
Desi memakaikan dasi di kemeja Alex. Sambil sesekali ia melihat Alex yang sedang mengarahkan pandangannya keluar jendela kamar. "Kau sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Desi penasaran. Ia teringat akan hal semalam saat Alex sedang menangis di kamar Sandra.
"Tidak ada," jawab Alex tanpa mengalihkan pandangannya keluar jendela. Menyembunyikan air matanya yang hampir jatuh.
Desi sedikit kecewa saat Alex tak berkata jujur padanya. Ia hanya bisa menahan nafasnya saat sang suami bahkan tak bisa berbagi cerita padanya. Bukan maksudnya untuk mencampuri urusan keluarga sang suami namun sebagai istri yang baik ia ingin membantu Alex jika memang Alex sedang dalam masalah. Desi merapikan lagi dasi yang ia pasang di kemeja suaminya. "Sudah selesai," katanya sambil melangkah pergi. Namun langkahnya terhenti saat Alex memeluknya dari belakang. Pelukan yang Alex berikan benar-benar membuatnya mematung di tempatnya berdiri. Pelukan yang semakin erat membuatnya juga merasakan ada yang Alex pendam di hatinya. "Sebenarnya ada apa?" Tanyanya yang memegang tangan Alex yang melingkar di atas dadanya.
"Sebentar saja..." Kata Alex yang semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri. Ia bahkan tak bisa bercerita tentang apa yang terjadi pada Sandra dan dirinya. Karena ia takut jika Desi akan terkejut. Ia hanya mengkhawatirkan keadaan Desi yang baru sembuh. Apalagi ia harus juga menjaga kesehatan sang istri yang kini tengah mengandung calon buah hatinya. Ia tak akan membebani pikiran sang istri dengan cerita yang rasanya sudah menyesakkan dadanya. "Kedepannya... Apapun yang akan terjadi, aku mohon maafkan diriku."
Kata-kata Alex membuatnya semakin bingung dengan apa yang terjadi di keluarga ini. Suaminya yang bahkan tak berniat menceritakan apa yang terjadi. Ibu mertuanya yang sedang tak enak badan. Jalan satu-satunya adalah ia harus bertanya pada penghuni rumah ini. Namun disini ia hanya mengenal Bu Dina, Adi dan Rafi. Selebihnya ia bahkan tak mengenal siapapun. Karena selama ia menjadi istri Alex, ia tak pernah berbicara dengan siapapun. Di pagi hari ia harus berangkat bekerja. Sore hari setelah pulang bekerja ia lebih menghabiskan waktunya di dalam kamar. Sama seperti saat ia belum menikah dengan Alex. Dulu ia memang jarang keluar rumah. Bahkan ia memilih untuk berdiam diri di rumah saat orang tuanya mengajaknya untuk pergi keluar. Itu sebabnya Desi bahkan tak dikenal oleh semua orang akan statusnya yang menjadi putri dari keluarga Darmawan.
Alex perlahan meregangkan pelukannya. Memberikan kecupan hangat di kepala istrinya. Ia menghembuskan nafas panjang saat dirinya merasa lega telah memeluk Desi. Ia butuh kekuatan yang mendorongnya agar tak lemah seperti ini.
Desi membalikkan badannya. Menghadap Alex yang kini juga tengah menatapnya. Mengusap pelan dada sang suami dengan kedua telapak tangannya. "Kau ada masalah?"
Alex menggigit bibir bawahnya saat ia tak bisa menjawab pertanyaan dari Desi. "Kau baru sembuh. Kau juga sedang hamil," katanya seraya mengelus perut sang istri yang masih rata. "Aku tak mau membenanimu dengan semua yang aku ceritakan," jawab Alex yang sesekali mengembuskan napas pelan. "Berikan aku waktu. Jika saatnya tiba aku akan ceritakan semuanya padamu."
Desi menanggapi penuturan Alex dengan sebuah senyuman. Ia tak akan memaksakan Alex bercerita. Semuanya memang butuh waktu. Ia akan menunggu sampai Alex mengatakan yang sebenarnya padanya.
