
Desi menyandarkan kepalanya di bantalan jok mobil. Melihat keluar jendela kaca mobil. Melihat pepohonan yang berada di pinggir jalan raya. Memperhatikan daun-daun yang beterbangan mengikuti arah angin. Padatnya lalu lintas saat jam makan siang seperti ini selalu saja ramai kendaraan.
Setelah selesai proses pengukuran gaun pengantin di butik milik Alika kini dirinya tengah di antar oleh Alex. Alex yang dari tadi fokus menyetir kini sedang memperhatikan Desi yang dari tadi juga sedang diam seribu bahasa. Setelah Desi naik mobil milik Alex tak ada satupun kata yang keluar dari mulut Desi.
"Ada apa? Kenapa kau diam saja?" Tanya Alex yang sudah gelisah jika melihat Desi tak mengeluarkan suara sedikitpun. Sudah tiga hari ia mengenal Desi namun ia tak pernah melihat Desi seperti ini. Desi yang ia kenal adalah wanita yang menurutnya banyak bicara.
"Aku tidak pa-pa," jawab Desi singkat. Ia masih melihat ke arah luar jendela. Sesaat ia menghembuskan nafas pelan.
"Kau kenapa?" Sudah mulai nampak khawatir ketika melihat Desi yang sepertinya tak berselera untuk menjawab pertanyaannya. "Apa kau sakit?" Tanyanya lagi. Dengan spontan tangan kirinya memegang kening Desi dan tangan kanannya masih saja menyetir.
Desi terkejut ketika tangan Alex menyentuh keningnya. "Aku baik-baik saja," jawabnya sambil menyingkirkan tangan Alex dari keningnya. "Kenapa kau begitu khawatir?" Tanyanya yang saat ini sudah melihat ke arah Alex. "Kita bahkan tak memiliki hubungan apapun," tambahnya lagi sambil melipat tangannya di depan dada.
Alex langsung menghentikan mobilnya seketika saat ia mendengar penuturan dari Desi. Dan tanpa Alex sadari dirinya sangat marah saat Desi mengatakan kalau mereka tak ada hubungan sama sekali.
"Kenapa berhenti? Ayo cepat. Jam istirahat kantor hampir habis," kata Desi sambil melihat jam tangannya. "Nanti bisa-bisa Pak Farel akan marah besar padaku," lanjutnya lagi. Namun perkataannya seakan tak di tanggapi oleh Alex. Kemudian ia melihat ke arah Alex yang masih tak menjalankan mobilnya. Kenapa dengannya?Kenapa juga dengan wajahnya...? Kata Desi yang menggantungkan kalimatnya sendiri di dalam hatinya saat melihat ada yang aneh dengan pria di sebelahnya.
"Apa maksudmu kita tidak ada hubungan?" Tanya Alex yang saat ini sudah melihat ke arah Desi dengan wajah geram.
"Hem...?" Desi tak mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh Alex. Menurutnya ia dan Alex memang tak ada hubungan yang spesial. Ia hanya menganggap Alex sebagai suami sandiwaranya saja lusa nanti.
Alex terlihat makin marah saat Desi hanya menanggapi pertanyaannya dengan kata hem. Namun sesaat ia menghembuskan nafas pelan saat ia kembali menyadari kalau dirinya memang tak ada hubungan spesial dengan Desi. Ia dan Desi hanya terikat karena pernikahan sandiwara yang hanya menyisakan hari esok.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Desi penasaran. "Ada yang salah?" Tanyanya lagi yang tak mendapatkan respon dari Alex.
"Tidak ada," jawab Alex. Sesaat ia terdiam. Entah kenapa ia merasa sakit di bagian hatinya saat Desi tak menganggapnya sama sekali. "Bukankah kau belum makan siang?" Tanya Alex yang kembali menjalankan mobilnya. "Sebaiknya kita makan siang dulu, karena aku sudah merasa lapar saat ini."
"Apa?" Desi terkejut dengan perkataan Alex. Ia ingin kembali ke kantor. Bukan malah akan makan siang. "Aku mau kau mengantarku ke kantor. Jam makan siang sudah hampir habis," kata Desi yang kembali melihat jam tangannya. "Nanti Pak Farel..."
