
Pikiran Alex masih tak tenang karena mau tak mau ia harus berangkat ke Negeri Paman Sam. Cabang perusahaan yang ia rintis disana saat ini tengah membutuhkan kehadirannya.
Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Bukankah disini kau sudah menyuruh Adi dan Rafi untuk menjagaku? Jadi selesaikan urusanmu disana. Dan segeralah kembali. Karena aku pasti akan sangat merindukanmu.
Begitulah kata Desi. Setelah melewati berbagai drama yang Alex lakukan akhirnya Desi bisa meyakinkan kalau ia akan baik-baik saja meski Alex tak ada disini. Alex pergi ke Amerika bukanlah untuk pertama kali. Sebelum hamil dulu ia juga pernah di tinggal sang suami ke negara tersebut dengan urusan bisnis yang sama. Namun bedanya dulu Desi bahkan tak tau Alex pergi kemana.
Alex menyandarkan kepalanya di sofa hotel yang akan menjadi tempat istirahatnya beberapa hari ke depan. Setelah tiba tiga puluh menit yang lalu kini ia sedang kembali memikirkan sang keluarga, terutama sang istri yang semakin hari perutnya semakin membesar. Rasa kekhawatiran yang mendalam masih ia rasakan, meski baru lima menit yang lalu ia mematikan ponselnya saat menghubungi sang istri lewat video call.
Segera ia kembali menyambar ponsel yang tadi ia taruh di atas meja. Dan segera menghubungi orang kepercayaan yang bertugas menjaga istri tercintanya.
***
Malam hari di rumah Alex Candra Wijaya. Tepatnya di kamar sepasang suami istri yang kini terpisahkan dalam beberapa hari karena masalah pekerjaan.
__ADS_1
Desi mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia bangun dari tidurnya lantaran ia harus pergi ke kamar mandi karena ingin buang air kecil. Setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya. Kini ia perlahan turun dari ranjang. Memegang perutnya yang semakin membesar, dengan hati-hati ia memakai sandal bulu yang biasa ia gunakan. Dengan langkah yang juga hati-hati ia berjalan ke arah kamar mandi. Membuka pintu kamar mandi dan memulai ritual buang air kecilnya.
Setelah beberapa saat, Desi keluar dari kamar mandi. Ia masih berdiri di depan pintu kamar mandi sambil matanya melirik jam dinding yang saat ini tengah menunjukkan pukul satu lewat dua puluh menit dinihari. Dengan mengusap perutnya ia kembali berjalan ke arah tempat tidurnya. Namun sesaat langkah kakinya terhenti saat ia melihat sekelebat cahaya yang bersinar di balkon kamarnya.
Desi masih tak beranjak di tempatnya berdiri. Takut. Benar, saat ini ia memang sedikit takut lantaran ia melihat sekelebat cahaya di balkon kamarnya. Jika di bioskop, mungkin ia sudah lari terbirit-birit dengan apa yang ia lihat barusan. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun entah kenapa rasa penasaran di hatinya semakin menjadi jika ia tak melihat sesuatu yang sudah membuatnya takut saat dini hari seperti ini.
Dan pada akhirnya ia memberanikan diri untuk melangkah menuju balkon kamarnya. Selangkah demi selangkah ia berjalan ke arah balkon. Menajamkan penglihatannya saat tirai yang menutupi pintu kaca di balkon kamarnya tengah bergerak tertiup angin. Sesaat ia menyingkirkan tirai yang menutupi pintu kaca tersebut dengan cepat. Melirik ke kanan dan ke kiri. Namun tak ada siapapun disana. Ia kembali memberanikan diri untuk membuka pintu kaca balkon kamarnya yang masih terkunci rapat. Perlahan ia membuka pintu kaca tersebut. Dengan cepat ia mengedarkan pandangannya ke seluruh balkon, namun lagi-lagi ia tak menemukan apa yang tadi ia lihat saat masih di dalam kamar.
