
Setengah jam kemudian keduanya sudah terlihat memakai piyama lengkap. Desi duduk di ranjang milik Alex sedangkan Alex menarikĀ kursi yang ada disebelah ranjangnya kemudian duduk disana. Ia menatap tajam ke arah Desi yang lagi-lagi sedang menundukkan kepalanya dalam.
"Sekarang jelaskan, sebenarnya kenapa kau sampai berkali-kali mencoba bunuh diri?" Tanya Alex yang melihat ke arah Desi. Melipat kedua tangannya di depan dada dan menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya.
"Aku... Aku hanya..." Desi menggantungkan kalimatnya. Jemarinya tak berhenti memilin satu sama lain.
Alex menarik nafas dalam lalu perlahan menghembuskannya. "Lima hari aku mengenalmu. Dan sudah tiga kali kau mencoba melakukan percobaan bunuh diri. Aku kira dulu kau hanya berpura-pura agar kita jadi menikah. Tapi kini aku tau bahwa kau melakukan ini hanya karena ingin menjebak ku kan?" Suara Alex sudah menggema di setiap ruangan.
"Tidak..." Jawab Desi cepat sambil menggoyangkan kedua tangannya. Menolak semua persepsi yang Alex katakan. "Tadi aku tidak berniat bunuh diri. Sungguh aku tidak berbohong padamu. Aku hanya merasa bersalah pada orang tuaku karena telah membohongi mereka dengan pernikahan sandiwara ini. Aku benar-benar bersumpah, aku tidak ada niatan sama sekali untuk menjebak mu. Aku hanya..." Desi menggantungkan kalimatnya lagi saat tatapan mata Alex yang benar-benar sudah marah besar padanya. "Maafkan aku..." Desi kembali menundukkan kepalanya dalam. Ia tak berani menatap sepasang mata yang dari tadi sudah memberinya tatapan intimidasi.
"Dimana surat perjanjian itu?" Tanya Alex kemudian saat keduanya sudah terdiam cukup lama.
Desi langsung menatap wajah Alex. "Untuk apa menanyakan perihal surat perjanjian itu?" Desi menimpali dengan pertanyaan sebaliknya.
"Berikan saja padaku," kata Alex lagi sambil tangannya meminta surat perjanjian yang ia maksud.
"Kau tidak akan menyobek surat perjanjian itu kan?" Tanya Desi yang masih duduk di atas tempat tidur. Ia tak berniat beranjak dari atas ranjang jika memang Alex akan menyobek surat perjanjian itu.
__ADS_1
Alex tertawa sinis mendengar penuturan dari Desi. "Kenapa? Kau takut?" Alex melipat kedua tangannya lagi di depan dada. Lalu ia memajukan wajahnya mendekati Desi. "Dengarkan aku baik-baik. Kau lah yang memulai kesepakatan ini, dan kau juga yang menulis lima perjanjian dalam kertas itu. Tapi aku hanya memberimu satu persyaratan agar kau bisa bersikap baik pada keluargaku. Bukankah jika di pikir itu tidak adil. Seharusnya aku juga meminta lebih dari satu syarat kan?" Kata Alex panjang lebar. Lalu ia menyandarkan lagi punggungnya di kursi yang ia duduki. "Sekarang cepat berikan surat perjanjian itu," tambah Alex lagi.
"Tapi..."
"Cepat berikan padaku," bentak Alex. Ia sudah kehilangan kesabaran saat Desi masih tak beranjak dari ranjang.
Dan tanpa di suruh untuk yang kesekian kalinya, akhirnya Desi turun dari ranjang. Ia berjalan ke arah kopernya yang masih belum ia bongkar. Sesekali ia melihat ke arah Alex seraya membuka koper miliknya. Lalu dengan cepat ia mengambil map yang berisi kesempatannya dengan Alex. Dengan langkah pelan ia berjalan mendekati Alex yang masih duduk di kursi. Lalu perlahan juga ia menyerahkan surat perjanjian itu. Saat akan diterima oleh Alex dengan sigap Desi menarik surat yang ia pegang. "Memangnya kau mau apa dengan isi surat perjanjian ini? Kau tidak akan meminta kesepakatan yang aneh-aneh kan?"
