
Desi dan Alex saat ini tengah berjalan menaiki tangga menuju kamar Desi. Setelah tadi lama bercengkrama dengan kedua orangtuanya, kini Desi berniat membersihkan diri setelah rasa penat menghampiri seluruh tubuhnya. Sedangkan Alex hanya mengekor di belakang Desi. "Ini kamarku..." Kata Desi setelah membuka pintu kamarnya yang berada di lantai dua.
Alex masuk. Memperhatikan setiap sudut ruangan di kamar wanita yang sepertinya sangat menyukai warna merah. Tata letak barang di kamar Desi terlihat tak jauh beda dengan tata letak barang di kamarnya. Di tengah kamar ada ranjang dengan ukuran king size. Di kanan dan kiri ranjang juga terdapat dua buah meja nakas yang terbuat dari kayu. Sebelah kiri ranjang ada kamar mandi dan di sebelah kamar mandi ada ruang pakaian. "Bukankah kamarmu terlihat sangat mirip dengan kamarku?" Tanya Alex yang masih meneliti kamar Desi.
"Benarkah?" Desi memperhatikan kamarnya sekali lagi. Ia bahkan tak sadar jika memang kamarnya sama persis dengan kamar Alex. Setelah meneliti beberapa saat kini ia tersadar jika memang kamarnya benar-benar sama dengan kamar Alex. "Wah... Aku bahkan tak sadar jika kamar kita sama."
"Kau bahkan tidak akan percaya kalau kita mempunyai banyak kesamaan," kata Alex yang kemudian dirinya duduk di meja rias milik Desi.
"Benarkah? Apa?" Tanya Desi penasaran. Kini ia duduk di ranjang miliknya. Tepat di hadapan kursi yang di duduki oleh Alex.
"Seperti warna. Kita sama-sama menyukai warna merah," kata Alex yang meneliti berbagai macam alat make-up milik Desi.
"Benarkah? Bukankah kau suka warna biru?" Tanya Desi kemudian. Ia bahkan sudah tau dari warna cat dinding di kamar Alex.
__ADS_1
Alex tertawa. "Dari mana kau tau kalau aku suka warna biru?" Tanya Alex yang kini duduknya menghadap ke arah Desi.
"Dari warna cat dinding kamarmu. Kamar mandi mu juga berwarna biru. Kau tidak bilang pun aku sudah tau," kata Desi menunjukkan bahwa dirinya memang pintar. Seperti bilang kalau dirinya memang sangat jenius.
Alex kembali tertawa. "Kau pikir dengan melihat warna cat dinding kamarku sudah bisa kau pastikan kalau aku menyukai warna biru?" Tanya Alex dengan diselingi tawanya.
Desi terdiam dengan pernyataan Alex. Wajahnya yang dari tadi menampakkan kepintarannya kini malah cemberut. "Apa aku salah?" Tanyanya memastikan.
"Tentu saja kau salah besar," jawab Alex yang menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. Kini pandangannya kembali memperhatikan alat make-up Desi yang ada dia atas meja rias. Tangannya juga sedang memegang satu persatu parfum milik Desi. "Aku mengecat dinding kamarku dengan warna biru itu karena Sandra sangat menyukai warna biru," jelas Alex kemudian. Pandangannya masih saja pada meja rias.
"Benar," kata Alex seraya menatap wajah Desi yang mengekspresikan keterkejutan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. "Aku sangat menyayangi dia," katanya lagi yang melipat kedua tangannya di depan dada. "Apapun yang ia inginkan pasti akan aku lakukan," kata Alex lagi. Ia memang sangat menyayangi Sandra lebih dari apapun.
"Hah..." Desi membuang nafas kasar ke udara. "Ternyata aku salah besar," katanya yang kemudian menidurkan dirinya di atas ranjangnya. "Seandainya aku mempunyai satu saudara saja. Aku pasti akan bahagia. Aku tidak akan lagi kesepian," kata Desi sambil membayangkan dirinya mempunyai seorang saudara dengan menatap langit-langit kamarnya. "Kau tau? Kadang aku sangat iri pada Sandra karena dia mempunyai saudara kandung seperti dirimu," kata Desi yang masih membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Alex terdiam mendengar penuturan dari Desi. Ia memang tak pernah menceritakan yang sebenarnya pada Desi jika dirinya dan Sandra bukanlah saudara kandung. Bahkan hampir tak ada yang tau masalah ini. Hanya keluarga sepupunya saja yakni keluarga Farel lah yang tau masalah ini. Maya, sekertarisnya juga baru tau dua tahun yang lalu mengenai masalah ini. Alex memang sudah menganggap Sandra layaknya saudara kandungnya sendiri. Bahkan apapun yang Sandra minta Alex selalu memberikannya. Seperti halnya warna cat dinding kamarnya. Saking sayangnya ia pada Sandra, bahkan ia rela mengecat dinding kamarnya dengan warna kesukaan Sandra.
