
Setelah bicara dari hati ke hati kini pikiran Desi menjadi lebih ringan. Rasa sesak yang ada di dadanya kini berangsur membaik setelah bertukar pendapat dengan dua sahabatnya yakni Alika dan Nadia. Saat ini ia sudah membereskan meja kerjanya untuk bersiap pulang. Seperti biasa ia sesekali menyapa beberapa karyawan yang juga lembur bersamanya. Ia berjalan memasuki lift. Sembari menunggu pintu lift terbuka, Desi mengeluarkan ponsel miliknya yang ia taruh di dalam tas. Ia mengecek pesan yang tadi pagi ia kirimkan ke Alex. Mungkin dirinya diharuskan bersabar kali ini saat pesan yang ia kirim ke Alex masih dalam keadaan centang satu, itu artinya sampai saat ini nomor ponsel Alex masih belum aktif. Desi menghela nafas pasrah. Ia tak mau berpikir negatif pada pria yang kini sangat ia rindukan, ia masih ingat akan kata-kata Alika padanya.
Setiap hubungan rumah tangga tidak akan selalu mulus. Sedih dan bahagia pasti akan ada di kehidupan semua orang yang sudah menjalani hubungan rumah tangga. Seperti halnya dirimu dan Alex. Berjuanglah... Jika kau memang sangat mencintai Alex, maka berjuanglah untuk selalu berada di sampingnya.
Kata-kata tersebut masih terngiang di benak Desi. Entah dari kapan perasaan di hatinya muncul, saat ia tak bisa bertemu dengan Alex saat itu juga hatinya terasa sakit.
Desi keluar dari lift setelah pintu lift terbuka. Ia berjalan ke arah pintu masuk utama perusahaan Wijaya Group. Seperti biasa di depan gedung tempat dimana ia bekerja, ia bisa melihat mobil Alex terparkir disana. "Alex..." Kata Desi lirih sambil berjalan penuh semangat. Senyum di wajahnya merekah saat melihat mobil Alex namun sesaat itu pula senyum di wajahnya memudar saat ada dua pria yang kemarin menjemputnya sedang keluar dari mobil Alex. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat ia sudah ada di dekat mobil milik suaminya.
"Nona anda baik-baik saja?" Tanya salah satu pengawal yang sudah berdiri di samping Desi. Ia khawatir saat Desi menghentikan langkahnya dan hanya berdiri mematung setelah beberapa menit.
"Aku baik-baik saja," jawab Desi singkat. Kemudian ia berjalan menuju mobil Alex. Masuk ke dalam mobil bagian belakang saat salah satu pengawal tadi telah membuka pintu mobil untuknya.
Mobil dijalankan oleh pengawal bernama Rafi sedangkan di sebelah Rafi duduk seorang pengawal lagi bernama Adi. Keduanya sudah mendapatkan perintah dari Alex untuk mengantar dan menjemput Desi pulang pergi dari kantor selama Alex pergi ke luar negeri. Dua pengawal tersebut adalah orang kepercayaan Alex. Dua pengawal tersebut sudah berjanji pada Alex bahwa akan menjalankan perintah Alex dengan baik.
"Bisakah kalian mengantarkan diriku untuk kembali ke rumah orang tuaku?" Tanya Desi yang tak mengalihkan pandangannya dari kaca jendela mobil. Melihat padatnya jalanan Ibukota meski sudah malam hari.
Rafi dan Adi hanya bisa saling menatap satu sama lain. Tugas mereka hanyalah mengantar dan menjemput Desi. Memastikan bahwa Desi pergi dan pulang selamat saat bekerja. Alex sudah mewanti-wanti dua pengawalnya untuk selalu bekerja dengan benar. Seakan tau ini akan terjadi, Alex juga sudah memberi perintah pada dua pengawal yang betugas menjaga Desi kalau suatu saat Desi minta pulang mereka tidak di perkenankan untuk mengiyakan apa yang Desi minta.
