
Alex memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang sepi dari kendaraan. Ia sudah sampai di tempat tujuan. Alamat yang tadi dikirim oleh nomer yang tak ia kenal. Dari dalam mobilnya ia bisa melihat ada satu bangunan tua. Di depan bangunan tua itu ada dua mobil yang terparkir disana. Satu mobil berwarna putih dan satu lagi mobil berwarna hitam.
Alex menatap wajahnya di kaca spion tengah. Lalu kini pandangannya mengarah pada bangku mobil disebelahnya. Disana ada sebuah berkas yang diminta oleh si pengirim pesan. Berkas yang berisi semua saham perusahaannya yang akan berpindah tangan pada sang ayah. Ia akan melakukan apapun asalkan ia bisa menyelamatkan Desi. Saat ini yang ia pikirkan adalah membawa Desi hidup-hidup tanpa ada pertumpahan darah setetes pun.
Tangan kanannya membuka saku jas sebelah kanannya yang tadi ia selipkan sebuah senjata api. Memindahkan senjata api tersebut ke bagian kakinya. Menyelipkan di bagian kaos kakinya. Setelah semuanya dirasanya sudah lengkap. Kini ia mengambil berkas yang tadi sudah Maya siapkan sebelumnya. Alex keluar dari mobil. Berjalan perlahan ke arah bangunan yang terlihat sepi. Dari kejauhan ia bisa melihat sebuah pintu. Sebelumnya ia sempat melirik dua mobil yang terparkir di depan bangunan tua tersebut. Sepertinya dua mobil itu tengah kosong. Alex melanjutkan langkah kakinya ke arah pintu. Perlahan ia mendorong pintu tersebut sampai terbuka lebar. Kedua matanya membulat sempurna saat ia melihat sang istri yang tengah terikat di sebuah kursi kayu dengan keadaan mulutnya yang tertutup rapat oleh lakban. "Desi..." Teriaknya seraya berlari ke arah Desi. Memeluk sang istri yang wajahnya sudah terlihat pucat. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya yang semakin mengeratkan pelukannya. Sedangkan kini perhatiannya mengarah pada Desi yang sepertinya tengah menggelengkan kepalanya beberapa kali. Mulut istrinya yang di bekap membuatnya ia kesulitan memahami apa yang di katakan oleh istrinya.
Buru-buru Alex melepaskan pelukannya. Lalu melepaskan lakban yang menutupi mulut istrinya.
"Kenapa kau kemari? Cepat pergi dari sini," perintah Desi yang membuat Alex tak mengerti apa yang dibicarakannya. "Alex cepat pergi dari sini. Disini berbahaya," perintahnya untuk yang kedua kali. Tatapan matanya sudah memohon pada sang suami untuk segera pergi dari tempat ini.
"Aku hanya akan pergi dari sini bersamamu," kata Alex penuh kepastian. Ia mengusap seluruh wajah Desi yang memucat. Meyakinkan sang istri bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. "Tenanglah. Aku sudah disini. Kita akan segera pergi dari sini," katanya lagi yang berusaha melepaskan ikatan di tangan sang istri. Namun sesaat kegiatannya terhenti saat ada suara tawa seorang laki-laki di ruangan tersebut. Alex mencari asal suara. Dari sebelah kanan ia bisa melihat ada segerombolan orang yang datang entah dari mana. Ia bahkan belum selesai melepas ikatan tali di tangan istrinya. Alex berdiri melihat tajam beberapa orang laki-laki yang saat ini melangkah ke arahnya. Mencoba menahan geram saat ia mengenali siapa orang yang berdiri di barisan paling depan. Dia adalah orang yang telah berpisah bersama ibunya tepatnya dua puluh tahun yang lalu. Ia melirik berkas yang tadi ia bawa, yang sekarang berkas itu ada di tanah. Alex mengambil berkas itu. "Papa menginginkan ini?" Tanyanya sambil memegang berkas itu di udara.
Tawa Hendra kembali menggema di seluruh ruangan. "Kau benar-benar memberikan apa yang ku minta ya?"
"Apapun. Asal Papa melepaskan Desi." Kata Alex seraya melemparkan berkas yang tadi ia pegang di hadapan sang ayah. Berkas itu jatuh di tanah.
