
Alhamdulillah Desi dan janinnya dapat kami selamatkan. Doa anda benar-benar di ijabah oleh Allah SWT. Namun kini kondisi pasien masih belum stabil. Untuk beberapa hari ini biarkan pasien menjalani perawatan dari rumah sakit.
Begitulah penjelasan dari dokter Elena selaku dokter kandungan. Tadi wanita yang masih berstatus lajang itu tengah memberi penjelasan pada Alex bersama dokter Roni.
*
Saat ini Alex tengah berada di ruang VVIP rumah sakit pamannya. Ia duduk di kursi sebelah pembaringan sang istri. Melihat sang istri yang masih terbaring lemah di atas pembaringan, membuatnya makin merasa bersalah saat ia tak bisa menjaga Desi dengan baik. Desi di bantu alat bantu pernafasan yakni nebulizer (nebulizer merupakan alat bantu pernafasan untuk sesak nafas, khususnya yang disebabkan oleh asma. Alat ini memiliki masker yang bisa ditempel ke hidung dan mulut, serta selang).
Perlahan Alex memegang telapak tangan kanan Desi. Membawa tangan tersebut dalam genggamannya. Mencium penuh haru telapak tangan sang istri. Air mata yang dari bersemayam di pelupuk matanya kini tak bisa lagi ia tahan. Ia menangis. Menangis sejadi-jadinya tanpa mengeluarkan suara. "Maafkan aku..." Gumamnya lirih. "Jika tadi aku yang menjemputmu, maka semua ini tak akan terjadi." Menyesal, Alex pasti merasa sangat menyesal akan kejadian ini. Namun saat ia bertanya pada Sandra tentang kejadian sebenarnya, ia harus bersabar ketika Sandra tak mengeluarkan satu kalimat pun dari mulutnya. Yang ia tau saat ini, Desi pasti tadi salah makan.
Beberapa saat kemudian Maya terlihat memasuki ruang perawatan istri dari atasannya. Ia berjalan mendekat ke arah atasannya yang sedang duduk di sebelah pembaringan sang istri.
"Selidiki apa yang telah terjadi pada Desi. Aku tidak akan memaafkan siapapun yang telah mencelakai Desi sampai seperti ini. Kau mengerti!" Perintah Alex pada sekertaris pribadinya Maya. Ia bahkan tak melepaskan pandangannya dari wajah Desi.
"Baik pak. Saya akan segera cari tau," jawab Maya seraya membungkukkan badan kemudian ia berlalu dari ruang perawatan VVIP tersebut.
__ADS_1
Saat Maya keluar. Farel dan Alika masuk ke ruang perawatan Desi. Mereka berdua mendapat kabar dari tante Marisa kalau menantu keluarga Wijaya tengah mengalami musibah.
Dari belakang Alex, Farel memegang pundak sepupu laki-lakinya. Mencoba memberi kekuatan pada Alex dengan uluran tangannya.
"Bagaimana keadaan Desi?" Tanya Alika yang sudah berdiri di sisi ranjang sebelah kanan. Menatap sedih pada sahabat wanitanya.
"Dokter bilang kondisi Desi masih belum stabil," jawab Alex singkat. Dari tadi pandangannya masih tertuju pada Desi. Tangannya juga masih terlihat menggenggam erat tangan sang istri. Sesekali ia mencium penuh makna tangan sang istri dengan lembut.
"Lu yang sabar Lex," tutur Farel mencoba menenangkan saudara sepupu laki-lakinya itu. Ia tau betul bagaimana rasanya saat belahan jiwanya sedang berada dalam masalah seperti ini. Bahkan ia pernah mengalami yang lebih serius dari ini, saat itu ketika Alika sudah menyelamatkannya dari penusukan yang didalangi oleh ayah Alex. Membuatnya harus membenci pamannya yang kini sudah berada dalam penjara.
Alex menghembuskan nafas berat. Mengangkat kepalanya sambil mengusap air matanya. Mencoba mengontrol emosinya saat rasa sesak menghampiri dirinya. "Kalian tau, saat pertama kali aku menikah dengan Desi aku bahkan tidak mencintainya." Jelas Alex yang sesekali mengusap air matanya.
