Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Rumah Sakit Jiwa


__ADS_3

Alex dan Farel sedang berada di rumah sakit jiwa tempat dimana Hendra Wijaya yakni ayah dari Alex Candra Wijaya dirawat. Keberadaan Hendra di rumah sakit ini sudah memasuki bulan kelima.


Lima bulan yang lalu Alex telah mengambil keputusan yang amat berat, saat ia harus mengiyakan keputusan kepolisian mengenai pemindahan sang ayah yang tiba-tiba mengalami gangguan kejiwaan saat ayahnya harus menjalani hukuman seumur hidup atas banyaknya kejahatan yang sudah dilakukannya.


Kini ia sedang mengamati sang ayah bersama sepupu laki-lakinya Farel dari jauh. Berdiri berdampingan sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Sudah kebiasaan mereka yang sering melakukan hal sama seperti saat ini. Bahkan mereka juga sudah lima bulan ini memantau secara langsung perkembangan Hendra Wijaya. Namun sampai saat ini dokter mengatakan kalau Hendra Wijaya tak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda membaik.


"Kenapa sampai saat ini aku masih tidak percaya jika Papa memang gila?" Tanya Alex yang masih setia memandangi sang ayah dari jauh. Dari pantauannya, sang ayah memang dalam keadaan gila. Namun hatinya berkata jika sang ayah sepertinya baik-baik saja.


Farel mengarahkan pandangannya ke saudara sepupu laki-lakinya. "Kenapa kau berkata seperti itu? Sepertinya om Hendra memang benar-benar gila." Kini pandangannya kembali mengarah pada pamannya yang sedang duduk di kursi taman sambil tertawa sendiri. Terkadang juga pamannya terlihat sedang menghitung jari tangannya sambil tiba-tiba kembali tertawa lagi sendiri. "Kau pernah mendengar cerita tentang orang yang gagal mendapatkan sesuatu?"


"Hem... Kenapa?" Tanya Alex yang tak melepaskan pandangannya dari sang ayah. Seperti mencari sesuatu yang di rasanya aneh dari ayah kandungnya sendiri.


"Aku rasa om Hendra sedang mengalami hal tersebut." Jawab Farel yang berhasil membuat Alex kini memperhatikannya.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Saking terobsesinya om Hendra mendapatkan sesuatu yang bukan miliknya kini ia menjadi seperti ini," jawab Farel lagi yang membuat Alex mengerutkan keningnya. "Bukankah dulu om Hendra menginginkan perusahaan Wijaya Group?" Tanyanya lagi yang di jawab anggukan kepala oleh Alex. "Obsesinya yang terlalu menggebu-gebu menjadikan dia seperti ini," sambungnya lagi yang kembali memperhatikan adik dari ayahnya yang sedang di rawat di rumah sakit jiwa dalam lima bulan terakhir ini.


Jika dipikir-pikir perkataan Farel ada benarnya. Keinginan Hendra Wijaya yang terlalu besar untuk memiliki perusahaan Wijaya Group yang bahkan bukan miliknya sudah menjadi persepsi Farel yang benar-benar masuk akal.


Bingung. Mungkin itu adalah satu kata yang tepat yang ada di pikiran Alex. Antara percaya dan tidak perihal kegilaan yang dialami oleh sang ayah. Di satu sisi ingin sekali ia menyanggah semua persepsi yang Farel berikan namun entah mengapa di sisi lain pikiran Alex setuju dengan apa yang dikatakan oleh saudara sepupu laki-lakinya.


Sang ayah memang sudah menjalani perawatannya selama lima bulan namun selama lima bulan ini sang ayah juga tak memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia akan sembuh dari kegilaannya yang kini dideritanya.


"Jadi menurutmu kegilaan yang saat ini Papaku derita akibat keserakahannya yang tak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan dulu?" Tanya Alex memastikan persepsi yang Farel tadi katakan.


