
Pukul dua dini hari. Alex masih tak bisa melepaskan pandangannya pada wajah Desi. Bahkan ia tak tidur barang sedetik pun. Ini adalah pertama kalinya ia seranjang dengan Desi. Ini juga pertama kalinya ia bisa menatap wajah Desi begitu lama. Sesekali senyum di bibirnya merekah saat hatinya merasa bahagia.
Biasanya sebelum tidur Alex selalu membaca koleksi bukunya yang tertata rapi di rak namun malam ini berbeda. Dari tadi saat ia naik ke atas tempat tidur hingga pukul dua dini hari ini Alex sibuk menatap Desi. Jika tadi ia hanya bisa menatap punggung Desi namun kali ini ia bisa dengan leluasa menatap wajah Desi saat wanita yang tengah tidur di sampingnya kini menghadap dirinya.
*
Desi menggeliat pelan. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Mengucek matanya sambil menguap. Mengumpulkan kesadarannya. Ia kembali teringat kejadian semalam saat ia harus tidur seranjang dengan Alex. Ia membelalakkan kedua matanya dan langsung menghadap ke tempat tidur sebelahnya seraya duduk. Kosong. Alex tak ada di sampingnya. "Dia tak ada," gumam Desi lirih. Semalam dirinya memang sudah lelah dan sepertinya ia harus tertidur terlebih dahulu. Dua guling yang ia taruh di tengah ranjang juga masih tak bergeser sedikitpun. Desi mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar namun ia tak menemukan Alex di kamar tersebut. Lalu ia turun dari ranjang. Memakai sandal bulu berwarna merah yang ia bawa dari rumahnya. Berjalan ke arah kamar mandi sambil sesekali menguap. Tinggal beberapa langkah ia sampai di kamar mandi namun ia dikejutkan dengan pintu kamar mandi yang terbuka dari dalam. Ia melihat sesosok pria tampan yang berjalan keluar dari kamar mandi. Manusia yang sepertinya sudah menunaikan acara mandinya itu entah kenapa terlihat begitu memukau di mata Desi. Desi makin membelalakkan kedua matanya saat manusia yang ia kira turun dari langit itu hanya memakai handuk sebatas pinggang. Rambut yang basah, dada bidang yang juga masih basah, di tambah lagi perut sixpack yang dimiliki manusia itu telah membuat Desi menelan ludahnya kasar. Desi kembali memperhatikan manusia itu dari atas sampai bawah. "Sepertinya aku pernah bertemu dengannya?" Katanya lirih. Dan sepertinya kesadarannya belum seberapa genap saat bangun tidur tadi. "Apa dia seorang malaikat?" Katanya lagi lirih sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal mencoba mengingat kembali akan manusia yang berdiri di depannya.
"Apa kau sudah puas melihatnya?"
__ADS_1
Desi menutup mulutnya sambil kembali membelalakkan kedua matanya. "Dia bisa bicara," katanya lagi lirih. Ternyata ia memang benar-benar belum sepenuhnya sadar.
"Apa kau pikir aku bisu?" Sudah berjalan mendekati Desi.
Sedangkan Desi berjalan mundur. Ia kembali mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Mengucek matanya sekali lagi. Nafasnya sudah naik turun saat ia merasa sedang terancam bahaya ketika pria tampan itu sedang berjalan mendekatinya. Ia mencubit pipinya. "Sakit... Ini bukan mimpi?" Katanya lagi seraya mengelus pipinya yang tadi ia cubit. Memastikan sendiri kalau ini bukanlah mimpi. "Siapa kau?" Tanyanya dengan suara lantang. "Kenapa masuk ke kamarku?" Tanyanya lagi sambil menunjuk manusia yang dimatanya terlihat sangat menawan.
Si pria tersebut malah tertawa keras. Kedua tangannya sudah berkacak pinggang. "Apa kau masih bermimpi?" Tanyanya sambil mendorong pelan kening Desi.
