
Seminggu berlalu. Desi seakaan sudah terbiasa dengan kehidupan di rumah Alex. Setiap hari juga Alex selalu mengantar dan menjemputnya dari kantor. Hubungan antara Desi dan Sandra pun juga terlihat makin akrab. Entah itu hubungan yang baik atau tidak namun di mata Desi kini Sandra adalah adik ipar yang baik. Sesuai janjinya pada Alex, Desi selalu bersikap baik pada ibu mertua dan adik iparnya. Sampai saat ini Alex dan Desi juga masih tidur secara terpisah. Desi di ranjang sedangkan Alex di sofa. Pernikahan sandiwara yang mereka ciptakan benar-benar tak ada yang mengetahui. Mereka menyimpan rapat-rapat kesepakatan yang mereka jalani bersama dengan baik sehingga tak ada yang tau apa yang Alex dan Desi lakukan.
*
Setelah makan malam Alex, Desi, Marisa dan juga Sandra tengah berada di ruang tengah.
"Aku harus ke ruang kerjaku sekarang..." Kata Alex seraya berdiri. Seperti biasa Alex tak bisa lama-lama berbincang dengan keluarganya. Pekerjaan yang menumpuk sudah menantinya di ruang kerja rumahnya.
"Kakak, aku mau tanya sesuatu padamu," kata Sandra yang mencegah Alex pergi dari ruang tengah tersebut.
"Ada apa?" Tanyanya yang kembali duduk di samping Desi.
"Bukankah besok hari libur. Bolehkah aku keluar dengan kakak ipar?" Tanya Sandra yang meminta ijin secara langsung pada kakak laki-lakinya.
"Memangnya kalian mau kemana?" Tanya Alex yang kini pandangannya tertuju pada Desi.
"Ah... Jika kamu mengijinkan, aku di ajak Sandra pergi ke mall."
Alex mengernyit heran. Tak biasanya Sandra pergi keluar jika hari libur. Saat hari libur tiba biasanya Sandra lebih suka diam di rumah.
"Aku juga mau mengajak kak Maya. Kakak boleh ya?" Rayu Sandra pada saudara laki-lakinya.
Siapa Maya? Batin Desi yang memang tak mengenal Maya di keluarga suaminya.
Maya...
Baiklah Desi bersama Maya. Jadi Sandra tidak mungkin akan menyakiti Desi. Aku tau Sandra tidak begitu menyukai Desi. Tapi jika ada Maya, maka aku bisa tenang. Kata Alex dalam hati.
__ADS_1
"Baiklah, pergilah besok. Tapi Sandra, kau harus ingat, kakak iparmu tidak bisa makan sembarang. Dia vegetarian. Kau mengerti!" Kata Alex memberi perintah. Ia tak mau Desi sampai celaka jika harus pergi berdua dengan adik perempuannya. Namun ia akan memperbolehkan jika mereka akan keluar bersama Maya. Maya pasti akan menjaga Desi sesuai perintah Alex.
"Iya kakak..."
Setelah memberi ijin pada Sandra, Alex berjalan menuju ke ruang kerjanya. Banyaknya pekerjaan membuatnya juga bekerja di rumah. Setelah menikah Alex tak pernah lembur, karena pukul tiga sore ia harus menjemput Desi dari kantor.
"Untung saja aku bilang kalau kak Maya akan ikut. Jadi kak Alex ngebolehin kak Desi keluar rumah besok," kata Sandra yang sangat antusias saat dirinya dan istri dari kakaknya untuk keluar besok ke mall. Kini dirinya hanya berdua dengan Desi. Setelah tadi Alex pergi ke ruang kerjanya sang ibu juga ikut menyusul untuk istirahat di kamarnya. "Kakak ipar harus bersikap baik dengan kak Maya. Soalnya kak Alex sangat menyayangi kak Maya."
"Apa?" Tanya Desi terkejut saat Sandra bilang kalau Alex sangat menyayangi wanita yang bernama Maya.
"Iya. Kak Maya itu wanita yang sangat baik. Dia cantik, pintar dan yang paling penting dia sangat seksi," lanjut Sandra yang mengekspresikan tubuhnya saat ia menjelaskan tentang siapa Maya.
Sebenarnya siapa Maya?
Kenapa Alex sangat menyayanginya?
