
Maya masih mematung di tempatnya berdiri. Berusaha menahan air matanya supaya tak jatuh saat Bima mengatakan hal yang membuatnya terharu. Ini pertama kalinya ada seorang laki-laki yang menyatakan cintanya padanya. Setelah kejadian beberapa tahun yang lalu. Kejadian yang sangat memalukan baginya. Membuatnya harus menjauhi semua laki-laki yang ingin dekat dengannya. Bukannya ia menolak. Namun ia sadar diri ketika ia tak lagi suci. Ia takut jika laki-laki yang dekat dengannya akan jijik melihat dirinya yang sebenarnya.
"Kemarilah..." Kata Bima setelah ia menatap Maya yang masih tak beranjak dari tempatnya berdiri. Namun setelah panggilannya beberapa kali, Maya masih diam di sisi pintu ruang perawatannya. "Maya..." Panggilnya dengan suara lembut. "Kemarilah..." Katanya lagi dengan isyarat tangannya. Namun lagi-lagi Maya masih tak merespon kata-katanya. "Baiklah kalau kau tak mau kesini. Aku saja yang berjalan kesana," kata Bima yang sudah menurunkan kaki kirinya untuk menuruni pembaringannya namun belum sampai kakinya menyentuh lantai rasa sakit di perutnya yang terluka membuatnya mengaduh kesakitan.
"Apa yang kau lakukan?" Kata Maya seraya berlari ke arah Bima. Menahan tubuh Bima agar tak jadi turun dari pembaringannya. "Apa kau sudah gila. Dokter sudah bilang agar kau tak banyak bergerak." Sudah marah-marah tak jelas ketika Bima akan turun dari bangkar rumah sakit.
"Kau yang menyuruhku turun dari sini."
"Apa?" Maya tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bima.
"Kau memang tak bilang menyuruhku untuk
turun tapi kau tak merespon panggilanku. Jadi..."
"Sudah cukup!" Seperti sudah tau kalimat apa selanjutnya yang akan di katakan oleh Bima. Menyuruh laki-laki yang masih berstatus sebagai pasien di rumah sakit Herlambang Wijaya untuk berhenti mengatakan sesuatu yang akan membuatnya merasa bersalah karena tak kunjung mendekati dirinya. "Aku tidak mau berdebat denganmu," katanya lagi. Lalu ia mendorong perlahan tubuh Bima agar kembali menaiki pembaringannya. "Jangan sekali-kali turun dari sini tanpa ada orang yang membantumu. Kau mengerti!" Tambahnya lagi. Kemudian ia berlalu dari hadapan Bima. Namun langkah kakinya terhenti saat tangannya di tarik oleh Bima.
"Kau mau kemana?"
"Aku..."
__ADS_1
Bima langsung memeluk Maya. Tak menghiraukan apa yang akan Maya katakan. "Jangan pergi," katanya yang masih memeluk Maya. Tak ingin melepaskan wanita berambut panjang di dalam dekapannya.
"Bima..." Kata Maya lirih.
Bima lalu melepaskan pelukannya dari Maya. Menyuruh Maya duduk di pembaringannya. Memegang kedua tangan Maya dalam genggamannya. "Kenapa kau pergi tadi sebelum aku menjelaskan semuanya?"
Maya menundukkan kepalanya saat ia tak bisa menjawab pertanyaan dari Bima. Sepertinya ia salah paham akan sikapnya tadi pada Bima.
Bima mengangkat dagu Maya. Kini keduanya bersitatap. Membuat jantung Maya kembali berdetak tak beraturan. Ingin sekali Maya memalingkan wajahnya namun pegangan tangan Bima di dagunya membuatnya mau tak mau akhirnya ia bersitatap secara langsung dengan laki-laki yang berstatus sebagai asisten pribadi Farel Adiputra Wijaya.
"Memangnya apa yang mau kau jelaskan?" Tanya Maya yang memang sangat penasaran akan perkataan Bima beberapa saat yang lalu.
"Semuanya..." Kata Bima yang membuat Maya mengerutkan keningnya. Kemudian Bima melepaskan pegangan tangannya dari dagu Maya. Kembali memegang kedua tangan Maya. "Terimakasih..." Kata Bima menjeda kalimatnya. "Terimakasih karena dengan bertemu dengan mu, aku bisa membalaskan dendam ayahku pada Hendra Wijaya."
