
Desi merendam dirinya agak lama di bathtub. Memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya di bak mandi. Mengambil nafas yang panjang lalu perlahan menghembuskannya. Berharap dengan begitu kejadian yang baru saja ia alami bisa ia lupakan. Kejadian yang membuat malu dirinya sendiri. Ia membuka kedua matanya, kemudian berdiri. Menyudahi ritual mandinya. Berjalan dan berdiri di bawah shower. Mengguyur seluruh badannya dari air yang mengalir dari shower tersebut. Sesekali ia mengusap wajahnya pelan saat akan ada air yang masuk ke matanya. Kemudian ia mematikan kran shower tersebut. Dan berjalan ke arah gantungan baju. Meraih handuk yang menggantung disana dan mengelap seluruh badannya dengan handuk tersebut. Sesaat tangannya akan meraih baju yang biasanya juga ia taruh di gantungan baju tersebut namun sepertinya ia lupa untuk membawanya ke kamar mandi. "Aaa..." Teriaknya kesal saat ia lupa membawa ganti bajunya. Tadi ia terlalu terburu-buru saat memasuki kamar mandi sehingga ia lupa untuk membawa baju gantinya. "Bagaimana ini? Apa dia sudah keluar dari kamar?" Tanyanya sendiri. Ia tak mungkin keluar hanya dengan berbalut handuk sebatas lutut. Yang pastinya akan menampakkan tubuhnya bagian atas dan bawah. Namun ia juga tak mungkin menyuruh Alex untuk mengambilkan baju gantinya. Karena sudah pasti bukan hanya baju melainkan juga pembungkus bagian area sensitifnya tentunya.
Dari jendela kamar mandi sudah bisa Desi pastikan kalau saat ini sudah siang. Terlihat sinar matahari yang sudah terik menunjukkan bahwa waktu sudah mendekati siang hari. Desi berusaha berlama-lama di kamar mandi, berharap dengan begitu Alex akan turun terlebih dahulu. Jadi dengan leluasa ia bisa berlari ke arah ruang pakaian yang ada di sebelahnya kamar mandi. Jika di perhitungkan ia sudah berada dalam kamar mandi lebih dari satu jam. Ia memutar kunci kamar mandi. Memegang kenop pintu dan memutarnya. Perlahan ia membuka sedikit pintu tersebut dan hanya mengeluarkan kepalanya. Desi mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar dan tak ada Alex disana. Kini ia bisa bernafas lega saat pria yang ia kira tadi malaikat dari langit sepertinya sudah turun ke bawah terlebih dahulu.
Desi membuka lebar pintu kamar mandi lalu berlari ke arah ruang pakaian. Ia terkejut bukan main saat mendapati Alex juga masih berada di ruang pakaian. "Aaa..." Teriak Desi. Kedua tangannya sudah berusaha menutupi dadanya yang masih berbalut handuk. Ia tak menyangka jika Alex masih berada disini. "Sedang apa kau disini? Cepat keluar!" Perintahnya dengan nada setengah berteriak.
Alex malah tertawa keras saat mendengar perintah dari Desi lalu dirinya berjalan ke arah Desi. Ia sudah memakai pakaian santainya. Karena hari ini adalah hari libur jadi ia hanya memakai kaos oblong dan celana pendek sebatas lutut. "Apa kau sedang menggodaku dengan hanya memakai handuk seperti ini?" Tanyanya seraya memperhatikan Desi dari atas sampai bawah.
Desi terkejut dengan penuturan Alex, ia masih berusaha menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya saat Alex melihatnya. "Apa kau bilang? Aku menggodamu? Kau..." Menunjuk wajah Alex dengan jari telunjuknya. Namun ia harus melindungi bagian tubuhnya dengan cara menutupinya dengan tangannya. "Sudahlah. Cepat keluar. Aku tidak mau berdebat lagi denganmu," perintahnya lagi.
