
Alex sedang berada di ruang rapat bersama beberapa karyawan yang bekerja lembur. Masalahnya dengan satu client sudah bisa ia atasi. Kini ia harus lembur dengan peluncuran produk baru dari perusahaannya. Saat ia sedang serius mendengarkan penjelasan dari salah satu karyawan. Kini ia terkejut dengan kedatangan Maya yang tiba-tiba memasuki ruang rapat tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Ada apa?"
"Pak..." Maya kesulitan menjelaskan sesuatu yang ia ingin katakan. Nafasnya terengah-engah saat ia terburu-buru memasuki ruang rapat tadi. "Nona Desi..."
Mendengar nama istrinya di sebut oleh Maya. Membuat jantungnya seketika ingin berhenti berdetak. Maya tidak akan melaporkan sesuatu yang tidak penting jika ia sedang melakukan rapat. Apalagi ini menyangkut sang istri. "Ada apa dengan Desi?" tanyanya cepat sambil spontan berdiri.
"Nona Desi pingsan."
Tanpa mendengar penjelasan dari Maya secara detail, Alex langsung berlari keluar dari ruangan rapat di susul oleh Maya.
***
Rumah sakit Herlambang Wijaya...
Sandra ikut mendorong bangkar yang tengah di dorong oleh beberapa perawat rumah sakit. Di atas bangkar tersebut tergeletak Desi yang masih tak sadarkan diri. Kini Sandra merasa bersalah saat melihat Desi yang nampak tak berdaya karena ulahnya. Disaat ia hanya ingin mengerjai sang kakak ipar kini malah menjadi bencana baginya. Ia takut jika terjadi sesuatu yang tak di inginkan, maka dialah yang pasti akan disalahkan sepenuhnya oleh Alex.
"Anda tunggu disini," kata seorang perawat menghentikan langkah Sandra yang akan ikut ke dalam ruangan UGD.
Sandra mengikuti apa yang dikatakan oleh perawat. Peluh keringat dingin sudah menetes di keningnya. Tangannya sudah gemetar tak karuan. Air matanya tak berhenti menetes lantaran kesalahan yang telah ia perbuat. "Tolong selamatkan kakak ipar," pinta Sandra memegang tangan sang perawat saat akan memasuki ruang private UGD.
"Kami akan berusaha yang terbaik," kata sang perawat wanita itu, lalu pergi memasuki ruang dimana Desi diberikan pertolongan pertama.
Sedangkan Sandra hanya mematung di tempatnya berdiri. Ia sangat ketakutan. Takut jika terjadi apa-apa dengan kakak iparnya.
Beberapa menit kemudian Alex sampai di rumah sakit. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah sakit. Lalu ia melihat Sandra yang tengah berdiri di depan ruangan. Kemudian ia berlari menghampiri Sandra disusul oleh Maya. "Sandra..." Panggilnya saat sudah di belakang Sandra. "Apa yang sudah terjadi?"
__ADS_1
"Kakak..." Sandra sudah menangis. "Maafkan aku..."
"Aku tanya apa yang terjadi? Cepat katakan?" Suruh Alex yang tak sabar mendengar cerita dari Sandra. Kedua tangannya sudah memegang kedua lengan Sandra dengan erat.
"Kakak sebenarnya..."
"Apa yang terjadi dengan Desi?" Tanya Siska. Keluarga Desi dan keluarga Alex datang bersamaan menghampiri Alex dan Sandra.
"Mama..." Sandra berlari ke arah sang ibu dan langsung memeluknya.
"Ada apa sebenarnya?" Tanya Siska sambil tak berhenti menangis. Tadi ia sudah dikabari oleh menantunya, kalau putrinya tengah pingsan di mall.
Saat Alex akan menjawab pertanyaan dari sang mertua saat itu pula seorang dokter keluar dari pintu private UGD. Mata semua orang langsung mengarah pada dokter laki-laki yang berdiri di depan pintu. Dokter Roni adalah dokter yang menangani Desi di ruang UGD.
