
Desi mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Menilik kembali dimana saat ini ia berada. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan hingga ia berbalik ke belakang. Sesaat ia tersentak kaget ketika melihat Alex sudah berada di belakangnya sambil melingkarkan tangan kanannya di atas perutnya. Perlahan Desi membalikkan badannya hingga berhadapan dengan Alex. Menjadikan telapak kanan tangannya di bawah kepalanya sebagai bantal. Menatap wajah Alex yang masih tertidur. Kini sebersit senyuman lahir di bibir tipisnya. Ia menyusuri wajah Alex dengan jari telunjuk kirinya. "Terimakasih... Karena sudah bersedia menjadi suami bagiku," katanya lirih saat Alex masih tertidur. "Terimakasih juga karena sudah berkali-kali memaafkan diriku saat aku melakukan banyak kesalahan. Aku mencintaimu..." Katanya pelan.
"Aku juga mencintaimu..."
Desi kembali tersentak kaget dengan tiga kata yang keluar dari mulut Alex yang masih memejamkan mata. Ia reflek mundur ke belakang namun badannya tertahan dengan tangan kiri Alex yang melingkar di bawah lehernya.
"Kau mau kemana?" Tanya Alex seraya membuka kedua matanya. Menarik tubuh Desi agar mendekat pada dirinya.
"Kau sudah bangun? Dari kapan? Kau mendengar semua kata-kataku?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Desi. Ia tak berharap Alex mendengarkan semua rasa terima kasihnya karena rasa terimakasih yang ia ucapkan terlontar begitu saja dari mulutnya.
"Memangnya kenapa jika aku mendengar semua kata-katamu?" Tanya Alex seraya mengeratkan pelukannya pada Desi. "Apa kau tidak berniat mengatakan semuanya saat aku membuka mata?" Tanyanya lagi sambil mengelus punggung Desi yang masih tak memakai baju lantaran aksinya tadi malam.
"Bukan begitu... Aku..." Desi menggantungkan kalimatnya sembari membuat garis tegak di dada suaminya dengan bermodalkan jari telunjuknya. "Sudahlah aku mau bangun," kata Desi seraya duduk. "Aaa..." Pekik Desi seraya memegang bagian intimnya yang masih tertutupi selimut.
"Ada apa?" Spontan Alex juga duduk di samping sang istri. "Ada yang sakit?" Dirinya sudah khawatir saat Desi menjerit kesakitan.
"Iya... Ini sakit..." Kata Desi dengan wajah kesakitan sambil menunjuk bagian intimnya .
"Sayang... Maaf..." Katanya seraya memeluk Desi dari samping. Mengelus punggung sang istri, berharap dengan begitu rasa sakit yang Desi alami berangsur membaik.
__ADS_1
"Sudahlah aku bukan wanita lemah," ujarnya sambil mendorong pelan dada Alex supaya menjauh darinya. "Aku akan ke kamar mandi. Ini bahkan sudah siang," katanya yang perlahan menurunkan kaki kirinya dan di susul kaki kanannya. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang akan berjalan ke kamar mandi. Namun lagi-lagi ia tersentak kaget ketika Alex tiba-tiba menggendongnya dari belakang. "Kenapa menggendongku? Cepat turunkan aku," protesnya sambil menggoyangkan kedua kakinya agar segera di turunkan oleh Alex.
"Sudah. Diamlah..." Alex masih menggendong tubuh Desi hingga memasuki kamar mandi.
***
"Sayang kenapa tidak bilang kalau Maya menginap disini? Aku jadi merasa bersalah padanya karena tadi malam tidak meminta maaf padanya," kata Desi yang memakaikan dasi di kemeja suaminya.
"Nanti kau juga bisa meminta maaf padanya secara langsung. Tadi malam Maya memang berniat menginap disini karena ia harus menyelesaikan pekerjaan yang memang harus selesai pagi ini."
Desi menghela nafas panjang. "Aku jadi merasa bersalah padanya atas kejadian tadi malam," ujar Desi sambil berdecak kesal atas perilakunya tadi malam. "Kenapa aku harus cemburu padanya. Padahal jelas-jelas kalau kau hanya menganggapnya sebagai sekertaris kan? Dan kau pasti hanya mencintai diriku seorang kan?"
"Sudahlah..." Kata Desi seraya memukul pelan dada Alex dengan tangannya. "Ayo kita segera turun," sudah menarik tangan Alex supaya mengikuti langkahnya. "Aku mau minta maaf padanya."
*
Di ruang kerja Alex, kini Desi sedang duduk di sofa di hadapan Maya. Sedangkan Alex berada di sebelahnya.
"Nona ada apa? Ada yang ingin anda sampaikan?" Tanya Maya yang penasaran. Dirinya sudah terkejut tadi saat salah satu asisten rumah tangga atasannya mengetuk pintu kamar tamu yang ia buat menginap semalam.
