
"Desi dimana? Apa dia belum turun?" Tanya Marisa yang membantu beberapa asisten rumah tangga mempersiapkan sarapan di meja makan.
"Nona Desi sedang berada di ruang kerja tuan muda Alex, nyonya." Jawab Bu Dina seraya menundukkan kepalanya.
"Di ruang kerja Alex?" Tanya Marisa yang seketika berhenti melakukan aktivitas menata menu di atas meja makan.
"Iya nyonya," kata Bu Dina seraya kembali menundukkan kepalanya lagi. "Nona Desi ingin menggunakan mesin printer di ruang kerja tuan muda Alex," jelasnya.
Marisa melihat ruang kerja Alex yang masih tertutup rapat dari tempatnya berdiri. "Bu Dina bantu semuanya agar cepat selesai. Saya akan menyusul Desi kesana."
"Baik nyonya..."
Marisa berjalan ke arah ruang kerja. Hendak memanggil menantunya untuk sarapan bersama. Baru saja ia akan memegang gagang pintu namun ia di kejutkan dengan pintu yang terlebih dahulu terbuka dari dalam. Ia melihat menantunya sedang berdiri di balik pintu dengan memegang beberapa berkas di tangannya.
"Mama..."
Marisa tersenyum. "Sayang kamu..." Marisa menggantungkan kalimatnya saat ia menatap wajah Desi yang sedikit pucat. "Sayang kamu sakit?" Tanya Marisa seraya memegang kening menantunya.
"Enggak Ma..." Jawab Desi sambil mengalihkan tangan mertuanya yang masih menempel di keningnya. "Aku baik-baik saja. Mungkin..." Desi menggantungkan kalimatnya saat ia tak mempunyai alasan yang tepat. Ia tak mungkin bilang jika ia sangat terkejut ketika ia menemukan foto Maya di ruang kerja Alex. Lalu pandangannya mengarah pada berkas yang ia pegang. "Mungkin aku terlalu lelah, karena harus lembur dengan mengerjakan berkas sebanyak ini."
"Tapi wajah kamu..."
"Aku baik-baik saja Mama..." Kata Desi yang memotong perkataan sang mertua. Lalu ia menggandeng tangan Marisa menuju ke meja makan.
Sarapan kali ini Desi benar-benar tak mempunyai selera makan. Ia hanya mengaduk makanan yang ada di piringnya.
__ADS_1
Marisa sebagai mertua yang memang merasa curiga akan kesehatan Desi, kini hanya bisa menatap Desi di depannya. "Jika kamu memang sakit sebaiknya hari ini libur kerja dulu ya?" Pinta Marisa yang berusaha mencegah kepergian Desi ke kantor.
Sandra yang dari tadi fokus dengan sarapannya kini mengarahkan pandangannya ke Desi.
"Aku baik-baik saja kok Ma. Mama gak perlu khawatir," kata Desi mencoba meyakinkan sang mertua agar tidak terlalu khawatir padanya. Dengan paksa ia mencoba memakan sarapannya agar mertua perempuannya tak merasa curiga padanya.
Kenapa dengannya? Apa ini hanya aktingnya agar Mama peduli padanya?
Batin Sandra yang memang tak menyukai Desi dari awal menikah dengan kakak laki-lakinya.
Lagipula aku tidak peduli dengannya. Dia sakit atau tidak, itu bukan urusanku. Aku hanya harus mencari cara agar dia pergi dari rumah ini.
Batin Sandra lagi. Sudah tiga bulan lamanya ia sudah mencari cara agar Desi meninggalkan kakaknya namun sampai saat ini sepertinya wanita yang wajahnya terlihat pucat di depannya masih saja bertahan di rumahnya. Sepertinya cara yang ia susun saat mengenalkan Maya dengan Desi sudah tidak mempan lagi. Kini ia harus mencari cara lain agar Desi bisa segera angkat kaki dari rumah ini. Jika tidak bisa dengan cara halus maka ia akan mencoba dengan cara kasar.
*
Saat ini ia menyandarkan kepalanya di bantalan jok mobil. Matanya sudah terpejam sedari tadi saat mobil keluar dari gerbang rumah Alex. Ia kembali teringat akan foto yang ia temukan di laci meja kerja Alex. Cairan bening kembali keluar di kedua sudut matanya. Saat ini ia memang tak bisa memungkiri jika hatinya benar-benar sakit saat menemukan foto Maya.
