Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Penyesalan


__ADS_3

Esok harinya di lapas. Tempat dimana Hendra Wijaya dan Bu Dina di tahan. Seorang polisi laki-laki tengah berjalan ke arah sel yang di huni


oleh narapidana wanita paruh baya yakni Bu Dina. Polisi tersebut membuka pintu sel tahanan yang terbuat dari besi. Kemudian membuka pintu tersebut sampai terbuka lebar. "Ada yang ingin bertemu denganmu," kata polisi laki-laki tersebut yang saat ini tengah berdiri di luar pintu sel tahanan Bu Dina.


"Aku bahkan tidak punya keluarga. Memangnya siapa yang akan bertemu denganku?" Tanya Bu Dina yang masih duduk di lantai sambil melipat kakinya.


"Siapapun dia. Sebaiknya kau cepat keluar dan segera temui dia," kata polisi tersebut lagi. Dirinya berjalan memasuki sel tahanan Bu Dina. Mengeluarkan borgol dari tadi ia bawa. Kemudian ia memborgol kedua tangan Bu Dina agar wanita paruh baya yang telah melakukan kejahatan pada istri dari Alex Candra Wijaya ini tak dapat melakukan hal gila seperti apa yang dilakukan pada Paulina Desi Darmawan. Yakni merebut senjata api milik seorang polisi dan melukai menantu keluarga Wijaya. Ia sudah mendapat perintah dari atasannya jika ia harus membawa Bu Dina untuk menemui pengunjung lapas yang saat ini ingin menemui wanita paruh baya ini.


Dengan terpaksa akhirnya Bu Dina berdiri dan berjalan keluar dari sel tahanannya. Melangkahkan kakinya mengikuti seorang polisi laki-laki yang akan mengantarkan dirinya menemui seseorang yang telah mengunjunginya.


Setelah berjalan sekitar sepuluh menit polisi tersebut membawa Bu Dina ke sebuah ruangan. Dimana ruangan itu adalah ruangan tempat pengunjung ingin menemui tahanan dari lapas tersebut.


Bu Dina berdiri di tengah pintu saat ia bisa melihat majikannya atau lebih tepatnya mantan majikannya yang saat ini duduk di kursi pengunjung. Sedangkan di belakang Alex saat ini tengah berdiri wanita berkebangsaan Amerika yang di kenal sangat setia pada Alex yakni Maya. "Aku tidak mempunyai urusan dengan mereka berdua," katanya yang saat ini tengah melihat ke arah polisi laki-laki yang berdiri di sampingnya. "Lebih baik suruh saja mereka pulang," tambahnya lagi dengan isyarat kepalanya. Menyuruh sang polisi untuk menyuruh Alex dan Maya pulang. Ia tak ingin bertemu dengan Alex atau siapapun yang berhubungan dengan keluarga besar mantan majikannya. Ia sudah kalah. Ia bahkan tak bisa membunuh Desi dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak ingin menemui ku?" Tanya Alex yang melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap tajam pada wanita paruh baya yang enggan menemuinya saat ini.


"Karena memang tak ada yang perlu dibicarakan bukan?" Tanyanya balik dengan senyum mengejek.


Alex mengembuskan napas pelan. Lalu ia menaruh kedua tangannya di atas meja. Bersikap sesantai mungkin. Tak ingin terintimidasi oleh kelakuan Bu Dina padanya. "Bukankah kau berhutang permintaan maaf pada istriku?" Tanya Alex yang masih tak beranjak dari tempat duduknya. "Kau telah melukai istriku. Bahkan dengan beraninya kau menyeret bayiku juga dalam kejahatan mu."


Bu Dina tertawa keras mendengar semua penuturan Alex. Meski ia tak berhasil mencelakai Desi namun sepertinya ia sedikit merasa puas saat mendengar penuturan dari Alex. Ia memang tak begitu tau bagaimana kondisi Desi saat ini. Namun demi Sandra, ia akan melakukan apapun. Termasuk menyingkirkan Desi dari samping Alex.


"Kau bahkan tak merasa menyesal sama sekali," kata Alex seraya berdiri. Berjalan dua langkah ke depan. Memasukkan kedua tangannya di saku celananya. "Sepertinya kau memang tak ingin menemui ku. Tapi aku yakin kau akan senang bertemu dengan seseorang yang aku bawa untuk menemui mu."