"Benar. Obsesinya terlalu besar untuk mendapatkan perusahaan Wijaya Group, hingga ia tak bisa menekan pikirannya untuk tak memiliki apa yang bukan miliknya. Keinginannya terlalu tinggi sampai membuatnya gila seperti ini," jelas Farel panjang lebar. "Kau ingat kata dokter kemarin?"


Alex hanya menanggapi semua penjelasan Farel dengan diam. Ia masih berdiri di tempatnya sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana panjangnya. Setelah pulang kantor tadi ia memang sudah membuat janji dengan Farel untuk menjenguk sang ayah di rumah sakit jiwa.


Sesaat kemudian kakinya tergerak untuk melangkah mendekati sang ayah. Selangkah demi selangkah. Biasanya ia tak pernah menemui sang ayah secara langsung. Dari pertama kali di penjara ataupun di rumah sakit jiwa. Ini adalah pertama kalinya ia ingin menghampiri sang ayah.

__ADS_1


"Lex lu mau kemana?" Tanya Farel namun kakinya juga tergerak mengikuti langkah Alex dari belakang. Sesaat ia mengerutkan keningnya saat Alex untuk pertama kalinya menghampiri adik dari ayahnya dalam waktu kurang lebih dari lima puluh bulan lamanya di rumah sakit ini. Sesaat ia menghentikan langkahnya saat ia melihat Alex sudah duduk di sebelah bangku dimana saat ini pamannya berada.


"Papa..." Ucap Alex seraya memegang bahu sang ayah. Namun pegangan tangannya tak membuat sang ayah menoleh padanya. Ia melihat sang ayah masih tetap melakukan aktifitas seperti sebelum-sebelumnya. Menghitung jemari tangannya sambil tertawa sendiri. "Papa..." Panggilnya sekali lagi. Namun lagi-lagi sang ayah tak menanggapi panggilannya. "Papa lihat aku..." Kedua tangan Alex langsung memegang kedua lengan sang ayah agar melihat ke arahnya.


"Alex..." Kini giliran Farel yang memegang pundak Alex sebelah kanan. "Tenanglah..."


"Papa..." Ucap Alex sekali lagi. Ia bahkan menatap sedih sang ayah saat ayahnya juga menatap wajahnya. "Papa masih ingat denganku?" Tanyanya yang di respon kediaman oleh Hendra Wijaya. Namun beberapa saat kemudian Hendra kembali lagi tertawa sambil menghitung jemarinya satu persatu. Tiba-tiba ada rasa sesak dalam hati Alex saat melihat sang ayah yang dulunya ia benci kini malah menjadi orang yang tak berguna.


Sesaat juga Farel yang mengerti akan kesedihan yang Alex rasakan, kini tangannya kembali memegang pundak saudara sepupu laki-lakinya. Mencoba menguatkan hati saudaranya ketika ia juga tak bisa melakukan apa-apa.


*


Farel sedang menatap saudara sepupu laki-lakinya dengan diam saat Alex memukul keras pintu kaca mobilnya hingga pintu kaca mobilnya pecah berantakan. Melampiaskan rasa tak bergunanya ia sebagai putra satu-satunya keluarganya.


Dulu ia harus menjalankan apa yang diperintahkan sang ayah pada saudara sepupunya, Farel. Menjebak Farel agar tak bisa menguasai perusahaan Wijaya Group. Dulu ia juga harus menjaga dua wanita yang sangat berharga baginya yakni ibu dan adik perempuannya. Permainan yang dulu ia jalani dengan ayahnya karena ia ingin membebaskan ibunya yang tengah di sandera oleh sang ayah.

__ADS_1


Dia memang sangat benci pada sang ayah lantaran kejahatan sang ayah pada keluarga saudara sepupunya sudah melewati batas. Namun di hati kecilnya ia merasa bersalah ketika dulu ia mengikuti permainan sang ayah. Hal yang disesalinya adalah kenapa dulu ia tak berusaha meyakinkan sang ayah jika perbuatan yang ayahnya lakukan adalah hal yang salah.


Bersambung


__ADS_2