
Alex masih tertawa hingga ia berada di depan rumahnya. Namun sesaat ia menghentikan langkahnya saat suasana keadaan rumahnya tengah sibuk. Para asisten rumah tangga berlalu lalang seperti sedang menyiapkan acara. Bahkan banyak asisten rumah tangga yang sedang berjalan menaiki tangga sambil membawa box layaknya bingkisan. "Ada apa ini?" Tanya Alex yang menghentikan langkah salah satu asisten rumah tangga wanita di rumahnya.
"Tuan... Nona Desi..."
"Desi..." Mendengar nama sang istri di sebut oleh salah satu asisten rumah tangganya. Membuatnya dilanda kekhawatiran. Ia langsung menaiki tangga dengan langkah setengah berlari. Tadi pagi ia meninggalkan Desi dalam keadaan baik-baik saja. Namun ia tak menyangka jika akan ada yang tidak beres dengan wanita yang dicintainya. Desi memang sedang dalam masa penyembuhan. Ia juga sudah berpesan pada ibunya untuk menjaga sang istri dengan baik. Namun sepertinya sesuatu yang buruk telah terjadi dengan istrinya saat ia tak berada di rumah. Alex masih berlari sampai di depan pintu kamarnya. Disana kurang lebih ada sepuluh asisten rumah tangganya yang berada di kamarnya. Ia berjalan dengan tergesa. Ingin melihat bagaimana keadaan sang istri. Namun sesaat dirinya tercengang ketika melihat Desi tengah mengatur tempat tidur bayi di sebelah ranjangnya. Desi tengah di bantu oleh ibu dan adik perempuannya. Para asisten rumah tangga juga turut membantunya menyiapkan keperluan putrinya yang masih berada di rumah sakit. Ia bernafas lega saat melihat Desi yang ternyata tengah baik-baik saja. "Ada apa ini?"
"Sayang..." Desi berjalan mendekat ke arah suaminya. Memeluk pinggang sang suami ketika ia sudah berada di sebelahnya. "Aku dibantu oleh semua orang menyiapkan tempat tidur inces kita," katanya yang menunjuk semua barang yang telah ia beli melalui toko online shop.
"Kau sudah menyiapkannya. Padahal putri kecil kita belum di perbolehkan pulang."
"Dokter Elena sudah menghubungi ku tadi. Dia bilang kalau besok inces kita sudah bisa pulang."
"Benarkah?" Alex terlihat antusias saat mendengar penuturan dari Desi.
"Iya..." Jawabnya seraya menganggukkan kepalanya keras. "Dokter Elena bilang jika kesehatan inces kita sudah membaik. Dan aku bisa menjemputnya besok siang." Jelasnya dengan wajah sumringah. Ia tak menyangka jika akan secepat ini putri kecilnya akan pulang. Sebelum dirinya pulang dari rumah sakit dulu, dokter Elena sudah berpesan padanya jika putri kecilnya sepertinya akan lama di rumah sakit. Namun semua apa yang ia takutkan sepertinya sudah sirna saat tadi ia di hubungi langsung oleh dokter Elena dan mengatakan jika kondisi putri kecilnya telah membaik dan secepatnya bisa di bawa pulang.
"Tapi... Bukankah ada sesuatu yang kurang?" Tanya Sandra yang dari tadi berdiri tak jauh dari kakak laki-lakinya.
"Memangnya apa yang belum aku beli?" Tanya Desi yang mengedarkan pandangannya ke seluruh kamarnya. Meneliti lagi semua apa yang ia beli untuk keperluan putri kecilnya. "Sepertinya aku sudah membeli semuanya."
__ADS_1
"Bukan barang kakak ipar... Tapi nama..."
"Apa?" Desi mengerutkan keningnya seraya menatap Sandra.
"Benar. Bukankah kalian belum menyiapkan nama untuk bayi kalian," kata Marisa ikut menimpali.
