
Tiga bulan sudah Alex dan Desi menjalin hubungan rumah tangga sandiwara yang mereka sepakati bersama. Tiga bulan juga hubungan mereka baik-baik saja. Tak ada satu orang pun yang tau tentang pernikahan sandiwara ini. Rupanya Alex dan Desi benar-benar sangat pintar menyembunyikan rahasia besar ini dari keluarga dan teman-teman mereka.
Setiap hari Alex masih mengantar dan menjemput Desi dari kantor. Setiap akhir pekan mereka juga selalu mengunjungi keluarga Desi. Mereka ingin menciptakan keluarga yang bahagia di mata semua orang.
Hubungan Desi dan Sandra sejauh ini juga tak ada kendala apapun. Sikap baik Sandra yang ditujukan pada Desi membuat Alex percaya bahwa adik perempuannya kini sudah bisa menerima Desi sebagai kakak iparnya.
*
Jam menunjukkan pukul tiga sore, waktu bagi karyawan perusahaan Wijaya Group untuk pulang. Seperti biasa Alex menjemput Desi di kantor milik sepupu laki-lakinya. Sejak sepuluh menit yang lalu ia sudah duduk di dalam mobilnya yang terparkir tepat di depan perusahaan Farel. Ia melihat satu persatu karyawan yang mulai keluar dari perusahaan tersebut. Kedua matanya masih memperhatikan dengan teliti para karyawan yang bekerja di perusahaan Wijaya Group. Namun sampai semua karyawan sudah keluar ia ta menemukan sosok wanita yang dari tadi ia nantikan. Perlahan Alex turun dari mobilnya. Berjalan ke arah pintu utama perusahaan milik sepupunya. Di dalam kantor, sudah hampir tak ada orang yang berlalu-lalang. Karena memang karyawan yang bekerja disini sebagian besar sudah pulang. Alex berjalan menuju lift yang akan mengantarkannya ke lantai dimana Desi bekerja.
Setelah beberapa saat lift berhenti di lantai dua puluh delapan. Lantai yang dari dulu selalu menjadi lantai dimana Desi dan teman-temannya bekerja. Alex keluar dari pintu lift. Disini terlihat masih ada beberapa karyawan. Alex menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari wanita yang telah menjadi istrinya yang sah selama tiga bulan ini. "Permisi..." Alex menghentikan karyawan perempuan yang sedang lewat di depannya. "Kau tau dimana meja kerja Desi?" Tanya Alex.
"Meja kerja Desi ada di sebelah sana," jawab karyawati yang bekerja di lantai yang sama dengan Desi. Jari telunjuknya menunjukkan dimana saat ini Desi tengah bekerja.
"Terimakasih..." Ucap Alex seraya berjalan ke arah dimana tadi salah satu karyawati menunjukkan meja kerja sang istri. Alex melangkah perlahan menuju dimana Desi bekerja. Benar saja, sang istri memang benar belum keluar. Disana Alex melihat Desi yang masih fokus dengan komputer di depannya. Tak ada orang lain disana, temannya Nadia juga tak terlihat disana. Dengan langkah mengendap-endap ia menghampiri Desi dari belakang. Ia melihat apa yang dikerjakan Desi sebagai karyawan di kantor sepupunya. "Kau masih lama?"
__ADS_1
Desi terkejut dengan suara yang terdengar dari belakangnya. Ia menghentikan pekerjaannya dan langsung berbalik menghadap ke belakang. "Alex..." Kemunculan Alex yang tiba-tiba saja ada di belakangnya juga membuatnya makin terkejut.
Alex tersenyum. Lalu ia duduk di meja, di sebelah komputer. Menatap wajah Desi yang masih terlihat segar di matanya meski Desi sudah bekerja seharian. "Kau masih lama?" Tanyanya lagi untuk yang kedua kalinya. Kini matanya juga tertuju pada komputer yang tengah dikerjakan oleh Desi.
"Maaf... Sepertinya aku..."
"Jangan bilang kau akan lembur!" Kata Alex memotong perkataan Desi. Kini dirinya berdiri di sebelah Desi. "Kau bahkan sudah bekerja seharian. Kenapa sekarang harus lembur?"
"Tapi ini sudah menjadi pekerjaan ku." Jawab Desi yang masih duduk di kursi kerjanya. Ia memang harus menyelesaikan pekerjaan ini karena tiga hari lagi sudah waktunya deadline akhir bulan.
"Tidak bisa!" Kata Alex memberi keputusan. "Kau ini sekarang istri ku. Seharusnya kau tidak bekerja seperti ini, tapi kenapa..."
Alex menahan geram saat melihat Desi akan bekerja lembur. "Aku akan meminta ijin pada Farel agar kau tidak diharuskan lembur seperti ini."
