Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Apapun Akan Kulakukan


__ADS_3

Maya masih menyandarkan punggungnya di pintu ruang perawatan Bima. Masih merutuki kebodohannya sendiri saat ia berpikir bahwa Bima telah menyukainya. Namun sesaat ia sedikit terkejut lantaran bunyi ponsel yang tengah ia kantongi di saku celana jeans-nya. Mengambil ponselnya lalu segera menggeser icon berwarna hijau saat atasannya sedang menghubunginya. "Hallo Pak..." Diam. Mendengarkan apa yang dikatakan oleh atasannya. "Apa? Anda benar-benar akan melakukannya?" Diam sebentar. Kembali mendengarkan apa yang dikatakan oleh atasannya. "Tapi Pak..." Ingin sekali mengajukan protes namun sambungan teleponnya terputus. Menatap ponselnya sambil menghembuskan nafas berat. "Apa-apaan ini..." Kemudian ia berjalan sambil menundukkan badannya. Kini ia harus melaksanakan tugas yang baru saja dititahkan oleh atasannya.


*


Desi duduk bersandar di atas tempat tidur rumah sakit. Sudah hampir setengah jam ia ditinggal sendirian oleh Alex. Suaminya sudah berpesan padanya untuk tidak turun dari ranjang sebelum laki-laki yang dicintainya datang lagi ke ruang perawatannya. Desi melihat jam dinding yang berwarna hitam. Kembali menghela nafas panjang saat Alex tak kunjung datang. "Hem... Kenapa lama sekali..." Gerutunya kesal sambil berkali-kali menghembuskan nafas panjang. Ia sudah bosan jika harus sendirian di ruang perawatan tanpa ada yang menemaninya. Namun kini pandangannya beralih pada pintu ruang perawatannya saat ia mendengar suara pintu tengah terbuka. Ia membulatkan kedua matanya seraya menganga tak percaya saat ia melihat sosok laki-laki yang yang dicintainya saat ini tengah berpenampilan tak seperti biasanya. "Ada apa denganmu?"


Alex tak menjawab pertanyaan dari Desi. Ia tersenyum seraya melangkahkan kakinya memasuki ruang perawatan sang istri. Tangan kanannya sedang membawa sebuket bunga mawar merah dan tangan kirinya sedang memegang tas dari kertas berwarna putih. Kemudian ia duduk di atas bangkar Desi. Memberikan sebuket bunga mawar yang tadi ia bawa dan menyerahkan sesuatu yang ada di tangan kirinya.


"Apa semua ini?" Tanya Desi keheranan dengan sikap Alex. Ia bahkan melihat bergantian antara Alex dan hadiah yang diberikan oleh suaminya.


"Hadiah untukmu."


"Tapi untuk apa? Ini bahkan bukan hari ulang tahunku. Dan ini..." Sudah memegang baju yang dikenakan suaminya saat ini. "Kenapa kau memakai pakaian seperti ini?" Ingin rasanya ia tertawa melihat penampilan Alex saat ini.


Alex memperhatikan pakaian yang ia kenakan saat ini. Pakaian yang ia pesan dari Maya tadi. Pakaian yang ia pikir bahwa Desi akan menyukainya. Pakaian yang biasa digunakan oleh warga negara yang dipersiapkan dan dipersenjatai untuk tugas-tugas pertahanan negara guna menghadapi ancaman militer maupun ancaman bersenjata.


__ADS_1


Rasanya tak ada yang aneh dengan pakaiannya. Ia hanya ingin memenuhi satu keinginan Desi. Keinginan yang akan ia berikan pada sang istri jika saatnya tiba. Dan sepertinya ini adalah waktu yang tepat. Ia ingat sekali bahwa Desi pernah berkata jika sang istri dulu sangat menginginkan mempunyai suami seorang tentara atau militer. Dan kini Alex mewujudkannya. Meski ia bukanlah seorang militer sungguhan namun ia akan melakukan apapun agar Desi bisa senang. "Aku pikir kau akan suka?"


Dan pada akhirnya Desi tertawa. "Sayang..." Memegang tangan Alex, kemudian ia mendekapnya. "Aku lebih suka penampilan mu seperti biasanya."


"Aku hanya ingin mewujudkan keinginanmu. Bukankah dulu kau pernah bercerita jika ingin mempunyai suami seorang tentara. Aku hanya ingin kau melihatku, aku bisa menjadi siapa saja yang kau inginkan. Tak terkecuali seorang militer."


