
Setelah mengantarkan Desi ke perusahaan Wijaya Group. Alex kembali menjalankan mobilnya menuju kantornya. Sesekali ia terlihat tersenyum saat mengingat kembali bahwa dirinya dan juga Desi akhirnya berbaikan. Rasanya tak ada beban yang menggantung di pundaknya saat tadi ia dan Desi sama-sama membicarakan mengenai kejadian semalam.
Lima belas menit kemudian Alex akhirnya sampai di kantornya. Karena memang letak kantornya dan perusahaan Wijaya Group searah jadi tak begitu memakan banyak waktu untuk sampai di kantor miliknya. Alex menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama kantor miliknya. Dengan sigap seorang satpam langsung mendekati Alex dan mengambil kunci mobil milik sang pemilik perusahaan. Sudah menjadi kebiasaan si satpam memarkirkan mobil milik Direktur utama.
Alex berjalan memasuki perusahaan miliknya. Perusahaan yang ia bangun sendiri tanpa ada bantuan dari siapapun. Dulu ia pernah mengembangkan perusahaannya di Amerika namun atas permintaan keluarganya untuk menetap di Indonesia membuat dirinya harus memulai membangun kembali perusahaan yang ia rintis dari awal lagi. Karena memang sudah berpengalaman dalam bidangnya, Alex tak kesulitan dalam pekerjaannya. Pekerjaan yang memang berkembang pesat dalam waktu setahun itu membuat nama Alex dikenal sebagai pemilik perusahaan ekspor impor termuda yang sukses. Alex memang benar-benar menekuni pekerjaannya dengan sangat baik. Dirinya memang dituntut sebagai tulang punggung keluarga saat ayahnya sendiri tak mau tau akan keadaan putra dan putrinya. Sebagai seorang laki-laki satu-satunya di keluarganya, Alex benar-benar sangat bisa di andalkan. Kasih sayangnya pada ibu dan adik perempuannya bahkan tak bisa tergantikan.
Setelah menaiki lift yang membawanya ke lantai teratas perusahaan miliknya. Alex melangkah menuju ke ruang kerjanya. Setelah tadi keluar dari pintu lift kini ia diikuti oleh seorang wanita yang seumuran dengannya. Wanita yang di ketahui sebagai sekertaris sekaligus asisten pribadi Alex. Wanita tersebut membawa banyak sekali berkas di tangannya. Berkas yang harus di tandatangani oleh Alex karena sebelum menikah Alex sudah dua hari tak masuk ke kantor. Banyaknya pekerjaan membuat Alex untuk lebih bekerja ekstra agar nanti sore ia bisa menjemput Desi di perusahaan milik sepupunya.
"Maya, apa saja jadwalku hari ini?" Tanya Alex yang sudah duduk di kursi kebesarannya. Ia membaca satu persatu berkas yang dibawa oleh sekertaris pribadinya.
Maya adalah wanita berkebangsaan Amerika. Saat dulu di Amerika, ia sudah bekerja pada Alex empat tahun sebagai sekertaris sekaligus asisten pribadi pria yang saat ini tengah duduk dihadapannya. Apa yang di sukai dan tidak disukai oleh Alex, Maya selalu tau. Maya telah dipanggil oleh Alex untuk menjadi sekertarisnya lagi. Tak ada penolakan dari Maya karena memang Maya sudah cocok dengan pekerjaannya.
Wanita yang diketahui bernama Maya itu saat ini tengah mencari agenda yang ia susun di tablet miliknya. Tablet yang berisi semua jadwal Alex dari pagi hingga Alex pulang dari kantor. Jika diperlukan biasanya Maya juga membuat agenda khusus jadwal Alex untuk malam hari ketika Alex sedang lembur. "Pukul sembilan anda ada rapat dengan Direktur perusahaan A. Untuk jadwal makan siang anda juga harus membicarakan produk pengeluaran terbaru dengan Direktur perusahaan B. Setelah makan siang anda juga harus datang dan memastikan sendiri di bagian produksi tentang perkembangan produk yang sudah anda bahas dua minggu yang lalu. Untuk jam tiga sore..."
"Stop..." Alex mengangkat tangannya agar Maya berhenti membaca jadwalnya. Kini ia menatap wanita yang berpakaian atasan kemeja berwarna putih sedang bawahannya memakai pencil skirt. "Bukankah dua hari yang lalu aku sudah menyuruhmu untuk mencari tau jadwal Desi. Apa kau sudah mendapatkannya?" Tanya Alex yang memang penasaran akan jadwal luar sang istri.