Desi menghentikan jemarinya yang dari tadi menari di atas keyboard komputer. Entah kenapa kini ia juga terlihat geram saat Alex mengatakan hal itu padanya. Perlahan ia melihat ke arah Alex yang masih berdiri di sebelahnya. "Apa kau pikir karena kau sepupu atasanku, kau bisa seenaknya seperti ini?" t
__ADS_1
Tanya Desi yang sesaat memberikan tatapan tajamnya pada Alex. "Aku hanya ingin bersikap profesional dalam bekerja. Jika memang pekerjaan itu mengharuskan aku lembur, maka aku akan lembur." Jelas Desi yang sesaat menghembuskan nafas panjang saat ia harus berseteru dengan Alex. Beruntung sebagian besar karyawan sudah pulang jadi ia tak perlu khawatir ada yang mendengar pembicaraannya dengan Alex. Sesaat ia memijat keningnya pelan. "Sudahlah..." Ia kembali memfokuskan dirinya pada komputer yang berada di atas meja kerjanya. "Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini. Lebih baik kau pulang duluan."
Alex hanya terdiam mendapatkan pernyataan sekaligus kata-kata yang membuat dirinya tak bisa menjawab dengan kalimat apapun. Perlahan ia berjalan mundur. Entah kenapa kata-kata Desi yang baru ia dengarkan membuat hatinya sakit. Ia memang tak mempunyai hak melarang Desi untuk bekerja. Namun jika melihat Desi lembur seperti ini membuatnya tak tega. Ia takut Desi akan sakit jika harus lembur seperti ini. Seharusnya istri seorang Direktur utama di perusahaan ekspor impor tak harus bekerja seperti ini. Namun penuturan Desi membuatnya sadar bahwa ia tak mempunyai hak penuh atas diri Desi. Ia hanyalah suami sandiwara yang harus mendampingi Desi selama perjanjian mereka berakhir.
*
Desi melihat jam dinding di kantornya. Waktu menunjukkan sudah pukul tujuh malam. Pekerjaannya masih banyak. Ia memang adalah salah satu karyawan yang harus mengerjakan pembukuan di akhir bulan. Dua bulan yang lalu ia bisa mengatur waktu untuk tak lembur di kantor meski ia harus mengerjakan pembukuan perusahaan namun sepertinya bulan ini berbeda, ia harus lembur menyelesaikan pembukuan ini sebelum deadline berakhir tiga hari lagi.
Desi mengangkat kedua tangannya ke atas. Meregangkan otot-otot tubuhnya. Memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri agar rasa lelah di lehernya bisa teratasi. Ia tak mungkin menyelesaikan pekerjaannya. Sampai lembur tengah malam nanti pun, pekerjaannya pasti tidak akan selesai. Ia menyimpan semua data yang ia kerjakan, setelahnya mematikan komputer. Ia sudah berencana untuk pulang. Mengambil tasnya yang ada di atas meja lalu berjalan ke arah lift. Ada dua hingga tiga karyawan yang juga sedang lembur namun ruangan mereka berbeda. Sebelum memasuki lift, Desi menyapa beberapa karyawan yang sepertinya juga akan pulang.
Desi keluar dari lift setelah lift membuka pintunya tepat di lantai satu. Terlihat ada dua satpam yang sedang berpatroli di lobby kantor. Ia juga melihat beberapa karyawan di meja resepsionis yang sepertinya juga bersiap untuk pulang.
Hari ini ia memutuskan untuk naik taksi. Ia tak mungkin menghubungi Alex untuk menjemputnya. Perseteruannya dengan Alex tadi sudah membuat kepalanya terasa sedikit berat. Desi keluar dari pintu utama perusahaan milik suami temannya. Ia melihat ada mobil Alex yang masih terparkir di depan perusahaan Wijaya Group. Sesaat senyum di bibirnya mengembang ketika ia tau bahwa Alex sedang menunggunya. Ia berjalan ke arah mobil milik suaminya seraya tersenyum penuh makna. Namun sesaat senyum di wajahnya memudar ketika bukan Alex yang keluar dari mobil tersebut. Ada dua pria yang menggunakan setelan jas keluar dari mobil milik suaminya. Desi tau betul, mereka adalah orang yang bekerja di rumah Alex sebagai pengawal. Dua orang yang memiliki badan kekar itu tengah menunggu Desi di dekat mobil majikannya. "Kalian..." Desi menggantungkan kalimatnya. "Dimana Alex?" Tanyanya kemudian.
"Tuan menyuruh kami untuk menjemput anda nona. Saat ini tuan muda sedang melakukan perjalanan ke luar negeri untuk urusan bisnisnya," kata salah satu pengawal.
__ADS_1
Bagai tersambar petir di siang bolong. Kini wajah Desi sudah pias. Kedua matanya seketika berkaca-kaca. Ia tak pernah merasa seperti ini. Alex pergi ke luar negeri tanpa berpamitan padanya. Rasa sesak langsung menghampiri hatinya. Sakit... Sangat sakit... Entah kenapa saat ini ia merasa tak di anggap oleh Alex sebagai istrinya.
Bersambung