Batin Desi yang sangat penasaran akan siapa wanita bernama Maya tersebut. Ingin sekali dia bertanya secara detail pada Sandra siapa Maya sebenarnya. Namun mendengar penjelasan Sandra yang berkata kalau Alex sangat menyayangi Maya sudah Desi pastikan kalau Maya adalah wanita yang sangat spesial dalam hidup Alex.
*
Desi masih tak beranjak dari tempatnya berdiri. Ia masih saja kepikiran tentang siapa Maya sebenarnya. Dan tanpa banyak berpikir ia kembali membuka pintu kamarnya dan langsung berjalan menuruni tangga. Ia melihat ruang kerja Alex yang masih tertutup rapat. Selangkah demi selangkah ia berjalan menuju ruang kerja Alex. Setelah menghembuskan nafas berat ia memberanikan mengetuk pintu ruang kerja laki-laki yang sudah tujuh hari menjadi suaminya.
"Masuk."
Terdengar suara dari dalam ruangan. Ia memutar kenop pintu dan langsung membukanya. Ia masukkan dulu kepalanya. Mencari seseorang yang ingin ia temui.
"Ada apa? Kau perlu sesuatu?"
__ADS_1
Pertanyaan tersebut berhasil membuat mata Desi mengarah pada laki-laki yang duduk di meja kerjanya. "Ehm aku..."
"Masuklah..."
Desi membuka lebar pintu ruang kerja Alex. Lalu dirinya melangkah masuk dan kembali menutup pintu tersebut.
"Kau perlu sesuatu?" Tanya Alex yang kini pandangannya tertuju pada Desi yang masih berdiri di pintu.
"Aku..."
Alex menautkan kedua alisnya. Ia tau kalau Desi sepertinya sedang ingin menyampaikan sesuatu padanya. Namun sepertinya Desi bahkan tak berani berbicara. Ia tersenyum miring melihat tingkah lucu Desi yang tiba-tiba saja tak mengatakan apapun padanya. Lalu ia kembali memfokuskan perhatiannya pada laptop di atas meja kerjanya. "Apa kau masih sibuk menyusun pertanyaan di otakmu?" Tanyanya seraya memperhatikan lagi berkas dan laptopnya secara bergantian.
Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku jadi gagap di depannya?
Batin Desi seraya memukul pelan kepalanya. Ia merasa sedikit malu saat ia tak bisa menanyakan perihal apa yang telah membawanya kesini.
"Kau masih belum selesai menyusun kalimat pertanyaan mu?" Tanya Alex sekali lagi. Kini dirinya dengan lihai mengetik pekerjaannya di laptop miliknya
"Siapa Maya?"
Alex terdiam mendengar pertanyaan dari Desi. Tangannya seketika berhenti mengetik saat nama yang tak asing baginya sedang di pertanyakan oleh Desi. Kini matanya tertuju pada Desi yang masih berdiri di sebelah pintu ruang kerjanya. Dengan wajah serius ia masih melihat ke arah Desi. "Kenapa menanyakan Maya?" Tanya Alex. Kini ia melipat kedua tangannya di dada. Menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. Tak ada senyum sama sekali di bibirnya saat ia mendengar Desi menanyakan perihal siapa Maya pada dirinya.
"Aku..." Desi kembali menggantungkan kalimatnya sendiri saat ia tak bisa menjelaskan kenapa ia menanyakan perihal Maya pada pria yang masih duduk di kursinya.
Sedangkan Alex masih menunggu penjelasan dari Desi saat ia melihat Desi yang seakan kesulitan kenapa Desi menanyakan perihal Maya padanya. "Apakah Sandra tidak menjelaskan siapa Maya pada dirimu?" Tanya Alex yang mendapat jawaban berupa gelengan kepala dari Desi. "Maya adalah salah satu wanita spesial dalam hidupku."
Mendengar penjelasan dari Alex membuat wajah Desi yang tadinya tenang kini nampak memerah menahan geram saat Alex mengatakan bahwa Maya adalah salah satu wanita yang spesial dalam hidupnya. Dan tanpa berkata apapun Desi langsung keluar dari ruang kerja Alex.
__ADS_1
Melihat Desi yang keluar dengan wajah geram membuat Alex tertawa lepas. Bahkan sampai beberapa detik ia masih tak bisa berhenti tertawa. Lalu ia mengambil ponselnya yang ia taruh di sebelah laptopnya. Mencari nama seseorang yang ingin ia hubungi saat waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. "Halo Maya..."
Bersambung