Bima tersenyum dengan reaksi yang diberikan Maya. "Terimakasih juga karena telah hadir dalam hidupku."
"Aku sudah dengar tadi siang kata-kata itu darimu." Masih memalingkan wajahnya.
"Terimakasih juga karena dirimu sudah bersemayam dalam hatiku."
__ADS_1
Maya terdiam mendengar penuturan dari Bima. Ia tak ingin lagi salah faham akan semua perkataan Bima. Kini ia berusaha tenang dan mendengarkan apapun yang akan di katakan oleh Bima. Tentang penuturan Bima tadi saat ia hendak keluar dari ruang perawatan Bima. Ia bahkan tak berani menanyakan langsung pada laki-laki yang saat ini sedang mengelus punggung tangannya. Ia tak ingin lagi merasakan kekecewaan yang mendalam jika memang Bima tadi sedang salah ucap.
"Kau tau. Pertama kali berjumpa dengan dirimu aku sudah tak bisa menahan rasa ini," kata Bima. Masih menatap wajah Maya yang memalingkan mukanya. "Rasa yang ada disini," menaruh telapak tangan kanan Maya di dadanya. Sedangkan pandangan Maya kini tertuju pada telapak tangannya yang berada di dada Bima. "Kau tau. Kenapa aku menyelamatkan dirimu dari penusukan itu?" Tanyanya yang membuat mata Maya tertuju pada Bima. "Itu karena aku takut kehilanganmu."
Kalimat tersebut membuat hati Maya berdesir. Entah kenapa penuturan Bima membuatnya kembali merasa jadi wanita cengeng di dunia. Cairan bening sudah berada di pelupuk matanya. "Kau..." Katanya dengan nada terbata-bata.
"Semua yang kulakukan karena aku ingin melindungimu," kata Bima yang berhasil membuat air mata Maya lolos begitu saja. "Semua yang ku lakukan karena tak ingin kau terluka," tambahnya lagi yang masih menaruh tangan Maya di dadanya. "Semua yang kulakukan... Karena aku mencintaimu..."
Maya sudah tak bisa menahan air matanya. Semua yang dikatakan Bima membuatnya merasa sebagai wanita yang sangat di cintai oleh seorang laki-laki. Tapi dia sadar. Dia bukanlah wanita suci. Dia tak mau Bima menyukainya karena rasa kasihan terhadap dirinya. "Bima... Kau tau... Aku bukan wanita yang..."
"Aku mencintaimu apa adanya," kata Bima memotong perkataan Maya. "Aku mencintaimu tanpa memandang siapa dirimu. Aku mencintaimu tanpa harus melihat status sosial mu."
Perkataan Bima berhasil membuat Maya semakin menangis. Ia bahkan sampai sesegukan. "Jangan membuatku besar kepala dengan semua perkataanmu," kata Maya di sela-sela tangisannya. Namun sesaat tangisannya mereda saat belaian tangan Bima tengah mengusap air matanya yang jatuh. Melihat kedua mata Bima. Berharap tak ada kebohongan akan semua perkataan yang dilontarkan oleh laki-laki yang baru saja menyatakan perasaannya pada dirinya.
"Apa kau berpikir kalau aku berbohong?"
"Iya. Kau pasti sedang berbohong. Kita baru dua hari bertemu. Kita juga belum mengenal satu sama lain. Dan kau sudah mengutarakan isi hatimu. Kau pasti..."
"Apa kau pernah mendengar tentang cinta pada pandangan pertama?" Tanya Bima yang lagi-lagi memotong perkataan Maya. Membuat Maya terdiam tak bersuara. Bima kembali menggenggam kedua tangan Maya. Mengelus perlahan tangan wanita yang dicintainya. "Aku tak peduli bagaimana masa lalu mu. Aku juga tak peduli bagaimana perkataan orang-orang terhadapmu," kata Bima yang menjeda kalimatnya sebentar. "Aku hanya peduli... Saat kau membalas cintaku. Aku ingin... Sekarang dan selamanya... Kau menjadi pasangan dalam hidupku."
__ADS_1
Maya membeku di tempatnya duduk. Ia bahkan tak bisa menjawab semua pernyataan dari Bima. Dirinya hanya bisa menangis saat ada laki-laki dengan sadar menyatakan perasaannya padanya. Bukan karena merasa kasihan padanya. Namun karena Bima sangat mencintainya. Dan tanpa menunggu waktu yang lama, kini Maya menghambur ke pelukan Bima.
Bersambung