Lagi-lagi Desi tertawa dengan jawaban Alex. "Sayang... Kenapa kau berpikiran seperti itu? Dulu, aku memang menginginkan seorang suami seorang tentara atau laki-laki berpangkat militer. Karena menurutku laki-laki dengan pekerjaan seperti itu sangatlah gagah. Namun setelah aku mengenalmu aku sangat bersyukur mempunyai seorang suami sepertimu, entah apapun pekerjaan mu. Karena aku akan selalu mencintaimu."


Perkataan Desi membuat Alex terharu. Ia sampai menitikkan air matanya mendengar ucapan sang istri. Kemudian ia memeluk Desi. Seperti tak ingin kehilangan wanita berambut pendek di depannya. Alex semakin mengeratkan pelukannya saat air matanya tak bisa berhenti menetes.



Alex lalu melepaskan pelukannya. Menatap wajah Desi yang tidak kelihatan pucat lagi. Menangkup kedua pipi sang istri. "Aku juga sangat mencintaimu," katanya yang membuat mata Desi berkaca-kaca. "Aku sudah sangat ketakutan tadi ketika melihatmu tak lagi membuka mata di atas meja operasi," jelasnya yang masih tak melepaskan pegangan tangannya di kedua pipi sang istri. "Aku bersyukur karena Allah masih mempercayakan dirimu padaku. Untuk kedepannya, aku berjanji tak akan membiarkan siapapun menyakiti dirimu."


Perkataan Alex berhasil membuat air mata Desi terjatuh. Kini ia beringsut mendekati Alex. Menurunkan kedua kakinya dari atas bangkar sehingga kini ia duduk berdampingan bersama Alex. Menaruh kepalanya di pundak sang suami. Melingkarkan tangannya di lengan laki-laki yang berpakaian militer. "Jangan membuatku menangis," katanya sambil mengusap air matanya. "Saat itu aku bermimpi. Aku harus memilih dua jalan yang tak aku mengerti. Dan disaat aku sadar aku bersyukur bisa melihatmu kembali. Jika aku memilih jalan yang salah, entah apa yang akan terjadi padaku. Aku pasti mungkin..."


"Sstt..." Jari telunjuk Alex menutup mulut sang istri. Ia tak ingin Desi melanjutkan ceritanya mengenai mimpi yang tadi Desi alami. "Jangan bicarakan itu lagi. Aku sudah hampir gila saat aku melihat dirimu tak membuka mata tadi." Kemudian Alex menggenggam erat tangan Desi. Membawanya di depan dadanya. "Terimakasih... Terimakasih karena telah menjadi istri dan ibu dari anak-anakku," ucapnya seraya mengecup tangan sang istri.

__ADS_1


Desi langsung mengangkat kepalanya dari pundak suaminya ketika ia mendengarkan penuturan dari Alex. "Benar.."


"Benar apanya?" Alex bingung dengan sikap Desi yang tiba-tiba saja mengatakan hal yang tak dapat ia mengerti.


Desi menatap laki-laki yang masih mengenakan pakaian militer. "Sayang," memegang tangan Alex. "Aku lupa kalau anak kita sudah lahir," katanya lagi yang membuat Alex mengerutkan keningnya. "Sayang aku mau kesana," ajaknya pada sang suami.


"Kemana?"


"Ke ruangan anak kita," jelasnya yang membuat Alex kini mengerti apa yang dikatakan olehnya. "Ayo sayang..." Sudah merengek tak jelas sambil menggoyangkan tangan suaminya. "Aku mau kesana..."


"Tapi..."


"Ayo sayang... Aku mau melihat putri kecil kita..."


Rengekan Desi benar-benar membuat Alex kehabisan kata-kata. Biasanya Desi tak pernah bersikap seperti ini. Ini pertama kalinya ia melihat wanita yang dicintainya memperlihatkan sikap manjanya. "Baiklah kita akan kesana," katanya yang membuat wajah Desi senang tak karuan. "Tapi dengan satu syarat," lanjutnya lagi yang membuat Desi terdiam.


"Syarat apa?"

__ADS_1


"Cium aku," sudah mengajukan pipi kirinya agar di cium oleh sang istri. Ia hanya berniat menggoda sang istri saat ia tak kuasa melihat sikap manja yang ditujukan Desi padanya. Dan tanpa menunggu lama satu kecupan mendarat langsung di bibirnya. Ia bahkan sampai tak percaya dengan yang Desi lakukan. Matanya bahkan sampai membulat sempurna saat kecupan untuk yang kedua kalinya mendarat kembali di bibirnya. Alex yang memang sangat merindukan sang istri lantaran harus terpisah ketika Desi sedang di culik membuat perasaannya bergairah seketika. Dan tanpa aba-aba, Alex kini memberikan kecupan panjang pada sang istri dengan lembut.


Bersambung


__ADS_2