"Farel tidak akan marah," jawab Alex yang memotong perkataan Desi. "Aku sudah meminta ijin padanya kalau kau akan cuti sampai pernikahan kita selesai dilaksanakan," kata Alex yang kembali fokus pada menyetir.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian! Bukankah kau belum makan siang?" Tanya Alex yang di jawab kediaman oleh Desi. Ia tak mendengar jawaban apapun dari mulut Desi. Jadi tandanya sudah pasti Desi akan mau di ajak makan siang bersama. "Kau mau makan apa? Seafood?" Tanyanya.
"Baiklah..." Kata Alex seraya menganggukkan kepalanya. "Jadi dimana kita akan makan siang? Kau pasti tahu dimana restoran yang menyediakan makanan khusus untukmu kan?"
"Hem..." Jawab Desi yang mengembangkan senyumnya saat ia akan menuju ke lokasi restoran dimana hanya menyediakan makanan khusus bagi orang yang vegetarian.
*
Dua puluh menit kemudian keduanya sudah duduk di meja yang sama di sebuah restoran mewah di kawasan Gedung Pluit Bakery jalan Pluit Kencana Raya nomor 106-110. Restoran yang bernama Dharma Kitchen ini memang menyediakan makanan khusus bagi kaum vegetarian. Tak ada makanan yang terbuat dari daging ataupun unggas lainnya. Ini adalah salah satu restoran favorit Desi.
Beberapa saat kemudian datanglah seorang pelayan restoran yang membawa pesanan untuk Alex dan Desi. Jika Desi sangat berselera dengan semua makanan yang ada di depannya. Maka lain halnya dengan Alex. Ia memang penyuka makanan seafood. Jika untuk sayuran, sebenarnya ia tak begitu berselera. Namun entah kenapa ia begitu sangat antusias saat Desi mulai memakannya dengan lahap.
__ADS_1
Sesaat ia merasakan ada dorongan untuk menyantapnya juga. Namun saat ia mengambil makanan itu dengan sendoknya entah kenapa satu suapan itu malah menggantung di depan mulutnya. Antara mau makan dan tidak. Alex kembali mencoba melihat cara Desi yang memakan makanannya namun lagi-lagi ia hanya bisa menelan ludah kasar.
"Kenapa?" Tanya Desi yang membuat Alex sedikit terkejut. "Apa kamu tidak suka dengan makanannya?" Tanyanya lagi.
"Tidak..." Jawab Alex seraya menggelengkan kepalanya cepat. "Aku suka... Aku suka semua makanan," jawabnya lagi. Dan tanpa berpikir panjang Alex langsung memasukkan makanan yang dari tadi sudah menggantung di depan mulutnya. Ia kunyah perlahan makanan yang sudah ada di dalam mulutnya. Perlahan tapi pasti. "Enak juga..." Gumam Alex pelan. Lalu ia kembali menyuapkan makanannya untuk kedua kalinya. Ia tersenyum saat melihat lagi cara makan Desi yang begitu lahapnya.
Dengan begini aku jadi tau apa yang kau sukai dan apa yang tidak kau sukai.
Kata Alex dalam hati. Bibirnya tak berhenti tersenyum saat ia masih memperhatikan Desi. Namun sesaat senyum di bibirnya memudar ketika ia baru menyadari apa yang baru saja ia pikirkan.
Apa yang kulakukan?
Kenapa aku peduli dengannya?
Batin Alex yang kembali mengutuk dirinya sendiri.
Dia benar. Aku tak ada hubungan apapun dengannya. Pernikahan yang kulakukan lusa hanyalah pernikahan sandiwara. Tak ada yang spesial. Tapi kenapa...?
Lagi-lagi Alex kembali berpikir jernih. Namun terkadang ia juga merasa sangat mengkhawatirkan Desi jika Desi tak bersikap seperti biasanya. Seperti halnya tadi saat di mobil, Desi yang tiba-tiba diam tanpa sebab membuat Alex dihinggapi rasa khawatir yang amat besar.
Bersambung
__ADS_1