gigi yang ia gunakan. Sekelebat ingatan tentang kejadian Alex yang tiba-tiba menciumnya tadi malam kembali dalam pikirannya. Seketika Desi menghentikan aktivitasnya. Ia masih mencoba memikirkan apakah kejadian yang ia ingat barusan benar-benar bukanlah mimpi. Namun ia lagi-lagi mengingat akan kata-kata Alex yang berkata 'kau terlalu banyak bicara'. Desi kembali membelalakkan kedua matanya saat mengingat kembali akan ciuman itu. Segera ia membersihkan mulutnya yang masih di penuhi busa pasta gigi dengan mengambil air kran yang ia tadahkan di kedua telapak tangannya dan memulai ritual kumur-kumur. Sesaat ia juga meraih handuk di kamar mandi dan mengelap seluruh wajahnya.
Desi berlari keluar dari kamar mandi. Meneliti sekali lagi kamar yang biasa ia tempati untuk istirahat. Tak ada yang aneh. Semuanya biasa seperti semula. Lalu ia keluar dari kamar. Mencari keberadaan seseorang yang tadi sempat terlintas di benaknya saat di kamar mandi. Ia berlari ke semua ruangan. Mengedarkan pandangannya ke semua tempat di dalam apartemennya. Namun lagi-lagi ia harus menelan pil pahit saat tak bisa menemukan laki-laki yang sangat ia rindukan. "Aku pasti hanya bermimpi," gumam Desi lirih. Tangan kirinya sedang bertolak pinggang sedangkan tangan kanannya sedang mengusap keningnya saat ia pikir semua yang ia pikirkan tadi di kamar mandi hanyalah sebuah mimpi belaka.
Desi berjalan hingga ruang tamu miliknya sampai ia di kejutkan dengan suara pintu apartemennya yang sedang terbuka. Desi makin terkejut dengan seseorang yang sangat ia rindukan kini tengah berdiri dengan membawa dua tenteng tas kresek berwarna putih sedang masuk ke apartemennya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Alex seraya berjalan memasuki apartemen dan menuju dapur.
Desi tak langsung menjawab pertanyaan dari Alex. Saat ini ia tengah membelalakkan kedua matanya tak percaya ketika ia melihat dengan dua mata kepalanya sendiri kalau laki-laki yang sangat ia rindukan sedang berjalan di depannya tadi.
Alex melihat ke arah Desi yang masih mematung di tempatnya berdiri. "Kenapa? Kepalamu masih pusing?" Tanyanya lagi seraya mengeluarkan semua barang belanjaannya berupa bahan-bahan dapur.
"Aku pasti sudah gila," gumamnya lirih sambil memukul kepalanya yang memang masih pusing hingga dirinya oleng.
Alex berlari menghampiri Desi yang akan terjatuh. "Apa yang kau lakukan?" Tanyanya yang menahan tubuh Desi dengan cara merangkulnya saat sang istri akan terjatuh. "Kau masih sakit. Jadi jangan banyak bergerak dulu."
Dia nyata...
Dia benar-benar nyata...
__ADS_1
Dia sudah pulang...
Kata Desi dalam hati saat bisa merasakan tubuh Alex yang menahannya agar tak jatuh. Kedua matanya tiba-tiba saja berkaca-kaca. Seakan tak bisa menahan apa yang sudah tertahan dalam dirinya. Kini ia memeluk erat tubuh Alex. "Kenapa kau pergi meninggalkan ku? Kau jahat. Kau jahat..." Ocehan keluar dari mulut Desi. Sepertinya peristiwa tadi malam benar-benar ia lupakan. Berulang kali ia memukul-mukul punggung Alex.
Sedangkan Alex hanya menanggapi perlakuan Desi dengan senyuman. Sesaat ia juga membalas pelukan Desi dengan penuh makna. "Maaf..." Ucapnya seraya mengelus punggung Desi perlahan.
Namun sesaat Desi tersadar dengan apa yang ia lakukan. Dengan cepat ia melepaskan pelukannya dari Alex. Ia mengusap air matanya yang tadi sempat terjatuh. Menatap wajah Alex yang benar-benar nyata di depannya. Ia mengingat kembali kejadian semalam. Saat bibirnya di cium untuk pertama kali oleh seorang laki-laki. Meski hanya satu kecupan namun ciuman itu sangat bermakna di hatinya, saat ciuman itu di berikan oleh seseorang yang tak bisa ia pungkiri bahwa laki-laki itu adalah seseorang yang kini sudah bersandar di hatinya. Ia juga kembali teringat akan perkataan Alex tadi malam saat menjelaskan bahwa wanita bernama Maya adalah sekertaris pribadinya saja. Namun ia juga tak bisa memungkiri bahwa dirinya memang masih merasa cemburu.
