
Alex mendorong kursi roda yang di tumpangi oleh Desi. Berniat mengantarkan Desi ke ruang NICU atau neonatal intensive care unit untuk menemui buah hati mereka yang masih harus di awasi secara langsung oleh pihak rumah sakit. Alex dan Desi sudah melihat keberadaan keluarga besarnya yang juga sedang berdiri di depan ruang dimana bayi Alex dan Desi di letakkan. Sepertinya kali ini mereka harus puas melihat sang buah hati yang hanya terlihat dari jendela kaca ruang tempat khusus untuk merawat bayi baru lahir yang membutuhkan pengawasan ketat oleh tenaga medis. Semuanya menyambut kedatangan Desi. Mendorong kursi roda yang Desi pakai sampai barisan paling depan di ruangan tersebut agar sang ibu bayi bisa melihat bayinya dengan leluasa. Namun setelah meletakkan kursi roda yang di tumpangi Desi di barisan paling depan kini tujuan keluarga Wijaya dan keluarga Darmawan mengarah pada Alex. Pandangan keheranan akan penampilan Alex membuat mereka semakin memperhatikan apa yang di kenakan Alex saat ini.
"Kakak kau..."
"Sudah jangan membahas masalah pakaianku. Ini semua aku lakukan agar kakak iparmu senang," jawab Alex yang sepertinya sudah tau apa selanjutnya yang akan Sandra katakan.
"Iya aku tau," katanya sambil menyenggol lengan kakak laki-lakinya. "Aku tau kalau kau sangat mencintai kakak ipar. Makanya kau lakukan semua ini. Benar begitu bukan?" Masih mencoba menggoda Alex sambil berkali-kali menyenggol lengan saudara laki-lakinya sambil memainkan alisnya naik turun.
"Tentu saja," jawab Alex seraya tersenyum. Namun senyum itu seketika sirna saat ia bersitatap dengan ayah mertuanya.
Sedangkan Darmawan yang kini sedang berdiri tak jauh dari Alex sudah berjalan mendekat pada menantunya. Ia tau kesalahannya. Kesalahan saat ia menuduh Alex telah memaksa putrinya untuk menikahinya secara paksa. Darmawan berdiri dihadapan menantu laki-lakinya. Sedikit menundukkan kepalanya saat ia tak tau harus berkata apa pada Alex. Ia malu karena kesalahpahaman yang telah ia ciptakan sendiri. Hasutan Bu Dina benar-benar membuatnya menjadi manusia tak berguna. "Papi minta maaf..." Katanya setelah berdiam cukup lama di depan menantunya.
"Papi..." Kata Alex lirih. Ia bahkan tak menyangka jika mertuanya akan mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
Sedangkan Desi yang menangkap suara orang tuanya kini membalikkan badannya ke belakang. Benar saja, saat ini ayahnya dan suaminya sedang berdiri berhadapan. Kalimat permintaan maaf dari sang ayah berhasil membuatnya tak mengerti. Seingatnya sebelum ia di culik keadaan keluarganya baik-baik saja. Bahkan orang tuanya sangat mendukung apa yang Alex lakukan demi menyelamatkan dirinya. "Ada apa sebenarnya? Kenapa Papi minta maaf pada Alex?" Pandangannya pada sang ayah sudah meminta penjelasan lebih. Jika semuanya sedang tak baik-baik saja maka ia akan melakukan apapun agar keluarganya dan keluarga suaminya bisa kembali menjalin hubungan baik seperti semula.
Darmawan berjongkok di depan kursi roda yang ditumpangi putri semata wayangnya. Memegang tangan Desi seraya menatap mata anak tunggalnya. "Maafkan Papi. Papi telah melakukan kesalahan besar pada Alex," katanya yang saat ini memang sangat menyesali perbuatannya. "Desi... Papi..." Dan pada akhirnya Darmawan menceritakan semuanya pada Desi. Mengatakan jika dirinya memang telah menuduh Alex yang tidak-tidak. Bahkan ia juga berencana menyuruh Desi untuk bercerai dengan Alex jika suatu saat nanti putri tunggalnya ditemukan. Namun semua yang ia rencanakan sepertinya tak akan terjadi setelah ia tau kebenarannya. Bahkan ia sangat menyesal ketika tau bahwa Alex lebih mementingkan putrinya daripada harta yang diminta oleh Hendra Wijaya.