Alex hanya bisa tertawa dengan kelakuan Desi. Namun ia juga harus memberikan privasi untuk Desi. Ia tak mau di bilang sebagai laki-laki tak bermoral jika harus tetap berseteru dengan wanita yang hanya memakai handuk saja. "Baiklah aku keluar," katanya seraya melangkah keluar. "Oh iya..." Sudah berbalik badan menghadap Desi.
"Apa lagi?" Tanyanya ketus. Masih memegang handuknya agar tak jatuh.
__ADS_1
"Apa kau sedang melakukan balas dendam padaku karena tadi aku keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk. Makanya kau juga keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk?" Tanyanya yang lagi-lagi di selingi tawa.
"Kau..."
"Baiklah, baiklah. Aku keluar..." Kata Alex seraya keluar dari ruang pakaian. Ia masih tertawa dengan kejadian barusan.
"Dia benar-benar..." Desi menggerutu pada dirinya sendiri. Ia tak menyangka kalau Alex akan bersikap seperti itu padanya.
***
"Kakak ipar kau lama sekali. Ini bahkan sudah siang. Kau masih ingat dengan janji kita tadi malam kan?" Kata Sandra yang menghampiri Desi.
"Maaf. Aku..."
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau sudah siang? Kenapa kau sangat buru-buru sekali keluar dengan kakak iparmu?" Tanya Alex yang menyela jawaban dari Desi.
"Kakak aku kan..."
"Sudah, sudah..." Kata Marisa seraya memegang pundak Sandra. "Biarkan kakakmu dan kakak iparmu sarapan terlebih dahulu."
"Mama sudah sarapan?" Tanya Alex sambil berjalan ke arah meja makan. Menarik kursi untuk Desi lalu dirinya juga duduk di samping Desi.
"Ya sudahlah," Sandra menjawab pertanyaan dari Alex. "Aku dan Mama bisa kelaparan jika menunggu kalian berdua turun," kata Sandra lagi dengan nada kesal. Tadinya ia ingin menyusul kakak iparnya di kamarnya namun sang ibu malah melarangnya. Dengan alasan kalau dirinya akan mengganggu waktu Alex dan Desi. "Memangnya kalian berdua tidak lapar saat sarapan kalian hampir mendekati jam makan siang?" Tanya Sandra seraya duduk di kursi meja makan juga. Tangannya sudah meraih buah apel di atas meja makan.
"Sebenarnya aku sudah sangat lapar, tapi dari tadi kakak iparmu selalu menggodaku jadi..."
"Apa?" Desi terkejut dengan pernyataan Alex pada Sandra. Matanya membulat sempurna saat ia melihat Alex, mertuanya, serta pelayan di rumahnya sedang menahan tawa.
__ADS_1
Sedangkan Sandra tatkala terdiam saat Alex berkata seperti itu. Tak mungkin secepat ini. Batin Sandra. Ia memang tak mengetahui alasan sebenarnya kenapa Alex tiba-tiba mengumumkan pernikahannya dengan Desi. Yang ia tau hanyalah saat Alex mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai Desi. Tak ada alasan lain. Ia sudah berniat memisahkan kakak laki-lakinya dengan menantu keluarga ini. Namun sepertinya ia telah kalah satu langkah. Ia bahkan tak mau jika sampai Alex mempunyai anak dari Desi. Ia mengarahkan pandangannya pada Desi yang sedang memukul beberapa kali lengan Alex. Kedekatan antara Alex dan Desi memang sudah Sandra pastikan kalau kakaknya sangat mencintai Desi. Namun ketidaksukaan Sandra pada Desi membuatnya untuk berjuang penuh memisahkannya dengan saudara laki-lakinya. Ia juga tak pernah melupakan bagaimana keluarga Darmawan sangat merendahkan keluarganya saat ayah Desi bilang kalau keluarga Alex adalah keluarga kriminal. Sakit hatinya seakan tak bisa dilunturkan oleh apapun. Sikap baiknya pada Desi hanyalah kebohongan belaka. Sikap baiknya hanya semata-mata ingin menyingkirkan Desi dari rumah ini.
Bersambung