Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Canggung


__ADS_3

Desi masih mematung di tempatnya berdiri saat Alex makin memeluknya erat. Ia tak mengerti akan sikap Alex yang tiba-tiba saja memeluknya. Badannya terasa sangat kaku ketika ia tak bisa melakukan apa-apa.


Sedangkan Marisa dan para asisten rumah tangga yang berada di dekat Alex dan Desi hanya bisa senyum-senyum sendiri saat mereka melihat Alex yang menghampiri sang istri dan tiba-tiba saja memeluknya.


"Ada apa?" Tanya Desi. Badannya masih kaku tak bisa di gerakkan.


Mendengar pertanyaan dari Desi, Alex tersadar dengan sikapnya. Ia langsung melepaskan pelukannya dari Desi. Ia menatap Desi dan semua mata yang tertuju padanya. Dan tanpa menjawab pertanyaan dari Desi, Alex langsung berlari ke arah tangga.


Marisa tertawa sendiri melihat tingkah lucu putranya. Sedangkan Desi masih tak mengerti kenapa Alex tiba-tiba saja memeluknya.


*


Dua puluh menit kemudian Desi kembali ke kamarnya. Ia membuka pintu dan mendapati Alex sudah memakai kemeja putih dengan setelan celana panjang berwarna hitam.


Desi masuk ke dalam kamar dan langsung mengambil dasi di atas ranjang yang sepertinya Alex sudah menyiapkannya tadi. Desi langsung berjalan ke arah Alex dan memakaikan dasi tersebut di leher Alex.


Tak ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Desi memakaikan dasi tersebut dengan kediaman. Tak ada penolakan dari Alex. Ia hanya sibuk memperhatikan wajah Desi. Selesai memakaikannya, Desi langsung meraih jas warna hitam yang juga terletak di atas ranjang. Lalu memakaikannya pada Alex. Setelah itu ia berjalan ke arah meja rias.


"Kau tidak akan menanyakan perihal pelukanku tadi?" Tanya Alex yang membuat Desi menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Tidak! Aku pikir itu hanya karena kita berada di depan Mamamu," kata Desi yang melanjutkan langkahnya ke meja rias lalu mengambil tas selempangnya. Lalu ia kembali berjalan hingga ke depan Alex. "Sebaiknya kita turun bersama untuk sarapan," tambah Desi lagi lalu ia kembali melangkah keluar kamar.


Sedangkan Alex hanya mematung dengan sikap Desi yang seolah-olah tak terjadi apa-apa tadi malam. Namun Alex akan menjelaskan semua ini dengan kepala dingin. Ia tak mau kembali terbawa emosi seperti tadi malam.


***


Setelah sarapan selesai, kini Alex tengah di sibukkan dengan panggilan telepon dari sekertarisnya. Banyaknya pekerjaan di kantor mengharuskan dirinya untuk segera berangkat ke perusahaan yang kini tengah dikepalai olehnya. Perusahaan ekspor impor yang ia dirikan sendiri saat ini tengah melambung tinggi. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


Sedangkan Desi masih berdiri menunggu sampai Alex berangkat ke kantor. Kini ia menuntut dirinya sendiri agar bisa menjadi istri yang baik bagi keluarga suaminya. Agar ia bisa menepati kesepakatannya dengan Alex dengan menunjukkan sikap baik hatinya. Sesekali ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Selain harus menjadi istri yang baik, saat ini dirinya juga harus menjadi karyawan yang baik. Ia ingin bersikap profesional pada Direktur utama yakni Farel Adiputra Wijaya. Ia tak ingin orang-orang menganggap bahwa dirinya memiliki kesempatan mujur hanya karena saat ini ia menjadi istri dari sepupu atasannya.


Setelah selesai dengan ponselnya. Kini Alex berjalan ke arah Desi yang sepertinya dari tadi tengah menunggunya. "Kau yakin akan bekerja? Apa kau tidak lelah dengan acara kemarin?" Tanya Alex seraya memasukkan ponselnya ke jas miliknya.


"Aku bisa bilang pada Farel..."


