Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Kelelahan


__ADS_3

Desi hanya mematung saat melihat Alex yang marah padanya. Matanya sudah berkaca-kaca lantaran bentakan Alex kembali melengking di telinganya.


Sedangkan Alex berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Desi yang masih berdiri. Ia menutup pintu kamarnya dengan sedikit keras. Melampiaskan kemarahannya pada pintu tersebut. Perlahan ia menyandarkan tubuhnya di pintu. Memejamkan kedua matanya. Mengatur nafasnya agar rasa sesak tak terlalu menghimpit dadanya. Ia benar-benar mengeluarkan semuanya unek-uneknya pada Desi malam ini. Ia tak percaya bahwa jika terlambat sedikit saja maka ia akan kehilangan Desi.


Alex perlahan menuruni tangga. Langkah gontainya sudah menunjukkan kalau dirinya tengah kehabisan tenaga menghadapi Desi. Ia masih saja melangkah menuju arah dapur. Mengambil sebuah panci lalu memasukkan air dan merebusnya. Sebelum tidur ia sudah terbiasa meminum susu hangat buatan sang ibu. Namun sepertinya sang ibu terlalu lelah untuk membuatkan Alex minuman itu sebelum tidur.


Sembari menunggu air mendidih Alex kembali mengingat perkataan Desi tentang keadilan. "Kurang adil apa aku pada dirimu sehingga kau membicarakan tentang keadilan?" Gumam Alex pelan. Ia masih tak percaya kalau dirinya menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kalau Desi hampir mati.


"Alex..."


Panggilan sang ibu berhasil mengejutkan Alex yang berdiri di depan kompor. "Mama..."


"Kamu melamun ya?" Tanya Marisa yang sudah duduk di kursi dapur.


Alex menanggapi pertanyaan ibunya dengan senyuman. Lalu perlahan ia menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu gak melamun kenapa dari tadi kami biarin airnya mendidih?" Tanya Marisa sambil menunjuk air yang mendidih di panci tersebut.


Alex langsung mematikan kompor. "Maaf..." Katanya kemudian. Ia langsung menuangkan airnya ke gelas yang tadinya sudah ia berikan susu lalu mengaduknya.

__ADS_1


"Kamu ada masalah?" Tanya Marisa yang memperhatikan wajah putra satu-satunya sedang menunjukkan kekesalan.


"Tidak ada..." Jawab Alex sambil menggelengkan kepalanya cepat. "Aku baik-baik saja. Aku hanya lelah..." Tambahnya lagi sambil meminum susu buatannya sendiri. Ia mencoba menutupi kegugupannya menjawab pertanyaan dari sang ibu. Ia tak mau ibunya sampai tau bagaimana keadaannya dengan Desi sekarang.


"Lelah?"


"Hem..." Jawab Alex seraya menganggukkan kepalanya. "Desi membuatku kelelahan..." jawabnya lagi sambil menghembuskan nafasnya pelan.


"Kelelahan karena Desi?" Tanya Marisa antusias. Bibirnya sudah menunjukkan senyum sejuta wattnya. Lelah yang menurutnya Alex telah berhasil membuat Desi tak memiliki keperawanan lagi.


Alex menatap sang ibu yang dari tadi menunjukkan senyum malu-malunya. Keningnya sudah mengerut tak mengerti apa yang sudah dipikirkan sang ibu. "Mama kenapa?" Tanyanya penasaran.


Alex hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap punggung sang ibu yang telah menghilang di balik dinding. Ia kembali meminum susu hangat yang ia buat sendiri sampai habis. Setelah itu ia cuci gelas yang tadinya ia pakai dan menaruhnya di rak. Membersihkan tangannya dengan kain lap yang tersedia di meja dapur. Kemudian ia berjalan ke arah tangga. Menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya. Ia buka perlahan pintu lalu masuk ke dalam kamarnya. Di tempat tidur ia melihat Desi yang sudah terlelap. Perlahan ia berjalan mendekati Desi. Menatap matanya yang sembab. "Pasti dia menangis..." Gumamnya lirih. Matanya tertuju pada selimut yang menutupi tubuh Desi sampai kaki. Lalu ia menarik selimut tersebut sampai batas dada wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Wanita yang di haruskan sekamar dengannya. Ia merapikan rambut Desi yang menutupi wajahnya. Sesaat ia masih memperhatikan wajah ayu Desi, yang sepertinya sudah kelelahan akan kejadian tadi saat ia tak sadarkan diri di kamar mandi.


