
Maaf, sepertinya nanti aku tidak bisa menjemputmu. Pekerjaan yang aku kerjakan semalam harus aku selesaikan hari ini juga. Jika tidak client pasti akan komplen. Jadi, Adi dan Rafi nanti yang akan menggantikan ku untuk menjemputmu.
Begitulah kata Alex tadi saat mengantarkan Desi ketika pergi ke kantor. Namun rengekan Desi yang sangat ingin di jemput oleh Alex membuat pria yang kini hampir menginjak usia tiga puluh tahun merasa sangat bersalah.
Alex sampai kehabisan akal membujuk Desi agar mengerti akan pekerjaannya. Tidak biasanya Desi bersikap seperti ini. Pertama kali ia mengenal Desi, ia tau kalau istrinya adalah wanita yang tangguh. Bukan wanita yang tak bisa di tinggal seperti ini. Hingga ia mempunyai satu cara yang ampuh agar Desi bisa mengerti akan pekerjaannya.
Bagaimana kalau Sandra yang menjemput mu?
Kau dan Sandra bisa mampir ke mall nanti.
Bukankah kau harus membeli jubah mandi baru?
Kau pasti ingat kan kalau jubah mandi mu sudah ku buang semua.
Atau kau masih ingin memakai handuk milikku?
Benar kan...
Desi langsung mengiyakan apa yang Alex katakan. Dengan satu kecupan yang mendarat di keningnya, kini Desi turun dari mobil Alex dan berjalan memasuki perusahaan milik sepupu suaminya.
*
"Hei..." Nadia mengagetkan Desi yang dari tadi melamun.
"Kau mengagetkanku," berkata sambil memukul lengan Nadia.
"Kau kenapa? Sakit?" Sudah memegang kening Desi. Curiga jika temannya sedang sakit. Tidak biasanya Desi terdiam cukup lama saat sedang bekerja.
"Tidak!" Menjawab sambil menggelengkan kepalanya. "Nad..." Panggil Desi yang akan melontarkan pertanyaan pada temannya yang masih berdiri di sebelah meja kerjanya.
"Hem... Ada apa?" Sahutnya. Sambil melipat tangannya di depan dada.
"Kau pernah merindukan seseorang?"
"Pernah," jawab Nadia pasti. "Aku merindukan keluarga ku yang ada di kampung..." Katanya lagi memelas. "Ha..." Sudah menangis tersedu-sedu. "Aku rindu ibuku..."
"Stt..." Desi menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya. Menyuruh Nadia untuk menghentikan tangisannya. "Diamlah. Kenapa kau menangis?"
__ADS_1
"Aku merindukan ibuku," ujarnya lagi. Mencoba untuk berhenti menangis. "Memangnya kenapa menanyakan hal itu padaku?" Sudah kesal dengan pertanyaan Desi. Pasalnya saat ini ia sedang merindukan keluarganya di kampung.
"Aku kan hanya bertanya padamu. Kenapa kau jadi marah padaku?"
"Memangnya kenapa? Apa kau sedang merindukan orangtuamu sekarang?"
"Tidak!"
"Lalu?"
"Aku merindukan Alex."
"Apa kau sudah gila?" Kembali kesal dengan pernyataan Desi. "Bukankah kau serumah dengannya? Kenapa kau harus merindukannya?"
"Tapi aku benar-benar merindukannya. Aku tidak bisa jauh darinya," sudah merengek tak pasti. Lantaran rasa rindu yang ia rasakan kembali menggebu-gebu.
Nadia menghembuskan nafas berat. "Kau pasti sudah gila. Sudahlah aku mau kembali bekerja," kata Nadia sambil melangkah ke meja kerjanya.
"Aku memang sedang merindukannya. Apa itu salah?" Tanyanya sendiri.
*
"Kau sudah lama?" Tanya Desi saat sudah berdiri di hadapan adik ipar perempuannya.
"Tidak juga. Ayo kita berangkat," ajak Sandra yang sudah memasuki mobil. Disusul Desi yang juga memasuki mobil sebelah kiri.
*
Keduanya benar-benar pergi ke mall. Atas perintah Alex tadi Sandra mengajak kakak iparnya untuk pergi berbelanja.
Sandra kembali tercengang saat Desi kembali membeli jubah mandi. Namun saat ia bertanya kenapa dirinya membeli jubah mandi, Desi hanya menjawab kalau jubah mandinya tak bisa ditemukan di lemari.