"Sudah Pak," jawab Maya seraya melihat kembali tablet yang ia pegang. Ia juga menuliskan jadwal yang ia cari tau tentang sang istri Direktur utama di tablet tersebut. "Nona Desi akan pulang dari kantor pukul tiga sore. Biasanya nona Desi akan mengantarkan teman wanitanya yang bernama Nadia pulang terlebih dahulu. Setelah itu nona akan pulang ke rumahnya sendiri. Sebelum menikah nona memang sering menghabiskan waktunya di rumah jika malam hari. Nona adalah wanita pekerja keras. Bahkan ia bisa mengumpulkan gaji yang ia terima untuk membeli mobil sendiri dan sebuah apartemen. Tapi..." Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai aktivitas Desi sehari-hari kini Maya menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
"Tapi apa?" Tanya Alex penasaran.
"Tapi sampai saat ini saya masih belum tau dimana apartemen nona Desi, Pak."
Sesaat Alex terdiam. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. "Segera cari tahu dimana apartemennya. Aku tidak mau kalau dia tiba-tiba melarikan diri dan pergi ke apartemennya. Kau mengerti!" Kata Alex memberi perintah.
"Baik Pak..." Jawab Maya seraya menganggukkan kepalanya.
"Satu lagi. Mulai hari ini atur jadwalku sebelum jam tiga sore. Karena mulai sore nanti dan seterusnya aku akan menjemput Desi pulang dari kantor," Alex memberi perintah lagi.
"Baik Pak. Saya akan atur ulang jadwal anda."
"Baik Pak..." Jawab Maya seraya membungkukkan badan. Lalu dirinya melangkah keluar dari ruangan atasannya.
Sesaat Alex menghembuskan nafas pelan. Ia menyandarkan kepalanya di bantalan kursinya. Ia memijat pangkal hidungnya. Setelah menikah dengan Desi sepertinya jadwal hariannya akan semakin sibuk.
*
__ADS_1
Pukul tiga sore tepat adalah waktu untuk karyawan perusahaan Wijaya Group pulang. Desi dan Nadia sudah berada dalam lift yang sama. Sudah kebiasaan mereka untuk pulang bersama menaiki mobil Desi. Namun kali ini mereka sudah sepakat untuk naik taksi.
Keduanya masih berjalan sambil bersenda gurau sampai diluar gedung perusahaan Wijaya Group.
"Desi..."
Suara tersebut berhasil menyita perhatian Desi. Senyum yang dari tadi mengembang di bibirnya seketika hilang saat tau siapa yang telah memanggilnya. "Alex..." Gumam Desi lirih. Ia melihat Alex yang tengah berdiri di samping mobilnya. Ia juga melihat atasannya yakni Farel juga sedang berdiri di sebelah suaminya. Sepertinya dua saudara sepupu itu sedang berbincang-bincang.
"Sepertinya aku harus pulang sendiri..." Kata Nadia sambil berlari pergi meninggalkan Desi.
"Nadia..." Panggil Desi. Namun sepertinya Nadia memang tak berniat berhenti. Ia juga tak mungkin mengejar Nadia saat Alex tengah menunggunya. Perlahan ia berjalan ke arah laki-laki yang sudah berstatus sebagai suaminya. Lalu pandangannya tertuju pada atasannya. "Pak..." Sapa Desi seraya membungkukkan badannya pada Farel selaku atasannya.
Alex tersenyum kecut melihat Desi yang membungkukkan badan pada Farel. "Kau tidak perlu membungkukkan badan padanya. Sekarang kau sudah menjadi istriku. Jadi dia..."
"Aku hanya bersikap hormat pada Pak Farel. Beliau adalah atasanku," kata Desi yang memotong perkataan Alex.
Farel tertawa. "Dia benar. Aku atasannya. Dia begitu karena dia menghormatiku," kata Farel yang tak menghentikan tawanya.
__ADS_1
Alex kesal dengan penuturan Farel. "Sudahlah ayo masuk," kata Alex yang sudah membukakan pintu mobilnya agar Desi bisa masuk. Setelah Desi masuk dalam mobil, perlahan Alex menutupnya. "Sekarang Desi istri gue. Jadi jangan tuntut dia untuk membungkukkan badan di hadapan lu," kata Alex seraya memutari mobilnya untuk bisa masuk dalam kursi kemudi. Sedangkan Farel masih tertawa lepas mendengar penuturan dari Alex.
Bersambung