Pria yang berada di depan Desi kembali tertawa terbahak-bahak. Ia tak menyangka jika wanita yang masih berpakaian piyama lengkap itu masih tidak sadar dengan apa yang ia lihat di depannya. "Jadi kau masih bermimpi ya?" Tanyanya yang lagi-lagi mengeluarkan suara tawanya hingga bergema di seluruh sudut ruangan.
__ADS_1
Desi kesal. Menghentakkan kakinya di lantai. Ia seperti di permainkan dengan pria yang kini telah berkali-kali menertawakannya. "Kau benar-benar..." Menggantungkan kalimatnya saat ia tak memiliki kata-kata yang tepat untuk menyuruh pria tampan itu untuk pergi dari kamarnya. "Alex..." Teriak Desi seraya berjalan ke arah pintu namun sesaat langkahnya terhenti ketika tangannya di pegang oleh seseorang. Perlahan Desi membalikkan badannya. Ia takut. Takut jika orang yang tak ia kenal akan menyakitinya. "Jangan sakiti aku," kata Desi lirih.
Manusia menawan yang hanya memakai handuk sebatas pinggang berwana putih itu tersenyum sinis. Kini ia menarik Desi dalam pelukannya. Ia tau kalau Desi sepertinya sedang merasa takut. Ia memeluk erat pinggang Desi. Mendekatkan wajahnya ke wajah Desi. Ia melihat wajah ayu Desi. Melihat kedua mata Desi yang sudah tertutup rapat karena sepertinya Desi takut padanya. Mengacak rambut basahnya. "Bangunlah ini sudah siang. Kau bahkan tidak mengenali suamimu sendiri," katanya yang tersenyum penuh makna.
"Apa?" Desi terkejut dengan perkataan orang yang sudah memeluknya. Perlahan ia membuka kedua matanya. Melihat kembali wajah manusia yang masih terlihat menawan di matanya. Ia membuka lebar-lebar kedua matanya. Menamatkan wajah yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wajah yang entah kenapa begitu terlihat begitu tampan di matanya. Ia sadar. Sadar bahwa orang yang kini memeluknya adalah pria yang sudah sah menjadi suaminya. Ia menutup mulutnya yang menganga tak percaya. Kedua matanya sudah membelalak dengan hebatnya. Benar dia Alex. Katanya dalam hati. Sesaat ia melepas paksa pelukan Alex padanya. Ia kembali memperhatikan tubuh Alex dari atas sampai bawah. Kenapa dia terlihat tampan sekali kalau begini? Batin Desi lagi. Masih memperhatikan bentuk tubuh Alex yang sangat atletis.
"Kau sudah sadar sekarang siapa yang berdiri di depanmu saat ini?" Tanya Alex dengan senyum ejekannya.
Perkataan Alex membuat Desi sangat malu. Tanpa menjawab pertanyaan dari Alex, Desi langsung berlari ke arah kamar mandi. Menutup pintu kamar mandi lalu menguncinya. Menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi. "Bodoh, bodoh, bodoh..." Kata Desi seraya memukul kepalanya sendiri. "Apa yang ku lakukan tadi?" Merutuki kebodohannya sendiri. Ia memang tak pernah melihat Alex tidak memakai baju. Seakan terpana dengan badan atletis Alex hingga Desi seakan tersihir dan tak mengenali wajah Alex. "Aku benar-benar bodoh!" Tangannya kembali memukul kepalanya sendiri. Ia merengek sambil terduduk di lantai. "Mami... Apa yang harus aku lakukan saat keluar dari kamar mandi nanti?" Katanya lagi dengan suara khas rengekan bayi. Sesaat rengekannya berhenti. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. "Tapi kenapa dia baru saja terlihat begitu tampan saat tak memakai pakaian? Badannya... Wajahnya... Dia terlihat begitu sangat menawan sekali..." Kata Desi lirih sambil mengingat kembali saat ia tak mengenali suamimu sendiri. "Aaa... Aku pasti sudah gila..." teriaknya lagi.
__ADS_1
Bersambung