Alex tak menjawab pertanyaan dari Desi. Ia masih menatap Desi tajam seraya berdiri. Dan dengan cepat ia merebut surat perjanjian itu dari tangan Desi. Ia mengambil bolpoin di atas meja nakas, lalu membuka map tersebut dan melihat kertas yang sudah ia tandatangani waktu itu. Waktu ia setuju untuk menikahi Desi dengan lima persyaratan yang tertulis disana. Ia duduk lagi di kursi yang tadi ia duduki. Lalu memulai menulis persyaratan yang ia ajukan pada Desi. Setelah beberapa saat, ia kembali menyerahkan surat perjanjian itu pada Desi. "Cepat tanda tangani surat perjanjian ini."
Selama menjadi istri dari Alex Candra Wijaya, Paulina Desi Darmawan tidak di perkenankan untuk melakukan percobaan bunuh diri lagi. Jika tidak, maka Alex tak segan-segan untuk bilang yang sebenarnya pada orang tua Desi atau jika perlu ia akan membeberkan pada media yang sebenarnya atas kebohongan yang Desi ciptakan terkait dengan pernikahan sandiwara ini.
Desi membulatkan kedua matanya saat membaca isi dari permintaan Alex. "Apa ini?" Tanya Desi yang sedikit kesal lantaran Alex akan membeberkan semua pada media perihal pernikahan sandiwaranya ini.
"Kenapa kau tidak setuju?" Tanya Alex dengan tatapan intimidasi. Lalu ia berdiri di hadapan Desi. "Apa perlu aku beberkan malam ini juga pada media tentang pernikahan sandiwara ini?"
Desi membeku di tempatnya berdiri. Seakan tak punya tenaga untuk menjawab perkataan dari Alex. Jika ia tak menuruti apa yang Alex katakan maka malam ini juga keluarganya akan sangat terkejut dengan pernyataan Alex.
__ADS_1
"Kau tau. Aku hanya tinggal menelepon sekertaris ku untuk melakukan konferensi pers malam ini juga," kata Alex lagi seraya meraih ponselnya di atas meja nakas dan memainkan ponselnya di tangannya.
Tanpa berpikir panjang Desi merebut bolpoin dari tangan Alex dan langsung menandatangani permintaan Alex.
Saat Desi sudah selesai menandatangani surat perjanjian itu, Alex langsung merebut paksa kertas yang masih di pegang oleh Desi. "Mulai hari ini surat perjanjian ini aku yang pegang. Karena suatu saat nanti aku akan menuliskan lagi persyaratan selanjutnya."
"Apa?" Desi terkejut dengan penuturan Alex. Ia tak menyangka jika Alex akan mengajukan permintaan lebih dari satu.
"Bukankah aku sudah bilang jika isi perjanjian itu tidaklah adil. Kau mempunyai lima permintaan sedangkan aku hanya memiliki satu permintaan ditambah satu permintaan yang baru saja kau setujui. Jadi aku masih mempunyai tiga permintaan lagi," kata Alex seraya berjalan menjauh dari Desi.
"Tunggu... Itu tidak adil..." Teriak Desi yang merasa kesal.
Alex kembali tertawa sinis. "Kau bicara keadilan?" Alex sudah berbalik melihat Desi. "Keadilan mana yang kau bicarakan hah?" Tanyanya seraya berteriak keras. Sampai-sampai teriakannya mengejutkan Desi yang berdiri. "Jika tadi aku terlambat sedikit saja masuk ke dalam kamar mandi entah apa yang akan terjadi padamu. Bisa-bisa akan muncul berita mengenai kematianmu di rumahku. Dan sudah pasti keluargaku akan sangat disalahkan akan kematianmu. Jadi coba jelaskan padaku, keadilan mana yang kau bicarakan hah?" Tanya Alex lagi dengan nada setengah berteriak. Ia masih merasa kesal lantaran tadi ia menemukan Desi yang sudah hampir tak tertolong lantaran ia menenggelamkan dirinya di bak mandi.
Desi hanya mematung saat melihat Alex yang marah padanya. Matanya sudah berkaca-kaca lantaran bentakan Alex kembali melengking di telinganya.
Bersambung
__ADS_1