Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Marah


__ADS_3

"Aku tidak percaya kau melakukan itu padanya."


"Aku bahkan tidak percaya kau sekejam itu padanya."


"Kau tau, dia bahkan di vonis tak bisa berjalan seumur hidup oleh dokter karena perbuatan mu."


Alex sedang menumpahkan semua rasa tak percayanya pada Bima. Setelah mengantarkan Sandra pulang tadi, ia dan Maya langsung menuju kantor pusat Wijaya Group. Ia harus menemui Bima untuk menanyakan semua yang ia lihat di lapas dimana ayahnya dan Bu Dina di bui. Dirinya tak percaya jika ayahnya akan mengalami kelumpuhan pada kakinya akibat ulah Bima. Ia bahkan tak tau jika saat dirinya tengah sibuk menyelamatkan sang istri, Bima mengincar ayahnya.


"Maafkan saya tuan muda," kata Bima seraya membungkukkan badannya. Sudah berulang kali ia meminta maaf pada Alex namun ocehan dari saudara sepupu atasannya membuat dirinya tak berdaya. Selain atasannya, ia sangat menghormati Alex. Semua itu bukanlah tanpa sebab. Dia ingin membalas semua kebaikan yang Alex berikan pada ayahnya. Di saat dulu, ketika ayahnya tak berdaya karena suruhan Hendra Wijaya yang memberikan perintah pada orang suruhannya untuk menghabisi nyawa sang ayah, disitu Alex berperan penting. Sepupu atasannya dengan berani menyelamatkan ayahnya dari orang suruhan Hendra Wijaya. Kini ia mendapat kesempatan untuk membalaskan dendam ayahnya pada Hendra Wijaya. Karena menurutnya sangat sepadan jika kaki harus di bayar dengan kaki juga.


"Wah... Aku benar-benar tak menyangka semua ini..." Masih tak percaya sambil kedua tangannya berkacak pinggang.


Sedangkan Maya yang berdiri tak jauh di belakang Alex hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Merasa kasihan saat Bima di marahi habis-habisan oleh atasannya.


"Apa kau sudah selesai?" Tanya Farel yang dari tadi duduk di kursi kebesarannya. Melihat semua perlakuan Alex pada asisten pribadinya.


"Aku belum selesai dengannya!" Jawab Alex dengan nada sedikit geram.


Farel tertawa keras mendengar jawaban dari saudara sepupu laki-lakinya. Kemudian ia berdiri dan berjalan mendekati Alex. "Memangnya apa salahnya hingga kau memarahinya seperti itu?"


"Kau masih bertanya apa salahnya?" Menunjuk Bima dengan jari telunjuknya.


"Aku tau, Bima telah melukai om Hendra. Tapi amarahmu saat ini lebih menyakitkan dari pada kaki om Hendra yang lumpuh untuk selamanya." Jelas Farel yang membuat Alex mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu?" Menyipitkan kedua matanya. Mencari apa yang di maksud oleh Farel.


"Kau memarahi Bima tepat di depan Maya," menunjuk secara bergantian antara Bima dan Maya.

__ADS_1


Kedua mata Alex mengikuti gerakan tangan Farel yang menunjuk antara asisten pribadinya dan asisten pribadi sepupu laki-lakinya. Masih tak mengerti dengan apa yang Farel maksud. Dirinya hanya melampiaskan apa yang ada di dalam hatinya. Tanpa merasa ada yang tersinggung dengan kemarahan yang ia luapkan. "Apa maksudmu? Memangnya kenapa dengan mereka berdua?"


Farel menepuk jidatnya sedikit keras. Merutuki kebodohan sepupunya seraya menghembuskan nafas berat. "Aku tidak percaya mempunyai sepupu bodoh seperti dirimu," katanya yang kemudian menunjuk dada Alex dengan jari telunjuknya. "Bima Maya, kalian berdua keluar dari ruangan ku sekarang," kata Farel lagi menyuruh dua orang yang sama-sama mempunyai pekerjaan sebagai sekertaris dan asisten pribadi.


Bima dan Maya menundukkan kepalanya tanda hormat lalu mereka berdua berjalan keluar dari ruang kerja Farel.


"Apa kau lupa kalau mereka sudah resmi menjalin hubungan?"


"Aku tau. Memangnya kenapa?" tanya Alex yang masih tak merasa bersalah karena telah memarahi Bima di hadapan Maya.


"Kau benar-benar..." Menggantungkan kalimatnya saat ia tak bisa berkata apa-apa akan sikap Alex pada asisten pribadinya. "Apa kau tak melihat tadi bagaimana wajah Maya saat kau memarahi Bima?"


