
Desi memakan sarapannya dengan pandangan kosong. Ia masih menggantungkan sendoknya di udara saat sendoknya sudah berisi makanannya. Pikirannya masih teringat akan hal semalam. Pasalnya kini ia yakin bahwa kejadian tadi malam bukanlah sekedar halusinasinya saja.
"Sayang..."
Panggilan sang ibu mertua berhasil membuat Desi terjaga dari lamunannya. Sentuhan tangan yang diberikan sang ibu mertua juga tak kalah membuatnya terkejut. Kini pandangannya tertuju pada sang ibu mertua yang sudah berdiri di sampingnya. Menaruh sendok yang tadi ia pegang kembali di piring. "Mama..."
"Kenapa tidak makan? Kamu tidak berselera makan? Atau makanannya tidak enak? Coba kamu bilang mau makan apa, nanti biar Mama bikinin." Berbagai spekulasi Marisa sudah ia utarakan. Beberapa menit yang lalu ia memperhatikan menantunya yang hanya melakukan dua suapan saat sarapan. Kekhawatirannya semakin besar saat pertanyaannya hanya di jawab gelengan kepala oleh Desi. Tidak biasanya menantunya bersikap seperti pagi ini. Sarapan yang biasanya tandas tak bersisa, sepertinya akan menyisakan makanan di piring pagi ini.
"Aku baik-baik saja Ma..." Jawab Desi menghilangkan kecemasan sang ibu mertua. Pasalnya ia tak akan membiarkan ibu dari suaminya khawatir akan pikirannya yang tak tenang akibat kejadian semalam.
"Mama..." Panggilan Sandra yang sedang duduk di depan kakak iparnya mengalihkan pandangan sang ibu kini ke arahnya. "Masak Mama tidak tau. Pasti kakak ipar sedang merindukan kak Alex," sambar Sandra sambil cekikikan. Dirinya bahkan sampai menutup mulutnya sendiri lantaran makanan yang sudah ada di mulutnya akan keluar karena terlalu bersemangat menggoda kakak iparnya.
Marisa dan Desi hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan Sandra.
"Tapi beneran kamu gak pa-pa?" Tanya Marisa memastikan.
"Iya..." Jawab Desi sambil memegang tangan sang ibu mertua. Ia tak mau membuat ibu mertuanya khawatir jika ia harus cerita tentang masalah semalam.
*
Desi mengajak Sandra pergi ke mall siang ini. Dengan di dampingi oleh dua orang kepercayaan Alex yakni Adi dan Rafi. Desi mengajak Sandra keluar bukanlah tanpa alasan. Ia ingin membuang kejenuhan yang ia rasakan. Selama Alex tak ada di rumah, ia ingin keluar untuk mengurangi penat di hatinya lantaran tak ada Alex di rumah selama beberapa hari ke depan. Di samping itu ia juga ingin menghilangkan kecemasan akan hal semalam.
"Kakak ipar lihatlah..." Panggil Sandra seraya menunjukkan baju bayi yang ia pegang. "Bukankah ini bagus? Ini juga? Ini pun juga bagus?" Tanya Sandra sambil mengambil satu persatu baju bayi yang ia ambil dari gantungan di salah satu toko bayi di dalam mall yang saat ini ia kunjungi bersama kakak iparnya.
Desi menganggukkan kepalanya cepat sambil tersenyum lebar. Ia juga terlihat antusias akan semua aksesoris di dalam toko bayi tersebut. Ia juga tak kalah memilih semua pernak-pernik dan segala kebutuhan bayi yang sedang ia kandung saat ini.
Sedangkan Adi dan Rafi mereka berdua adalah korban pembawa hasil belanjaan dari dua wanita yang sangat mereka hormati. Sampai-sampai mereka berdua kesusahan membawa hasil belanjaan dari Desi dan Sandra.
*
Keduanya duduk bersantai di salah satu restoran yang terdapat di mall terbesar tersebut. Keduanya juga sudah memesan makanan. Mereka hanya tinggal menunggu pesanan makanan yang sedang mereka pesan. Sedangkan Adi dan Rafi sedang menuju mobil untuk menaruh semua belanjaan yang telah di beli oleh Desi dan Sandra.
__ADS_1
Disaat Desi dan Sandra tengah bercanda sembari menunggu pesanan makanan, disaat itu pula ada sepasang mata yang sedang memperhatikan keduanya. Hanya berjarak tiga meter orang yang berpenampilan mencurigakan tersebut tengah duduk di belakang Desi. Dengan berpakaian serba hitam dan menggunakan topi yang berwarna hitam juga, orang tersebut menyamarkan penampilannya. Dengan sesekali tersenyum licik orang yang masih setia memperhatikan Desi dan Sandra itu terkadang memalingkan wajahnya saat Desi secara tak sengaja menghadap ke belakang.
Desi dan Sandra terlihat semakin antusias saat makanan yang mereka pesan telah sampai di meja mereka berdua. Pelayan restoran pergi setelah selesai menyiapkan makanan di meja Desi dan Sandra. Sesaat akan memulai makan siangnya, ponsel Desi berdering tanda ada panggilan masuk. Desi melihat nama sang penelepon, ia semakin terlihat antusias dan senang setelah tau Alex lah yang menelfonnya. "Hallo..."