Adi dan Rafi hanya bisa saling menatap satu sama lain. Ia sudah mendapat pesan dari nyonya besar di rumah jika mereka harus menjaga menantu kesayangan keluarga Wijaya. Sesekali mereka berdua melirik ke arah spion tengah. Melihat jika menantu keluarga Wijaya sedang tidak baik-baik saja. Perlahan mereka memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk utama perusahaan Wijaya Group.
"Nona kita sudah sampai," kata Adi membuka suara.
Desi membuka kedua matanya. Menyeka cairan bening yang sudah terlanjur jatuh di pipinya saat tadi ia membuka mata. Ia memegang pintu mobil hendak keluar.
"Nona jika anda sedang sakit..."
__ADS_1
"Jangan khawatirkan aku," kata Desi memotong perkataan Rafi yang duduk di belakang kemudi. "Aku baik-baik saja," tambahnya lagi seraya membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam perusahaan.
*
"Desi..." Teriak Nadia sedikit berlari menghampiri Desi yang baru saja keluar dari pintu lift. Kemudian ia menggandeng tangan kanan temannya. Ia memperhatikan wajah Desi. "Kau sakit?" Tanyanya yang tak mengalihkan pandangannya dari wajah sahabat karibnya.
"Tidak!" Jawab Desi singkat. "Aku hanya tidak memakai makeup tadi," jawabnya lagi dengan nada malas. Kemudian ia menghentikan langkahnya. Menghadap ke arah wanita yang sepertinya sudah akan mengatakan sesuatu padanya. "Ada apa? Kau mau mengatakan sesuatu? Tidak biasanya pagi ini kau menyambut kedatanganku dengan sangat antusias," tanya Desi yang sepertinya tau akan isi hati Nadia.
"Ahh... Apa kau bisa membaca pikiran ku?" Tanyanya dengan sedikit malu-malu. Tangannya sudah mendorong pelan bahu Desi.
Desi tertawa. "Ada apa? Apa kau sudah mempunyai pacar?" Tanyanya lagi yang menebak apa yang akan dikatakan Nadia padanya.
"Ssttt..." Kata Nadia seraya mengangkat jari telunjuknya untuk menutupi bibirnya. Dengan kata lain ia melarang Desi untuk mengatakan apa yang menjadi sebab utama ia menghampiri Desi saat temannya yang kini wajahnya terlihat pucat sedang mengatakan apa yang ia ingin katakan. "Jangan keras-keras," katanya lagi seraya menoleh ke kanan dan ke kiri. Berharap tak ada orang lain yang mendengar pembicaraannya dengan Desi. "Lagian kamu sih dari tadi aku telfon tapi gak di angkat-angkat," rengek Nadia yang sedikit kesal lantaran dari pagi ia mencoba menghubungi Desi namun telfonnya tak kunjung di angkat.
Desi sedikit terkejut mendengar penuturan dari Nadia. "Benarkah?" Tanyanya. Biasanya ia tak pernah lupa kemanapun membawa ponsel pribadinya. Lalu dirinya mencari ponselnya di dalam tasnya. Namun ia tak menemukan ponsel miliknya. Ia kembali mengingat-ingat lagi saat terakhir ia menaruh ponselnya. Tadi malam ia terakhir kali menghubungi nomor ponsel Alex. Dan seingatnya ia mengirim pesan pada Alex atas kekesalannya yang tidak di perbolehkan pulang ke rumah orang tuanya. Ia juga ingat saat ia melemparkan ponsel miliknya sembarangan di atas tempat tidur. "Ahh... Ponselku pasti ketinggalan di rumah," kata Desi lirih saat ia mengingat dimana terakhir kali ia menaruh ponsel miliknya.
"Ahh sudahlah," kata Nadia seraya menggandeng tangan Desi agar mengikuti langkahnya. "Nanti aku ceritakan semuanya," katanya lagi yang tak melepaskan tangannya dari tangan Desi. "Tapi sebentar," Nadia menghentikan langkahnya. "Kau benar baik-baik saja? Sepertinya kau demam," tanyanya khawatir.
"Aku baik-baik saja," jawab Desi yang menarik tangan Nadia.
*
Sedangkan di kamar Alex terdengar suara ponsel yang menandakan ada panggilan masuk. Tak ada seorang pun yang tau, karena memang tak ada seorang pun yang ada di kamar tersebut. Sejenak hening tak ada suara dari ponsel tersebut. Namun sesaat lagi ponsel milik Desi kini kembali berdering. Jika Desi tau pasti dia akan sangat senang sekali menerima panggilan tersebut karena di layar ponselnya kini tertera nama Alex.
Bersambung
__ADS_1