Sudah sekitar sepuluh menit Alex masih berdiri memperhatikan Desi yang sudah pasti sedang bermimpi. Entah kenapa wajah Desi membuat dirinya seakan tak bisa puas untuk menatapnya. Namun tatapan matanya sesaat buyar ketika Desi sedang menggeliat pelan. Ia menghembuskan nafasnya pelan. Lalu mengambil satu bantal di sebelah Desi kemudian berjalan ke arah sofa. Menata bantal tersebut, kemudian tidur di sofa. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah dua malam. Lalu dirinya meraih buku di atas meja kemudian membacanya.


***


Desi mengerjapkan beberapa kali matanya saat hawa dingin menusuk kulitnya. Ia menguap pelan sambil meregangkan kedua tangannya lalu ia duduk. Matanya langsung tertuju pada sofa panjang yang tengah ditiduri oleh Alex.

__ADS_1


Perlahan ia turun dari ranjang hingga tak mengeluarkan suara. Selangkah demi selangkah ia berjalan ke arah Alex. Ia melihat Alex yang tengah tidur sambil kedua tangannya bersedekap. Di atas dadanya terdapat sebuah buku yang sepertinya sudah Alex baca.


Lalu Desi berjalan ke arah kamar mandi. Ia menghabiskan hampir setengah jam di kamar mandi. Kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian lengkap kerjanya. Ia memakai blouse dan memadukannya dengan skinny pants. Ia masih mendapati Alex masih tertidur lelap. Lalu ia merias wajahnya dengan make up senatural mungkin.


Ia memang tak berniat untuk membangunkan Alex karena ia takut jika ia akan mengganggu tidur Alex. Tanpa menoleh ke arah Alex, Desi keluar dari kamar yang kini juga sudah menjadi kamarnya.


***


Alex menggeliat. Ia mengerjapkan matanya. Melihat seisi kamarnya. Lalu kini matanya tertuju di ranjang yang biasa ia tiduri. Kosong. Alex langsung berdiri. Ia bingung saat tak mendapati Desi tak ada di kamarnya. Ia langsung berlari ke arah kamar mandi. Ia ketuk perlahan kamar mandi dan di selingi panggilannya pada Desi namun tak ada jawaban. Sesaat ia buka pintu kamar mandi. Kosong. Tak ada Desi di dalam kamar mandi.


Lalu Alex berlari keluar kamar. Ia menuruni anak tangga dengan berlari. Ia panik saat tak bisa menemukan Desi di kamarnya. Ia takut jika Desi melakukan hal seperti tadi malam. Ia langsung keluar rumah. Matanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesosok wanita yang tanpa ia sadari sudah terselip di dalam hatinya.


"Dimana Desi?" Tanya Alex pada semua asisten rumah tangganya yang sedang melakukan pekerjaannya di taman depan. Namun semua asisten rumah tangga hanya bisa menatap satu sama lain. Mereka memang tak mengetahui dimana saat ini istri dari majikannya berada. Karena tak mendapat jawaban dari semua asisten rumah tangga akhirnya Alex kembali berlari ke dalam rumah. "Dimana Desi?" Teriak Alex. Mencari sang istri sampai kebelakang. Ia makin frustasi saat tak ada yang menjawab pertanyaannya.


"Ada apa?"


Dua kata tersebut berhasil membuat Alex menghadap ke arah suara. Ia sangat mengenal suara itu. Suara yang sudah mengisi harinya kurang lebih enam hari. Ia melihat Desi yang berdiri di samping sang ibu yang tengah berada di dapur. Tanpa aba-aba ia langsung berlari ke arah Desi dan memeluknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2