"Kau sedang apa?" Tanya Alex seraya duduk di sofa hotel tempatnya menginap.
"Aku sedang makan siang bersama Sandra di restoran."
Jawaban Desi membuat Alex teringat akan hal yang terjadi enam bulan yang lalu. Pasalnya ia benar-benar tak bisa melupakan saat Sandra dengan sengaja memesan makanan yang tak bisa Desi makan. "Aku beralih ke video call," kata Alex seraya menghubungkan ponselnya dengan saluran video call di salah satu aplikasi WhatsApp.
"Ada apa?" Tanya Desi yang sudah bisa melihat sang suami di layar ponselnya.
"Kau sedang makan apa?" Tanya Alex di seberang sana.
Desi mengalihkan kamera belakang untuk menunjukkan makanan apa saja yang akan ia makan. "Aku makan semua ini," kata Desi seraya menunjukkan semua makanan yang ia pesan. "Lihatlah Sandra bahkan sudah makan," kini kamera ponselnya sudah menampakkan Sandra yang sudah makan.
"Sudah kau makan saja," perintah Desi pada Sandra. Ia kembali menggunakan kamera depan agar ia bisa berbicara dengan Alex. "Kau baik-baik saja disana?"
Alex menganggukkan kepala. Setelah memastikan semua makanan yang di pesan oleh istrinya adalah makanan kesukaan sang istri, kini ia bisa bernafas lega. "Sekarang makanlah. Aku ingin melihatmu makan sampai habis."
"Baiklah..." Desi menaruh ponselnya yang masih terhubung dengan sang suami di meja yang kini masih terisi penuh oleh makanan. Menyenderkan ponselnya di salah satu botol minuman. Kemudian ia memulai makan siangnya. "Kau tidak makan?" Tanya Desi seraya melakukan suapan pertama di mulutnya.
"Aku sudah makan siang. Sekarang habiskan makananmu," perintah Alex yang masih menatap wajah sang istri. Rindu. Dirinya sangat merindukan sang istri. Padahal baru sehari ia berada di Amerika. Jika sesuai jadwal maka dua hari lagi pekerjaannya akan selesai. Ia menggunakan tangannya untuk menopang dagunya. Sesekali dirinya tersenyum bahagia saat mendengar celoteh dari sang istri yang berbelanja kebutuhan calon bayinya yang dua bulan lagi akan lahir ke dunia ini. Namun senyum bahagia di bibirnya seketika sirna saat ia menangkap sosok yang sangat ia kenal tengah berada dibelakang Desi. Tepatnya berjarak dua meja dari meja sang istri. "Sayang di belakang kamu..."
Desi langsung meraih ponselnya dan menghadap ke belakang. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. "Memangnya ada apa dibelakangku?"
"Alihkan ponselnya ke kamera belakang," perintah Alex yang dengan segera dilaksanakan oleh Desi.
"Memangnya ada apa sayang?" Tanya Desi yang sudah mengalihkan kameranya ke sekitar tempatnya duduk.
__ADS_1
"Tadi di belakang kamu..." Alex menggantungkan kalimatnya saat ia tak bisa menemukan sosok yang sangat ia kenal tadi. Seketika rasa khawatir langsung merasuk dalam dirinya. "Dimana Adi dan Rafi?"
"Mereka ada disini," jawab Desi yang kini kamera ponselnya sudah menampakkan Adi dan Rafi yang sudah berdiri di samping dirinya. Sandra pun juga terlihat khawatir saat mendengar perkataan dari Alex tadi lewat via WhatsApp.
"Segera pergi dari sana. Kau harus pulang dan diam di rumah. Kau mengerti!"
Seketika Desi langsung berdiri namun ia masih mematung dengan perintah Alex yang tiba-tiba. Ia bahkan sempat terlihat bingung dengan perkataan Alex.
"Nona sebaiknya kita pulang," kata Adi yang masih tak di jawab oleh Desi.
"Kakak ipar, ayo sebaiknya kita pulang." Kata Sandra sambil menggandeng tangan Desi. Ia tau ada yang tidak beres. Dari perintah kakak laki-lakinya, ia tau kalau Alex tadi sudah mendapat firasat yang tak enak. Perintah Alex harus ia jalankan sebelum Alex memberinya perintah untuk yang kedua kalinya.
*
Sedangkan di kamar presidential suite hotel. Alex sudah berdiri dari kursi yang tadi ia duduki. Rasa cemas masih menghinggapi dirinya saat tadi dengan mata kepalanya sendiri ia melihat sosok laki-laki yang sangat ia kenal. "Papa..."
Bersambung
***
Assalamualaikum semuanya...
Maaf dalam beberapa hari ini aku absen gak nulis karena di dunia nyata lagi ada acara yang super duper sibukkk sekali. Tapi insyaallah untuk hari ini dan seterusnya aku akan konsisten untuk selesaikan novel ini.
Untuk visualnya semoga kalian suka. Soalnya aku sudah demen sama mereka berdua untuk jadi Alex dan Desi. Jangan tanya kenapa Desi perutnya rata ya, soalnya susah untuk nemuin foto dia hamil😄. Kan di dunia nyata dia emang belum nikah😄.
Salam sehat semuanya. Jangan lupa kalau keluar rumah tetap prokes ya...
Wassalamu'alaikum...
__ADS_1