Sedangkan Farel dan Alika terkejut dengan penuturan Alex. Mereka hanya saling menatap satu sama lain.
"Berjanjilah kalian, untuk tidak mengatakan ini pada siapapun. Hanya Maya yang mengetahui hal ini," kata Alex yang di jawab anggukan kepala oleh sepasang suami istri ini.
__ADS_1
"Bisa di bilang kami bukanlah pasangan suami istri yang sebenarnya. Desi mengajakku menikah karena dia sudah bosan di jodohkan oleh orang tuanya. Sedangkan aku, dengan sadar menerima permintaan Desi. Waktu itu aku hanya berpikir agar Mama juga berhenti menjodohkan ku dengan wanita lain. Intinya, saat itu kami sama-sama sadar akan pernikahan sandiwara yang kami ciptakan bersama. Namun seiring berjalannya waktu, aku dan Desi mempunyai perasaan yang sama." Jelas Alex yang sesekali tersenyum saat mengingat lagi akan kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika mereka dengan sadar ingin mengakhiri pernikahan sandiwara ini menjadi pernikahan yang sesungguhnya. Alex mencium tangan Desi yang dari tadi di genggamannya. "Aku sangat mencintainya. Aku bahkan tidak bisa hidup tanpanya. Aku tidak ingin dia terluka, meski seujung kuku pun." Alex sudah memasang wajah geram saat mengingat kembali akan kejadian beberapa jam lalu ketika ia harus memilih menyelamatkan Desi. Lalu kemudian ia mengelus perut sang istri. Air mata kembali menetes di pipinya. "Desi tengah hamil lima minggu," tambahnya lagi yang membuat Farel dan Alika terperangah kaget. "Beruntung kejadian tadi tidak mempengaruhi janinnya."
Farel menghela nafas panjang. Mendengar bagaimana perjuangan cerita cinta Alex dan Desi membuatnya tak bisa berkata apa-apa lagi. "Bersabarlah... Desi pasti akan segera pulih," semangat terus di ucapkan oleh Farel. Bahkan ia sudah kehabisan kata-kata saat mengingat kembali bagaimana kisah cinta Alex dan Desi. "Sebentar lagi lu bakalan jadi seorang ayah. Jadi mulai saat ini lu harus siap, karena kesabaran lu akan di uji ketika Desi akan meminta yang macam-macam sama lu saat hamil muda." Jelas Farel yang diselingi tawanya. Mencoba mencairkan suasana sedih di dalam ruang perawatan.
Alex mengernyit heran sambil mengusap air matanya. "Kesabaran?" Tanya Alex yang tak mengerti akan perkataan Farel. "Maksud lu..." Alex menggantungkan kalimatnya saat ia bisa merasakan tangannya sedang di genggam erat oleh Desi. Itu artinya Desi saat ini tengah sadar. "Sayang..." Alex berdiri. Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Desi akan membuka matanya.
"Sepertinya kita harus pergi. Saat ini Desi membutuhkan lu," kata Farel Yeng kembali menepuk pundak Alex sebelum ia dan Alika keluar dari ruang perawatan. Kemudian ia menggandeng tangan Alika agar keluar dari ruang perawatan tersebut. Memberi ruang untuk Alex dan Desi saling bicara.
"Sayang..."
Akhirnya Desi membuka kedua matanya. Ia langsung bisa menangkap wajah Alex yang sudah ada di depannya. Ia tersenyum saat bisa melihat wajah suaminya. Sesaat ia membuka nebulizer yang menutupi hidungnya. "Aku rindu padamu..." Kata Desi dengan suara lemahnya.
Sedangkan Alex hanya bisa tersenyum mendengar tiga kata yang keluar dari mulut sang istri. Beberapa hari ini ia memang sering mendengar kata-kata itu dari mulut Desi dan kini akhirnya ia bisa kembali mendengar kata itu lagi. Matanya kembali berkaca-kaca saat ia bisa melihat wajah cantik Desi yang bersinar meski dalam keadaan pucat. Kemudian ia memeluk Desi yang masih berbaring di atas pembaringan. "Aku juga merindukanmu..." jawabnya sambil menangis.
Bersambung
__ADS_1