__ADS_1
Hendra kembali tertawa. Ia memungut berkas tersebut yang jatuh tepat di bawah kakinya. Membuka selembar demi selembar berkas tersebut. Menganggukkan kepalanya saat ia memahami isi dari berkas tersebut. Ya benar, semua berkas itu adalah semua saham perusahaan Alex. "Kau memberiku secara cuma-cuma perusahaan ini padaku?" Tanyanya setelah menutup berkas itu.
"Tentu saja. Apa semua itu kurang?" Tanyanya yang masih berdiri di samping Desi. "Aku bisa menambahkan semua aset yang aku miliki, jika memang Papa menginginkannya. Tapi aku minta satu hal. Biarkan Desi keluar dari sini dulu." Saat ini ia harus memutar otaknya. Mencoba mengulur waktu. Membaca semua pergerakan di ruangan tersebut. "Ada sepuluh orang." Batinnya yang menghitung laki-laki yang berdiri di sekitar ayahnya.
"Kau yakin akan memberikan semuanya padaku?"
"Tentu saja."
"Baiklah." Kini wajah Hendra menampakkan kegarangannya. "Tangkap dia," suruhnya pada beberapa orang yang berdiri di sekitarnya.
"Akan apa?" Tanya Hendra seraya berjalan melangkah ke arah Alex. "Jika kau berani memberontak maka aku tidak akan segan-segan melakukan hal gila padanya," kata Hendra seraya menarik rambut Desi.
"Papa..." Teriak Alex saat mendengar jeritan dari bibir kecil istrinya. "Jika Papa berani melukainya sedikit saja. Maka aku tidak akan memaafkan Papa kali ini." Kata Alex dengan nada geram.
Suara tawa Hendra kembali melengking di telinganya. "Tangkap dia." Perintahnya sekali lagi pada empat pria di sekitar putra satu-satunya. Dan tanpa di suruh untuk yang kesekian kalinya, empat pria itu langsung memegang tangan Alex. Mencoba menahan meski Alex memberontak. "Ternyata kau sangat mencintainya?" Hendra melepaskan pegangan tangannya dari rambut Desi. Kini tangannya berpindah mengelus pipi Desi.
__ADS_1
"Hentikan!" Alex sudah marah. Memberontak pun sepertinya akan percuma. Ia sudah kalah jumlah dengan para pria berbadan kekar yang saat ini sudah memeganginya.
Hendra kembali tertawa. "Kenapa kau sangat marah sekali? Padahal aku hanya menyampaikan rasa iba ku pada menantu perempuan ku."
Alex meludah ke sembarang tempat. "Kau bahkan tidak pantas di panggil sebagai ayah mertua." Menjeda kalimatnya sebentar. "Kau monster. Kau benar-benar seorang monster."
Perkataan Alex membuat Hendra geram. Ia melangkahkan kakinya mendekati Alex. Menampar keras pipi Alex bagian kiri. "Kau bahkan tak basa-basi menanyakan bagaimana kabarku sewaktu aku di penjara."
Kini Alex yang tertawa mendengar penuturan dari Hendra. Perlahan ia menatap wajah ayahnya yang masih berdiri di hadapannya. "Apa itu perlu aku lakukan? Sepertinya Papa kelihatan sehat-sehat saja," katanya lagi yang menelisik seluruh anggota tubuh ayahnya dari atas sampai bawah. "Satu kebodohanmu. Kenapa aku sampai percaya bahwa Papa sedang gila saat itu," tambahnya lagi dengan nada geram.
Hendra kembali tertawa. "Maaf. Tapi semua itu aku lakukan karena suruhan dari seseorang."
Jelas Hendra yang membuat kening Alex berkerut. Dan dari belakang Hendra muncul seseorang yang sangat Alex kenal. Seseorang yang bekerja di rumahnya sebagai kepala asisten rumah tangganya.
"Bu Dina..." Kata Alex dan Desi bersamaan. Mereka berdua bahkan tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat wanita paruh baya itu muncul dari belakang Hendra dengan senyum liciknya.
__ADS_1
Bersambung