"Aku tidak mau orang berpikir kalau aku memanfaatkan kesempatan ini. Memanfaatkan kalau atasanku adalah sepupu laki-lakimu," ujar Desi yang memotong perkataan Alex. Ia memang tak ada niatan untuk libur bekerja terlalu lama. Karena bekerja di kantor membuatnya menghilangkan rasa jenuh jika harus berdiam di rumah.


"Baiklah. Akan ku antar kau ke kantor," kata Alex seraya berjalan menuju mobil miliknya yang sudah terparkir di depan rumahnya.


"Aku bisa berangkat sendiri..." Kata Desi yang tak beranjak dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Alex membalikkan badannya mendengar penuturan dari Desi. "Selama kau menjadi istriku, selama itu pula kau akan ku antar sampai ke kantor. Kau mengerti!" Kata Alex yang kembali berjalan ke arah mobilnya. Ia memang sudah berniat jika akan mengantarkan Desi sampai di depan kantor milik sepupu laki-lakinya jika Desi sudah menjadi istri sahnya.


Sedangkan Desi tak mempunyai alasan lagi untuk menyela. Ia tak mau berdebat lagi dengan Alex. Baginya sudah cukup kejadian semalam membuatnya untuk berhati-hati berbicara dengan Alex. Masalah keadilan yang ia pertanyakan pada Alex semalam benar-benar membuatnya sadar bahwa dirinya yang memang mempunyai ide untuk menikah dengan Alex. Ide yang tiba-tiba muncul begitu saja saat ia bertemu dengan Alex. Ide yang menghentikan kedua orangtuanya untuk melakukan perjodohannya dengan laki-laki lain.


Desi melihat Alex yang sudah duduk di kursi kemudi. Lalu dirinya akhirnya berjalan ke arah mobil Alex sebelah kiri. Salah satu seorang pekerja yang memakai setelan jas membantu Desi untuk memasuki mobil milik majikannya dengan cara membuka pintu mobil.


Setelah melihat Desi yang sudah duduk di dalam mobilnya. Perlahan Alex mulai menjalankan roda empat yang bermerek McLaren 720S berwarna kuning tersebut.


Dalam perjalanan hanya ada keheningan diantara mereka berdua. Sepertinya tak ada yang ingin memulai pembicaraan. Hanya deruan mobil milik Alex yang mereka dengarkan. Mereka sudah meninggalkan rumah sekitar lima belas menit namun mulut mereka seakan terkunci. Hingga satu kata yang berhasil membuat mereka dihinggapinya rasa canggung.


"Maaf..." Kata mereka bersamaan. Kata yang berhasil membuat kedua mata mereka saling bersitatap. Kata yang membuat mereka akhirnya bisa mengembangkan senyumannya masing-masing.


"Maafkan aku karena bersikap keterlaluan tadi malam padamu," kata Alex yang mulai melunturkan kecanggungan ini.


"Maafkan aku juga karena telah menyeretmu ke dalam masalahku. Aku benar-benar minta maaf..." kata Desi yang memang merasa bersalah pada Alex. "Aku harap kau bisa memaafkanku. Aku berjanji tidak akan mengulangi kejadian semalam. Kejadian di kamar mandi yang hampir membuatku kehilangan nyawaku. Sungguh aku minta maaf padamu," kata Desi lagi panjang lebar.


Alex menanggapi perkataan Desi dengan senyuman. "Sudahlah. Aku hanya ingin kau kembali pada sikapmu yang dulu. Sikap tangguh yang kau perlihatkanlah padaku. Jangan jadi pengecut dengan mencoba untuk bunuh diri lagi. Oke!"


"Hem..." Kata Desi seraya menganggukkan kepalanya cepat. Rasanya sesak di dadanya benar-benar hilang saat kata maaf berhasil ia ucapkan pada Alex. Ia benar-benar merasa lega saat Alex juga menerima permintaan maafnya. Saat ini ia akan berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tak akan menjalani jalan pintas lagi dengan melakukan percobaan bunuh diri. Apalagi ia sudah menandatangani surat perjanjian yang menyebutkan jika ia berani melakukan percobaan bunuh diri lagi maka Alex akan membeberkan masalah kesepakatannya pada media. Ia tak mau sampai itu terjadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2