
Desi mengerjapkan matanya beberapa kali. Menilik dimana saat ini ia berada. Ia melihat atap berwarna putih. Bukan warna atap seperti di kamarnya maupun di kamar suaminya. Ia mengedarkan pandangannya ke arah ruangan sebelah kanan. Melihat ada infus yang menggantung di sebelah kanan tempat tidurnya. Ia memperhatikan selang infus yang terhubung di pergelangan tangan kanannya. "Apa aku si rumah sakit?" Batinnya yang memang belum sepenuhnya sadar. Ia diam beberapa menit. Kembali mengingat apa yang terjadi padanya sebelum ia berada di tempat ini. Sesaat ia membelalakkan kedua matanya ketika ingatannya kembali pada saat ia terjatuh di balkon kamarnya. Segera ia bangun dari tidurnya dan meraba perutnya. "Bayiku..."
"Sayang..."
Panggilan tersebut membuat Desi menoleh ke asal suara. Suara yang ia tangkap dari sebelah kirinya. "Sayang..." Ia melihat Alex yang berdiri di samping kirinya. Kedua matanya bahkan tak berkedip sama sekali saat Alex sudah ada disini, bersamanya. "Kau...?"
"Kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Alex yang memotong perkataan sang istri. Ia sudah panik saat Desi tiba-tiba saja berteriak seraya duduk. Meraba kening Desi yang terbalut perban, kemudian beralih ke perut sang istri. "Ada yang sakit?" Tanya Alex lagi saat Desi masih tak menjawab pertanyaannya.
Pandangan Desi mengarah ke tangan Alex yang saat ini mengelus perutnya. Perut yang masih membuncit membuat Desi bisa bernafas lega. Pasalnya ia sangat ketakutan tadi ketika teringat akan pingsan yang ia alami terakhir kali di balkon kamarnya.
"Ada yang sakit?" Tanya Alex untuk yang ketiga kalinya.
Desi menggelengkan kepalanya pelan. "Aku hanya takut bayiku..." Desi menggantungkan kalimatnya ketika ia memang sangat ketakutan kehilangan bayinya. Desi menghembuskan nafas berat. Mencoba menetralkan nafasnya yang tadi sempat terengah-engah.
Alex menumpuk bantal di belakang punggung sang istri. Menyenderkan sang istri ke tumpukan bantal tersebut agar bisa tenang. Setelahnya ia duduk di kursi yang tadi ia duduki. Membawa telapak tangan kiri Desi ke dalam genggamannya. "Kau baik-baik saja?"
"Kapan kau pulang? Kenapa tiba-tiba ada disini? Apa aku sedang bermimpi?" Berbagai pertanyaan muncul dari mulut Desi. Ia bahkan tak menjawab pertanyaan dari Alex. Saking terkejutnya ketika ia melihat sosok laki-laki yang selama ini ia rindukan tiba-tiba saja ada di sampingnya.
"Aku tiba kemarin sore."
Jawaban Alex membuat Desi mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu, kau tiba kemarin sore?" Tanya Desi memastikan bahwa pendengarannya tak bermasalah. Karena jika memang suaminya tiba kemarin sore, kenapa ia tidak tau sama sekali.
__ADS_1
"Kau pingsan selama sehari dua malam," jelas Alex yang membuat Desi terkejut bukan main.
"Apa? Kau... Aku..." Nada suara Desi sudah terbata-bata saat mendengar penjelasan dari Alex.
"Sayang..." Alex mencoba menenangkan wanita yang sudah dua hari ia tinggalkan. Rasa sesal tiba-tiba merasuk dalam dirinya ketika ia harus meninggalkan Desi untuk urusan bisnis ke luar negeri. Saat terakhir kali ia berbicara dengan Desi lewat via telepon yang tiba-tiba terputus membuatnya harus menghubungi orang rumah. Ia menyuruh ibu, adiknya dan beberapa pengawal kepercayaannya untuk melihat keadaan Desi di atas karena sambungan teleponnya yang tiba-tiba terputus membuatnya khawatir setengah mati.