Sandra yang berada di ambang pintu masih berdiri diam disana. Kedua matanya sudah berkaca-kaca saat ia harus di hadapkan dengan sesuatu yang tak bisa ia sangka. Wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai ibu pengganti selain ibu sambungnya yakni Marisa. Wanita paruh baya yang selama ini sudah bersikap baik padanya. Wanita paruh baya yang diam-diam menyimpan dendam pada kakak iparnya.


"Nona Sandra..." Wanita yang kedua tangannya di borgol itu kini sedang berjalan ke arah Sandra. Melewati Alex yang masih berdiri di samping tempat duduknya tadi. Ia rindu. Sangat merindukan gadis kecil kesayangannya. "Nona..." Ingin memeluk wanita yang sebenarnya adalah keponakannya sendiri. Namun langkah kakinya terhenti saat Sandra berjalan menjauhinya. Ia melihat keponakan perempuannya sedang berjalan ke arah Alex yang masih berdiri tak jauh darinya. "Nona Sandra..." Tak mengerti akan sikap Sandra yang tiba-tiba saja menjauhinya. Ia kembali berjalan mendekati Sandra.

__ADS_1


"Kakak aku tidak mau disini," kata Sandra yang memegang lengan Alex. Menggoyangkan beberapa kali lengan pria yang sedang menggunakan setelan jas kantor, agar kakak laki-lakinya mau pergi dari sini.


"Nona..." Langkah Bu Dina seketika terhenti saat mendengar penuturan dari Sandra. Ia tak menyangka jika Sandra akan menjauhinya.


"Bu Dina, apa yang kau lakukan pada kakak iparku? Berani sekali kau menyakitinya?" Masih berlindung di belakang punggung kakak laki-lakinya. Tak ingin mendekati wanita paruh baya di hadapannya.


"Nona Sandra. Nona semua saya lakukan karena saya ingin melindungi nona Sandra dari wanita jahat yang bernama Desi itu," jelasnya yang kemudian berjalan maju ingin mendekati Sandra yang masih berdiri di samping Alex. Namun lagi-lagi langkah kakinya terhenti saat Sandra makin mengeratkan pegangan tangannya di lengan Alex. Kini ia merasa sangat di benci oleh keponakannya sendiri.


"Bu Dina salah!" Teriak Sandra dari balik punggung Alex. Matanya masih melihat dengan jelas wanita yang berdiri tak jauh darinya.


"Bagaimana Bu Dina bisa berpikir jika kakak ipar jahat? Dulu aku memang tidak menyukai kakak ipar. Namun semua benci itu berubah menjadi kasih sayang saat aku melakukan kesalahan yang sangat fatal pada kakak ipar," jelasnya yang memang mengakui semua kesalahannya dulu saat ia secara sengaja memesan makanan yang membuat alergi Desi kambuh. "Aku tidak percaya Bu Dina melakukan kejahatan seperti itu! Aku bahkan juga tidak percaya kalau Bu Dina melakukan persekongkolan dengan Papa! Aku bahkan sudah menganggap Bu Dina sebagai ibuku sendiri. Bu Dina jahat! Aku tidak mau bertemu dengan Bu Dina lagi!" Katanya seraya berlari keluar dari ruang tunggu sambil menangis.


Sedangkan Alex sudah mengisyaratkan dengan matanya agar Maya mengikuti Sandra. Kemudian ia mengarahkan pandangannya pada wanita paruh baya yang sudah menangis sambil berdiri. "Kau dengar sendiri, se-sayang apa Sandra pada Desi?" Tanyanya yang tak di jawab oleh Bu Dina. Kemudian ia mengeluarkan kedua tangannya yang dari tadi berada di saku celananya. Berjalan pada wanita yang sudah bekerja di rumahnya hampir dua tahun lamanya. "Harus aku akui, rasa sayangmu pada Sandra tak bisa di ukur dengan apapun. Namun sepertinya kau sudah salah menempatkan rasa sayangmu pada kejahatan yang telah kau perbuat," lanjutnya lagi seraya berjalan keluar dari ruang tunggu lapas.

__ADS_1


Sedangkan Bu Dina masih menangis sambil berdiri. Ia tak menyangka dengan semua yang dikatakan Sandra padanya. Semua yang ia lakukan telah salah di mata Sandra. Kini ia hanya bisa menyesali perbuatannya. Mempertanggung jawabkan perbuatannya di dalam sel tahanan yang akan mengurungnya entah sampai kapan.


Bersambung


__ADS_2