"Hemm... Cahaya yang tadi aku lihat pasti pengawal yang sedang berkeliling," gumam Desi lirih saat ia bisa kembali bernafas lega saat apa yang ia takutkan hanyalah para penjaga di keluarga suaminya. "Sepertinya aku harus meyakinkan Alex agar ia bisa mengistirahatkan para pengawal untuk tidak berjaga malam," katanya lagi sendiri. "Memangnya apa yang harus mereka jaga. Selama aku tinggal disini, tidak ada sesuatu yang terjadi saat malam hari." Gumamnya lagi, saat pandangannya masih memperhatikan para pengawal yang tengah melaksanakan pekerjaannya.
Sesaat Desi menghela nafas panjang. Lalu ia beranjak dari tempatnya berdiri untuk masuk lagi ke dalam kamar. Ia sudah berbalik dan akan meraih gagang pintu kaca, namun dirinya mematung saat dirinya merasa sedang di awasi.
Dengan cepat pandangannya langsung mengarah ke arah luar gerbang kamarnya yang berjarak hampir delapan meter. Matanya membulat sempurna dan mulutnya menganga tak percaya saat ia berhasil menangkap siluet sesosok orang yang tengah berdiri dengan pakaian serba hitam dan sedang memegang senter, juga sedang melihat ke arahnya.
__ADS_1
Kakinya selangkah berjalan mundur. Telapak tangan kanannya menutup mulutnya yang masih menganga tak percaya. Seketika keringat dingin keluar di seluruh tubuhnya. Entah karena saat ini menunjukkan waktu dini hari, Desi tak bisa dengan jelas melihat sosok aneh yang juga masih berdiri di luar gerbang dan masih sedang melihatnya.
Dan dengan cepat ia langsung melangkah ke dalam kamar dan langsung menutup rapat pintu yang terbuat dari kaca tersebut. Dengan nafas yang sedikit terengah-engah ia mencoba untuk tenang. Sesaat ia juga merasakan perutnya yang terasa nyeri. Ia menahan perut bagian bawah dengan kedua tangannya sambil menahan rasa nyeri yang datang tiba-tiba. Namun sebelum beranjak dari tempatnya berdiri ia mengunci pintu balkon kamarnya dan akan menutup tirai namun entah kenapa kini pandangannya mengarah pada luar gerbang. Dan anehnya disana ia tak lagi melihat sosok aneh yang tadi dilihatnya. Karena penasaran ia mencari lagi sosok tersebut tapi ia masih berdiri dalam kamar. Namun ia tak melihat lagi sosok tersebut.
Apa aku sedang berhalusinasi?
Kata Desi dalam hati. Sesaat ia menarik nafas dalam-dalam lalu perlahan mengeluarkannya. Dan sesaat itu pula rasa nyeri di perutnya berangsur hilang. Sebelum benar-benar menutup tirai ia kembali mengedarkan pandangannya keluar gerbang namun lagi-lagi ia tak melihat sosok yang sudah membuatnya takut. Dan perlahan ia menutup tirai tersebut dan berjalan ke arah ranjang. Duduk disana dan menuangkan air ke dalam gelas kaca yang berada di dalam botol. Meminum air tersebut sampai tandas tak bersisa. Kemudian ia mengangkat kakinya hingga menaiki ranjang dan bersiap untuk tidur kembali. Desi menarik selimut hingga menutupi sampai batas dadanya. Kembali menghembuskan nafas panjang lalu membuka kedua telapak tangannya untuk berdoa. Setelahnya ia menutup mata untuk melanjutkan istirahatnya.
*
Sedangkan diluar rumah Alex Candra Wijaya. Sesosok orang yang tadi dilihat oleh Desi sedang berjalan sambil tangannya memegang senter. Senyum licik di bibirnya muncul seketika saat ia berhasil menyelidiki sekitar rumah Alex.
Bersambung
__ADS_1