"Apakah istrimu alergi terhadap makanan?" Tanya dokter Roni yang mencari sebab perkara karena Desi saat ini tengah berada dalam kondisi mengkhawatirkan.
"Benar. Anak saya alergi terhadap daging dan ikan," jawab Siska seraya selangkah maju ke depan.
"Itulah kenapa Desi pingsan dan kesulitan bernafas. Kami akan berupaya untuk menyelamatkan pasien. Namun ada satu kendala lain yang menghambat kami." Kata dokter Roni memberi penjelasan.
"Hambatan? Hambatan apa? Tolong selamatkan Desi," Alex sudah memohon seraya memegang tangan dokter Roni.
"Kami kesulitan memberi antibiotik pada pasien karena saat ini pasien tengah hamil lima minggu," jelas dokter Roni lagi.
Penjelasan dokter Roni benar-benar membuat kejutan besar bagi Alex dan keluarganya. Pasalnya sampai saat ini mereka tak tau kalau Desi tengah hamil. Sedangkan Sandra hanya bisa menutup mulutnya yang menganga tak percaya. Ia makin merasa bersalah saat Desi saat ini tengah hamil.
__ADS_1
"Desi hamil?" Tanya Alex memastikan.
"Benar." Jawab dokter Roni sambil menghembuskan nafas berat. "Sebentar lagi dokter Elena selaku dokter kandungan dari rumah sakit ini akan datang dan menangani Desi," jelasnya dengan nada sedih. "Kami akan berusaha menyelamatkan keduanya. Namun karena kandungan Desi yang masih berusia lima minggu membuatnya janinnya rentan akan kondisi Desi saat ini." Jelas dokter Roni. Sesaat ia menjeda kalimatnya sebentar. "Berdoalah, semoga janin yang ada di rahim istrimu bisa terselamatkan." Kata dokter Roni sambil menepuk beberapa kali pundak Alex kemudian ia kembali masuk ke dalam ruang UGD. Namun sesaat langkahnya tertahan ketika tangan Alex sedang memegang pundaknya. Lalu ia berbalik kembali menghadap Alex.
"Jika aku di suruh memilih. Maka aku mohon tolong selamatkan Desi," kata Alex pasti. Matanya sudah berkaca-kaca saat ia harus memilih di antara dua pilihan yang sulit.
Sedangkan dokter Roni hanya bisa memberi semangat Alex dengan menepuk kembali pundak Alex. Kemudian ia kembali berjalan ke arah ruang UGD.
Alex masih tak percaya dengan apa yang di katakan oleh dokter Roni. Ia juga masih tak percaya dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Dirinya masih mematung di tempatnya berdiri. Antara percaya dan tidak saat mendengar akan kehamilan Desi. Ini adalah kabar baik dan juga kabar buruk baginya. Ia sudah pasti sangat bahagia akan kehamilan Desi namun di lain sisi ia juga sedih saat harus dihadapkan dengan berita buruk ketika janin di dalam perut istrinya antara bisa diselamatkan atau tidak.
Alex mengusap keningnya yang dari tadi sudah mengeluarkan banyak keringat dingin. Saat ini ia bahkan tak bisa berkata apa-apa lagi. Lidahnya seakan kelu ketika ia berusaha mengeluarkan kalimat istighfar. Sedangkan keluarga yang ada di belakangnya hanya bisa menangis.
Kakak maafkan aku...
Ini semua salahku...
Aku tidak tau jika akan terjadi seperti ini...
Semua karena egoku yang tidak menyukai kakak ipar.
Tapi kini aku sadar bahwa rasa sayangmu pada kakak ipar melebihi rasa sayangmu padaku. Saat kau lebih memilih nyawa kakak ipar dari pada janin yang sedang di kandungnya.
Kata Sandra dalam hati yang dari tadi tak berhenti menangis. Kini ia sangat menyesal akan perbuatannya yang sangat fatal. Ia pikir alergi yang di derita Desi hanya akan bereaksi gatal-gatal saja namun kini ia tau kalau alergi yang di derita Desi bahkan sangat serius dari perkiraannya.
Bersambung
__ADS_1