Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Tiga Sahabat


__ADS_3

Desi hanya duduk mematung di depan komputer. Dari tadi ia sampai di kantor, namun hampir tak ada yang ia ketik. Desi masih memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh Sandra tadi pagi saat ia di antar oleh Sandra ke kantor. Nama Maya kembali terngiang di telinganya. Matanya kembali berkaca-kaca saat ia mengingat kembali ketika Alex pergi tanpa berpamitan padanya. Ia memang istri sah dari Alex Candra Wijaya namun istri sah itu hanya tertulis di atas surat nikahnya saja. Ia bahkan tak berhak penuh atas kehidupan Alex setelah menikah. Karena sesuai perjanjian yang mereka sepakati bersama jika mereka tak akan ikut campur tentang kehidupan pribadi mereka masing-masing setelah menikah.


"Desi..."


Desi terkejut dengan panggilan Nadia yang sudah berdiri di sampingnya. Lamunannya tentang Alex benar-benar tak mengetahui keberadaan sahabatnya yang entah dari kapan sudah ada di dekatnya.


"Apa kau sakit?" Tanya Nadia yang memegang pundak Desi. Dia khawatir karena dari tadi yang ia lihat hanyalah kediaman Desi.


"Tidak..." Jawab Desi dengan menggelengkan kepalanya cepat. Menepis pertanyaan yang di lontarkan Nadia padanya.


"Tapi..." Kali ini Nadia memegang kening wanita yang sudah hampir sepuluh tahun menjadi sahabat karibnya. "Kau terlihat pucat. Bilang saja kalau kau sakit, nanti aku akan..."


"Aku baik-baik saja..." Jawab Desi yang memotong perkataan Nadia. Ia berusaha untuk tersenyum untuk menutupi kegelisahan dirinya saat memikirkan Alex yang tak kunjung mengabarinya. "Kau tidak perlu khawatir..." Kini tangannya sudah memegang tangan Nadia yang masih menempel di keningnya. "Sebaiknya kau kembali bekerja," mendorong tubuh Nadia pelan agar pergi dari meja kerjanya. "Nanti kalau kita banyak bicara yang ada kita kena marah..." Katanya lagi seraya menghadap ke arah komputer. Kedua tangannya sudah kembali mengetik pekerjaannya di layar komputer. Ia menggigit bibir bawahnya saat rasa sesak kembali menghampiri dirinya. Ingin sekali ia mengatakan yang sebenarnya pada semua orang tentang rasa yang ia pendam selama ini. Rasa yang entah dari kapan saat ia membuka hatinya untuk Alex. Rasa yang semakin sesak ketika ia tak bisa mengungkapkan perasaannya.


Nadia tau ada yang tidak beres dengan sahabatnya. Ia masih berdiri di belakang Desi. Tak biasanya Desi bersikap seperti itu. Desi yang ceria entah sekarang ada dimana. Kemudian Nadia mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Mengetikkan sebuah pesan pada seseorang yang mungkin bisa mengembalikan keceriaan Desi.


*


Pukul tiga sore, hampir semua karyawan Wijaya Group pulang. Namun saat ini masih ada sebagian karyawan yang mengerjakan pekerjaan lemburnya. Salah satunya adalah Desi. Ia memang harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum deadline berakhir dua hari lagi.

__ADS_1


Nadia menarik kursi hingga ke dekat Desi. Memainkan ponselnya sembari menunggu seseorang yang sudah ia kirimi pesan tadi.


"Kau tidak pulang?" Tanya Desi. Pandangannya masih tertuju pada layar komputer. Jemarinya dengan lihai menari di atas keyboard.


"Aku sedang menunggu seseorang," jawab Nadia yang masih memainkan ponselnya.


Lama keduanya terdiam. Desi masih sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Nadia sibuk dengan ponselnya. Hingga kedatangan seseorang yang di tunggu oleh Nadia berhasil mengalihkan pandangan mereka dari komputer dan ponsel.


"Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam..." Jawab Desi dan Nadia serentak. Keduanya langsung melihat ke asal suara. "Alika..." Kata keduanya lagi seraya berjalan ke arah Alika.