__ADS_1
"Aku..." Desi menggantungkan kalimatnya. Ia sedikit melirik Alex yang masih duduk di sampingnya. Sedangkan Alex sudah memberikan petuah dari isyarat matanya agar sang istri segera mengatakan apa yang ingin ia katakan. "Maya... Aku ingin minta maaf padamu," sudah berhasil mengatakan apa yang membuat hatinya di landa kegelisahan dari tadi malam. Jika Alex tak mencegahnya keluar dari kamar mandi tadi malam mungkin ia sudah mengatakan apa yang seharusnya ia katakan.
Maya terkejut dengan apa yang ia dengar barusan. Ia malah melihat sang atasan. Lalu pandangannya kembali mengarah pada istri dari atasannya. "Nona kenapa anda berkata seperti itu?"
"Tolong maafkan diriku. Aku sudah berburuk sangka padamu. Aku benar-benar minta maaf."
"Nona... Anda tidak salah sama sekali. Anda juga tidak perlu minta maaf pada saya." Maya tak menyangka jika Desi akan meminta maaf padanya. Bahkan ia sudah memaafkan sikap Desi jika Desi tak meminta maaf padanya. Ia sangat paham betul bagaimana perasaan seorang wanita jika menyangkut dengan orang yang mereka cintai. Terlebih lagi Desi adalah istri dari atasannya. Saat pertama kali Alex menceritakan tentang pernikahan sandiwara yang akan ia jalani dengan Desi, saat itu pula Maya terkejut. Ia sudah bekerja pada Alex selama kurang lebih enam tahun. Ia sangat mengenal bagaimana sifat Alex terhadap wanita. Selama ia menjadi sekertaris dari Alex Candra Wijaya, sekalipun ia tak pernah melihat Alex mempunyai hubungan spesial dengan seorang wanita. Padahal saat di Amerika, banyak wanita yang tergila-gila dengan atasannya. Namun Alex bilang kalau ia tak ingin menjalin hubungan dengan wanita yang tidak dicintainya. Sampai di tiga bulan yang lalu Alex menceritakan satu rahasia yang tak boleh sampai bocor, bahkan keluarganya pun tak boleh sampai tau. Alex hanya menceritakan mengenai pernikahan sandiwaranya dengan Desi. Saat itu Maya sudah bisa menebak kalau atasannya sedang jatuh cinta. Karena dalam agama yang di anut oleh atasannya, pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Saat itu mungkin Desi tidak mempunyai perasaan pada atasannya. Namun lambat laun ia mempunyai cara agar istri dari atasannya menunjukkan perasaannya, dengan cara membuat Desi cemburu. Saat pertama kali bertemu dengan Desi di mall, Maya sudah menyusun sebuah rencana yang tanpa sengaja ia di bantu oleh Sandra agar Desi mengeluarkan rasa kecemburuannya. Dan pada akhirnya ia merasa sangat puas ketika melihat jerih payahnya berhasil menyatukan Alex dan Desi. Berawal dari pernikahan sandiwara dan kini ia ingin pernikahan atasannya berubah menjadi keluarga yang benar-benar bahagia.
*
Sandra sudah duduk di kursi meja makan. Sesekali ia melihat ke arah tangga. Menunggu sang kakak yang sudah beberapa hari tinggal di apartemen Desi. Ia sangat merindukan saudara laki-lakinya. "Kak Alex belum turun ya Ma?" Tanya Sandra sambil mengambil buah apel yang sudah di potong kotak-kotak kecil di atas piring lalu memasukkan ke dalam mulutnya.
"Mama gak tau, sepertinya..." Marisa yang tadinya sedang menata menu makanan di atas meja kini sedang menggantungkan kalimatnya saat ia melihat tiga orang yang keluar dari ruang kerja Alex. "Itu mereka..." Kata Marisa sambil menunjuk ke arah ruang kerja Alex.
Sedangkan Sandra sudah mengarahkan pandangannya pada tunjukan jari sang ibu. Seketika ia terdiam. Menggantungkan tangannya di udara dengan memegang sebuah garpu saat ia melihat Desi dan Maya yang saling bergandengan tangan. Sepertinya keduanya sudah akrab satu sama lain. Sedangkan Alex sedang berjalan di belakang keduanya.
Kenapa? Kenapa semua rencanaku gagal untuk memisahkan kak Alex dan kakak ipar? Bahkan kak Maya sudah terlihat akrab dengan kakak ipar. Aku harus cari cara lain agar kak Alex segera berpisah dengan kakak ipar. Kata Sandra dalam hati. Ia bahkan bisa melakukan apa saja agar kakaknya segera berpisah dengan Desi.
Bersambung
__ADS_1