Dan perkataan kedua anggota keluarganya membuat Alex dan Desi sadar jika sampai saat ini mereka bahkan tak kepikiran perihal nama yang akan mereka berikan pada bayi mereka. Mereka berdua hanya bisa menatap satu sama lain ketika mereka kebingungan akan nama yang akan mereka berikan pada bayi yang akan mereka bawa pulang esok siang.
*
Alex baru keluar dari kamar mandi. Memakai handuk sebatas pinggang dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Bibirnya tersenyum saat melihat istrinya yang masih sibuk menata semua keperluan si bayi kecilnya yang akan ia jemput esok hari. Ia berjalan mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang.
"Kau mengagetkanku," kata Desi seraya menoleh sekilas ke belakang. Namun sesaat ia di sibukkan lagi dengan menata tempat tidur sang bayi.
"Sayang..."
"Hem..."
"Ahh benar," menghentikan aktivitasnya. Berbalik menghadap ke arah suaminya. "Apa kau mempunyai nama untuknya?" Balik bertanya.
__ADS_1
"Belum," jawab Alex seraya menggelengkan kepalanya pelan. Kedua tangannya masih melingkar di pinggang sang istri. "Coba kau pikirkan nama panggilannya dulu. Nanti kita akan putuskan nama belakangnya."
Desi terlihat memikirkan sesuatu. "Aku ingin gabungan dari nama kita. Menurutmu bagaimana?"
"Hem... Entahlah... Sepertinya akan sulit. Alex dan Desi?" Memikirkan nama yang pas untuk buah hatinya.
"Sayang..."
"Hem..."
"Apa tidak sebaiknya kau pakai baju dulu?" Tanya Desi yang sesaat menelan ludahnya kasar ketika melihat Alex yang tengah memeluk pinggangnya dari depan yang hanya menggunakan handuk sebatas pinggang. Menampakkan dada atletis suaminya yang sangat menggoda.
Alex tertawa keras mendengar penuturan dari sang istri. "Kenapa? Apa yang kau pikirkan? Kau pasti berpikiran kotor ya?" Mencoba menggoda sang istri sambil mencubit pelan pipi kiri Desi.
"Ah sudahlah," melepaskan pelukan Alex. "Aku mau mencari nama untuk putriku saja," mencoba menghindar dari segala omongan yang dilontarkan oleh Alex. Berjalan ke arah sofa dan mengambil ponselnya yang ia taruh disana tadi. Kemudian ia akan duduk di sofa tadi. Namun ia kembali dikejutkan saat Alex lebih dulu duduk di sofa tersebut dan alhasil ia duduk di atas pangkuan sang suami. "Aku mau pindah." Sudah berdiri berniat duduk di sofa lainnya. Namun ia kembali di kejutkan oleh tarikan tangan sang suami.
"Kau mau kemana?" Sudah mendudukkan Desi di pangkuannya.
"Aku..." Desi tak bisa berkata-kata saat bibirnya di tutup oleh bibir sang suami. Satu kecupan yang membuat dadanya berdetak kencang. Entah perasaan apa ini. Ia sudah melakukan berkali-kali dengan Alex perihal segala macam ciuman. Namun sepertinya beda dengan ciumannya saat ini. Ada getaran yang dahsyat dalam dadanya ketika Alex memberikan ciuman lembut di bibirnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali saat Alex kembali melancarkan serangan ciumannya agak lama. Ia tak memungkiri jika ia juga menginginkan hal tersebut. Sudah lama rasanya ia tak merasakan gelenyar seperti ini. Tangannya ia kalungkan di leher sang suami. Tak ingin melepaskan ciuman yang perlahan semakin menuntut kegairahannya. Selama menjadi istri Alex, ia tak pernah merasa brutal seperti ini. Namun sesaat ia terkesiap saat tangan Alex mulai menelusup ke dalam bajunya dan memegang apa yang menjadi tempat favorit suaminya. "Aku masih dalam masa nifas."
__ADS_1
"Aku tau." Kata Alex yang lagi-lagi melancarkan serangannya pada sang istri. Menidurkan perlahan Desi di bantalan sofa. Ia tau harus menahan hasrat seksualnya sampai sang istri bersih dari masa nifasnya.
Bersambung