Alex memikirkan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan dari Farel.


"Kedua mata Maya sudah memerah tadi saat kau memarahi Bima," kata Farel seraya menghela nafas panjang. "Kau benar-benar tak tau bagaimana situasi mereka berdua."


"Benarkah? Apa aku melakukan kesalahan tadi?" Kata Alex seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sedangkan di depan ruang kerja Farel. Sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta yakni Bima dan Maya sedang berdiri tak jauh dari pintu atasannya. Keduanya saling berhadapan.


"Kau baik-baik saja?" tanya Maya seraya memegang lengan Bima. Dengan wajah sedihnya ia mencoba menenangkan laki-laki yang baru seminggu menjadi kekasihnya.


"Aku baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir," menjawab sambil tersenyum. Mencoba menenangkan wanita pujaan hatinya saat wajah Maya sudah terlihat sangat khawatir.


"Huu... Aku sangat kesal dengan Pak Alex," katanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Bisa-bisanya dia marah padamu di depanku?"


"Sudahlah aku baik-baik saja," katanya lagi mencoba menenangkan Maya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa tinggal diam. Jika dibiarkan dia akan selalu seenaknya sendiri," sudah menghentakkan kedua kakinya. Meluapkan rasa kesalnya pada lantai yang ia injak.


"Sudahlah... Sudah ku bilang aku baik-baik saja." Mengelus lengan Maya agar wanita yang dicintainya bisa tenang.


"Tidak bisa begitu," kembali menunjukkan rasa kesalnya. "Pak Alex sudah tau hubungan kita berdua. Tapi dia tidak segan-segan memarahi mu di depanku..."


"Sudah ku bilang aku tidak pa-pa," kembali membujuk Maya agar tak lagi kesal dengan atasannya.


"Kau memang tidak pa-pa. Tapi aku yang sakit hati..."


"Maya sudah diam..." Menutup mulut Maya dengan telapak tangannya. Dengan kata lain menyuruh agar Maya berhenti dengan semua omelannya.


"Jangan menutup mulutku," menyingkirkan tangan Bima dari mulutnya. "Aku belum selesai dengan Pak Alex..."


"Sudah diam! Jangan bicara lagi..." Kembali menutup mulut Maya. Kedua matanya sudah mendelik tajam ke arah Maya. Menyuruh Maya diam dengan isyarat matanya yang sesekali mengarah ke arah pintu ruang kerja atasannya.


"Kau ini kenapa? Aku mati-matian membelamu tapi kau..."


"Kalau kau mati-matian membelanya, kenapa tadi tidak membelanya di depanku saja?"


Kalimat tersebut berhasil membuat Maya diam seketika. Ia sangat paham sekali suara siapa yang saat ini ia dengar. Ia menatap wajah Bima yang masih berdiri di hadapannya. Namun Bima sama sekali tak bergeming. Ia hanya melihat Bima menutup matanya sambil menundukkan kepala. Perlahan ia berbalik sambil menggigit bibir bawahnya. Atasannya yang tengah menunjukkan wajah geram sudah dapat ia lihat. Sedangkan ia melihat sosok atasan Bima yang berdiri di belakang atasannya sedang menahan tawa. Sesaat ia menundukkan kepalanya dalam saat tau siapa yang telah berdiri di belakangnya.


"Kenapa kau diam saja?" Tanya Alex yang masih tak di jawab sepatah katapun oleh Maya. Kemudian ia berjalan mendekati asisten pribadinya. Menatapnya dengan tatapan tajam. Lalu kini tatapannya beralih pada Bima. Kemudian ia menghela nafas berat sambil kedua tangannya berkacak pinggang. "Aku benar-benar tidak menyangka jika kau berani mengatakan hal jelek di belakangku."


"Maafkan saya Pak," berkata sambil membungkukkan badan. "Sekali lagi maafkan saya..." Sudah tak bisa berkata apa-apa lagi saat ia ketahuan berkata sembarangan tentang atasannya.


"Aku tidak mau menyelesaikannya disini. Ayo kita pulang..." Tanpa menunggu jawaban dari Maya, kini Alex langsung berjalan pergi dari depan ruang kerja Farel.

__ADS_1


Sedangkan Maya hanya bisa mengikuti langkah atasannya sambil tak berhenti menggigit bibir bawahnya. Merutuki kebodohannya sendiri. Tak seharusnya ia mengatakan hal bodoh tadi tentang atasannya. Dan kini sepertinya hukuman telah menanti di depan matanya.


Bersambung


__ADS_2