Saat ini keduanya sudah duduk di kursi di sebuah kedai makanan yang masih berada di dalam mall. Rasa lapar kini menyerang keduanya saat mereka sama-sama kelelahan ketika berbelanja tadi.
"Kakak ipar kau mau makan apa?"
"Terserah. Asal jangan yang berbau daging atau ikan. Kau tau kan kalau aku alergi akan keduanya," jelas Desi yang mengingatkan sekali lagi akan makanan yang tak bisa ia makan.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan memesannya dulu," kata Sandra yang kemudian berlalu meninggalkan Desi untuk memesan makanan.
"Selamat sore. Silahkan dipilih menunya," sapa seorang karyawan cafe yang berdiri di balik meja pembatas dan memperlihatkan menu pada Sandra.
Sandra terlihat memilih menu makanan yang akan ia santap dengan sang kakak ipar. "Aku pilih yang ini," ucap Sandra yang menunjuk salah satu menu untuknya. "Dan satu lagi ini. Vegan drumstick jamur (salah satu menu untuk orang vegetarian, terbuat dari olahan jamur yang dihancurkan dan tepung. Bentuknya seperti stik), " katanya lagi yang menunjuk salah satu menu lagi untuk kakak iparnya.
"Kami mempunyai dua pilihan untuk menu ini. Vegan drumstick adalah menu yang biasa dipesan oleh seseorang yang vegetarian atau alergi terhadap daging ataupun ikan. Kami juga mempunyai menu drumstick yang juga di isi oleh daging jika anda mau," ujar karyawan yang melayani Sandra.
Sedangkan Sandra terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sesaat ia melihat ke arah Desi yang masih duduk di salah satu kursi di kedai yang mereka kunjungi sambil memainkan ponselnya.
Aku pikir itu rencana yang bagus untuk mengerjai kakak ipar sekali-kali. Bukankah orang alergi terhadap makanan hanya akan gatal-gatal saja.
Batin Sandra yang sudah berniat menjalankan rencana liciknya.
*
Beberapa saat kemudian menu pun datang dengan di bawakan oleh seorang karyawan. Sebelum memulai makan, keduanya juga terlihat berdoa. Setelahnya mereka memulai makan.
Sesaat Desi merasa aneh dengan makanannya saat melakukan suapan pertama. Namun ia ingin merasakannya lagi. Ia melakukan suapan kedua pada mulutnya namun lagi-lagi ia merasakan ada hal yang berbeda dengan makanannya.
"Kakak ipar ada apa?" Tanya Sandra yang tertawa dalam hati saat rencananya berhasil membuat gelisah kakak iparnya. "Kau baik-baik saja? Ayo makanlah," pintanya.
Desi hanya terlihat memaksakan senyumannya. Berniat tak ingin membuat Sandra kecewa, akhirnya Desi kembali memakan makanan yang tadi dipesankan oleh Sandra. Namun di suapan yang ke tiga kalinya, Desi terlihat sangat semakin gelisah.
Hahaha rencanaku benar-benar berhasil. Sebentar lagi dia akan ditertawakan oleh semua orang saat dirinya sudah gatal-gatal.
Kata Sandra lagi dalam hati sambil tertawa.
Selang beberapa detik Desi batuk-batuk. Ia memegang dadanya saat ia kesulitan bernafas. Semakin lama semakin sulit untuk di bernafas.
Melihat reaksi Desi membuat Sandra terlihat panik. Saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Desi kesulitan bernafas membuatnya kembali dilanda rasa kepanikan yang amat besar. "Kakak ipar kau baik-baik saja?" Tanyanya yang sudah berdiri di sebelah Desi.
Desi tak bisa menjawab pertanyaan dari Sandra. Saat ini ia sangat kesulitan bernafas. Tangannya tak berhenti memegang dadanya. Dadanya serasa sesak. Nafasnya sudah naik turun saat rasa pusing, mual dan tak bisa bernafas menyerangnya. Lima detik kemudian ia sudah tak sadarkan diri.
"Kakak ipar... Kakak ipar bangunlah..." Teriak Sandra yang mencoba menyadarkan istri dari kakak laki-lakinya. Menepuk pipi kakak iparnya secara bergantian. "Kakak ipar akau mohon sadarlah..." Sandra panik saat wajah Desi sudah pucat tak sadarkan diri. Sedangkan para pengunjung di kedai tersebut tengah bergerombol mengelilinginya Sandra dan Desi.
Bersambung
__ADS_1