"Papi..." Desi sudah menitikkan air mata saat ia tidak tau bahwa selama ia diculik terjadi konflik dalam keluarganya. "Semua itu bukan salah Alex. Sebenarnya..."
"Papi tau..." memotong perkataan Desi yang belum selesai. "Alika sudah menceritakan yang sebenarnya," lanjutnya lagi. "Maafkan Papi..." Mengusap air mata yang jatuh di pipi putrinya. "Ternyata Papi salah besar menilai Alex," mencium kening Desi dengan lembut. Kemudian ia berdiri berhadapan dengan menantunya. "Sekali lagi Papi minta maaf," katanya lagi. Kini ia tau siapa Alex sebenarnya. "Kamu mau kan maafin Papi?"
"Tentu saja Pi. Papi sudah aku anggap orang tua aku sendiri. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku menjadi Papi." Kata Alex yang memang tak menyimpan rasa dendam pada mertuanya meski saat itu mertua laki-lakinya sempat menamparnya.
*
Desi duduk di atas bangkar rumah sakit. Setelah puas melihat buah hatinya meskipun hanya melalui jendela kaca tempat dimana putrinya di rawat kini ia harus kembali ke ruang perawatannya. Ia masih harus memperbanyak istirahat. Luka hasil operasi caesar dan luka tembak di bagian punggungnya belum benar-benar sembuh total. Tuntutan istirahat dari para dokter serta suaminya mau tau mau membuatnya mengiyakan permintaan Alex agar ia kembali ke ruang perawatannya.
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf atas sikap Papi padamu."
Alex yang duduk di kursi sebelah pembaringan sang istri kini menengadahkan wajahnya sedikit ke atas. Karena dengan begitu ia bisa menatap wajah Desi. "Kenapa harus minta maaf? Kau tidak perlu melakukan itu."
"Semua yang dilakukan Papi hanya semata-mata karena ia mengkhawatirkan diriku," sudah merasa tak enak saat ia mendengar secara langsung apa yang dilakukan oleh ayahnya pada Alex selama ia tak ada di rumah. Jelas-jelas semua pernikahan sandiwara yang dulu ia jalani karena paksaan dirinya agar Alex mau menjadi suaminya.
"Aku tau," jawabnya seraya memegang kedua tangan Desi. "Jangan membahas masalah itu lagi, karena aku tak mau mengingatnya lagi." Masih bersitatap dengan sang istri. "Kau tau sebesar apa cintaku padamu?" Tanyanya yang ditanggapi anggukan kepala oleh Desi. "Aku akan melakukan apapun meskipun hubungan kita akan ditentang oleh Papi. Aku akan meyakinkan beliau agar cinta kita direstui."
"Tapi sekarang kau tidak perlu khawatir lagi. Karena Papi sudah benar-benar merestui hubungan kita," kata Desi yang tak melepaskan pandangannya dari sang suami.
Alex menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Lalu ia berdiri, menyuruh agar Desi berbaring. Kini waktunya Desi istirahat. Setelah operasi yang dijalani oleh wanita pujaan hatinya tadi, Desi bahkan belum sempat tidur. "Tidurlah..." Katanya seraya merapikan selimut sang istri. Menariknya sampai batas dada Desi.
"Jangan pergi..." Kata Desi sambil memegang tangan Alex supaya menghentikan aktivitasnya yang tengah merapikan selimut untuknya.
__ADS_1
Alex tersenyum. Menatap wajah sang istri yang masih terlihat cantik meski sedang sakit. "Aku tidak akan pergi," jawabnya. Kemudian ia mencium kening sang istri. Mengusap kepala Desi agar sang istri lekas beristirahat. "Tidurlah... Aku tidak akan kemana-mana." Tambahnya lagi yang berusaha menidurkan sang istri. Bergantian mengelus kepala dan lengan sang istri. Menyalurkan kehangatan agar Desi lekas bisa beristirahat.
Bersambung