Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Ruangan Rektor


__ADS_3

Saat ini Alex dan satu mahasiswa yang membuat onar kampus sudah berada di ruang rektor. Keduanya di panggil karena telah membuat keributan di kampus tersebut. Perkelahian antara Alex dan salah satu mahasiswa dari satu kampus yang sama dengan Sandra benar-benar tak bisa dihindarkan.


Mahasiswa tersebut banyak terluka di bagian wajah. Seperti sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, pipinya yang nampak sekali memar, sudut matanya juga tak kalah memar, dan bagian perut yang sepertinya sudah di tahannya lantaran kesakitan. Sedangkan Alex hanya terluka di bagian sudut bibirnya saja.


"Sebenarnya ada masalah apa ini?" Tanya seorang rektor pada kedua orang yang kini duduk di depannya. Mereka bertiga hanya di pisahkan oleh sebuah meja kerja rektor tersebut.


"Dia yang salah Pak..." Jawab mahasiswa tersebut yang kini sudah menunjuk Alex dengan jari tangannya. "Dia yang mulai duluan. Istrinya yang menampar saya duluan lalu dia juga menghajar saya habis-habisan," tambahnya lagi dengan nada emosi. "Anda harus mengeluarkan adiknya dari kampus ini. Karena adiknya bahkan tidak pantas untuk kuliah disini."


"Ryan jaga sikap mu!" Sang rektor sudah memberi petuah agar Ryan menutup mulutnya yang dari tadi hanya bisa mengomel.


Sedangkan mahasiswa yang diketahui bernama Ryan itu kini sedang membela mati-matian dirinya sendiri. Menuding Alex dengan semua perkataannya. Sesaat nafasnya sampai naik turun lantaran semua ucapan yang ia lontarkan dengan nada emosi.


Alex perlahan melihat ke arah sebelah kiri. Menatap mahasiswa yang kini duduk di kursi sebelahnya. "Kau sudah selesai berbicara?" Tanyanya ketika ia sudah tak mendengarkan ocehan mahasiswa yang seluruh wajahnya babak belur lantaran pukulannya.


"Kau..." Ryan sudah menggantungkan tangannya di udara saat ia mendengar pertanyaan dari Alex dengan nada mengejek.


"Ryan..." Sang rektor menghentikan aksi salah satu mahasiswanya yang tengah tersulut emosi. Menyuruh agar Ryan lebih sabar menghadapi orang yang masih bersikap tenang meski dalam keadaan genting sekalipun.

__ADS_1


"Saya ingin mengajukan pertanyaan pada anda Pak," kini mata Alex tertuju pada rektor yang saat ini sepertinya sudah berumur lebih dari setengah abad.


"Katakan."


"Apa di kampus ini mengajarkan cara menghina orang lain?" Tanya Alex yang membuat terkejut sang rektor dan mahasiswa yang dari tadi menyimpan rasa dendam padanya. "Apa di kampus ini juga mengajarkan sikap kurang ajar pada orang yang lebih tua. Terlebih lagi pada wanita?" Tambahnya lagi yang membuat sang rektor diam tak bersuara.


"Lihatlah dia Pak..." Kata Ryan sambil menuding Alex yang masih bersikap santai di sampingnya. "Dia telah kurang ajar pada anda sebagai rektor disini Pak," sudah menyulut kembali api yang dari tadi sudah hampir padam. "Sandra juga..."


"Jangan pernah menyebut nama adikku dengan mulut kotor mu itu!" Seru Alex dengan nada geram pada mahasiswa yang masih saja memotong perkataannya. Jari telunjuknya sudah menunjuk tanda kemarahannya. Sesaat ia mengontrol emosinya yang sudah meluap-luap saat tak ada suara di ruang rektor tersebut. Kembali menyandarkan punggungnya di kursi yang masih setia ia duduki. Menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. "Jika anda ingin mengetahui cerita yang sebenarnya, jangan pernah menanyakan pada bedebah ini." Kata Alex, menunjuk mahasiswa yang telah berkelahi dengannya beberapa saat yang lalu dengan ekor matanya. "Tanyakan pada mahasiswa lainnya yang menyaksikan perkelahian kami. Siapa yang benar dan siapa yang salah," lanjut Alex yang memberikan tatapan intimidasi pada rektor kampus tempat Sandra menimba ilmu.


"Tentu kau yang salah. Kau yang mulai memukulku duluan!" Ryan sudah berdiri sambil tak berhenti menunjuk Alex.


Begitu pula dengan Sandra, dari pertama masuk dalam kampus ini ia bahkan tak luput dari makian dan hinaan Ryan setiap hari. Namun karena takut akan perlakuan Ryan yang mengancam Sandra dengan menyebarluaskan perihal dirinya adalah putri seorang narapidana, membuat Sandra tak bisa berkutik. Ia bahkan hanya akan diam saja saat Ryan dan teman-temannya melakukan hal buruk padanya.


Ryan yang memang sedang di atas angin karena ayahnya adalah donatur terbesar di kampusnya, membuatnya menjadi orang yang semena-mena pada mahasiswa di kampusnya.


"Tunggu saja sampai ayahku datang kemari. Maka adikmu akan di tendang dari kampus ini," ucap Ryan dengan nada mengancam.

__ADS_1


Perlahan Alex bangun dari duduknya. Merapikan jas yang dari tadi melekat di tubuhnya. Memberikan tatapan intimidasi pada mahasiswa yang tak tau sopan santun di depannya. "Aku bahkan tidak sabar menunggu ayahmu. Aku hanya ingin tau siapa orang tau yang telah membesarkan anak seperti dirimu!"


Tak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu dari luar. Seorang laki-laki yang di ketahui sebagai dekan di kampus membawa seorang laki-laki paruh baya yang memasuki ruang rektor.


Ryan berlari ke arah laki-laki paruh baya yang baru saja memasuki ruangan tersebut. "Ayah lihatlah. Orang itu telah berani memukul anak kesayangan mu ini," rengek Ryan pada sang ayah mencari pembelaan.


Mata ayah Ryan langsung tertuju pada laki-laki yang telah di tunjuk oleh anaknya. Sesaat matanya membulat sempurna saat mengetahui siapa orang yang telah berurusan dengannya. Dengan langkah setengah berlari ia langsung menghampiri wali dari Sandra. "Pak Alex..." Sudah membungkukkan badan di hadapan Alex. "Entah apa yang di lakukan oleh anak saya. Tapi saya mohon maafkan dia..."


Semua orang tertegun dengan apa yang mereka lihat. Bahkan mereka tak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh ayah Ryan.


"Ayah..." Ryan berlari menuju tempat dimana ayahnya berdiri. "Apa yang ayah lakukan?" tanyanya yang tak mengerti apapun.


"Dasar anak bodoh!" Maki sang anak sambil mendorong kepala Ryan. "Cepat segera menunduk pada Pak Alex!" Suruhnya pada anak laki-lakinya.


"Tapi..."


"Sudah cepat menunduk!" Suruhnya kembali yang mendorong kepala Ryan hingga menunduk di depan Alex.

__ADS_1


Sedangkan sang rektor dan seorang dekan yang baru saja memasuki ruangan tersebut hanya bisa memberikan tatapan bingung saat mereka menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa ayah Ryan menundukkan kepalanya di depan wali Sandra yakni Alex Candra Wijaya.


Bersambung


__ADS_2