Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Fitting Baju


__ADS_3

Keesokan harinya saat jam makan siang kantor, Desi mengajak Nadia untuk melakukan fitting baju di butik milik temannya Alika. Namun sampai saat ini Nadia tak mengetahui  pernikahan siapa yang akan dilaksanakan sampai-sampai Desi harus melakukan fitting baju.


Namun setelah sampai di butik milik Alika, akhirnya Nadia tau kalau Desi lah yang akan menikah.


"Apa?" Reaksi Nadia sudah tak bisa di jelaskan dengan kata-kata lagi. Antara terkejut dan bahagia. Terkejut karena tiba-tiba Desi akan melangsungkan pernikahan dengan pria yang berasal dari keluarga Wijaya juga. Bahagia karena temannya yang paling anti untuk di jodohkan sekarang akhirnya bisa menikah juga.


"Jangan bereaksi seperti itu!" Kata Desi yang saat ini berdiri. Ia sedang melakukan pengukuran badan untuk gaun pengantinnya. "Muka lu nakutin tau gak sih!" Lanjut Desi.


"Alika..." Kata Nadia yang merengek meminta pembelaan dari sahabat yang sudah lebih dulu menikah.


Alika tertawa mendengar penuturan dari Desi. Sampai detik ini ia masih merasa lucu saat kedua sahabatnya sedang terlibat dalam pertengkaran sepele. "Sudah sudah..." Kata Alika menengahi pembicaraan antara Desi dan Nadia. Ia masih melakukan pengukuran gaun pengantin terhadap Desi. "Kenapa kalian jadi ribut?"


Ketiga sahabat itu akhirnya diam. Tak ada kata yang keluar dari mulut ketiganya. Nadia masih sibuk memperhatikan Desi dan Alika yang masih berdiri. Setelah selesai melakukan pengukuran, Desi dan Alika pun ikut duduk di sofa panjang yang sama dengan Nadia.


Desi yang duduk di antara kedua sahabatnya. Perlahan menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa. Menghembuskan nafas berat sambil menutup matanya. Pikirannya benar-benar kalut saat ini. Dimana hari pernikahannya lusa akan di laksanakan.


Alika dan Nadia langsung melihat ke arah Desi yang tadi sudah menghembuskan nafas berat. Keduanya memegang pundak Desi. Seperti bisa merasakan apa yang ada di pikiran Desi. Keduanya merasa kalau Desi sedang ada masalah. "Ada apa?" Tanya keduanya bersamaan. "Apa ada masalah?" Mereka kembali menanyakan hal yang sama ketika Desi tak kunjung menjawab pertanyaannya dari mereka.


Desi membuka matanya. Menatap langit-langit ruang kerja Alika. Ia kembali menghembuskan nafas berat. "Gue gak percaya kalau lusa gue udah nikah," jawab Desi. Punggungnya masih ia senderkan di bantalan sofa.


Alika dan Nadia hanya bisa saling menatap. Sampai saat ini mereka masih tidak tau kenapa alasan Desi yang tiba-tiba saja akan menikah. Mereka juga tak pernah mendengar kabar bahwa Desi dan Alex pernah menjalin hubungan. Namun sesuai keinginan Desi mereka berdua bahkan tak akan menanyakan perihal bagaimana Desi dan Alex tiba-tiba saja menjalin hubungan. Jika waktunya tepat Desi pasti akan menjelaskan pada mereka berdua.


"Apa kamu..." Alika menggantungkan kalimatnya saat ia mendengar keributan di luar ruangannya. Namun tak hanya Alika, Desi dan Nadia pun juga bisa mendengar secara jelas keributan di luar ruangan Alika. Dengan saling menatap satu sama lain akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk melihat apa yang akan terjadi diluar ruangan tersebut.


Ketiganya membulatkan kedua mata mereka saat melihat siapa yang berseteru di butik milik Alika.

__ADS_1


Alex dan Farel sedang beradu mulut. Entah apa yang membuat kedua sepupu ini sampai-sampai keduanya membuat keributan.


Banyak sekali mata yang memandang perilaku antara Alex dan Farel. Karyawan dan para pelanggan juga tak kalah penasaran atas apa yang mereka ributkan. Para karyawan sampai tak bisa melerai keduanya karena mereka tau siapa kedua pria yang sedang berseteru itu.