Benar saja, semua anggota keluarganya menemukan menantu keluarga Wijaya sedang pingsan di balkon kamarnya dengan jidat yang sudah berdarah. Buru-buru anggota keluarga Alex membawa menantu kesayangan keluarga Wijaya pergi ke rumah sakit. Dan disaat itu pula Alex yang mendapat kabar bahwa sang istri dalam ada masalah membuatnya untuk kembali ke kota kelahirannya malam itu juga.
Alex kembali dikejutkan dengan keadaan Desi yang tak sadarkan diri selama sehari dua malam. Beruntung bayi yang ada di dalam kandungan sang istri dalam keadaan baik-baik saja meskipun Desi terpeleset di balkon kamarnya. Namun masalah Desi yang tak sadarkan diri selama sehari dua malam belum bisa dokter Elena jelaskan. Pasalnya semua anggota tubuh Desi masih berjalan dengan baik. Dokter Elena bilang mungkin ini karena stress yang dialami oleh sebagian kecil wanita hamil.
Dari penjelasan dokter Elena membuat Alex untuk bekerja ekstra mencari tau penyebab apa yang sedang dialami oleh istrinya. Ia tak mau Desi mengalami apa yang dikatakan oleh dokter Elena. Karena jika dibiarkan, maka stress yang dialami oleh wanita hamil akan berakibat fatal pada janinnya.
Desi kembali mengingat akan kejadian yang ia alami saat ia sedang berbicara dengan suaminya malam itu.
"Kenapa kau pingsan? Apa ada sebab lain ketika kakimu tergelincir di balkon kamar?"
Desi melihat wajah sang suami yang terlihat jelas nampak aura kekhawatiran. "Ada seseorang," kata Desi dengan nada terbata-bata.
"Apa?" Kini Alex yang berbalik mengerutkan keningnya saat jawaban Desi sulit ia jabarkan. "Apa maksudmu? Ada seseorang? Dimana? Dimana kau melihatnya?" Kini dirinya sudah duduk di tempat pembaringan sang istri. Mencoba mencari tau penyebab yang dikatakan oleh dokter Elena.
"Ada seseorang di depan gerbang."
__ADS_1
Jawaban Desi membuat Alex membelalakkan kedua matanya tak percaya. "Apa?"
"Selama dua hari ini dia selalu ada di depan gerbang rumah kita," lanjut Desi dengan mata berkaca-kaca. Mencoba menjelaskan apa yang ia lihat dua hari ini berturut-turut.
"Apa maksudmu?"
"Sayang kau harus mencarinya. Aku tidak mau melihatnya lagi. Suruh dia pergi dari depan rumah kita. Aku tidak mau melihatnya lagi." Jelas Desi dengan nada setengah berteriak. Ia bahkan sudah menitikkan air matanya.
Alex langsung merangkul Desi ke dalam pelukannya. "Tenanglah..." Katanya seraya mengelus punggung sang istri. "Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengurusnya. Tenanglah..." Tambahnya lagi yang berusaha menenangkan Desi. Ia tak mau istrinya semakin stress akan hal tersebut.
*
Alex keluar dari ruang perawatan Desi, setelah ia berhasil menidurkan wanita yang sangat dicintainya. Di depan pintu kamar perawatan sudah ada ibu, adik perempuannya dan beberapa pengawal dari rumahnya. Sebelum Desi sadar tadi, ia sudah menyuruh keluarga mertuanya untuk pulang beristirahat.
Alex berjalan menghampiri Adi dan Rafi yang berjarak beberapa meter dari anggota keluarganya. "Kalian berdua periksa CCTV di depan gerbang utama selama dua hari ini. Jika ada sesuatu yang mencurigakan segera laporkan padaku. Kalian mengerti!"
"Mengerti tuan muda," jawab keduanya seraya menundukkan kepalanya. Lalu keduanya pergi meninggalkan majikannya.
Aku harus bertindak cepat. Aku tidak mau Desi kembali stress akan hal ini. Batin Alex yang memang berniat menuntaskan masalah ini secepat mungkin.
Bersambung
__ADS_1