Desi menundukkan kepalanya dalam. Kali ini ia malu atas perlakuannya tadi malam ataupun barusan. Jika bisa kesepakatan yang pernah ia buat dengan Alex ingin rasanya ia hilangkan.
Perlahan Alex mendekati Desi yang berdiri di depannya. Mengangkat dagu istrinya agar ia bisa melihat wajahnya. Sesaat ia mengeluarkan senyum termanisnya. "Kemarilah," kata Alex seraya menarik tangan kanan Desi agar mengikutinya. Mendudukkan Desi di meja dapur lalu setelahnya ia juga duduk di sampingnya. Ia memperlihatkan map merah yang tadi ia ambil di rumahnya pagi-pagi sekali. "Kau masih ingat apa ini?" Tanya Alex seraya mengangkat map tersebut ke udara.
"Kau masih ingat dengan tiga permintaan ku yang belum ku tulis disini?" Tanya Alex lagi dan di jawab anggukan kepala lagi oleh Desi. "Hari ini juga aku akan meminta tiga permintaan ku sekaligus."
Desi terdiam. Ia tak menyangka jika Alex akan memintanya sekaligus. Jika di ingat lagi, terakhir kali Alex meminta agar Desi tak lagi melakukan percobaan bunuh diri yang pernah ia lakukan saat ia merasa bersalah dulu karena telah membohongi orang tuanya perkara pernikahan sandiwara ini. Dan kini Desi kembali dihantui oleh tiga permintaan Alex sekaligus. Ia masih terdiam. Ia ingin mendengarkan dengan seksama apa yang akan diminta Alex padanya. Namun apapun itu ia akan menerimanya dengan ikhlas.
Alex mulai menuliskan tiga permintaannya di kertas yang berisi kesepakatannya dengan Desi. Ia sudah memutuskan apa yang sudah menjadi permintaannya. Selesai menulis tiga permintaannya kini ia menyerahkan selembar kertas yang berisi perjanjiannya dengan Desi.
Desi membaca dengan seksama. Satu persatu permintaan yang Alex ajukan padanya benar-benar membuatnya menganga tak percaya. Sesaat ia menatap wajah Alex yang masih duduk di depannya. "Kau... Apa ini? Kau tidak... Aku..."
__ADS_1
"Kenapa kau menjadi gagap setelah membaca permintaanku?" Tanya Alex seraya tersenyum. "Kau tidak setuju?"
"Bukan begitu. Aku hanya tidak percaya dengan apa yang kau minta. Aku pikir kau akan meminta permintaan yang..."
Alex mencium bibir Desi. Satu kecupan lagi di pagi hari yang mendarat di bibir Desi benar-benar membuat Desi menutup mulutnya rapat-rapat. "Kau terlalu banyak bicara..." Kata Alex yang sudah melepaskan ciumannya dari sang istri. "Aku hanya meminta satu jawaban darimu. Kau setuju atau tidak?" Tanyanya yang memang sangat penasaran dengan jawaban yang akan Desi berikan padanya.
Desi masih mematung. Menatap wajah laki-laki yang sudah dua kali mencuri ciumannya saat ia lengah. Namun tak bisa di pungkiri jika ia memang merasa nyaman dengan ciuman yang Alex berikan. Dan dengan sadar ia menganggukkan kepala pasti. Anggukan kepala yang berarti ia menyetujui apa yang Alex minta darinya.
Tanpa banyak kata Alex langsung memeluk erat tubuh Desi. Senyum di bibirnya kembali muncul saat Desi menyetujui apa yang ia minta.
Bersambung
***
Epilog
Desi membaca kembali apa yang Alex minta darinya. Pertama, Alex ingin pernikahan sandiwara yang ia ciptakan dengan Desi tak ada lagi. Alex ingin pernikahan ini benar-benar menjadi pernikahan sesungguhnya antara dia dan Desi. Kedua, Alex ingin Desi mencintainya dengan sungguh-sungguh. Karena ia juga mencintai Desi dengan segala ketulusan di hatinya. Ketiga, Alex ingin semua persyaratannya di setujui oleh Desi tanpa banyak bicara atau kalau tidak ciumannya akan kembali mendarat di bibir Desi. "Bukankah permintaan terakhirmu agak berlebihan? Itu bahkan tertulis seperti ancaman bagiku," tanya Desi yang masih memperhatikan apa yang Alex tulis di kertas tersebut. "Kau tidak harus..."
Alex kembali memberikan satu kecupan di bibir Desi. "Sudah ku bilang jangan banyak bicara," kata Alex yang tangan kanannya masih memegang dagu Desi. "Jika kau masih banyak bicara, maka aku akan memberikanmu bukan hanya satu kecupan tapi aku akan memberikanmu kecupan yang panjang," kata Alex lagi seraya mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Sedangkan Desi hanya bisa menutup mulutnya dengan secarik kertas yang masih ia pegang.