Desi dan Alika langsung berlari ke samping pria pasangannya masing-masing. Memegang lengan dua pria tersebut dan langsung menariknya ke dalam ruang kerja Alika.


*


Beberapa saat kemudian Nadia sudah berada di dalam taksi. Ia menyandarkan kepalanya di jok mobil sambil menghela nafas ringan. "Enak banget jadi Alika dan Desi. Mereka sama-sama menikah dengan keluarga paling kaya di kota ini. Dan juga sama-sama dari keluarga Wijaya," gumamnya lirih sambil kembali menghela nafas pasrah. "Nanti jodoh aku dari keluarga kaya juga gak ya?" Lanjutnya lagi berkata sendiri. Sambil merenungi nasibnya sendiri yang hanya dari keluarga biasa.


*


Sedangkan Alex dan Farel kini sudah duduk di sofa panjang yang sama, namun dengan jarak yang lumayan jauh. Sedangkan Desi dan Alika berdiri di hadapan Alex dan Farel. Keduanya saat ini tengah menatap tajam pada pria yang masih duduk tenang di sofa.


"Sebenarnya apa yang kalian ributkan hah?" Alika membuka suara saat kedua pria yang duduk di hadapannya tak memberikan penjelasan.


"Dia yang mulai duluan," kata Alex yang memotong perkataan Farel. Jari telunjuknya sudah menuding bahwa Farel lah yang salah.


Sedangkan Farel langsung menatap tajam ke arah Alex. Ia tak terima jika ia yang disalahkan. "Enak aja lu. Lu tu..."


"Lu yang mulai duluan..." Alex juga tak mau kalah.


"Lu yang mulai duluan..."


"Lu..."

__ADS_1


"Lu..."


"Sudah diam!" Desi dan Alika berkata setengah berteriak melihat perseteruan antara dua sepupu ini. "Sebenarnya apa yang kalian ributkan?" Tanya mereka berdua secara bersamaan lagi.


"Bukankah Desi membuat gaun pengantin padamu?" Tanya Alex.


"Iya. Lalu?" Jawab Alika.


"Jika Desi membuat gaun pengantin padamu. Bukankah lebih baik jika aku membuat setelan jas padamu juga?" Kata Alex.


"Sayang jangan!" Kata Farel menyela. "Aku tidak bisa bayangkan akan sesibuk apa kamu nanti. Lusa pernikahan mereka sudah dilaksanakan. Aku khawatir kamu akan kelelahan. Jadi..." Sesaat Farel menghentikan kata-katanya saat Alika menaruh jari telunjuknya di depan mulutnya.


Benar. Pernikahan Desi lusa sudah diselenggarakan. Desi merasa bersalah dengan perkataan Farel. Kemudian ia memegang tangan Alika yang masih berdiri di sebelahnya. "Maaf..." Katanya merasa sedih.


Alika menghadap ke arah Desi seraya memegang kedua lengan sahabat karibnya. Melihat wajah Desi yang sudah menundukkan kepalanya dalam. "Kenapa minta maaf?" Kata Alika yang melihat wajah Desi sudah menengadah padanya. "Aku tidak akan bekerja sendirian. Aku akan dibantu oleh karyawan ku untuk menyelesaikannya," tambahnya lagi.


"Tapi..."


"Sudah..." Kata Alika lagi seraya memeluk wanita yang sudah ia anggap sebagai saudara perempuannya sendiri. "Jangan lagi minta maaf. Aku janji akan menyelesaikan gaun pengantin dan setelan jas untuk calon suami mu dengan baik..." Lanjutnya lagi sambil mengelus punggung Desi. Berharap dengan begitu ia bisa tenang.


Sedangkan Alex dan Farel hanya memperhatikan kedekatan antara Desi dan Alika. Mereka bahkan tak menyangka bahwa dua wanita dihadapannya sudah seperti saudara kandung.


"Bukankah istriku wanita yang sangat luar biasa baiknya?" Kata Farel yang melipat tangannya di depan dada sambil menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya.


"Hem..." Jawab Alex yang juga melakukan hal yang sama dengan Farel. Melipat kedua tangannya di depan dada dan menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya. "Aku juga berharap Desi juga akan sebaik Alika..." Gumam Alex pelan. Tak terasa bibirnya tersenyum penuh makna sambil matanya masih mengarah pada wajah cantik Desi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2