*
__ADS_1
Setelah kepergian Alex, Desi masuk ke dalam kamar ibu mertuanya. Ia memberikan vitamin pada sang mertua. Berharap dengan vitamin tersebut sang mertua bisa sehat kembali. Setelahnya ia keluar dari kamar ibu mertuanya ketika ia sudah memastikan kalau sang mertua sudah istirahat dengan baik.
Desi berjalan menuju dapur. Disana ia melihat Bu Dina dan dua asisten rumah tangga yang masih berkutat di dapur setelah sarapan baru setengah jam yang lalu selesai. Duduk di meja dapur sambil memperhatikan ketiga wanita yang seakan risih akan kemunculannya yang tiba-tiba di meja dapur. Ia dapat melihat saat dua asisten rumah tangga yang berumur sekitar tiga puluh tahun itu sedang mencuri pandang padanya.
"Ada yang anda perlukan nona?" tanya Bu Dina yang berdiri di depan menantu keluarga Wijaya.
"Aku mau menanyakan sesuatu pada Bu Dina."
"Tanya tentang apa nona?"
"Selama aku di rumah sakit. Apa di rumah ini..."
"Hah..." Desi mengembuskan nafasnya kasar. Ia tak percaya dengan perkataan Bu Dina. Ia bahkan belum selesai menanyakan sesuatu yang ingin ia tanyakan. Sepertinya keluarga mertuanya memang benar-benar ada masalah. Sehingga ia tak bisa mendapatkan jawaban yang ia inginkan. "Sudahlah. Aku mau ke depan saja," kata Desi seraya bangkit dari duduknya dan berjalan keluar rumah.
Desi berjalan ke arah taman depan. Disana ia bisa melihat beberapa pengawal yang menjaga ketat rumah suaminya.
Aku bahkan belum bertanya pada Alex. Kenapa dia memperkerjakan banyak orang di rumahnya?
Batin Desi. Kemudian ia berjalan menyusuri taman samping. Disana ia bisa melihat dua pekerja laki-laki yang tengah membersihkan taman. Ia mendekati dua pekerja tersebut. "Selamat pagi pak..." Sapa Desi setelah berdiri di belakang dua pekerja tersebut.
__ADS_1
Sedangkan dua pekerja laki-laki itu terkejut saat mereka berbalik dan melihat istri dari majikannya tengah berdiri di belakangnya. "Nona..." Menjawab sapaan Desi sambil membungkukkan badan.
"Kalian tidak usah seperti itu," kata Desi sambil mengibaskan tangannya. Melarang dua pekerja laki-laki tersebut agar tidak membungkukkan badan padanya.
Sedangkan dua laki-laki pekerja tersebut hanya bisa saling menatap satu sama lain saat mereka tak menyadari akan kedatangan istri dari majikannya.
"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Desi yang di tanggapi anggukan kepala keras oleh dua orang pekerja taman tersebut.
"Kalian tau apa yang terjadi dengan keluarga ini?" Tanya Desi yang sedang mencari tau apa yang terjadi dengan keluarga mertuanya.
Kedua pekerja laki-laki itu hanya bisa menatap satu sama lain. Pasalnya kemarin mereka sudah dikumpulkan untuk tak mengatakan yang sebenarnya pada Desi.
"Kalian..."
"Apa anda memerlukan sesuatu nona?" Tanya Adi yang tiba-tiba datang dari belakang Desi. Dibelakangnya ia juga diikuti oleh Rafi.
Desi terkejut dengan kedatangan Adi dan Rafi yang tiba-tiba di belakangnya. Dan membuatnya langsung menghadap ke belakang. Apa mereka sedang mengikutiku? Batin Desi yang merasakan ada yang aneh saat ia mencoba mencari tau apa yang telah terjadi dalam keluarga suaminya. Namun penasaran tetaplah penasaran. Jika ia tak bisa mencari tau hari ini maka ia akan mencari tau lain waktu.
Bersambung
__ADS_1