Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Perjuangan Cinta Alex


__ADS_3

Dengan langkah gontai Alex berjalan memasuki kamarnya. Tamparan yang diberikan oleh mertua laki-lakinya memang tidak sakit namun tamparan tersebut benar-benar membuatnya sadar akan kesalahannya dulu. Seharusnya ia merobek isi perjanjian yang dulu pernah ia sepakati dengan Desi. Agar tak terjadi hal yang tak diinginkan. Seperti kejadian yang baru saja terjadi padanya. Entah bagaimana keluarga Desi menemukan isi perjanjian tersebut. Namun seingatnya ia memang meninggalkan surat perjanjian itu di apartemen milik istrinya. Dan sepertinya keluarga Desi memang tengah mencari petunjuk di apartemen istrinya akan kejadian penculikan yang menimpa sang istri tadi malam. Dan secara tak sengaja menemukan surat perjanjian tersebut.


Sesal. Alex bahkan tak bisa menjawab semua pertanyaan dari sang mertua. Menjawab yang sebenarnya pun pasti akan percuma. Semuanya saat ini tengah bingung akan menghilangnya Desi, ia hanya tak mau memperpanjang masalah ini. Ia akan menyelesaikan perkara ini saat Desi sudah ditemukan.


Alex duduk di pinggiran ranjang. Mengambil foto yang berada di atas meja nakas. Foto yang menampakkan dirinya dan sang istri. Sesaat ia menitikkan air mata ketika sampai saat ini ia tak bisa menemukan wanita yang sangat dicintainya. Perlahan ia menghembuskan nafas berat. Membuang rasa sesak yang menghimpit dadanya. Ia mengusap air matanya kasar. Kini matanya kembali tertuju pada foto yang masih ia pegang. "Aku akan segera menemukanmu," gumam Alex lirih. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah mencari dimana sang ayah bersembunyi.


*


Marisa mengetuk pintu kamar Alex beberapa kali saat tak ada jawaban, perlahan ia membuka pintu kamar putra satu-satunya. Dengan membawa nampan berisi teh hangat di atasnya, Marisa masuk ke dalam kamar. Perlahan ia berjalan mendekati Alex yang sepertinya sedang tertidur di atas tempat tidur.


Marisa menatap haru putra semata wayangnya. Alex tertidur saat masih memegang foto yang menampakkan dirinya dan istrinya. Marisa menaruh nampan yang ia pegang di atas meja nakas. Lalu ia duduk di sebelah putranya. Mengelus perlahan kepala Alex. Ia menitikkan air mata ketika mengingat kejadian siang tadi, saat besan laki-lakinya datang dengan membawa beberapa orang yang tak ia kenal. Menunjukkan seberkas surat perjanjian antara putranya dan menantunya. Entah apa yang terjadi dulu antara Alex dan Desi namun setelah mendengar penjelasan dari Farel tadi, ia bisa bernafas lega. Pasalnya setelah kepulangan besan laki-lakinya, Farel menceritakan yang sebenarnya asal muasal pernikahan antara Alex dan Desi.


Alex mengerjapkan matanya beberapa kali, saat ia bisa merasakan ada sentuhan lembut di kepalanya. "Mama..." Seru Alex saat bisa melihat dengan jelas ketika sang ibu tengah berada di sampingnya. Sepertinya ia ketiduran tadi saat melihat foto dirinya dan Desi.


"Sayang..." Masih mengelus kepala sang putra.


"Kenapa menangis?" Alex berkata seraya duduk dan mengusap air mata ibunya.


Marisa menggeleng pelan. Ia menundukkan kepalanya. Mencoba menetralkan apa yang membuat hatinya terasa sesak. Perlahan ia menatap kembali wajah Alex. "Kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya pada mertuamu, kalau yang memulai pernikahan sandiwara itu adalah Desi?"

__ADS_1


Satu pertanyaan tersebut berhasil membuat Alex terdiam. "Apa Farel..."


Belum menyelesaikan kalimatnya, Marisa sudah menganggukkan kepalanya. Air matanya kembali menetes di pipinya. "Apa kau sangat mencintai Desi?"


"Lebih dari apapun," jawab Alex pasti.


"Kalau begitu perjuangan cintamu," katanya sambil mengelus pipi kanan putranya. "Cari Desi sampai dapat. Dan tunjukkan pada mertuamu kalau kau memang pantas menjadi menantunya," tambahnya lagi. Lalu ia beralih memegang kedua tangan Alex. "Dengarkan Mama baik-baik. Mama tidak akan bertanya perihal apa yang membuat kalian tiba-tiba melangsungkan pernikahan. Mama hanya mau kau bahagia bersama wanita yang kau cintai selamanya. Kau mengerti?" Semua penjelasannya di tanggapi anggukan kepala Alex. Lalu ia menarik Alex ke dalam dekapannya. "Mama akan selalu mendoakan kebahagiaan mu bersama Desi selamanya."