Desi terdiam cukup lama menatap langit-langit kamarnya. Sekitar sepuluh menit ia tak mendengar suara dari Alex yang masih duduk di kursi meja riasnya. Sesaat ia duduk, menatap Alex yang sepertinya tengah memikirkan sesuatu. "Sekarang katakan, apalagi kesamaan kita? Bukankah tadi kau bilang kalau kita sama-sama menyukai warna merah. Lalu..."
"Kita sama-sama anak tunggal," kata Alex yang memotong perkataan Desi.
Desi terkejut dengan penuturan Alex. Bibirnya kelu hingga ia tak bisa mengeluarkan satu kata saja dari mulutnya. Penuturan Alex benar-benar membuatnya sangat terkejut. "A-apa mak-maksud mu?" Tanya Desi dengan nada terbata-bata.
Perlahan Alex mengangkat kepalanya, menatap wajah ayu milik Desi. Ia masih terdiam, tak menjawab pertanyaan dari wanita yang kini pasti mempunyai banyak pertanyaan di kepalanya. Ini baru pertama kalinya ia menceritakan perihal Sandra pada seseorang yang baru ia kenal. Biasanya ia akan mencari tau dulu siapa orang yang berhak tau perihal Sandra sebenarnya. Namun entah kenapa tanpa pertimbangan, Alex langsung bilang siapa adik yang sangat ia sayangi sekarang. "Sandra..." Alex menggantungkan kalimatnya. Sepertinya ia masih ragu untuk menceritakan siapa Sandra sebenarnya. "Sandra adalah saudari tiriku," jelas Alex yang memang sudah berniat menjelaskan pada Desi.
Desi menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang menganga tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Alex. Ia bahkan tak menyangka bahwa Sandra bukanlah saudara kandung Alex.
"Kau pasti terkejut bukan?" Tanya Alex. "Dia adalah anak dari ayah kandungku dan selingkuhannya," jelas Alex yang membuat Desi makin merasa tak percaya. Tangannya kembali memainkan parfum Desi yang ada di atas meja rias. Parfum yang sama persis dengan miliknya. Parfum Kiehl Original Musk ini juga adalah salah satu parfum kesukaannya. "Kau sudah bekerja di perusahaan Farel lama. Dan pastinya kau sudah kenal ayahku seperti apa bukan?" Tanya Alex. "Dia bahkan tega ingin menyingkirkan Farel dari perusahaan yang jelas-jelas bukan miliknya," kata Alex lagi yang kini ingatannya kembali melayang pada beberapa tahun silam saat ia dijadikan kambing hitam oleh ayahnya sendiri demi melancarkan aksi sang ayah yang ingin menguasai perusahaan milik ayah Farel. Namun beruntung sekarang sang ayah sudah memasuki sel tahanan. Kini ia bahkan tak ingin mengingat lagi kejadian pahit yang dulu ia rasakan. Alex memejamkan kedua matanya. Menghembuskan nafas beratnya. Dan tanpa terasa air matanya menetes di pipinya. Dan saat itu juga ia merasakan tangan kanannya tengah di pegang oleh seseorang. Alex membuka matanya lalu melihat tangannya yang sudah di pegang oleh Desi. Lalu dirinya menatap wajah Desi penuh makna.
__ADS_1
Desi memberikan sentuhan pada tangan Alex bukanlah tanpa sebab. Ia hanya ingin menyalurkan sisa tenaganya pada Alex yang sepertinya saat ini hatinya sedang sedih. Seperti halnya tadi saat Alex tiba-tiba saja datang dan menjadi pahlawan baginya saat ia sedang ketakutan ketika menonton film di bioskop. Saat ini ia juga ingin melakukan hal yang sama pada Alex, bukan menjadi pahlawan namun ia akan siap memberikan bahunya saat Alex tengah membutuhkan tempat untuk bersandar.
Bersambung