Semenjak Alika menikah dengan pemimpin perusahaan ini, ketiga sahabat ini jarang sekali bertemu. Alika yang sibuk dengan usaha butiknya dan mengurus baby Agam membuat mereka susah untuk bertemu. Mereka harus membuat janji terlebih dahulu jika harus bertemu seperti ini.


"Baik..." Jawab Desi dan Nadia lagi serentak.


*


Beberapa saat kemudian ketiganya sudah berada di atas gedung Wijaya Group. Tempat dimana dulu adalah tempat favorit Alika. Bangku panjang bercat putih juga masih ada disana.

__ADS_1


Desi, Alika dan Nadia kini sedang duduk disana. Menghadap indahnya matahari yang sepertinya dua jam lagi akan tenggelam. Tangan mereka masing-masing kini sedang memegang jus alpukat yang tadi di bawa oleh Alika.


"Hah... Indahnya..." Kata Nadia seraya menghembuskan nafas pelan. Ia yang sedang duduk di tengah kini melihat secara bergantian dua sahabatnya yang duduk di sisi kanan dan kirinya. "Aku ingin persahabatan kita akan terjalin selamanya..." Katanya lagi.


"Tentu saja. Aku tidak mau hubungan kita sampai ada keretakan. Aku sangat menyayangi kalian berdua," kini Alika yang menyuarakan isi hatinya. Ia memang tadi buru-buru untuk ke kantor suaminya setelah pulang dari butik miliknya lantaran Nadia yang mengirimkan pesan padanya kalau Desi terlihat sedang tidak baik-baik saja. Selama menjadi istri Farel dan menjadi ibu bagi putranya Agam, Alika memang tak begitu sempat untuk jalan bertiga bersama dua sahabatnya. Semua itu karena ia disibukkan dengan pekerjaannya dan mengurus rumah tangganya. Namun saat tadi ia mendapat pesan singkat dari Nadia, mau tidak mau ia harus segera menemui sahabatnya Desi. Ia hanya ingin menjadi sahabat yang baik bagi dua wanita yang kini duduk di bangku yang sama dengannya. Dan pastinya ia juga ingin tau kenapa sikap Desi seharian ini tak seperti biasanya.


"Aku juga menyayangi kalian berdua..." Kata Desi seraya menyandarkan kepalanya di bahu Nadia.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Alika dan Nadia serentak. Mereka tau Desi sedang banyak pikiran akhir-akhir ini. Mereka disini juga akan membantu jika Desi memang memerlukan bantuan.


Mendengar pertanyaan dari dua sahabatnya membuat Desi mengangkat kepalanya. Kini pandangannya tertuju pada dua sahabatnya yang kini juga sedang menatapnya. "Aku baik-baik saja," jawab Desi pasti.


"Tapi kau terlihat tidak baik-baik saja," jawab Nadia.


Desi mengeluarkan senyuman sejuta wattnya. Ia tak ingin membuat dua sahabatnya khawatir dengan apa yang sekarang menjadi kegelisahannya.


Alika pindah duduk berada di sebelah Desi. Kini tangannya memegang tangan Desi. "Aku dan Nadia tau kalau kau sedang tidak baik-baik saja. Jangan membuat kami khawatir lagi. Sebenarnya ada apa? Apa ada masalah dengan rumah tanggamu?"


Desi tak tahan lagi. Matanya dari tadi sudah berkaca-kaca. Cairan bening yang dari tadi ia tahan kini sudah jatuh membasahi pipinya. Ia menangis. Tak tahan menahan rasa sesak di dadanya. Ia menundukkan kepalanya dalam sambil tak berhenti menangis. Namun untuk saat ini ia bahkan belum siap mengatakan yang sebenarnya pada dua sahabatnya tentang rumah tangga yang ia jalani dengan Alex.

__ADS_1


Sedangkan dua sahabatnya hanya bisa mengelus punggung Desi dengan penuh makna. Hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk menenangkan Desi. Layaknya seperti seorang saudara. Kini Alika dan Nadia memeluk Desi dengan erat.


Bersambung


__ADS_2