"Maaf nona, tapi tuan muda sudah berpesan jika anda di larang kemanapun selama tuan muda belum pulang dari luar negeri," jawab Adi yang duduk di sebelah kemudi.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Desi sambil mengerutkan keningnya. Tak percaya dengan jawaban yang Adi berikan padanya. Ia bahkan memajukan kepalanya agar mendengar dengan jelas apa yang dikatakan dua pengawal itu padanya. "Aku hanya pulang untuk mengambil mobilku. Setelah itu aku akan pulang ke rumah mertuaku lagi. Aku hanya tidak ingin merepotkan kalian karena sudah mengantar dan menjemputku selama dua hari ini," ujar Desi yang memang berniat tidak ingin merepotkan dua orang di depannya ini.
"Maaf nona. Itu sudah tugas kami. Kami sama sekali tidak merasa direpotkan," kata Adi lagi.
"Hah..." Desi menghembuskan nafas kasar ke udara. "Apa-apaan ini?" Kini ia menyandarkan punggungnya ke bantalan jok mobil dengan kasar juga. "Aku pulang ke rumah orang tuaku sendiri saja tidak boleh. Kenapa dia sangat mengekang ku seperti ini?" Tanyanya sendiri yang memang kesal dengan pernyataan dua pengawal di depannya saat ini.
*
Rafi memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah majikannya. Ia dan Adi turun bersamaan. Berniat akan membukakan pintu mobil untuk istri majikannya yang duduk di belakang kemudi. Namun sesaat mereka di kejutkan oleh Desi yang membuka sendiri pintu mobilnya dan menutup pintu mobil dengan sangat keras. Sebelum melangkah ke dalam rumah, mereka bahkan mendapat satu lirikan tajam dari Desi. Sepertinya istri dari majikan mereka saat ini sedang merasa kesal lantaran tidak di perbolehkan untuk pulang ke rumah orangtuanya.
Adi dan Rafi hanya bisa saling menatap satu sama lain saat istri dari majikannya berjalan ke dalam rumah dengan sesekali menghentakkan kakinya di lantai.
*
Ia mengambil ponselnya yang ia taruh di atas meja nakas. Kembali melihat pesan yang sampai sekarang belum di baca oleh Alex. "Hah sepertinya dia senang sekali disana bersama Maya. Sampai dua hari ini dia bahkan tidak mengaktifkan ponselnya?" Kata Desi sendiri yang memang kesal karena sampai saat ini ponsel Alex masih tidak aktif. "Sebenarnya disana dia bekerja atau jalan-jalan bersama Maya?" Katanya lagi dengan nada geram. Yang tadinya ia sangat merindukan Alex kini ia merasa sangat kesal. Lalu ia mengetikkan pesan lagi pada Alex.
Kenapa aku tidak boleh pulang ke rumah orang tuaku?
Kau bahkan tidak mempunyai hak untuk melarangku pergi kesana.
__ADS_1
Aku hanya ingin mengambil mobilku.
Apa itu salah, ketika aku akan pergi sendiri ke kantor menggunakan mobilku?
Aku hanya tidak ingin merepotkan dua pengawal yang kau perintahkan menjagaku?
Memangnya kenapa aku harus di jaga?
Kau egois!!!
Kau pergi tanpa memberitahuku.
Tapi disini aku terkekang dengan segala perintahmu.
Kau benar-benar egois!!!!!!!!!
Rentetan pesan yang ia tulis sudah ia kirim ke Alex. Meski ponsel Alex masih tidak aktif. Namun ia berharap Alex akan membacanya nanti jika memang akan mengaktifkan ponselnya.
Desi melemparkan ponselnya di atas tempat tidur sembarang. Lalu ia berjalan ke arah sofa dan mengambil laptopnya. Ia harus mengerjakan pekerjaan yang sudah menjadi tugasnya. Ia sudah menyalin data lemburnya pada flashdisk dan akan mengerjakannya di rumah. Besok adalah hari terakhir pengumpulan data perusahaan akhir bulan. Dan ini adalah malam terakhir ia harus menyelesaikan data tersebut. Ia harus menyelesaikannya tepat waktu, meski keadaan rumah tangganya kini sedang tak baik-baik saja.
__ADS_1
Bersambung