Semua penuturan Marisa membuat Alex kembali bersemangat. Benar kata orang bahwa ibu adalah orang yang berperan penting dalam kehidupan anaknya. Dan Alex saat ini merasakan akan hal tersebut. Dengan semangat yang kembali muncul dalam dirinya, kini ia akan kembali mencari keberadaan sang istri.


*


Baru saja ia mendapat laporan dari orang kepercayaannya bahwa mereka tak menemukan Hendra baik itu di rumah yang dulu pernah disinggahi oleh Hendra maupun apartemen milik ayah kandung dari Alex.


"Dimana saat ini Papa berada?" Batin Alex. Ia menghembuskan nafas berat. Kemudian ia berjalan menyusuri balkon kamarnya. Menggunakan tangan kirinya memegang pembatas besi di balkon tersebut. Ia kembali menyeruput teh hangat yang masih tersisa di cangkir berwarna putih itu. Matanya kembali memperhatikan matahari yang satu jam lagi sudah memasuki peraduannya. Namun sesaat kini perhatiannya teralihkan saat ada deringan ponselnya tanda ada panggilan masuk. Alex mengeluarkan ponsel yang ada di saku kiri celananya. Melihat layar ponsel dari nomor yang tak ia kenal. Ia berfikir sejenak antara menerima telepon tersebut atau tidak. Namun akhirnya ia menggeser icon berwarna hijau tersebut. "Hallo...


"Hallo putraku sayang..."


Suara diseberang sana benar-benar membuat Alex seakan tak percaya. Suara yang sudah lama tak ia dengarkan, kini tiba-tiba saja menelfonnya. "Papa..."

__ADS_1


Suara tawa diseberang sana membuat Alex mengerutkan dahi. "Kau ingat padaku? Kau masih mengenali suaraku?" Tertawa kembali.


Namun lama-lama suara diseberang sana membuat Alex geram. "Dimana Papa menyembunyikan Desi?" Kata Alex dengan nada tinggi. Ia sudah tak mau basa-basi perihal ayahnya yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa. Ia juga tak mau membahas perihal apapun mengenai sang ayah. Saat ini yang terpenting adalah keselamatan sang istri.


"Kenapa kau sangat terburu-buru sekali?"


Tawa sang ayah di seberang sana benar-benar membuat Alex semakin geram saja. "Jika Papa berani melukai Desi seujung kuku saja. Maka Papa pasti akan sangat menyesal karena telah berhadapan denganku," ancaman Alex membuat suara di telepon kembali tertawa keras. "Sebenarnya apa yang Papa inginkan?" Tanya Alex dengan nada tinggi. "Papa menginginkan perusahaan? Maka aku dengan suka rela memberikannya pada Papa. Katakan saja apa yang Papa inginkan, aku pasti akan memberikan semuanya. Tapi aku mohon jangan sakiti Desi."


Hendra kembali tertawa. "Sepertinya kau benar-benar mencintai gadis ini?" Kata Hendra di telepon menjeda kalimatnya sebentar. "Apa kau benar-benar akan memberikan apa yang ku minta?"


"Apapun."


"Baiklah. Besok pagi-pagi sekali kau datanglah ke alamat yang akan ku kirimkan padamu sebentar lagi. Ingat, aku hanya menunggu kehadiranmu. Aku tidak mau kau membawa polisi atau semacamnya. Kau mengerti!"


"Aku mengerti." Kata Alex tanpa memikirkan apa yang akan ia katakan dan apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari. Saat ini pikirannya hanya tertuju pada Desi. Ia akan menyelematkan Desi bagaimanapun caranya. Apapun yang akan diminta sang ayah pasti akan ia berikan nantinya. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku celana sebelah kirinya setelah ia dan sang ayah mengakhiri pembicaraannya. "Aku akan menyelamatkan istriku sendirian. Aku akan membawa dirinya segera pulang," kata Alex sendiri.


"Anda tidak akan sendirian Pak. Saya akan bersama anda untuk menemukan nona Desi."


Alex menghadap ke asal suara. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Orang yang selalu mendukungnya kini telah berada di hadapannya. Padahal tiga hari yang lalu, ia meninggalkan orang tersebut di Amerika untuk mengurus urusan bisnisnya yang tertunda lantaran ia harus segera kembali ke Indonesia karena mencemaskan sang istri. "Maya..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2